Category Archives: GoTravel

Pameran Studio Ghibli, Imajinasi yang Jadi Nyata

Siapa yang suka film-filmnya Studio Ghibli? *Tunjuk tangan!*

Aku tau tentang film-filmya Ghibli sejak awal-awal menikah dengan si Abang, sekitar satu dekade lalu. Waktu itu, dia sih yang suka banget. Aku hanya selewat aja, karena aku nggak begitu suka sama animasi. Pernah, Kompas membuat semacam festival Ghibli dan ada nonton bareng. Si abang menggeretku ke Bentara Budaya, dan aku terkantuk-kantuk di sebelahnya. Yah, gimana nggak ngantuk. Acaranya pun malam, nonton pake proyektor, duduknya macam di kursi sekolahan, aku pegel yha!

Kami sempat berburu DVD (ya bajakan lah, aslinya ga tau mau cari dimana!) dan mencari berbagai film. Nah, setelah ada dvd ini, nontonnya jadi lebih khusuk dan lalu jatuh cinta, ahahahah! Yang pertama adalah Spirited Away. Ceritanya menakjubkan, buatku. Imajinasinya luar biasa dan sangat menyentuh. Gambarnya nggak canggih macam pixar atau Disney, tapi bagus banget. Lalu kemudian berkenalan dengan Ponyo yang nggak kalah menyenangkan. Musiknya apalagi ini, bagus banget. Duo Spirited Away dan Ponyo ini selalu jadi andalanku kalo ada anak tetangga atau ponakan pada main di rumah, hehehe.

Dari situ, aku nonton Kiki Delivery Service, Howl’s Moving Castle, Totoro, The Wind Rises, dan belakangan Princess Mononoke, The Tale of Princess Kaguya dan Porco Roso. Nausica, Castle In The Sky dan When Marnie Was There malahan belakangan ditonton.

Tapi, sesungguhnya yang membuat makin cinta sama Ghibli adalah Totoro. Sejak Malik lahir, kami cukup selektif memilihkan tontonan untuknya. Dan film pertama yang kami berikan ke Malik adalah Totoro. Dan sejak itu, aku jadi sangat-sangat-sangat apresiatif sama film ini.

Kalau dulu, Totoro hanya sekedar di tonton, tapi sejak mengenalkan ke Malik, aku jadi “melihat” apa yang dulu nggak terlihat. Totoro, bukan hanya sekedar film lucu menggemaskan, tapi ada banyak sekali nilai-nilai di dalamnya yang sulit ditandingi oleh film lain. Bahkan aku bisa bilang, belum ada film anak-anak yang lebih baik dari Totoro. Lebay? Mungkin. Tapi aku rasa banyak orang tua yang setuju.

Filmnya sederhana dan terasa ‘dekat’ dengan kehidupan sehari-hari. Tokoh utamanya adalah anak-anak, dan semua hal dibuat sesuai dengan sudut pandang anak-anak. Nilai-nilainya tentang mencintai lingkungan terasa subtle, namun pasti. Imajinasinya luar biasa, tapi terasa tidak berlebihan. Duh, pokoknya Totoro cintaku deh. Dulu sempet film ini diputar sehari tiga kali karena Malik minta, tapi aku gak bosen juga, ahahaha.

Cita-citanya sih pengen banget ke Museum Ghibli ke Jepang. Tapi, yah… kayaknya dalam waktu dekat masih belum bisa. Banyak prioritas lain yang harus didulukan. We’re gonna save it for much later, hehehehe.

Waktu ada festival film Ghibli digelar di Jakarta, rasanya pengeeeennn… banget nonton film-film itu di layar lebar. Tapi, waktunya selalu nggak pernah tepat. Si abang lagi kerja lah. Kalo dia pulang, banyak urusan ini itu lah. Susah. Bawa Malik ke bioskop masih belum bisa. Anaknya masih takut sama gelap dan suara berisik di bioskop. Pernah dicoba dan udah sampe beli tiket, tapi bubar jalan karena anaknya berubah pikiran, hahaha.

Jadi, pas ada exhibitionnya, dengan iming-iming ada beberapa item langsung dibawa dari Jepang sono, aku langsung YES! Pokoknya, harus lihat apapun yang terjadi, ahahah! Daaaann… kemaren akhirnya kesampean, dateng ke exhibition World Of Ghibli di Pacific Place, bertiga dengan abang dan Malik, pas sebelum si Abang berangkat kerja.

Waktu dateng dan membeli tiket, sebenernya aku agak bingung. Prosesnya cukup lama karena sepertinya petugasnya belum terbiasa. Tapi karena kami nggak buru-buru, aku santai aja. Tapi, ternyata sebelum membeli tiket, panitianya menerangkan bahwa pamerannya belum kelar 100 persen. Waaaaahhhh *kuciwa*

Kami datang di minggu pertama setelah pameran dibuka. Wahana 3 dimensinya baru kelar sekitar 70 persenan. Menurut panitia, sebagai kompensasinya, dengan tiket yang sama kami bisa dateng lagi kapan aja. Kalau pas dateng ternyata masih belum siap 100 persen juga, ya boleh dateng terus sampai akhirnya kami bisa melihat semua exhibit selesai 100 persen. Buat yang tinggal di Jakarta sih ini kedengerannya menarik. Tapi yang di luar kota kasihan juga ya? Si abang yang harus berangkat kerja segera, pulangnya baru awal oktober nanti. Pamerannya sudah selesai, jadi dia nggak bakalan bisa dateng liat lagi, hiks sedih.

