Category Archives: Parenting

Musik Malik: The Beginning

Kemampuan Malik menggebuk drum banyak membuat orang heran: masih tiga tahun kenapa sudah bermain drum dengan ketukan yang benar? Ada yang bilang Malik berbakat dan banyak yang penasaran kenapa bisa demikian. Aku sering ditanya: gimana ngajarinnya?

drum1

Malik and his ‘drum-set’ 

Sebenarnya, aku sendiri agak bingung menjawabnya. Dimataku, drum tak ubahnya mainan. Semuanya terjadi dengan proses yang normal-normal saja, nggak ada yang istimewa. Aku dan abang juga tidak punya background musik sama sekali. Kami hanya suka mendengarkan musik, itupun sesempatnya. Aku bisa sih main gitar sedikiiiiiiiitttt. Hanya tiga-empat kunci sebagai modal pergaulan (halah, istilahnya!).

Saat Malik lahir, aku pernah baca bahwa musik bagus untuk anak. Orang tua disarankan untuk memperdengarkan musik ‘beneran’, dari berbagai genre, tidak hanya sekedar lagu anak-anak. Saat dia masih bayi, aku hampir selalu bersenandung lagu ‘La Vie en Rose’ menjelang tidur, dan terkadang mengubah liriknya menjadi doa-doa untuk Malik. Aku sering memutar lagu-lagu berirama jazz yang tenang sambil menggendongnya. Atau, saat dia sudah agak besar, kami kerap memutar lagu-lagu hiphop dan joget-joget nggak jelas bersama sambil bermain.

Kalau sedang nyetir kami sering menyetel DVD konser. Alasannya sederhana: karena DVD konser itu bisa hanya didengarkan, tapi bisa juga ditonton kalau macet. Dua DVD yang sering di tonton adalah konser Michael Buble dan Josh Groban. Tapi lama-lama jadi pusing sendiri. Gara-gara ini, setiap naik mobil, Malik semacam sudah otomatis meminta diputarkan “Om Buble” atau “Om Josh” (Panggil om lah, biar akrab! Hahahaha!). Kadang-kadang sampe nggak enak sama orang yang kebetulan naik mobil kami, karena lagunya itu-itu melulu, hahaha!

Awal Malik ‘berkenalan’ dengan drum juga tidak sengaja. Namanya anak bayi, kadang-kadang suka mukul-mukul dengan tangannya. Saat dia sudah mulai bisa menggenggam, aku iseng memberikan dua buah sumpit makan dan kami berpura-pura main drum. Urusan pukul memukul ini lalu semakin sering karena kami membelikannya sebuah jimbe kecil saat kami mengunjungi Saung Angklung Udjo di Bandung.

Kegiatan bermusik ini kian berkembang sejak kami mulai memperkenalkan gadget kepadanya di usia 1,5 tahun. Awalnya sih karena dia terkesan sekali dengan pertunjukan di Saung Angklung Udjo dan sangat senang jika aku memutar video “kakak menari” di handphoneku. Karena udah diputer sekian ribu kali, si ibu ini kan bosan ya. Jadilah aku mencari video di youtube. Tapi video apa? Karena waktu itu Malik sangat senang dengan jimbenya, aku mencari video dengan key word: “the best drummer in the world” hahah! Dari situ, keluarlah video solo-nya Mike Portnoy (drummernya Dream Theatre).

Sejak itu, Malik semakin mengeksplorasi jimbenya. Segala panci, ember, gayung, kaleng cat, kemudian juga dia jejerin untuk dijadikan drum set. Setiap hari selalu memainkannya. Meski begitu, aku juga selalu berusaha mengajaknya bermain yang lain. Dalam pikiranku, ya bagus kalau dia suka satu hal dan konsisten. Tapi tidak berarti hal-hal lain juga tidak perlu diperkenalkan. Diantara bermain drum, Malik juga suka masak-memasak, bermain dengan tepung dan playdoh, main cat dan crayon, berenang, main di playground, main pasir, dan macam-macam lain. Hanya saja, kalau dihitung durasinya dalam seminggu, sebagian besar memang ia habiskan dengan bermain drum. Berbekal sumpit yang sangat mudah untuk dibawa kemana-mana, Malik selalu bisa bermain drum, hampir kapan saja, dimana saja.

