Category Archives: Parenting

Webinar Homeschooling #8: Evaluasi dalam Homeschooling

Nggak terasa webinar homeschooling Rumah Inspirasi udah masuk minggu ke-8 ya. Udah menjelang akhir. Apalagi temanya kemarin adalah soal evaluasi. Makin kerasa deh aura perpisahannya. Huhuhhu…

 

Soal evaluasi ini sesungguhnya buat aku bingung. Kalau di sekolah kan evaluasinya rapor ya? Setelah belajar sekian bulan, lalu anak-anak ikut ujian, kemudian dikeluarkanlah rapor berisi nilai yang sebagian besarnya merupakan skor ujian akhir. Nah, Kalau homeschooling gimana dong evaluasinya? Gimana caranya mengukur sudah sejauh apa anak kita belajar?

 

Menurut Mas Aar, pertama dan yang paling utama, sudut pandang evaluasi menggunakan rapor atau nilai-nilai ini perlu diformat ulang. Meskipun rapor bisa digunakan untuk menilai hasil, tapi ia hanyalah bagian kecil dalam proses pendidikan anak-anak. Dalam homeschooling, evaluasi tidak hanya soal angka, tapi juga bagaimana memberi perhatian soal prosesnya.

 

Setiap evaluasi tentunya mempunyai titik awal pengukuran. Nah, dalam homeschooling titik awalnya tentulah si Visi Pendidikan Keluarga. Visi ini kan kemudian dijabarkan dalam bentuk kurikulum atau rencana kegiatan. Lalu, dalam jangka waktu tertentu, barulah kita bisa mengevaluasi, apakah yang terjadi di lapangan itu sudah sejalan dengan yang dicita-citakan. Proses ini idealnya dan seharusnya dilakukan secara terus menerus. Bisa evaluasi tahunan, bulanan, mingguan, bahkan harian.

 

Hah? Evaluasi harian? Nggak salah nih? Itu yang ada dalam pikiranku pada awalnya. Kalau yang di kepala adalah rapor, tentunya membingungkan ya. Tapi seperti yang dijelaskan sebelumnya, evaluasi bukan melulu soal angka. Dan homeschooling (terutama pada anak usia dini) tentunya menitikberatkan pada pembentukan karakter dan kebiasaan baik. Jadi, kalau misalnya dalam visi pendidikan keluarga dicantumkan bahwa ingin anaknya menjadi manusia yang berakhlak baik, saat anaknya berkata kasar kepada orang lain, orang tua bisa langsung mengingatkan, memberi masukan dan contoh bagaimana bicara yang sopan. Itu juga namanya evaluasi, loh! Dan mengingat toddler macam BabyM itu bisa berbuat macam-macam hal yang “ajaib”, pastinya ada aja tingkahnya tiap hari yang harus dikoreksi. Jadi, masuk akal juga bahwa untuk evaluasi seperti ini, bisa dilakukan tiap hari.

8 tanggaContoh evaluasi harian: Tangga udah ditutup agar tidak dinaiki, tapi anaknya ketahuan naik sendiri, dan tiba-tiba meluncur bak main perosotan. *Jantung ibu mau copot* Langsung deh dinasihati supaya tidak melakukan itu sendirian. “Kalau mau main itu, harus ditemani oleh Ibu atau Bapak, ya!” Lalu menghela nafas panjaaaaaaaaaaang banget T.T

 

Dalam homeschooling, ada dua sudut pandang evaluasi. Yang pertama adalah evaluasi sebagai alat refleksi orang tua. Apakah kegiatan homeschooling ini sudah efektif? Apakah anak senang dan menikmati prosesnya? Cukup variatifkah kegiatannya? Sudah sesuai dengan Visi Pendidikan Keluarga? Sudut pandang ini terus terang baru bagiku. Aku tau sih, bahwa orang tua harus refleksi. Tapi, kalau dipandang sebagai evaluasi proses pendidikan anak, ya baru ngeh saat denger webinar. Ini sangat masuk akal dan menohok. Ibaratnya, kalau anaknya salah, atau kurang baik dalam satu bidang, yang pertama dilakukan adalah refleksi diri dulu. Kali aja kita yang memberi contoh kurang baik atau tidak konsisten dalam keseharian.

 

Yang kedua adalah evaluasi untuk menilai hasil belajar anak. Untuk evaluasi ini, cara dan alat evaluasinya bisa macam-macam. Bisa dengan tanya-jawab informal atau meminta anak melakukan narasi atau menceritakan ulang hal-hal yang baru saja ditemui/dilakukan/ditonton/dibaca. Bisa juga dengan menyuruh anak membuat essay atau presentasi. Bisa dengan mengerjakan soal-soal atau ikut tes. Atau bisa juga membuat portofolio hasil karya anak, Membuat dokumentasi kegiatan dan hasil belajar akan sangat membantu dalam melihat perkembangan skill anak dari waktu ke waktu.

 

Menurut pengalaman keluarga Mas Aar, ada beberapa tipe evaluasi yang selama ini mereka lakukan. Saat anak-anak masih pra-sekolah, fokus utama evaluasi adalah seberapa baik tumbuh-kembangnya, motoric halus-kasarnya, sosialisasinya dan logikanya. Apakah anaknya terlihat menikmati kegiatan. Sesekali, perkembangan itu dicocokkan dengan ceklis tumbuh kembang yang ada.