Dengan harga tiket yang cukup mahal, apakah setimpal dengan pamerannya? Yah, menurutku sih 50-50 ya. Terutama karena faktor belum kelar tadi. Jadi waktu masuk tuh berasa kentang banget. Apalagi sepertinya nggak ada hal-hal “penambah informasi” yang tersedia. Nggak ada keterangan/cerita soal Ghibli, story behind the scene, atau apapunlah yang mungkin bisa dibaca dan menambah pengetahuan. Aku berfikir bakal berada di sana dari pagi sampe malem buat puas-puasin, tapi ternyata, ya gitu deh. Pada dasarnya, kami hanya datang, lalu foto-foto, that’s it.

Tapi, sebagai orang yang pengen banget ke Museum Ghibli di Jepang dan belum kesampaian, aku sih hepi banget dan menikmati. Detail-detailnya sangat bagus dan sangat layak untuk diapresiasi. Apalagi, Malik juga sudah cukup mengerti. Paling nggak dia inget sama Totoro dan Nekobus. Dia juga tertarik banget sama Castle-nya Howl dan pulang-pulang dia minta diputerin filmnya 😀

Ini foto-foto kami waktu kunjungan kemaren. Mahapkan fotonya banyak banget yaaa (dan mungkin bakal nambah lagi kalo kunjungan lagi, hihihih).

PS: menurut instagramnya, pamerannya hari ini sudah 100 persen loh!

***

From “My Neighbor Totoro”. 

Kayaknya exhibit ini yang paling di tonjolkan ya, mengingat Totoro emang monumental banget. Disini ada Totoro (ya iyalah!), Nekobus/Cat Bus, dan rumah keluarga Kusukabe yang detail banget. Katanya sih, rumahnya ini belum selesai. Bagian belakang rumah (yang harusnya ada tempat mandi dan dapur) belum kelar. Nantinya, rumah ini boleh dimasukin. Katanya sih 😀

201708 ghibli01 201708 ghibli02 201708 ghibli03 201708 ghibli04 201708 ghibli05 201708 ghibli06 201708 ghibli07

From “Porco Rosso”

Settingnya sederhana, tapi pesawat merahnya Porco Rosso ini cukup eye catching.

201708 ghibli12 201708 ghibli13

From “Ponyo”

Ini agak ‘kecewa’ sih. Padahal aku suka banget sama Ponyo. Tapi exhibitnya hanya ada begini doang, namanya ‘wall of ponyo’ yang terbuat dari dinding yang berlayer-layer gitu.

201708 ghibli16

From “Castle In The Sky”

Katanya ini wahana juga belum selesai. Hanya ada robot dan pesawatnya doang. Katanya sih bakal ada miniatur Laputa-nya segala. Katanyaaaaaa….

201708 ghibli08 201708 ghibli09

From “Howl’s Moving Castle”

Miniatur castle-nya Howl ini detail banget loh buatnya, aku kaguuummm! Malik awalnya takut, tapi lama-lama dia suka banget. Sampe pas pulang ke rumah minta diputerin filmnya 😀

201708 ghibli10 201708 ghibli11

From “Princess Mononoke”

Ini hutannya Princess Mononoke juga belum kelar semua. Katanya nanti bakal ada semacam hologram-hologram gitu. Katanyaaaaaa… 😀

201708 ghibli14 201708 ghibli15

Masih ada set bath house-nya Spirited Away, dan toko roti-nya Kiki Delivery Sevice yang belum kelar. Padahal pengen banget lihat dua ini. Yah… mudah-mudahan pas balik lagi udah kelar semua yaaaa!

Roadtrip Seadanya: Cirebon

Cerita sebelumnya bisa lihat di sini

Day 5

Hari ini, kami checkout dari hotel Java Heritage Purwokerto. Awalnya kami berniat untuk langsung pulang. Tapi, belakangan Malik lagi suka banget sama air mancur. Nah, di henponku, ada foto kami saat liburan ke Cirebon, mengunjungi Goa Sunyaragi, sebuah tempat pertapaan zaman dahulu. Goa ini juga mempunyai kolam-kolam dan air mancur.

Mulanya sih hanya iseng menawarkan apakah dia mau ke Cirebon. Aku kira dia akan menolak, karena dari kemaren dia bilang ‘nggak mau pindah hotel’ alias nggak mau jalan-jalan lagi. Tapiii… ternyata dia berubah pikiran dan semangat mau ke Cirebon! Kuwalat deh ibunya!

Akhirnya, kami pun sepakat menuju Cirebon. Paling hanya semalam, liat goa, lalu pulang. Oh iya, kami sempat berhenti di jalan untuk makan siang di Tegal, dan itu enak banget! Namanya Rumah Makan Suka Sari. Aku pesan tongseng sapi, astagaaaa… enaknya kebangetan!

Setelah melewati tol baru dengan pemandangan yang dramatis, kami tiba menjelang magrib di Cirebon. Karena hanya ingin ke Sunyaragi, kami pilih hotel yang dekat dengan kota. Pilihan jatuh pada hotel Batiqa. Harga hotelnya cukup affordable. Tentunya, hotel ini tidak punya fasilitas kolam renang dan lainnya. Tapi karena kami hanya semalam, itu tidak jadi masalah. Kami memesan kamar suite yang harganya juga masih terjangkau budget. Hotelnya ternyata cukup menyenangkan. Kamarnya lega dengan tempat tidur yang nyaman. Aku juga suka desainnya yang minimal, namun tetap terasa homey. Kami juga sempat makan malam di restoran bawah sebelum tidur dengan nyenyak karena capek.

201707 crb2

Tongseng superenak!

