Category Archives: Rumah Impian

Rumah Impian: Apakah Baby-Friendly?

Sebelumnya mahap yeeee… belakangan ini postingannya soal bayi melulu. Ya habis gimana kakaaak… 24 jam yang diurus bayi melulu. Harap maklum yaaaa! Kali ini ada selingan soal rumah deh, meskipun masih ada kaitannya juga dengan bayi 😀

 

Waktu membangun rumah dulu, aku dan abang sempat berfikir untuk membuat rumah yang child-friendly atau aman untuk anak-anak. Namun, karena saat itu rencana punya anak masih “diserahkan kepada Yang Maha Kuasa”, kriteria ini tidak terlalu diprioritaskan. Kalaupun ada anak-anak yang berkunjung – seperti ponakan dan anak tetangga – mereka toh juga akan diawasi. Jadi memang rumah ini dibangun dengan pemikiran akan dihuni oleh orang dewasa.

Melihat tangga kami yang cukup curam dengan undakan yang lumayan tinggi,  atau taman kering di dapur, para tamu yang datang kerap melontarkan komentar yang sama: “Wah, gimana nanti kalo punya anak nih?” Lalu kami akan menjawab, “Lihat gimana nanti aja lah!” sambil cengengesan.

Saat akhirnya BabyM lahir, aku dan abang awalnya agak bingung. Tapi seiring dengan bertambahnya kepercayaan diri jadi orang tua, kami jadi lebih santai. Mantranya sakti: “Anak itu cerdas! Dia pasti bisa”. Sebab pada dasarnya, anak kan paling cepat beradaptasi. Memangnya gimana caranya anak-anak Dayak di Kalimantan Tengah bisa naik ke Rumah Betang yang tangganya tinggi banget itu? Pasti bisa karena biasa kan?

Saat BabyM berumur 6 bulan, dia sudah mulai bisa duduk dan belajar merangkak. Sebentar aja, dia udah merangkak kencang banget! Ini anak kemampuan motoriknya membuat bapak ibunya (dan bu dokter!) takjub deh. Padahal sesungguhnya aku nggak pernah mengajarinya macam-macam. Yang ada justru sering aku biarin sendiri di lantai (nggak berani di tempat tidur karena takut jatuh!) karena aku harus ke kamar mandi, atau sholat, atau mengerjakan yang lain.

Belajar duduk dan merangkak ini lumayan bikin deg-degan. Seringnya dia jatuh ke belakang, atau nubruk atau kepentok segala macam furnitur dan dinding. Awalnya sih aku membatasi ruang geraknya dengan membuat benteng dari bantal dan mengalasi lantai dengan selimut. Tapi BabyM itu kalo nemu yang empuk-empuk malah makin menjatuh-jatuhkan badan, sementara kalau di lantai yang keras dia akan lebih berhati-hati. Jadilah aku berprinsip, daripada dia harus dibatasi kemana-mana, mendingan dilepas tapi diberi proteksi.

Lalu, dengan cerdasnya Si Abang memberikan solusi: pakaikan sorban. Kalaupun jatuh, lumayan masih ada yang menahan jadi kepalanya nggak langsung terbentur lantai. Atau kalau nubruk sesuatu, masih ada proteksi biar nggak benjol. Dengan menggunakan kain yang dulu dipakai buat bedong, Aku membungkus kepala BabyM. Alhamdulillah, anaknya mau dipakaikan sorban. Meskipun masih harus selalu dijaga, paling tidak kalau meleng sedikit dan anaknya jatuh, nggak terlalu merasa bersalah lagi, ahahahha…

Tapi, pastinya masalah tetap akan muncul seiring dengan perkembangan. Karena kepala udah nggak jadi masalah lagi, BabyM jadi semakin sering menjelajah rumah. Dengan kemampuan supernya untuk mencari tempat-tempat paling nyeleneh di dalam rumah, urusan baby-proofing alias mengamankan rumah menjadi wajib.

Gimana enggak, meleng sedikit, dia udah sampai ke taman tengah dan mengambil batu untuk kemudian dimasukkan ke mulut. Hyuk. Atas ide dari Mama yang sedang berkunjung, kami akhirnya membeli rumput sintetis dan menutupi taman tengah serta taman dapur agar BabyM tidak mengambil batu. Dan ternyata, rumah ini jadi terasa lebih luas karena daerah taman itu bisa dijadikan tempat bermain juga!

Selain itu, aku juga memasang pelindung di sudut-sudut meja yang tajam dan menutup stop kontak yang letaknya cukup rendah. Kabel-kabel ditutupin sesuatu agar tidak kelihatan dan jadi bahan mainan. Perabotan atau pajangan yang bisa dijangkau langsung diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Si Papa juga dengan senang hati bertukang dan membuat pagar dari kayu agar BabyM tidak bisa masuk ke dapur atau turun tangga.

Alhamdulillah, sejauh ini rumahnya baik-baik saja untuk BabyM. Walaupun sana-sini banyak “rintangan” mengingat ruang terbukanya tidak banyak, tapi justru rintangan ini membuat BabyM jadi banyak belajar untuk menyiasatinya. Dia terlihat tangkas, lincah dan gesit untuk bermanuver. Dari merangkak kencang, dia bisa langsung nge-rem dengan pakem sebelum nabrak dinding atau furnitur. Nanti kalau dia sudah punya skill baru, mudah-mudahan kami diberi hidayah lagi untuk kembali berimprovisasi 😀

Yang pasti, aku percaya bahwa BabyM bisa. Aku hanya harus sabar mengajarinya dan konsisten dengan ajaranku sendiri. Lagian, kalau jatuh, kepentok atau sakit, itu juga pelajaran, kan? Pelajaran bagi anak bahwa hidup tidak melulu enak. Juga pelajaran bagi orang tua bahwa kita tidak selalu bisa melindungi mereka dan oleh karenanya mereka juga harus belajar untuk berhati-hati dan bisa melindungi diri sendiri. Prinsipku, kalau anak jatuh atau nubruk, mendingan langsung peluk, ditenangkan dan bilang hati-hati. Nggak perlu pukul lantai atau dinding dan bilang lantainya jahat 😀

Jadi, apakah rumah ini baby-friendly? well… baby-friendly itu adanya *disini* kakaaaaak #gebukdada

 

 

proof8

Assalamualaikum, Pak Haji 😀

 

proof9

Sorban dibuat dari kain bedong yang dilipat-lipat, lalu diikat di kepala

 

proof2

Taman dapur ditutup dengan rumput sintetis biar batunya nggak dimainin (atau dimakan!) 

 

proof3

Taman tengah juga ditutup dengan rumput sintetis yang praktis kayak karpet.   

 

proof7

Di atas taman tengah sekarang dipasang kanopi yang bisa dibuka tutup. Tapi ini sudah dipasang sejak beberapa bulan lalu.

proof6

 

proof10

 

BabyM main di taman tengah. Berasa pengen ikut tiduran sambil bilang “I feel freeeee…” nggak sih? 😀

 

proof5

Ujung meja yang tajam diberi pengaman

proof4

Selain ujung meja, stop kontak yg bisa dijangkau babyM juga ditutup. 

 

proof1

Pagar pengaman tangga dari kayu bekas hasil karya Atok-nya BabyM. Paten lah!

 

 

note: Pengaman sudut meja, stop kontak dan rumput sintetis bisa dibeli di Ace Hardware. Rumputnya  beli meteran dengan lebar 1 meter.