 

Saat anak-anaknya beranjak besar, ada evaluasi harian dan mingguan yang dilakukan secara informal. Biasanya, saat sarapan anak-anak ditanya rencana mereka hari ini dan saat makan malam mereka me-review kembali kegiatan hari itu. Lalu, ada evaluasi peristiwa, evaluasi yang dilakukan sewaktu-waktu jika anak melakukan tindakan yang kurang terpuji. Jadi setelah kejadian, anak langsung diberi masukan agar tidak melakukan hal demikian dimasa yang akan datang.

 

Selain itu, ada evaluasi karya. Saat berusia 8 tahun, anaknya diberi hadiah blog. Ibarat orang tua memberikan modal sebidang tanah untuk digarap ke anaknya, blog ini juga diserahkan sepenuhnya kepada anak untuk dikelola. Evaluasi berupa ujian juga ada. Bisa berbentuk online atau buku soal.

 

Walaupun aku baru paham seluk beluk evaluasi pada sesi ini, tapi sejak mengikuti webinar Rumah Inspirasi kami (sedikit banyak) ternyata sudah melakukan evaluasi. Selain mencocokkan tumbuh kembang BabyM dengan checklist yang ada, belakangan ini kami juga sering meminta BabyM untuk menceritakan ulang apa-apa yang dilakukan atau dilihatnya.

 

Misalnya, saat pergi piknik ke Kebun Raya Bogor beberapa waktu lalu dengan mengajak mbak-mbak pengasuh anak tetangga, aku bertanya pada BabyM lihat apa disana? Main apa? Dia sudah bisa menjawab “Main sama Mbak,” dan “Lihat Anggrek”. Itu aja udah buat takjub. Karena sering ditanya-tanya, belakangan dia malah berinisiatif untuk cerita sendiri. Seperti saat membaca buku, BabyM sudah bisa menerangkan apa yang dilihatnya. Bahkan dia menunjukkan hal-hal yang aku tidak perhatikan di buku. Terharu tingkat tinggi deh dibuat BabyM.

 

8 krbPergi ke Kebun Raya Bogor dengan para Mbak tetangga. Lihat apa tadi, nak? “Anggrek!” WAH!

 

8 walterBulan ini baca buku Walter The Baker-nya Eric Carle. BabyM sudah bisa cerita, “Susunya tumpah, bu”. Siapa yang tumpahin ya? “Kucing, bu”. Abang Walter sedang apa? “Adon-adon kue”. Aaaww…

 

Sesungguhnya, capaian-capaian kecil itu membuat hati hangat. Hasil “evaluasi” yang membuat segala capeknya jadi ibu rumah tangga jadi lumer. Klise sih, tapi yaaa… emang bener, hihihhi! Duh, ini jadi beneran pengen buat blog khusus untuk dokumentasi perkembangan dan capaian BabyM deh. Buat aja apa ya?

Webinar Homeschooling #7: Internet Untuk Homeschooling

Minggu lalu, kelas webinar Rumah Inspirasi membahas tentang penggunaan internet untuk homeschooling. Walaupun sesungguhnya bebas-bebas aja, tergantung kita mau pakai internet atau tidak, tapi dalam keluarga Mas Aar dan Mbak Lala, internet menjadi elemen yang penting dalam proses homeschooling mereka.

 

Penggunaan internet ini memang ‘ngeri-ngeri sedap’, kalo kata orang Medan. Peluangnya banyak banget. Tapi seperti dua sisi koin, ancamannya juga nggak sedikit. Dengan internet, anak-anak yang tinggal di pelosok desa bisa mengakses informasi yang sama dengan anak-anak yang tinggal di New York atau Tokyo. Ia seperti perpustakaan atau sekolah terbesar di dunia. Tidak hanya bahan bacaan atau referensi, kita juga bisa menemukan guru dan sumber belajar dari segala penjuru dunia. Bumi menjadi tanpa batas dan kita bisa bersosialisasi dengan siapa saja, dimana saja.

 

Tapi, internet membuat kita kebanjiran informasi dan itu bukan hal yang menyenangkan. Memilah informasi, mencari yang benar-benar kredibel, menjadi tugas yang relatif sulit dan butuh tenaga ekstra banyak. Susah sekali untuk focus dengan distraksi macam-macam. Pernah kan, kita niatnya mencari A, tapi udah sejam browsing malah nggak dapet hasil apa-apa karena sibuk klak klik link lain yang menarik? Belum lagi soal kecanduan internet, soal pornografi atau kejahatan internet.

 

Terlepas dari peluang dan tantangannya, nggak bisa dipungkiri bahwa generasi sekarang sudah kenal teknologi sejak lahir. Aku aja udah termasuk generasi millennial, apalagi BabyM, kan? Aku aja udah susah kalo hidup nggak ada internet, apalagi BabyM nanti?

 

Soal internet ini (dan soal screen time secara umum), juga menjadi salah satu perhatianku dan Abang. Saat BabyM lahir, ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa sebisa mungkin kami menjadi orang tua yang present. Kami membatasi penggunaan smartphone jika sedang bersama. Kami juga jarang sekali menghidupkan TV (ya pada dasarnya emang nggak terlalu suka nonton TV juga sih). Tapi, seiring tumbuh kembang BabyM, ya makin sulit banget untuk menjaga agar BabyM tidak terpapar dengan screen, entah itu smartphone, laptop, atau TV. Sebab, kini BabyM sudah melihat banyak hal, dan ia sudah mulai mengerti.