201707 crb3

201707 crb4

Pemandangan dramatis di jalan :’)

201707 crb1

Hotel Batiqa Cirebon

***

Day 6

Setelah sarapan, kami checkout dari hotel dan menuju Goa Sunyaragi yang hanya beberapa menit dari hotel. Tapi, hari itu adalah hari senin dan aku ada janji meeting virtual dengan tim minimons. Walhasil, aku membiarkan Malik dan si Abang duluan masuk ke Goa Sunyaragi, sementara aku bekerja di parkiran.

Setelah kelar meeting dan mau masuk ke lokasi, ya ampun… Malik dan si Abang sudah keluar dan menuju ke arahku. Hahaha! Meetingnya kelamaan atau merekanya yang terlalu cepat? Usut punya usut, ternyata air kolamnya kering dan air mancurnya juga tidak beroperasi. Yaaahh!

Untungnya Malik nggak marah-marah. Lalu, aku meminta izin kepadanya untuk masuk ke dalam kawasan goa sebentar. Masak sudah sampai sini aku nggak masuk. Walaupun sudah pernah, tetep aja. Akhirnya Malik mau. Dia dan si abang anteng menunggu di warung, karena dia dibolehin minum teh botol, hahaha!

Aku jalan-jalan sendirian menyusuri Sunyaragi. Foto-foto sebentar dan akhirnya memutuskan untuk udahan. Eehh… ternyata Malik dan si Abang masuk lagi, hahah! Ya udah, kami jadi muter-muter lagi, dan Malik seru sendiri main hide-and-seek diantara dinding karang.

Dari Sunyaragi, kami makan siang di Empal Gentong H. Apud. Aku memang udah kebayang-bayang empal asem yang segar dari kemaren. Kami makan dengan lahap, sambil mengira-ngira, apakah kami akan langsung pulang atau nggak. Mau pulang kok rasanya masih capek.

Karena aku masih pengen liat Batik Trusmi yang nggak jauh dari tempat makan, kami sepakat untuk menginap satu hari lagi di Cirebon. Toh Malik nggak keberatan. Walaupun nggak lama-lama, aku sempat mengunjungi salah satu toko dan beli beberapa potong batik.

Sepertinya, Cirebon memang bisa jadi pilihan menyenangkan untuk berakhir pekan kalau dari Jakarta. Sejak ada tol baru, jarak tempuhnya semakin dekat. Cirebon juga banyak menawarkan atraksi. Mau makan enak, ada empal gentong dan nasi jamblang yang terkenal. Mau belanja, ada pusat batik. Mau wisata sejarah, ada keraton dan Sunyaragi. Hotelnya pun terjangkau. Jadi terpikir lain kali pengen bawa orangtua kesini deh.

Karena mau menginap semalam lagi, aku jadinya cari-cari hotel lagi. Dari hasil browsing, aku menemukan hotel baru yang cukup menarik. Resort sih, lebih tepatnya. Namanya Desa Alamanis. Seusai belanja, kami langsung menuju lokasinya yang agak keluar kota.

Ternyataaaa, resort ini menyenangkan sekali! Di desain dengan nuansa kayu yang kuat plus lansekap yang hijau segar, begitu masuk terasa adeeeeemmm, kayak di desa beneran. Bahkan, resort ini mengelompokkan kamar-kamarnya dalam bentuk RT. Ada enam RT yang tersebar, dan dalam satu RT ada beberapa kamar.

Kami sendiri memilih kamar dengan jenis Panembahan yang lebih besar dari kamar standard. Lokasinya ada di RT 1, tak jauh dari lobby. Namun, jalannya adalah jalan setapak bertangga. Pegel juga kalau harus bawa barang berat. Dalam RT 1 ini, ada 6 kamar yang jadi seperti tetangga. Di depannya, ada teras besar yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni RT.

Kamar kami sendiri ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan, hahaha! Selain area kamar yang terdapat sofa dan TV, masih ada ruang kerja yang dipisahkan dengan gebyok, teras belakang dengan taman kecil untuk bersantai, serta kamar mandi super besar dilengkapi kolam kecil dan taman.

Malik yang tadinya ogah-ogahan di ajak ke hotel baru, tiba-tiba jadi semangat sekali. Dia bilang dia suka banget sama hotelnya. Kami juga sempat memesan makan malam dari restoran, yang rasanya cukup enak dengan harga cukup terjangkau pula! Bahkan setelah makan, si Bapak tepar tertidur, sementara anaknya masih banyak batre dan mainin ini itu sampai berantakan, hahah!

201707 crb5 201707 crb6 201707 crb7

Air mancurnya ngga ada dan kolamnya kering, tapiiii tetep seru main hide and seek 😀

201707 crb8

Duo Empal, keniqmatan yang HQQ.

201707 crb9

Ada yang keukeuh mau beli baju dan pilih sendiri bajunya. Ungu-orens bok! 

201707 alamanis01

Nyampe di Desa Alamanis Resort dan dikasi pemandangan ijo ijo beginiii… laaaf!

201707 alamanis13

Lobby-nya lucuk!

201707 alamanis12 Pulang dari sini, malik terobsesi sama mesin ketik 😀 

201707 alamanis17Si ibu, nggak bisa liat background bagus dikit ih!

201707 alamanis14

Beranda di depan kamar yang bisa dipakai berbarengan dengan kamar tetangga. 

201707 alamanis02

Kamar yang masih rapi sebelum diberantakin Malik. Luas yaaaa!

201707 alamanis15

Kamar mandinya juga gedeeee… pake kolam mini segala.

201707 alamanis16 Masih ada teras belakang kamar plus taman kecil di depannya. Beneran berasa rumah deh!