Memasuki umur dua tahun, screen-time Malik bertambah. Video yang dia lihat juga semakin bervariasi. Youtube seringkali memberi suggestion video baru yang kemudian dia tonton dan memberikan inspirasi baru. Kemampuan verbalnya yang meningkat cepat, juga memberikan kontribusi signifikan. Ia bisa membedakan tiap video, dan meminta kami memutarkan video tersebut. Yang ada Bapak-Ibunya harus selalu tau apa yang dia tonton. Karena, seringkali dia akan minta video yang spesifik. Bisa bingung kalau nggak tau apa yang dia maksud.

drum3

Setelah Mike Portnoy, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan drummer/youtuber Casey Cooper karena videonya meng-cover lagu “Burn”-nya Ellie Goulding dengan drum stik terbakar api yang sungguh epic sekali. Dan dari fitur suggested video di youtube, kami sering memutar berbagai video drummer/youtuber, termasuk Rani Ramadhany dari Indonesia. Soal drummer/musisi kesukaan Malik ini nanti aja deh buat posting terpisah. Panjang ajeeee ahahah!

drum4

drum5

Bertemu idola: Casey Cooper dan Rani Ramadhany

Tidak hanya itu, aku juga sering mengajaknya ke toko musik. Dia tahan berlama-lama nongkrong di sini. Kalau kebetulan ada drum set atau instrumen lain yang boleh dimainkan, dia pasti akan senang sekali. Tapi kalaupun nggak ada, dia sudah bahagia bisa sekedar mengelus gitar, memencet piano tanpa suara, atau bertanya-tanya soal berbagai instrumen musik yang dia lihat.

Aku sempat membawanya beberapa kali ke studio musik jam-jaman agar ia bisa bermain drum dengan bebas. Tapi hanya beberapa kali pergi, dia sudah tidak tertarik lagi. Mungkin nanti di coba lagi.

Aku dan abang juga sempat membawanya ke beberapa kursus musik, bahkan untuk ikutan sesi drum privat di sebuah sekolah musik. Sayangnya, kami merasa kurang pas dengan instrukturnya. Padahal yang kami inginkan hanyalah supaya Malik punya teman main drum, tidak perlu belajar macam-macam. Tapi mungkin instrukturnya juga bingung dan waktunya juga belum tepat.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan ‘gimana ngajarinnya?’, seperti yang bisa dilihat, pertanyaan itu jadi tidak relevan. Karena Malik belajar sendiri. Kami sebagai orang tua, hanya memfasilitasinya. Atau kalau boleh ditarik ke belakang lagi, apa yang kami lakukan pada dasarnya adalah mengubah persepsi atas apa yang disukai Malik. Aku melihat kegiatan “mukul-mukulnya”  itu sebagai sesuatu yang positif alih-alih mengganggu. Aku mencari cara untuk menyalurkannya secara positif, yaitu dengan bermain drum. Pelan-pelan, dari drum ini kemudian melebar menjadi musik secara umum. Dan dengan musik sebagai “pintu”-nya, aku mengenalkan Malik dengan begitu banyak hal.

Otak manusia itu belajar jauh lebih baik dalam keadaan rileks. Jadi, kalau sudah suka dengan satu hal, pasti rasa suka itu akan membuat kita dengan suka rela dan senang hati mencari tahu mengenai hal itu. Nggak perlu memaksa untuk menjejalkannya. Kuncinya adalah bermain.