 

Setelah selama ini tidak pernah memberikan gadget kepada BabyM, sekitar tiga bulan lalu, aku akhirnya “menyerah”. Awalnya, ia meminta diputarkan video “kakak nari”, yaitu pertunjukan tarian di Saung Angklung Mang Udjo yang aku rekam di smartphone. Ia meminta rekaman itu diputar berulang-ulang di laptop. Setelah diulang untuk kesekian ratus kali, ibu ini tentunya sangatlah bosan, hahahaha! Akhirnya, muncul ide untuk mencari video di youtube. BabyM saat itu sangat senang main “pam pam”, alias memukul gendang, atau mukul apapunlah yang bersuara. Aku mencari video dengan keyword ‘best drummer in the world’, dan dari beberapa yang ada, akhirnya pilihan jatuh ke video ini:

Ya baru ngerti kalau Mike Portnoy ini eks drummer Dreamtheatre. Aku nggak ngerti sama sekali soal drum, hihihi!

 

Keren ya? Aku dan BabyM melongo dibuatnya! Dan sejak itu, video “Om pam-pam” ini juga sering diputar. Sejak nonton video ini, BabyM makin eksploratif dalam skill pam-pamnya 😀 Dulu dia hanya menggunakan tangan untuk pukul-pukul. Sekarang, dia akan minta sepasang sumpit, dan bahkan menyusun gendang, beberapa kaleng, atau apapun yang bisa dia temui, untuk dipukul bergantian, biar mirip “Om pam-pam” (artinya Om yang pintar pam-pam alias main drum).

 

Setelah itu, aku semakin membuka diri untuk menggunakan gadget bersama BabyM. Selain drum, BabyM sangat suka masak-masak. Aku jadinya mencari video masak yang atraktif. Yang pertama disukai BabyM adalah video ini, video “Om sreng-sreng” (artinya Om yang pintar sreng-sreng alias masak-masak) 😀

 

Sejak nonton video ini, BabyM suka menirukan gaya masak ini. Dengan menggunakan botol air minum, dia akan pura-pura membuat api. Atau pura-pura menambahkan kecap dan merica. Selain ini, ada beberapa video lain yang dia suka, termasuk salah satu favoritnya ini, video “Oma Tusing” (artinya Oma yang pintar tossing pancake), yang membuatnya pintar memainkan Teflon 😀

 

Begitulah, aku ‘menyerah’ dan memilih untuk menggunakan teknologi dna internet dalam urusan parenting. Tapi, tentunya dengan tetap melakukannya secara sadar dan diawasi. Toh dalam sehari paling hanya setengah jam. Itu juga nggak sekaligus. Dan sejauh ini, hasilnya justru positif.

 

Kalau dari webinar kemarin, Mas Aar menyebutkan bahwa kunci pemanfaatan internet adalah menjadi orang tua yang kuat dengan kepemimpinan yang efektif. Kitalah yang memimpin, tidak dipaksa atau disandera anak. Kita harus bisa bilang tidak, meskipun anak merengek, merajuk, marah, atau segala trik lain. Kalau anak kita tidak bisa diatur, itu masalahnya bukan pada anak, tapi pada leadership ortunya. Kita juga mesti memberikan batasan koridor yang jelas. Kapan dan berapa lama anak-anak bisa menggunakan gadget, dan konsisten dengan itu.

 

Orang tua memang musti punya strategi untuk urusan internet ini. Kenali dulu kebutuhan dan tujuannya apa. Apakah untuk belajar, atau hiburan? Beda tujuan pasti beda caranya. Selain itu, orang tua juga sebaiknya melakukan kurasi atas materi yang diakses anak. Apakah layak? Apakah sesuai dengan nilai yang akan ditanamkan? Durasi juga harus ditetapkan, karena anak-anak perlu punya batasan yang jelas. Dan yang tak kalah penting adalah evaluasi secara teratur, sehingga bisa menghindari kecanduan. Kalau sudah ada tanda-tanda kecanduan, misalnya, bisa puasa gadget sejenak dan lebih banyak kegiatan fisik.

 

Tapi pada akhirnya, menurutku, semua kembali ke orang tua. Godaan internet ini banyak banget. Orang tua aja kadang nggak sanggup menahannya, apalagi anak-anak kan? Kalau aku dan si Abang, kami berdua sepakat untuk melatih diri sendiri dulu, mumpung anaknya masih kicik dan belum perlu-perlu amat sama internet. Mudah-mudahan pada waktunya nanti, kami sudah jadi orang tua yang bisa dicontoh anaknya. Aaamiiinnn….

 

Sekarang, offline dulu yaaaaa… mau ngobrol-ngobrol sama si Abang, mumpung BabyM udah tidur. Eaaakkk…

Webinar Homeschooling #6: Belajar dari Keseharian

Oke, sebelum kita lanjut dengan summary webinar minggu ke-6 yang bertemakan ‘Belajar Dari Keseharian’ oleh Rumah Inspirasi, aku mau bilang bahwa materi ini sungguhlah menjawab sebuah pertanyaan sekaligus kegelisahanku selama menjadi seorang ibu:

 

Apakah aku ibu yang pelit?