***

Day 7

Aku sengaja bangun pagi demi mengelilingi resort ini. Ternyata, kalau okupansi tamu nggak banyak, sarapannya diantar. Jadi, pagi-pagi di teras sudah ada ibu-ibu yang membawa rantang, termos dan segala rupa untuk sarapan. Karena Malik dan Bapaknya belum bangun, aku sarapan sendirian sambil ngobrol dengan ibu-ibu itu. Duh, berasa ngerumpi dengan tetangga! Sarapannya pun pakai pisang rebus segala, lucu!

Aku mengitari resort sambil motret-motret. Ketemu dan ngobrol sama tukang kebun yang lagi beresin tanaman. Duh, ngiler banget liat bunga-bunganya. Waktu kembali ke kamar, Malik sudah bangun dan mau berenang. Kami pun meminta sarapan diantar aja ke pinggir kolam. Wih, sarapan nasi bogananya enak!

Kami menghabiskan pagi dengan berenang di kolam. Walaupun airnya dingin, tapi Malik senang banget! Kayaknya pas banget deh resort ini jadi penutupan perjalanan kami.

Sebelum pulang, kami sempat makan siang di restoran Klapa Manis yang masih satu grup dengan resort. Letaknya pun hanya seratusan meter dari resort. Katanya, ini restoran dengan view terbaik di Cirebon. Kalau malam sepertinya bagus lihat lampu-lampu kota Cirebon dari restoran ini.

Ahhh… selesai juga akhirnya liburan singkat kami. meskipun ada diselingi kerja sedikit, tapi aku senang! Sampai liburan berikutnya ya!

201707 alamanis03

Sarapan di Desa Alamanis pakai rantang di antar ke kamar, lucu!

201707 alamanis04

Kiri – Salah satu sudut. Kanan – Ngurusin taman segini besar kelarnya lama deh kayaknya yaaaa

201707 alamanis05

Kamar-kamar di Desa Alamanis resort modelnya kayak rumah di kampung yang bertetangga.

201707 alamanis06

Eh, ada yang udah bangun dan nggak sabar pengen berenang!

201707 alamanis07 201707 alamanis08

201707 alamanis11 201707 alamanis10

Difotoin Malik :’)

***

RM Suka Sari – Jalan Raya Prupuk, Tegal.

Hotel Batika Cirebon – Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, Kesambi Cirebon West Java, Indonesia Ph. +62 231 833 8000

Goa Sunyaragi – Sunyaragi, Kesambi, Cirebon

Empal Gentong H. Apud – Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat, Tengah Tani, Battembat, Tengah Tani, Cirebon, Jawa Barat 45153

Desa Alamanis Resort Villa – Jalan Cirebon Kuningan, Gronggong, Beber, Patapan, Beber, Cirebon, Jawa Barat 45172. Phone: (0231) 8800889

Roadtrip Seadanya: Purwokerto

Belakangan ini kami sering pergi-pergi. Tapi, perginya bukan buat liburan seperti biasa. Sejak sibuk mengurusi bisnis baru di Medan dan Bandung, plus banyak acara keluarga besar, “liburan” selalu diselip-selipin diantara kerjaan atau urusan lain. Nah, bulan Juli lalu, kami bertekad untuk beneran libur. Bersantai aja gitu. Kami pengen ke tempat yang nggak terlalu jauh (budget terbatas bok!), tapi tetap menyenangkan. Dengan segala pertimbangan, kami memilih roadtrip ke Purwokerto! Yay!

Day 1&2

Kami sudah pernah ke Purwokerto sebelumnya. Dan itu sangat berkesan. Kebetulan, kami juga ingin kembali bersilaturahim dengan sahabat lama, teman kerja si Abang dulu, Pak Zaky dan keluarganya.

Begitu nyampe Purwokerto menjelang magrib, kami langsung disamperin di hotel. Mereka mengajak kami makan malam di warung kopi bernama “Kopi Lanang”. Tempatnya seru banget. Kopi dan makanannya juga enak-enak. Aku makan sayur pakis yang sedap atas rekomendasi Mbak Arum, istrinya Pak Zaky. Tapi di antara gossip emak-emak dengan Mbak Arum, liatin anak-anak kicik yang lari-larian (Malik sempet jatuh dan nangis kejer ajah!), aku nggak sempet fotoin tempat ini malam itu.

Dari hasil ngobrol, aku tau bahwa Pak Zaky dan Mbak Arum barusan membuka usaha hidroponikan. Tadinya kirain hidroponik mereka hanya buat konsumsi pribadi, eh taunya banyak yang mau beli. Jadilah kami dengan semangat mengatur rencana supaya besokannya bisa mengunjungi kebun, hihihi!

Tapi ternyata besokan paginya hari hujan! Kami menunggu-nunggu, tapi hujan tak kunjung reda, hiks. Akhirnya kami memutuskan untuk main aja ke rumah mereka, membiarkan anak-anak main bersama. Agak sore, langit sedikit cerah, jadi kami memutuskan untuk langsung berangkat ke kebun yang nggak jauh dari rumah mereka.

Dan kebunnya menyenangkan sekali! Mata langsung seger ger ger, liat barisan selada, pokcoy, dan kale. Ada juga timun yang rasanya manis banget! Anak-anak langsung heboh main tanah, sementara kami ngobrol santai sambil ngopi. Duhh… beneran deh, ngiler banget liat kebunnya! Pak Zaky bilang malah banyak ibu-ibu dateng kemari, bukan hanya buat beli sayur petik sendiri, tapi juga foto-foto, hihihih!

201707 pwt01

Menuju kebun, wiii udah kelihatan tuh!

201707 pwt09

Nggak sanggup liat begini langsung poto-poto, ahahahha!