Kemaren waktu aku posting video Malik bermain drum di Instagram, ada yang komen betapa lucunya Malik sudah punya hobi, nggak seperti anaknya yang hanya suka mobil-mobilan. Buatku, persepsinya lah yang harus diubah. Anak yang sangat suka mobil-mobilan bisa banget difasilitasi “to the next level”. Ada banyak sekali keahlian yang bisa dipelajar dari kesukaan terhadap mobil. Bisa ngasi liat mobil sendiri dan bercerita tentang bagian-bagian mobil. Apa fungsi-fungsinya. Kenapa mobil bisa jalan, dll. Ajak ke pom bensin, ke bengkel, ke showroom mobil, nonton formula1 di TV. The possibility is endless!

Bagiku, tiap anak sudah dilahirkan dengan potensi sendiri. Dan tugas orang tua adalah “mengeluarkan” potensi itu dengan cara memfasilitasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak ada pemaksaan. Membuat anak punya hobi itu perlu waktu. Dan jika ia sudah sangat suka dengan ‘hobinya’, pada akhirnya kata hobi itu akan hilang, dan itu menjadi bagian dari hidupnya.

Begitupun, pastinya aku punya kekhawatiran sendiri soal Malik mendengarkan musik dewasa. Tapi itu bahas lain kali saja deh ya, hihihi!

So, ada anaknya disini yang juga suka gebuk drum? Yuk play date yuk sama Malik! *ketemuan mesti bekel headset dan panadol biar gak pusing, hahahaha!*

drum2

2016: A Rough Patch

Iya. Ho oh. Blog ini memang nggak di-update enam bulan. Setengah tahun. SE-TE-NGAH-TA-HUN. Kepada para pembaca setia (kayak ada aja!), mohon maaf ya. Bukannya update, yang punya blog ini malah kadang curhat panjang lebar di Instagram. Jadi, sekedar tips aja nih. Kalau disini lagi sepi tulisan, boleh lah tengok Instagram aja. Mau di-follow juga boleh banget *modus* hahahaha…

Begitulah. Sebenernya banyak yang terjadi. Banyak banget sampai kadang nggak tau lagi harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya: ah, sudahlah! Nanti aja tulis-tulisnya. Ini juga sebenernya bingung mau nulis apa. Otak sama jari suka nggak singkron. Apalagi sama hati, eeaaaakkk…. Jadi, mumpung ini sudah penghujung tahun, kayaknya enak kalau merekap apa yang terjadi selama tahun 20016 ini. Here it goes.

Project #RumahPapa

Postingan terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana awalnya, rumah ini sudah selesai pada bulan November.

Saat ini, aku sedang berada di Medan, melihat bangunannya sudah berdiri… tapi belum ada atapnya, hahahahah! Waktu membangun struktur sih terlihat cepat. Begitu finishing, rasanya lamaaaaaa kaliiiiii! Sebenernya sih, sudah tinggal dikit lagi. Lantai 1 dan 2 paling tinggal merapikan, serta pasang pintu dan jendela. Tapi karena atap belum kelar, tentunya ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, terutama untuk lantai paling atas, juga untuk tangga-tangga. Jadi yah, kebanyakan pekerjaan harus ditunda sampai atap selesai.

Memang membangun rumah itu perlu mental baja ya. Baja kokoh nan padat, bukan baja ringan – itu sih buat atap aja! Pasti ada aja yang terjadi di lapangan, diluar perhitungan awal. Ya soal desain, soal waktu, soal budget apalagi. Mohon doa ya supaya project ini bisa kelar sebelum kalender berganti, agar diriku tetap waras adanya, hahaha!

201612-atap

201612-rumah

#BabyM (yang sudah bukan baby lagi, hiks!)

Di usianya yang memasuki dua tahun, BabyM tentunya makin bisa macem-macem. Skill-nya menggebuk drum makin mencengangkan karena sudah mulai bisa mengikuti musik. Skill ‘memasak’ apalagi. Hampir tiap hari dia main dengan playdoh, tepung, wajan, sudip dan kawan-kawannya. Belakangan malah sudah bisa ditemani memasak telur dadar beneran, dan dia bahagia banget kalau diajak mencuci piring setelahnya. Mudah-mudahan rajin sampe gede, AMIN!