 

Hhhahaha! Iya, beneran. Aku sering berkontemplasi apakah aku ini tipe ibu pelit? Pasalnya, aku hampir nggak pernah membelikan BabyM mainan. Selama hampir dua tahun usianya, mainan yang aku belikan itu bisa dihitung jari tangan. Dia punya sih beberapa mainan, hadiah dari sahabat dan kerabat waktu lahiran. Tapi itu juga gak terlalu banyak. Beberapa boneka, play mat, dua mainan ‘elektronik’yang kalau dipencet bunyi musik dan sekotak puzzle kayu.

 

Tapi yang aku belikan palingan hanya teether pas bayi, serokan pasir (yang dibeli waktu liburan ke pantai dan sampe sekarang masih suka banget dimainin), bola (obviously!), gasing (oleh-oleh dari Car Free Day), sebuah gendang kecil – atau ‘pam pam’, begitu BabyM menyebutnya – yang kami beli saat ke Saung Angklung Mang Udjo, dan sebuah kompor mini.

 

Katanya kalo punya anak bakal suka beliin macem-macem. Tapi kenapa aku enggak ya? Trus kalau nggak, babyM main apa dong?

 

Yahhh… macem-macem banget ya sebenarnya. Tergantung situasi aja. Kalo misalnya abis dari supermarket dan beli-beli sesuatu yang ada kotaknya, aku kasih aja kotaknya buat mainan. Pura-puranya itu mobil-mobilan, atau ditumpuk jadi rumah-rumahan, ala puzzle. Atau kalau lagi masak, aku kasi aja wajan dan sudip beneran. Kalau lagi mandi, bisa main botol sabun, shampo, sikat, dan segala apa yang di kamar mandi. Atau kalo lagi main di sekitar rumah, kami kumpulin daun-daun kering atau bunga-bunga jatuh. Bertamu ke tetangga untuk liat kucing/burung/ikan/kelinci mereka. Pokoknya main aja sama apa yang ada sambil ngobrolin ini itu.

bakar sateJepit jemuran pura-puranya jadi sate, dan BabyM akan bilang, “Bakar sateeeee…” sambil kipas-kipas 😀

 

gitar jepitBosan dijadiin sate, jepit jemurannya dibuat jadi gitar, dan BabyM akan nyanyi, “Wooowoodiii…. wooowoodii…”Jangan tanya lagu apa, itu dia karang sendiri 😀

 

Nah, lalu, apa hubunggannya perasaanku soal pelit dengan materi webinar ‘Belajar dari Keseharian’ kemarin? Menurut webinar kemarin, hal-hal yang kita lakukan sehari-hari itu sesungguhnya punya potensi besar untuk menjadi materi belajar. Mengutip ebook karya mas Aar, selama ini, sadar atau tidak sadar – kita dijejali pemikiran bahwa pendidikan adalah ‘scarce commodity’, sesuatu yang langka yang hanya boleh dilakukan oleh institusi dan orang-orang yang ahli. Dan tentunya, kita harus bayar mahal. Semakin mahal, semakin bagus. Jadi karena terus menerus ditanamkan dipikiran kita, lama-lama kita menjadi percaya. Percaya bahwa kita nggak mampu ngajarin anak sendiri. Kepercayaan diri kita hilang pelan-pelan. Padahal, siapa yang bisa menyangkal bahwa orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak?

 

Nggak perlu bayar mahal buat belajar. Yang gratis itu banyak banget dan nggak abis-abis buat di eksplor! Tentu saja kalau kita mau dan menyediakan waktu untuk itu.

 

Sebelum terlalu jauh, yang dimaksud KESEHARIAN itu apa aja sih? Contohnya adalah ini:

– kegiatan harian anak-anak (bangun tidur, main sepeda, mandi, makan)

– kegiatan harian ortu (bekerja/mencari nafkah, menyiapkan makanan, mengurus rumah, interaksi dengan lingkungan)

– rumah dan lingkngan sekitar (ruang-ruang rumah seperti dapur, kamar, dll, taman, fasilitas umum, bisnis rumah tangga)

– kegiatan incidental (berkendara pribadi, umum, ke pasar/bank supermarket, dll)

– kegiatan terencana (misalnya liburan keluarga, melalukan pengamatan lalu lintas, dll)

 

Apa saja di sekitar kita bisa dijadikan pelajaran. Yang penting, orang tuanya mau belajar dan sabar dengan proses. Bersedia membuka diri terhadap sekitar dan memperhatikan hal-hal sederhana. Yang terpenting, harus sering-sering praktek. Nah, dari keseharian ini ada banyaaaaaaaakkkk banget yang bisa dipelajari. Apa aja?

  1. Wawasan. Dari keseharian, anak-anak belajar tentang masyarakat, tentang nilai-nilai, lingkungan, dan bagaimana seharusnya menjalani hidup. Misalnya, saat jalan sore berpapasan dengan tetangga, lalu kita mengajak anak untuk menyapa, bertanya kabar. Anak bisa belajar untuk bersosialisasi, belajar tentang kesopanan dan pentingnya bertetangga.

 

  1. Pengetahuan. Dari keseharian, anak bisa belajar soal fakta dan informasi. Pas lagi makan siang, di meja ada tahu tempe. ‘Wah, lihat nih nak, tahu ini bentuknya seperti segitiga ya? Tempe seperti segi empat. Apa lagi ya yang bentuknya seperti itu di ruang makan kita?’. Sambil makan, anak belajar matematika.