201707 pwt02

Anak-anak pada hepi main tanah :’)

201707 pwt08

Coba, gimana nggak kalap liat beginian?

201707 pwt11

Sepatu dan celana Malik udah nggak jelas warnanya 😀

201707 pwt03

Ngopi-ngopi di kebun, adududududuh… sedap!

201707 pwt07

Foto keluarga wajib 😀

201707 pwt10

Sampai ketemu lagi, kebun hidroponikan!

***

Day 3

Hari kedua di Purwokerto, kami memutuskan untuk stay di hotel aja. Sebab, kemarin sudah seharian di luar. Kami menginap di Java Heritage Hotel, yang terletak di kota. Hotel ini menyenangkan sekali. Di lobby-nya ada seperangkat gamelan yang sebenernya hanya untuk display. Tapi, begitu melihat ini, Malik langsung beraksi, hahaha! Hampir setiap ada kesempatan dia akan meminta untuk turun ke lobby dan bermain gamelan.

Kolam renangnya juga luas dan menyenangkan. Ada air mancur yang buat Malik kesenengan, sebab dia sedang tergila-gila sama air mancur. Kami menghabiskan sepagian bermain di kolam. Mmm… maksudnya si Abang main sama Malik, sementara aku ada sedikit kerjaan yang harus diselesaikan, hihihi. Taman kolam ini juga lucu! Ada maze kecil yang buat penasaran, ada kolam ikan dengan dinding transparan seperti aquarium, plus banyak tempat duduk yang nyaman.

Kami memilih kamar deluxe yang ternyata cukup lega. Awalnya hanya booking dua malam karena berpikir untuk pindah dan merasakan hotel lain (kebiasaan!). Tapi Malik sepertinya terlalu capek dan nggak mau pindah, akhirnya malah extend dua malam lagi.

Kami makan siang di restoran Umaeh Inyong yang dulu pernah kami datangi juga. Lokasinya pun tak jauh dari hotel. Tapi, ternyata Malik ngantuk banget. Jadilah kami makan buru-buru dan balik ke hotel.

Sorenya, setelah segar, kami keluar untuk makan malam. Diajakin Pak Zaky dan Mbak Arum untuk makan Soto Jalan Bank. Ya ampun, ini enak banget deh! Kalau ke Purwokerto harus coba pokoknya!

Setelah makan, kami jalan-jalan ke tempat paling hits: alun-alun Purwokerto, hihihi. Anak-anak langsung lari-larian dan minta beli bubble. Tapiii, sayangnya hujan mulai rintik-rintik. Anak-anak juga mulai gelisah. Akhirnya Pak Zaky dan keluarga pamit dan kami bertahan sebentar di Alun-alun karena Malik pengen liat air mancur dulu!

201707 jahe02

Sebelum main gamelan harus permisi sendiri, tanya ke pak satpam boleh apa nggak dimainin 😀

201707 jahe01

Adukan es dan sikat gigi pun bisa jadi stick drum kalau sama Malik -.-

201707 jahe04

Hanya satu menit lah kamar bisa rapi begini. Selebihnya ya anak kicik udah heboh mainin ini itu. Senangnya, kamar di Java Heritage Hotel ini cukup lega, jadi nggak khawatir anaknya lari-larian gak jelas 😀

201707 jahe07

Kiri: Kolam renang hotel Java Haritage ini menyenangkan! Kanan: Yah, sendal pun dijadikan ‘stik drum’. Bebas lah Malik!

201707 jahe06

Bapak push-up dulu katanya biar perut agak rata pas di foto :D, ibu mah santai di pinggir kolam aja lah ya… 

201707 jahe05

Tenang Pak… perutnya nggak keliatan kok 😀

201707 jahe03

Se. La. Lu. 

201707 btr08

Soto Jalan Bank. Endeeuusssshhh…

201707 jahe12

Alun-Alun Purwokerto. Nama mall-nya mesra ya 😀 

201707 jahe09

Bapak Ibu gak mau kalah pengen main, ahahahah!

201707 jahe10 201707 jahe11

Kayaknya beginian ada di mana-mana ya sekarang 😀

***

Day 4

Belakangan ini, adekku juga sering bolak-balik Purwokerto. Bukan cuma karena mendoannya yang ngangenin, dia suka nyari air terjun alias curug buat lompat. Yes, you heard me right: BUAT LOMPAT! Jadi, ada komunitas yang namanya cliff jumping Purwokerto, yang sering jadi teman main adekku.

Nah, kami juga pengen ke curug bawa Malik. Purwokerto memang banyak curugnya. Letak curug-curug ini pun berdekatan, di daerah Baturraden ke atas. Nggak usah sampe lompat-lompat juga sih, tapi buat main air aja. Ceritanya bisa tour de curug gitu. Si Adek merekomendasi temannya untuk aku hubungi biar nemenin kami. Sayangnya anak-anak Pak Zaki tiba-tiba sakit jadi nggak ikutan. Akhirnya, kami pergi ditemanin dengan dua teman si Adek, namanya Oii dan Ripto.

Saat berangkat dari hotel, cuaca udah mendung-mendung manja gitu. Memang sejak kami dateng, Purwokerto agak kelabu. Padahal sebelumnya cerah ceria ngga ada hujan udah lama. Begitu mulai naik ke atas, hujan mulai menetes. Semakin ke atas, semakin lebat. Kami sempat berhenti di parkiran salah satu curug menunggu hujan reda. Tapi karena nggak reda-reda juga, sedangkan hari udah mulai menunjukkan waktunya makan siang, kami sepakat untuk makan dulu. Kamipun menuju Kopi Lanang tempat kami makan di malam pertama kemaren.