Terakhir cerita soal BabyM disini adalah soal kesuksesan menyapih. Ya ampun, menuliskannya bagaikan kejadian itu sudah dilewati bertahun-tahun lalu! Aku kira, setelah kelar menyapih, drama akan segera berlalu. Little did I know, drama itu malah semakin melebar kemana-mana, seiring dengan kemampuan verbalnya yang meningkat pesat bak roket menuju Mars!

Di satu sisi, BabyM sangat menggemaskan sekali. Dia udah bisa diajak ngobrol. Tapi disisi lain, bok… anak kicik ini kerjaannya membantah muluk! Padahal dulu kayaknya asik-asik aja deh nyuruh dia beresin mainan, atau makan, atau mandi atau tidur. Sekarang… OMAIGAT! Perjuangan banget!

“Malik, yuk mainannya dibereskan.”

“Nggak usah lah. Nanti aja.”

“Loh, kan sudah mau mandi. Mainannya dibereskan dulu.”

“Ibu aja yang bereskan.”

“Ih, kan kamu yang main. Ayo lah, ibu ikut bantuin deh.”

“Ibu aja lah yang bereskan. Tangan Malik lagi kotor.”

“Tangan kotor kan bisa di lap dulu.”

“Nggak mau. Nanti aja bereskannya SEKALIAN ABIS MANDI.”

….

Pengen ditujes nggak sih anak kicik ini? Iya, ngomongnya kata-per-kata kayak gitu. Pake ‘Lah’ segala. Ngelesnya pun super duper jago. Kadang-kadang sampe kepikiran, anak dua tahun kok ya udah advance banget kayak gini. Berasa ngomong sama bapaknya deh #eh.

201612-drum

201612-masak

Tentang Diri Sendiri

Nah, ini mungkin yang cukup sulit menceritakannya. Yang kayaknya menjadi akar permasalahan kenapa nggak nulis-nulis. Tahun ini terasa cukup ‘menantang’ buatku, baik fisik maupun mental. Aku tidak tau apa persisnya, tapi – tanpa harus mengkambing hitamkan masalah apapun – aku sepertinya kewalahan mengerjakan banyak hal sendirian. I think 2016 is quite rough.

Mengurus pembangunan rumah di Medan, mengurus rumah tangga sendiri, menjaga anak yang memasuki fase penuh drama membuatku sangat lelah jiwa dan raga. Dengan model kerja si Abang yang 8 minggu kerja – 5 minggu cuti, aku kebanyakan sendirian. Saat si Abang cuti pun, kami harus mengurus banyak hal. Kami juga sepakat memangkas budget liburan karena sedang membangun rumah (yang kayaknya adalah langkah yang salah, huhuhu).

Aku seperti tak punya jeda. Dan bulan puasa lalu adalah puncaknya. Aku sering menangis. Hal-hal kecil membuatku sedih dan sangat marah. Mood swing yang sangat aneh. Aku sulit tidur walaupun terasa sangat capek. Tidak punya energi untuk melakukan apapun, sulit konsentrasi dan merasa sangat tidak berdaya. Pelan-pelan aku merasa tidak mampu berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Aku keluar dari grup whatsapp, atau tidak membaca whatsapp sama sekali. Log-out dari Path dan tidak menyentuh facebook. Aku bahkan berhenti menulis. Padahal menulis adalah hal yang paling aku suka – dan aku merasa tak punya tenaga melakukannya.

Sesekali aku posting di Instagram, lebih karena aku tak mampu berkata-kata, dan menyerahkan diri pada bahasa gambar: berharap ada yang membaca ‘tanda’ ini dan berusaha menarikku keluar. Aku merasa berada dalam terowongan gelap pekat, tak tau harus berbuat apa, tanpa bisa memetakan perasaan sendiri, apalagi meminta tolong. Mau minta tolong apa coba?