 

  1. Keterampilan. Dari keseharian, anak bisa belajar self-management seperti bisa makan sendiri, mandi yang bersih, menempatkan pakaian kotor pada tempatnya, bisa berkontribusi terhadap pekerjaan keluarga.

 

  1. Rasa hati. Dari keseharian, anak belajar merasakan menang, kalah, berbagi, kehilangan, sabar, syukur, pantang menyerah, berterimakasih, minta maaf dan lain sebagainya, yang umumnya nggak diajarin di sekolah. Dari pengalaman sehari-hari, anak terekspos dengan perasaan-perasaan ini dan kemudian bisa memahami perasaannya sendiri

 

Selain sangat murah atau bisa dibilang gratis seperti yang aku ceritakan di awal, kelebihan belajar dari keseharian ini banyak sekali. Salah satunya adalah fleksibilitas yang luar biasa. Materi yang selalu bisa diakses dimana saja, kapan saja, membuat kita nggak akan pernah kekurangan bahan belajar. Mau tinggal di pantai, gunung, kota besar, kota kecil, semua bisa dijadikan pembelajaran. Malah, hal ini akan membuat tiap keluarga menjadi unik, karena memiliki setting/pengalaman yang berbeda. Belajar dari keseharian juga memiliki relevansi tinggi dan memiliki ikatan emosional dengan kehidupan anak sebab materinya sangat dekat dengan mereka. Kalau belajar hal-hal yang dekat dengan kita, pastinya lebih nempel kan?

 

Tidak hanya itu, belajar dari keseharian ini juga sangat berkualitas karena dia memiliki paparan multi dimensi. Maksudnya apa? Gini, kalau kita hanya baca buku tentang kuda, ya kita hanya tau teorinya doang. Tapi, kalau kita langsung ketemu kuda kita merasakannya dengan seluruh indera. Kita bisa mencium baunya, bisa memegang bulunya, bisa mendengar suaranya, bisa memberi makan, juga bisa bertanya langsung pada penjaga kudanya.

 

Begitupun, belajar dari keseharian ini juga ada tantangannya. Kebanyakan materinya adalah ‘raw material’ dengan kompleksitas tinggi. Seperti soal kuda diatas, kalau kita beri anak buku soal kuda, kita bisa menyesuaikannya dengan kondisi anak. Untuk anak yang masih kecil, kita bisa berikan buku gambar-gambar kuda. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, bisa buku yang lebih banyak informasinya. Tapi, kalau melihat kuda langsung, bisa jadi ada pertanyaan-pertanyaan yang kompleks yang bisa buat orang tua bingung kalau tidak mampu mengelolanya.

 

Tantangan lainnya adalah kita tidak biasa dengan model belajar seperti ini, sehingga membutuhkan pendekatan berbeda. Metode ini juga membutuhkan wawasan dan keterampilan orang tua, serta memperkaya pengalaman keluarga.

 

Walaupun kadang-kadang sudah diterapkan dalam keluarga, menurut Mas Aar ada banyak praktisi homeschooling yang tetap aja merasa ‘anaknya nggak belajar apa-apa’. Sesekali mengeluh mungkin wajar ya. Tapi kalau keseringan, mungkin memang ada masalah. Apakah kurang stimulasi? Atau kurang variatif? Atau sebenernya konsep “belajar”-nya yang justru terlalu sempit?

 

Belajar toh bukan hanya tentang calistung atau mata pelajaran. Belajar juga tidak hanya dilakukan di waktu khusus dan dengan lembar kerja atau buku. Dan belajar tidak harus menunggu diajari. Belajar, adalah segala proses yang kita lakukan untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam tataran pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kualitas diri.

 

Mas Aar juga punya tips untuk belajar dari keseharian yang sangat sangat patut untuk dicoba dan dipraktekkan: Lapang hati dan perluas sudut pandang. Selain itu, jangan buru-buru juga mengharapkan hasil. Lebih baik melakukan sesuatu dengan waktu yang singkat tapi diulang-ulang setiap hari sehingga bisa jadi kebiasaan. Kalau anak bertanya dan ingin tau sesuatu, orang tua juga mesti bijaksana dalam menyikapinya. Nggak semua pertanyaan harus dijawab panjang lebar juga sih, nanti anaknya malah keder dan males nanya, hahaha! Yang penting lihat kondisi dan mood anak untuk menjaga agar proses kegiatan itu menarik. Soalnya, orang tua itu seringnya fokusnya pada materi/kualitas sedangkan anak pada proses. Materi seberat apapun, kalau prosesnya menyenangkan anak pasti senang dan melakukan. Sebaliknya, materi segampang apapun, kalau prosesnya dirasa tidak menyenangkan, akan sulit untuk dicerna.

 

Jadiiii, kembali ke poin pertama. Ternyata, aku bukan ibu yang pelit kan yaaaaa? Hahahaha! Aku hanya mengajak BabyM bermain dan belajar dengan menggunakan keseharian, hihihihi. Dan sejauh ini, sepertinya perkembangannya baik-baik aja. Yah, sambil tak lupa berdoa, mudah-mudahan BabyM memang belajar dari keseharian kami yah. Dan selain itu, mudah-mudahan sampai besar dia akan sadar bahwa nggak perlu hal-hal yang mahal untuk belajar dan berbahagia. Bahwa belajar bisa darimana saja dan bahagia itu sumbernya ada di diri sendiri. Amin!