Tapiiiii…. Di tengah jalan, Malik nangis meraung-raung! Dia keukeuh mau main di sungai. Memang dari awalnya berangkat ke Purwokerto, kami sudah bilang akan main di sungai. Tapi ya gimana? Akhirnya mobil dihentikan di pinggir jalan, dan aku mengajak Malik keluar mobil. Menceramahinya panjang lebar soal hujan yang deras dan Malik bisa lihat sendiri kabut semakin tebal. Main di sungai saat hujan deras itu berbahaya. Tapi dasar Malik, dia tetap teguh pendirian mau main di sungai. Hhhhh… gimana dong.

Setelah berfikir, aku ingat bahwa di Lokawisata Baturraden juga ada sungai. Dulu saat kesana, sungainya hampir kering, jadi mungkin bisa buat main. Akhirnya, ditengah hujan, kami memutuskan untuk ke Lokawisata Baturraden aja.

Sampai disana, walah! Ternyata sungai yang dulu kering kini airnya sudah tinggi dan arusnya deras sekali. Dulu bisa santai menyebrang sungai, kini bermain pun dilarang karena arus sedang deras. Ya udah, akhirnya kami makan pecel aja deh, sambil minum susu jahe menunggu hujan agak reda.

Setelah hujan reda, aku ingat ada aliran sungai kecil di situ. Lebih kayak parit sih, hihihih. Jadilah kami mengitari area lokawisata itu demi sungai/parit itu. Malik girang sekali saat ketemu sungai kecil itu. Tapiiiii… saat Bapaknya  mencelupkan kaki Malik ke air, dia langsung minta udahan, hahahahah! Dingiiiinnnn, katanya! Owalah naaakkk, minta sungai sampe tantrum, eh udah ketemu sungai mainnya nggak sampe lima menit. HIH!

Dari situ, kami langsung kembali lagi ke Kopi Lanang buat leyeh-leyeh. Minum hangat-hangat dan makan pisang goreng. Yang kasihan sih Oii dan Ripto yang udah nemenin kami sampe hujan-hujanan. Huhuhu… maaf yaaa! (bersambung)

201707 btr02

Sungai Baturradennya juga udah banjir begini…

201707 btr01

Hujan-hujan pun keukeuh ya nak…

201707 btr03

Daaannnn… dia hanya bertahan dua menit sodarasodara…

201707 btr04

Akhirnya pindah tongkrongan ke warung kopi.

 

 

 

Processed with VSCO with f2 preset

Warung Kopinya lucuuu…

201707 btr05

Santai baeeeeeee…..

***

Kebun Hidroponikan Purwokerto – Delivery/Kunjungan kebun : 08112209230

Java Heritage Hotel – Jl. Dokter Angka No. 71, Sokanegara, Purwokerto Timur
Purworkerto, Jawa Tengah, Indonesia

Soto Jalan Bank – Jl. RA. Wiryaatmaja No. 15

Kopi Lanang – Jl. Raya Baturaden Bar. Karangtengah, Rempoah, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53151

Roadtrip Life is A Beach: Tanjung Lesung dan… Pulang!

Day 12
Liburan telah tiba di penghujungnya. Kami harus mengakhiri perjalanan yang menyenangkan ini. Walaupun harus usai, kami checkout dari Wisma Sarang Badak di Desa Sumur dalam keadaan super bahagia. Tapi tetap saja, karena euforia pantai masih belum sirna, kami sepakat untuk berhenti di Pantai Tanjung Lesung, yang jarak tempuhnya – menurut google map – tak sampai satu jam dari Desa Sumur.

 

Pantai Tanjung Lesung ini adalah kawasan wisata berbentuk resort. Memasuki kawasan ini di hari minggu – setelah hampir dua minggu bercengkrama dengan yang serba alami dan jauh dari peradaban – terasa…. emmm… ‘menyilaukan’ mungkin adalah kata yang tepat. Meskipun pantainya lumayan bagus, tapi terasa benar ‘campur tangan manusia’-nya. Orang-orang begitu ramai, dan harga-harga aktivitasnya yang mahal membuat kami serasa ada di mall, hahahah. Seperti culture shock!

 

Mungkin kalau kami datangnya dari Ancol, lalu ke Tanjung Lesung, rasanya pasti, ‘waaahh… bagus, bersih dan alami!’. Karena, dibandingkan air di Ancol (yang agak segan buat direnangi), disini jelas airnya masih sangat bersih. Pantainya pun bukan hasil reklamasi. Pohon masih banyak dimana-mana. Tapiiiii… karena kami datang dari Ujung Kulon yang memang super duper alami, jadinya yah gitu deh, hahahah! Kami sama sekali tidak berniat untuk main di pantai yang penuh dengan orang. Apalagi beraktifitas seperti main jetski, banana boat atau semacamnya. Untungnya, ada spanduk besar bertuliskan ‘Flora dan Fauna Conservation Park’. Jadilah kami melihat-lihat sebentar. Ternyata ini adalah semacam kebun binatang mini. Isinya beberapa jenis burung dalam sangkar, ayam, kolam angsa dan beberapa ekor kambing berkeliaran bebas (tapi kambing ini mungkin liar, entahlah.)