Suatu hari keadan menjadi semakin buruk. Aku yang selama ini tidak pernah bersuara keras kepada Malik, tiba-tiba tanpa kontrol membentaknya hingga Malik ketakutan. Aku bahkan lupa kenapa. Aku terduduk dan menangis di dapur setelah itu. Malik duduk tak jauh dariku, terdiam dan bingung memperhatikan. Setelah tangisku mereda, aku meminta maaf dan memeluknya. Sejak itu, setiap ada perubahan pada wajahku atau nada suaraku, Malik akan bertanya: “Ibu marah?” dan itu sungguh mengiris hati.

Dengan putus asa, aku mengetikkan sebuah pertanyaan di google: why am I angry all the time? Google memberikan link, merujuk pada laman yang menunjukkan gejala depresi. Astaga, memikirkan bahwa aku ‘mungkin’ depresi malah semakin membuat depresi!

Processed with VSCO with f2 preset

Sepertinya, aku memang harus meminta bantuan. Tapi tak tau harus mulai dari mana. Untungnya, menjelang lebaran, Mama Papaku datang dari Medan. Aku jadi tidak sendiri di rumah. Aku tidak bisa menjelaskan banyak kepada mereka, tapi aku berkali-kali menangis padahal membicarakan hal-hal biasa. Namanya orang tua, mereka mungkin bisa merasa, kali ya. Sepanjang lebaran rumahku juga ramai oleh keluarga sehingga aku bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari hasil diskusi dengan si Abang, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk saat ini, aku sedapat mungkin untuk tidak sendiri. Jadi jika si Abang sedang kerja, aku bisa terbang ke Medan. Selain aku ada temannya, Malik juga punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang, mengingat ia berada fase yang memang perlu bersosialisasi. Jadi sejak pertengahan tahun, aku kerap bolak-balik Medan jika si Abang sedang bekerja.

Saat ini, aku jauh lebih baik walau mood kadang-kadang masih suka drop. Aku sadar aku mungkin butuh bantuan professional untuk ini. Tapi, setidaknya, mengakui bahwa aku ‘bermasalah’, dan mampu meminta bantuan kepada orang lain, adalah sebuah langkah yang baik. Aku juga sudah mulai menulis lagi, which also a good sign, kan?

Jadi begitulah sodara-sodara. Tahun ini bukan tahun yang mudah. I can’t say I’m ready and confident enough for 2017, tapi begitulah hidup bukan? Siap nggak siap ya mesti dihadapi.

So, here I come, 2017. I’m going to take it one day at a time. Wish me luck, everybody.

201612-din

Untuk Para Ibu Baru…

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru saja punya bayi mengirim email, bertanya dengan nada putus asa: “Dinda, bagaimana kiat menjadi ibu seperti yang kau tulis? Aku seperti tidak bahagia, capek, stress….

 

Sebelumnya, seorang teman lain juga bertanya hal-hal yang kurang lebih mirip. Intinya, kenapa punya anak kok nggak hepi seperti yang dibilang orang-orang? Lihat foto-foto para ibu baru di fesbuk, kok bisa terlihat cantik, menggendong bayi yang juga lucu menawan, terlihat sangat bahagia. Kenapa diri sendiri malah depresi?

 

Pertama-tama…. Sini sini, peluk dulu sini! *peluuukkkkkk*

 

Lalu, aku mau bilang kepada semua ibu baru yang juga merasa hal yang kurang lebih sama: KALIAN NGGAK SENDIRI!

 

Aku juga adalah ibu (yang masih tergolong) baru. Anak baru satu, belum pun dua tahun. Masih belajar ini itu, dan belum pada tempatnya untuk memberi nasihat. Jadi, tulisan ini BUKAN nasihat. Tulisan ini adalah sebuah uluran tangan kepada kalian, para ibu baru, untuk usep-usep punggung dan bilang kalau kalian nggak sendiri.