 

Webinar Homeschooling #5: Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu lalu webinar homeschooling Rumah Inspirasi membahas materi apa aja yang bisa diajarkan dalam proses belajar. Menyenangkan ya, jalan pagi atau piknik ke kebun binatang aja bisa jadi bahan belajar, hehehe. Iya sih… kalo masih usia dini alias pre-school sih masih gampang lah ngajarinnya. Lah, kalo udah mulai sekolah gimana dong? Setingkat SD masih bolehlah orang tua ngajarin, tapi kalo udah mulai SMP? SMA? Mikirinnya aja nyali langsung menciut.

 

Menurut sesi webinar kemarin, kalau orang tua mikirnya hanya fokus sama konten atau materi belajar, dan berfikir bahwa orang tua menjadi SATU-SATUNYA sumber pelajaran bagi anak, ya jelas bikin ciut nyali. Nah, disinilah kata kunci PEMBELAJAR MANDIRI masuk. Anak-anak ini, kita didik agar bisa belajar sendiri. Mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan untuk belajar. Kita benar-benar memberikan ‘kail’ dan bukan ‘ikan’.

 

Apa sih pembelajar mandiri itu? Contohnya gini. Aku pengen bikin rendang yang enak buat lebaran. Tapi kan aku gak ngerti caranya gimana. Nah, aku lalu berusaha mencari tau dengan segala cara. Pertama-tama, yang paling gampang aku akan buka internet, meng-google dengan cara mengetikkan kata kunci. Hmmm… kata kuncinya apa ya? resep rendang? Resep rendang enak? Resep rendang padang? Resep rendang rumahan? Resep rendang gampang? Pokoknya mencoba berbagai kata kunci yang memungkinkan.

 

Dari hasil google, aku mencoba satu dari sekian banyak resep yang ketemu. Wah, ternyata rasanya belum pas. Coba yang lain ah. Tapi kali ini, coba aku telepon si Mama di Medan, untuk kasih aku tips dan trik-nya supaya makin oke. Oohh… setelah dicoba makin oke nih rendangnya. Dikasih rasa ke suami, wah, dia suka banget. Dikasih ke orang-orang, juga pada suka banget, malah ada yang minta buatin. Nah, dari sini aku akan berusaha membuat resep sendiri agar rasanya pas sesuai standarku. Coba ini coba itu sampe pas! Akhirnya, aku bisa terima orderan rendang dari orang-orang untuk lebaran nanti. Lumayan, dapat duit tambahan buat lebaran nanti!

 

Nah, itu adalah pembelajar mandiri. Ganti kata rendang dengan apapun yang dimaui anak-anak. Belajar piano? Matematika? Main golf? Prosesnya sama: tau dulu pengen belajar apa, tau dan terampil mencari bahan belajar, pandai mengelola diri (self management) seperti kemampuan membuat rencana, jadwal, penerapan yang konsisten dan mengevaluasi hasil belajar. Gampangnya: belajar secara otodidak.

 

Di era informasi ini, belajar otodidak malah jauh lebih gampang. Tinggal buka internet, kita bisa dapat informasi yang hampir tak berbatas. Pertanyaannya bukan, ‘ada nggak materinya?’, tapi lebih kepada, ‘materi mana yang paling pas untuk aku?’. Karena, kebanyakan informasi juga bikin pusing!

 

Nah, ternyata konsep ‘pembelajar mandiri’ nggak serumit itu kan? Sebagian (bahkan banyak) dari kita yang sudah melakukannya sendiri. Nah, tinggal transfer aja caranya ke anak-anak kita. Lagipula, kita nggak bisa terus-terusan ngajarin anak kan? Mereka akan hidup di dunia yang berbeda dari kita. Ibaratnya, mana bisa sih orangtua kita dulu membayangkan jaman sekarang yang serba digital dan pakai social media? Tapi kenyataannya sekarang, banyak anak-anak muda justru bisa memanfaatkan ini dan terciptalah banyak profesi baru. Seperti para buzzer yang dibayar mahal atau digital agency yang memberikan solusi marketing online kepada perusahaan-perusahaan consumer goods.

 

Kalau kata Alvin Toffler, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write. But those who cannot learn, unlearn, and relearn!” Ho oh banget, Pak!

 

Ini ada video yang menceritakan bagaimana orang tua menjadi fasilitator dari seorang anak pembelajar mandiri. Sukses bikin aku mewek, huhuhuu…

 

 

Tapi seorang pembelajar mandiri tentunya tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang butuh waktu panjang. Orang tua harus membangun budaya senang belajar. Membangun interaksi yang demokratis yang membolehkan anak bertanya sesuka hati tanpa dihakimi atau dimarahi. Juga, memberikan ruang luas untuk anak bereksplorasi, dan bahkan membuat kesalahan. Seperti kita yang sering belajar dari kesalahan yang dibuat, anak-anak juga butuh ini.