 

Karena tidak terlalu tertarik dengan tempat ini, kami akhirnya hanya membeli makanan untuk dimakan di jalan pulang. Setelah sholat Dzuhur, kami naik mobil untuk menuju pulang. Bagusnya, tempat ini jadi semacam transisi psikologis antara liburan dan rumah, hihihi! Cibubur, kami pulaaaaang 😀

 

The End

tjl01 Jalan masuk ke kawasan Tanjung Lesung, mengingatkan kepada jalan masuk komplek rumah kami, ahaha!

tjl02 Area Beach Club, Pantai Tanjung Lesung.  

tjl03 Berbagai jenis kegiatan yang ada di area ini. Tapi ya mahaaalll 😀

tjl04 Jalan menuju Conservation Park

 tjl05 Ada ayam 😀 

tjl06Kalau mau pantai cukup alami dan nggak terlalu jauh dari Jakarta, kawasan Tanjung Lesung ini lumayan banget buat jadi alternatif.

tjl07Mari pulaaaanggg!

***

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Roadtrip Life is A Beach: Cidaon dan Karang Copong

Day 10

Kami memulai hari dengan santai. Tadi malam tidurnya nyenyak banget di kapal. Mungkin karena musim sedang bagus, anginnya tidak banyak sehingga goyangan kapal hampir tidak terasa.

Pagi ini kami berencana pergi ke Cidaon yang letaknya di seberang dermaga Pulau Peucang. Paling hanya lima belas menit naik perahu. Cidaon ini adalah salah satu atraksi yang wajib dikunjungi di Ujung Kulon. Tiap pagi, berbagai binatang berkumpul di padang savanna Cidaon. Ada banteng, rusa, dan burung merak.

Begitu BabyM bangun, kami menghidupkan mesin. Dan seperti yang diprediksi, dia takut lagi., meskipun kadarnya terlihat berkurang. Aku segera menghidupkan musik dari handphone untuk mendistraksinya dari suara mesin. Kali ini BabyM mendengarkan ‘Shake It Off’- nya Taylor Swift, bergantian dengan ‘New York, New York’-nya Frank Sinatra. Ho oh!

Jam 7.30 pagi kami tiba di dermaga Cidaon. Pak Nung dan Om Ji ikutan turun karena nggak ada siapa-siapa juga di pos ranger. Kami jalan masuk hutan yang jalan setapaknya cukup besar. BabyM terlihat senang sekali. Nggak mau dipegang sama Bapak atau Ibu, maunya jalan dengan Pak Nung dan Om Ji, dambil sebentar-sebentar berhenti memungut ranting dan daun sambil bertanya, “Pohon apa nih?” atau “Bunga apa nih?”.

Setelah jalan sekitar 15 menit, terlihatlah padang savana Cidaon. Ternyata kami sedikit telat karena jam sudah menunjukkan hampir jam 8 pagi. Biasanya, binatang berkumpul disini sejak jam 6 dan kembali ke hutan jam 8 karena matahari mulai tinggi. Tapi, senangnya… walaupun tidak banyak, kami sempat melihat sekawanan kecil banteng plus seekor banteng jantan yang gagah, dan tiga ekor burung merak betina. Nggak bisa dekat sih, kayak di kebun binatang. Tapi buatku, melihat binatang langsung di habitatnya itu rasanya luar biasa. Semacam gabungan rasa beruntung, bangga dan terhormat.
Kelar liat banteng dan merak, BabyM ngambek. Dia bilang, “Mau disini aja,” sambil duduk di rerumputan nggak mau berdiri. Usut punya usut, ternyata dia sudah ngantuk. Akhirnya digendong, dan tidur seketika. Langsung aja kami suruh Pak Nung dan Omji untuk duluan ke kapal dan menghidupkan mesin supaya kami bisa langsung jalan balik ke Pulau Peucang. Begitu mendekati kapal, aku langsung puterin musik di handphone dan mendekatkannya ke telinga BabyM. Awalnya nangis sedikit, tapi karena dengar musik langsung tenang. Yayyy! Setelah sampai langsung deh dipuji bertubi-tubi karena sudah berani dan nggak nangis. Begitulah jadi orang tua ya. Mesti percaya sama proses 😀
Kembali ke Pulai Peucang, kami langsung lanjut main air dan main pasir sampe jam makan siang. Setelah makan lalu tidur siang dan sorenya main air lagi. Island life, how awesome!

 

UK18 Kiri: Kabin kapal yang cukup nyaman buat bertiga. Kanan: Sarapan dulu gaesss…

UK20 Akrab bener… sampe lupa sama bapak ibu 😀

UK22Tadaaa… ini dia savana Cidaon. Beruntung masih bisa lihat kawanan banteng. Itu yang hitam adalah jantannya. Gagah ya! 

UK25 Masih setia dengan Pak Nung. Mungkin dia lagi negosiasi biar bisa magang jadi ABK 😀 

UK26Kiri: Ada yang nggambek nggak mau pulang. Kanan: Ternyata ngantuk…

UK27Dermaga Cidaon dan pose ala ala 😀

UK28Balik lagi ke Pulau Peucang dan main pasir sepuasnya. Ibunya mau berenang, anaknya dicuekin bentar 😀UK29

Model main airnya BabyM: minta air laut dimasukkan dalam ember, lalu diciduk pake mangkok, disiram ke badan. Berenang? Apa itu? 