 

Kalau temanku itu mengira aku ‘bahagia-bahagia’ aja punya anak, ya mungkin memang nggak salah juga. Kalau lihat-lihat tulisan di blog ini, hampir semuanya bernada happy dan riang kalau aku cerita soal BabyM. Tapiii… ya itu karena aku menulisnya saat dalam keadaan WARAS, hahahah! Itu juga datangnya sekali-sekali. Kalau sedang merasa capek, engap, kesal dan sebagainya, boro-boro nulis, ketemu pensil aja kayaknya pengen ditusuk-tusukin kemana gitu 😀

 

“There are days when I feel victorious, but there are other days that makes me feel helpless, defeated, a complete loser. There are days that I feel like throwing bricks at people, but there are days when I really need other people because I just can’t handle it. I start wondering, is this right thing to do? How other mothers do that? Why it seems so easy for them but not for me?”

 

Tulisan diatas adalah entri di sebuah halaman diaryku sebulan setelah BabyM lahir. Sebulan. Dan bahkan setelahnya masih ada cerita soal nangis di shower karena ngerasa nggak sanggup lagi. Tapi, selain itu aku juga nulis hal-hal yang membuat aku ngerasa bahagia banget dan itu karena hal-hal sederhana aja: bisa tidur empat jam tanpa terganggu, bisa meletakkan BabyM di tempat tidur tanpa membangunkannya, atau bisa menggendong dengan gendongan kain!

 

Sepertinya, setelah tiga bulan barulah aku mulai bisa agak senyum. Dan tiap ada orang yang menyapa dan bilang, “Waaahh… nggak terasa yaaa, bayinya sudah tiga bulan. Sudah bisa apa?” itu rasanya campur aduk, antara pengen nonjok, pengen nangis dan pengen cerita panjang lebar. Pengen nonjok karena TIGA BULAN ITU KERASA BANGET! Hari-hari lamaaaaaa sekali berlalu, udah kayak nggak bergerak. Pengen nangis karena capek. Tapi juga pengen cerita panjang lebar dengan antusias karena tiga bulan itu bayinya sudah bisa menggenggam sesuatu loohh… dia juga udah mulai bisa tidur malam, udah bisa ini itu ono anu blablabla nyanyanya… teruuusss… cerita sampe yang nanya nyesel kali, kita ga mau berhenti membanggakan kebisaan-kebiasaan baru si bayi

 

Kalau menurutku, segala perasan sedih, capek, kesel, moody dan sebagainya di awal-awal kelahiran itu adalah sesuatu yang wajar. Masa-masa itu adalah masa adaptasi yang gila-gilaan. Baik bagi orangtua maupun bayinya. Bukan berarti kita nggak bahagia dan bukan pula berarti kita gagal jadi ibu. Jalan ke depan masih panjang, dan definisi gagal atau berhasil itu berbeda-beda tiap orang. Ingatlah satu hal penting: Ini semua akan berlalu….

 

… dan di depan masih menanti tantangan yang nggak kalah besarnya, HAHAHHAHaahha… haha… ha… h… hu… huhu… huhuhuhu….

 

Okelah, kalau memang susah begitu. Tapi yang membuat heran, kenapa nggak ada yang ngasih tau sih kalau jadi ibu itu ternyata susah??? Hemmm… untuk pertanyaan ini, kalau aku liat-liat ada dua kemungkinan.

 

Yang pertama, ada yang yang UDAH ngasi tau, tapi kita nggak cukup peka untuk dengerin karena di kepala kita masih sibu dengan hal lain (melahirkan, misalnyaaaaa!). Pernah baca-baca soal baby-blues sebelum melahirkan? Nah, itu orang udah ‘ngasi tau’ loh. Tapi aku dulu juga ngerasa: nggak mungkin lah aku nanti baby-blues. Itu kan hanya buat orang-orang yang nggak ada persiapan. Aku kan udah persiapan banget, udah sampe ikut konsultasi laktasi bareng suami pun! Kenyataannyaaaaaa…. Jreeeenggg…

 