 

Selain budaya belajar, anak juga harus diajarin cara membangun keterampilan belajar. Keterampilan bertanya, misalnya. Tidak datang dengan sendirinya. Anak harus belajar berani dan percaya diri untuk bisa bertanya. Atau, keterampilan membaca berbagai hal – tidak hanya buku – seperti diagram, peta, resep, petunjuk manual dan lain-lain. Selain itu, juga bisa diajarkan cara mencari informasi dan menggunakan alat belajar. Gimana mengoperasikan komputer, gimana cara meng-google, gimana cara liat kamus dan sebagainya. Intinya, kalau ada anak bertanya sesuatu dan kita tidak tau jawabannya, ya tidak usah langsung dijawab. “Ibu nggak tau, yuk kita cari sama-sama yuk,” lalu kita cari buku di perpustakaan keluarga, dan tunjukkan kepada anak. Atau, “Wah Bapak nggak tau, tapi teman Bapak mungkin tau. Yuk kita bertamu kerumahnya dan kamu bisa tanya langsung kepadanya!” Orang tua (atau guru sekalipun) bukan dewa yang tau segalanya. It’s okay not to know everything 🙂

 

Dan karena pembelajar mandiri ini bukan produk instan, ada ‘tahapan’ memberikan stimulasi, sesuai dengan perkembangan anak.

 

Tahap 1 – belajar melalui keteladanan. Anak memperhatikan, meniru, ikut-ikutan. Kalo orang tuanya nunjukin kalau baca itu menyenangkan, nggak perlu pake dibilangin, anak juga akan senang baca.

 

Tahap 2 – anak membantu orang tua. Yah, awalnya pasti ini jatohnya malah ngerecokin dan bikin kerjaan lama. Tapi semakin sering dia dikasi kesempatan buat latihan, maka skill-nya akan semakin baik, kan?

 

Tahap 3 – orang tua membantu anak. Kalau anaknya udah bisa, orang tua boleh “mudur” dan membiarkan anak untuk memimpin project. Kita bisa membantu sampai selesai. Walau kadang kenyataannya kita yang lebih banyak ngerjain, , tapi kredit tetap buat mereka.

 

Tahap 4 – kegiatan bersama. Insiatif kegiatan bisa dari siapa saja. Orang tua menjadi partner.

 

Tahap 5 – kegiatan mandiri. Anak belajar sendiri tanpa bantuan orang tua.

 

Ada tips menarik dari Mas Aar untuk menyiapkan pembelajar mandiri ini. Yang pertama, tentunya tidak usah membandingkan anak kita dengan anak lain, karena ada banyak sekali factor. Lalu, dokumentasikan kegiatan anak, supaya bisa melihat perkembangannya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi hal-hal (yang terlihat) kecil, yang bisa sangat berguna. Misalnya, membaca buku 30 menit tiap hari artinya ada lebih 180 jam dalam setahun!

Tipsnya mas Aar ini sungguh membuat aku berkontemplasi untuk membuat blog baru, khusus perkembangan BabyM. Sejauh ini, aku sudah rajin menulis jurnal di buku, sih. Tiap bulan, setiap tanggal lahirnya, aku selalu mencatat perkembangannya, walau sederhana: motorik kasar dan motorik halusnya bagaimana, kemampuan sosialisasinya bagaimana, sudah makan apa aja, sudah bisa ngomong apa aja. Dan jujur, membaca kembali catatan itu, membuat aku setidaknya merasa sudah berada di jalan yang benar, ahahahaha! Menjadi ibu rumah tangga setiap harinya selalu penuh sampai kadang nggak bisa nafas. Punya catatan seperti itu seperti melihat ‘pencapaian’ yang membuat hidung kembang kempis bangga 😀 *ho oh, bahagia itu sekarang sederhana banget buatku :D*

JjurnalBabyM bisa bilang IBU di usia 1y4m :’) etapi mahapkan tulisannya acak-acakan 😀

 

Selain jurnal di buku, aku juga membuat semacam “buku tahunan”, yaitu album foto keluarga berbentuk buku. Awalnya sih dibuat karena si Abang nggak bolehin foto-foto babyM yang jelas banget di-upload di social media, jadi si ibu yang rada narsis ini memutuskan untuk membuat buku agar foto-foto ciamik BabyM bisa dilihat orang, terutama keluarga. Buku ini dicetak tiga eksemplar: satu untuk dirumah, satu untuk keluargaku di Medan dan satu untuk keluarga Abang di Aceh. Atok, Nenek dan Nyaksyik-nya BabyM senang banget punya foto-foto ini. Nggak berhenti diandang-pandang dan “dipamerin” ke semua tamu yang datang, hahahahah!

 

buku tahunan2Buku tahunan yang buatnya PR banget tapi hasilnya setimpal!

 

Yah, mudah-mudahan tetap konsisten sama semua kebiasaan baik yang udah dijalani selama ini ya! Aaaamiiinnnn!

Webinar Homeschooling #4: Belajar apa aja sih?

Oke, jadi setelah minggu lalu membahas langkah-langkah memulai homeschooling: yaitu membuat visi pendidikan keluarga, sekarang yang dibahas adalah materi pelajarannya. Apa sih yang mau diajarkan? Disini, aku akan lebih fokus untuk membahas kurikulum, materi dan pola belajar untuk anak usia dini, meskipun waktu webinar banyak juga penjelasan soal anak usia sekolah.

 

“Kalau homeschooling pakai kurikulum apa ya?” Bisa jadi ini adalah pertanyaan yang sejuta umat banget. Terus terang, ini juga pertanyaanku waktu pernah ketemu sama temen yang anaknya homeschooled, hehehe… Ini lazim, sebab di kepala kita (Kita? Elu aja kali, din!) masih terpatri model sekolah yang pernah kita jalani. Tapi, seperti yang dijelaskan pada webinar #2 soal metode homeschooling, kurikulum itu dipakai jika kita memang menggunanakan metode school-at-home.