 

 

Day 11

Bangun pagi, si Abang langsung nyemplung snorkeling karena liat ikan banyak banget di sekitar kapal. Saat BabyM bangun, aku mengajaknya sarapan di dermaga sambil liat si Abang berenang. Eehhh… taunya dia malah minta masuk air, berenang dengan si Abang. Akkk… langsung bahagia doonngg! Soalnya, walaupun BabyM sangat suka pasir, dia masih nggak bisa menikmati air. Selama ini, baik di pantai maupun kolam renang, kami selalu memasukkannya dengan sedikit memaksa (baca: langsung cemplungin aja!). Kali ini, dia minta dan dengan sukarela dicelup-celupin ke air. Walau nggak lama-lama, tapi ini sebuah kemajuan yang sangat berarti buat kami!
Selesan snorkeling, mandi dan sarapan, kami berencana untuk trekking masuk hutan, ke lokasi bernama Karang Copong. Letaknya masih di Pulau Peucang, tapi ada di sisi lain. Biasanya, wisatawan kesana untuk melihat sunset. Tapi, sekali jalan jaraknya sekitar 2,5km. Berarti pulang-pergi 5km. Waktu tempuh biasanya sekitar 1 jam. Perginya sih mungkin enak ya. Tapi kalau pulangnya selepas sunset, berarti kan satu jam-an dalam hutan bergelap-gelapan. Kalau bawa BabyM ya nggak usah dulu liat sunset kali ya! Lagian, ini adalah hari terakhir kami di sini.

Kami masuk hutan ditemani seorang ranger yang bertugas, Pak Saad namanya. Sepanjang jalan, Pak Saad bercerita macam-macam. Ia menerangkan beberapa pohon yang kami lewati. Kami juga sempat melihat rusa berkeliaran dalam hutan, babi, juga burung merak. Berberapa burung rangkong juga terdengar melintas di atas. Menurut Pak Saad, kalau sedang musim buah pasti lebih banyak burung.
Awalnya BabyM mau jalan. Sebentar-sebentar dia berhenti dan bertanya pohon apa, bunga apa. Dia bahkan mau lihat pohon-pohon di dalam hutan yang tidak dilewati jalur trekking. Tapi lama-lama gelisah dan merengek. Yah, tanda-tanda ngantuk nih. Jadilah dia aku gendong. Lumayaaaannn… jalan dua kilo di hutan sambil gendong anak 10kg *Nggak usah latihan freeletics seminggu*

Sampai di Karang Copong, pemandangannya baguuusss! Tapi harus naik lagi ke tempat yang lebih tinggi. Karena BabyM agak rewel, aku dan Abang naik bergantian. Setelahnya, kami istirahat di pantai sebentar. BabyM tidak terlalu tertarik main pasir, apalagi main air. Jadi kami duduk-duduk aja menikmati angin sambil memakan bekal roti coklat. Sebelum kembali jalan, kami mengumpulkan sedikit pasir, kerang dan pecahan karang yang warna-warni untuk dibawa pulang.

Kami menghabiskan empat jam lebih trekking. Iya, jalannya memang super-duper santai. Setibanya di camp, kami berpamitan dengan para ranger yang ada disitu, dan langsung naik kapal untuk balik menuju Desa Sumur. Di dermaga sudah ada beberapa kapal lain tertambat dan di pantainya sudah banyak pengunjung yang main air. Itu hari Sabtu, jadi wajar ada banyak orang. Kami pulang di saat yang tepat, heheheh…

BabyM mulai menangis saat mesin mulai hidup, tapi kami semakin santai menanggapinya. Aku langsung menyodorkan nata de coco, menghidupkan Creep-nya Radiohead di handphone, dan memberikan wajan untuk mainan. Tak lama, tangisnya pun berhenti.

Di tengah perjalanan, hujan deras turun! Daripada sibuk menghindari air, kami memutuskan untuk main hujan sekalian! Seru sekaliiiiii! BabyM juga sangat menikmati. Dia main masak-masakan dengan wajan dan air hujan, hahahha!

Saat hujan berhenti, kamipun berganti baju. Tak lama kemudian, kami sudah tiba di Desa Sumur. Saat mau turun, ternyata hujan kembali deras. Kami harus menunggu beberapa saat sebelum turun kapal. Dan BabyM tertidur saat menunggu. Hingga akhirnya kami turun, dan naik ke mobil, BabyM masih tidur. Sedih sekali karena dia tidak sempat berpamitan dengan Pak Nung dan Om Ji.

Setibanya kembali di Wisma Sarang Badak, BabyM sempat bertanya dimana Pak Nung dan Om Ji. Tapi, begitu lihat penginapan, dia langsung terlihat bahagia. Ditanya: “Mau kapal lagi?”, dijawab dengan tegas, “Nggak!” Huhuhuhu… mungkin masih agak lama lagi baru bisa ngajakin BabyM naik kapal. But we had sooooo much fun! Ujung Kulon was spectacular!

 

UK30Yaaaayyy… hari terakhir di Ujung Kulon, baru mau nyebur laut dengan sukarela! Good job, son! 

UK31Memulai trekking di hutan. Itu foto di kanan indiahe banget sih, dua-duanya pegang pohon sambil tatap-tatapan 😀

 UK32Waaahhh… ketemu rusa dalam hutan!

UK33 Hai cantik!

UK34 Wah, ini akarnya besar sekali!

UK35

Pohon-pohon yang unik!

UK36

Foto kanan itu BabyM sedang… nyanyi… *yeah, i know….* 

UK37 End of trekking: Pemandangan cantik Karang Copong. Kabarnya ini juga salah satu spot buat diving.

UK38 Pantai Karang Copong, istirahat dulu lah sebentar sebelum jalan 2 jam lagi 😀

 UK40 Pas sampe camp dan mau naik kapal, eh ketemu dua keponakan yang sedang outing kantor. Di Jakarta aja jarang ketemu, hahahah!

UK41 Naik kapal, kembali ke Desa Sumur. Siap dengan wajan dan nata de coco, tentunya!

UK43Waaaaa… hujaaannn! Alhamdulillah!

UK45Wiii… sekalian main ujan aja ah!

UK46Makin ujan, main masak-masaknya makin seru!

UK44Believe me, it was one of the happiest day of 2015! 

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…