Yang kedua adalah, orang-orang ‘nggak tega’, bilangnya karena wajah kita udah sumringah banget mau punya bayi. Malah kadang-kadang buat pasangan baru malah udah ngebet banget mau punya bayi begitu selesai akad nikah 😀 Kadang-kadang, aku suka mengingatkan dengan halus: “Apa nggak pengen menikmati aja dulu masa berdua dengan suami, membangun hubungan yang sehat dan kuat dulu, baru punya anak?” Sebab menurut pengalamanku, adaptasi dengan suami setelah menikah aja butuh waktu lumayan panjang. Apalagi kalau harus adaptasi dengan suami DAN bayi baru. Bisa pengsan. Tapi, yang ada aku dilihat dengan pandangan aneh dan para penganten baru ini malah menceramahi aku soal ‘bagusnya’ langsung punya bayi setelah menikah. Oh, baiklah kalau begitu, heheheh.

 

Kembali kepada persoalan semula, lalu harus bagaimana menghadapi semua ini kakaaakkk? Tentunya tidak ada formula yang jitu. Setiap orang berbeda-beda. Tapi kalau seandainya aku punya mesin waktu untuk kembali ke dua tahun lalu dan bilang kepada dinda yang dulu, aku akan bilang:

 

Dinda, tarik nafas banyak-banyak dan tetaplah tenang. Belajarlah untuk tidak langsung panik. Juga, belajarlah mengasah insting. Iya, dua hal ini harus dipelajari. Cobalah untuk tidak mikir terlalu jauh apalagi mikir aneh-aneh, ‘gimana kalau begini, gimana kalau begitu’, jalani aja sehari-sehari. One day at a time. Belajar lah dengan si bayi, juga dengan suami, bersama-sama. You’re in this together. Kalian adalah sebuah tim.

 

Selain itu, belajarlah menerima kenyataan bahwa hidupmu akan berubah. Total. Ini juga perlu dipelajari, karena sungguhlah tidak mudah. Seringnya malah denial dan pengen kembali ke ‘kehidupan lama’. Semakin cepat menerima bahwa kini ada prioritas-prioritas baru dan ada hal-hal yang harus dikorbankan, semakin baik. Dan karenanya, janganlah malu untuk meminta bantuan. Aku dulu rasanya ‘terlalu pede’ bisa melakukan semuanya sendiri. Kenyataannya, kalau aku menerima bantuan, hidupku akan jauh lebih mudah, dan orang-orang disekitarku juga merasa senang karena bisa membantu.

 

Carilah orang-orang yang bisa dipercaya untuk bisa saling berbagi. Punya teman-teman senasib yang juga punya anak kecil? Ayok buat grup. Atau, bisa ikut forum-forum ibu di grup-grup seperti babycenter. Sesama ibu baru bisa saling menguatkan dan saling curhat. Aku sendiri cukup beruntung punya teman-teman baru yang bergabung dalam sebuah grup whatsapp. Kebangun jam dua pagi karena anak mau nenen pun pasti ada ibu yang sedang online juga. Lumayan bisa ngobrol, curhat atau malah sekedar saling menertawakan, hhehehe!

 

Kalau lagi capek stress kesel pengen marah, rasanya semua masalah numpuk jadi satu, ada baiknya istirahat sebentar. Titipkan bayi sebentar kepada orang yang bisa dipercaya. Kadang-kadang, emosi yang menumpuk itu hanya karena kita capek dan butuh istirahat. Atau butuh makan enak. Setelah istirahat dan makan, baru diurai masalahnya apa. Seringnya masalah ‘besar’ ternyata adalah sekumpulan masalah ‘kecil’ yang gampang solusinya, tapi menumpuk.

 

Dan yang terakhir, menjadi ibu itu sering kali berarti melakukan ‘trial and error’. Semuanya coba-coba. Kadang-kadang malah hasilnya ‘salah’ membuat diri merasa bersalah. Atau juga dalam menjaga anak, kadang anaknya jatuh atau kenapa-napa, itu buat rasanya pengen jeduk-jedukin kepala ke dinding: kok bisa bego banget siiihhh! But it happens, all the time. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jadi ibu itu harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan diri sendiri, lalu move on, sambil berjanji untuk lebih baik lagi besok. It’s okay.