 

Kalau untuk babyM dan anak-anak usia pra-sekolah, bisa memakai kurikulum PAUD yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau mau pakai metode Montessori juga bisa. Boleh juga cari kurikulum dari luar negeri. Google aja ‘preschool curriculum’ plus nama negara. Keluar deh berbagai kurikulum.

 

Kalau untuk aku yang lebih tertarik dengan metode unschooling, pertanyaan soal kurikulum ini tentunya tidak relevan. Sebab metode unschooling kan tidak punya struktur dan lebih mengikuti keinginan anak untuk beraktifitas. Orang tua hanya memfasilitasi. Begitupun, kadang-kadang kan pengen tau juga ya, apa benar perkembangan babyM berjalan baik. Nah, untuk pegangan dalam memantau tumbuh kembangnya, Mas Aar memberikan tips untuk menggunakan checklist dan parameter perkembangan anak. Buku yang di rekomendasikan oleh Mas Aar untuk check list ini adalah Slow And Steady, Get Me Ready karangan June Oberlander.

 

Lah, kalau nggak ada kurikulum, terus ngapain aja dong? Ternyata bisa macam-macam banget! Selain melibatkan anak dalam kegiatan orang tuanya sehari-hari, bisa juga cari berbagai materi di internet sebagai sumber ide. Atau, baca-baca buku dan majalah parenting. Bisa juga tanya-tanya ke teman atau keluarga yang sudah punya anak. Rumah Inspirasi bahkan memberikan e-book berisi ide kegiatan indoor dan outdoor!

 

Jalan pagi/sore, naik sepeda, ke kebun binatang, menggambar jalan dengan kapur, bercocok tanam, bermain pasir, mencuci mobil/mainan, bermain bola, berenang, main layangan, pergi ke pasar, main gelembung sabun, baca buku, main masak-masakan dengan daun, membuat craft, menggambar, mengecat, mengejar capung, memelihara ulat hingga jadi kupu-kupu, main sembunyi, ke stasiun kereta api, main hujan dan lumpur, dan masih banyak lagi kegiatan yang dicontohkan dalam e-book.

 

Menurut mas Aar, apapun kegiatan yang dilakukan bersama anak usia dini sebaiknya selalu berfokus pada rasa aman dan nyaman. Sebab, dalam rentang usia tersebut, itulah yang paling dibutuhkan anak. Kalau dikit-dikit ngancem (Misalnya: ‘Abisin dong makannya, kalo nggak nanti dipanggilin satpam loh!’ Sering banget denger beginian kalau sedang main bareng anak tetangga huhuhu), anak tidak akan merasa nyaman dan tertekan.

 

Selain pada rasa aman dan nyaman, kegiatan anak lebih banyak pada kegiatan ekplorasi sesuai dengan perkembangannya. Urusan baca tulis dan berhitung bukan hal utama. Diajarkan dengan menyenangkan boleh aja, tapi jangan jadi prioritas dan nggak ada target. Akan jauh lebih baik kalau energinya dipakai untuk mengajarkan kebiasaan baik dan menerapkan aturan/nilai yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh. Dengan begitu, anak sudah terbiasa dengan peraturan dan disiplin sejak kecil dan jika dia beranjak remaja, orang tuanya nggak perlu lagi teriak-teriak karena mereka sudah terbiasa.

 

Kalau dikeluarga kami, beberapa contoh kegiatan diatas sudah sering kami lakukan dengan BabyM. Selama ini, BabyM selalu aku libatkan dalam aktifitasku sehari-hari dengan memintanya melakukan apa yang dia bisa. Misalnya, saat membereskan tempat tidur, aku memintanya meletakkan kembali buku yang semalam dibaca ke tempat semula. Kalau aku sedang berkebun, aku akan memintanya membantu menyiram bunga, atau membuang rumput liar yang sudah dicabut ke tong sampah.

 

Setiap pagi dan sore, biasanya kami akan jalan keliling kompleks atau bermain di luar bersama beberapa anak tetangga. BabyM akan bebas berlari-larian atau main di taman dekat rumah. Selain travelling ‘besar’ ke luar kota yang membutuhkan persiapan khusus, di hari-hari biasa kami juga mengunjungi berbagai tempat yang menarik. Kebun binatang, museum dan galeri, air terjun, piknik di kebun raya dan taman kota, atau bersilaturahin ke rumah teman dan saudara.

 

Makin kesini, aku makin percaya ucapan John Holt, sang pencetus konsep unschooling, yang ini:

“When you teach less, the children will learn more.”

 

Anak-anak itu sesungguhnya pintar. Mereka nggak perlu diajari dan dijejali ini-itu. Dengan melakukan kegiatan bersama dengan sepenuh hati, betapapun sederhananya, akan membuat anak belajar banyak tanpa kita perlu menggurui. Plus, kegiatannya juga jadi sangat menyenangkan! Bukan cuma anaknya yang nagih, orang tuanya juga nagih 😀

 

Processed with VSCOcam with m5 presetJalan pagi di sekitar kompleks

 

4 main pasirMain pasir di taman dekat rumah

 

4 bungaBantu ibu siram tanaman

 

4 kapurMain kapur dengan kakak-kakak tetangga

 

4 cuci mobilCuci mobil yang seru!