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu para ibu-ibu baru. Kalaupun tidak, aku dengan senang hati menjadi kuping untuk mendengarkan curhat kalian. Kirim saja email atau pesan di fesbuk. Aku akan senang sekali jika bisa membantu sedikit meringankan beban!

 

Selamat hari ibu, para ibu baru! You’re doing good! *tos!*

 

hari ibu

Review Webinar Homeschooling oleh Rumah Inspirasi

Huaahh… akhirnya kelar juga 9 minggu ber-webinar-ria plus 1 minggu sesi tanya jawab intensif bersama Rumah Inspirasi. Kalau dirangkum lagi, berikut adalah materi dan link summary yang sudah aku buat:

Minggu 1 – Dasar dan Rancangan Homeschooling

Minggu 2 – Model dan Legalitas Homeschooling

Minggu 3 – Memulai Homeschooling

Minggu 4 – Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan Homeschooling

Minggu 5 – Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu 6 – Belajar Melalui Keseharian

Minggu 7 – Memanfaatkan Internet untuk Homeschooling

Minggu 8 – Evaluasi dalam Homeschooling

Minggu 9 – Manajemen Keseharian

 

Secara umum, aku suka sekali dengan materi-materinya. Banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari. Dengan contoh-contoh dan tips praktis yang sangat doable, aku dan abang pelan-pelan mulai mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Apalagi, materinya disajikan dengan cara yang menurutku cukup ringan dan sederhana, nggak berat dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Berasa udah kenal lama deh sama Mas Aar dan Mbak Lala, hihihi. *wooo… sok akrab woooo!*

 

Dari keseluruhan materi, yang paling membuka mata itu adalah Sesi #6, Belajar Melalui Keseharian. Materi ini memberikan perspektif baru dalam melihat aktivitas sehari-hari. Bahwa ada banyak sekali yang bisa dipelajari anak dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga. Selain itu, Aku juga suka Sesi #8, Evaluasi dalam Homeschooling. Konsep evaluasi bukan hanya untuk melihat perkembangan anak, tapi lebih kepada alat untuk orang tua melakukan refleksi. Kalau anak punya kebiasan buruk, orang tua lah yang harusnya pertama kali berkaca: dimana salahnya.

 

Setelah selesai Sesi #9 soal Manajemen Keseharian yang dengan pas-nya ditutup dengan berbagai tips yang sangat applicable, aku dan abang merasa jauh lebih percaya diri untuk menjalankan homeschooling untuk BabyM dibandingkan saat pertama sebelum webinar. Selain itu, aku merasakan ada perubahan signifikan dalam keluarga kami. Dulu, kalau ada ide bagus, paling kami hanya diskusi mengenai hal itu. Kalau sekarang, selain kami berdiskusi lebih intens soal isu-isu parenting, kami juga lebih cepat bergerak untuk mengeksekusi ide tersebut. Aku dan abang, sepertinya sudah mulai semakin satu frekewensi, hehehe.

 

Saat ini kami sudah menggodok Visi Pendidikan Keluarga dan sudah jadi separohnya. Gambaran besarnya sudah ada, namun kami memilih menjabarkannya dengan bertahap. Kami juga sudah sepakat mulai belajar membuat jadwal, walaupun sangat longgar. Rencananya, jadwal dibedakan antara 7 minggu saat abang bekerja, dan 5 minggu saat abang di rumah. Selain itu, pendokumentasian aktivitas dan perkembangan BabyM juga menjadi perhatian kami. Dengan ‘modal’ yearbook berisi foto-foto perkembangan babyM di tahun pertamnya yang aku buat tahun lalu, kami bermaksud untuk terus konsisten membuatnya.

 

Bagi aku dan abang, meskipun kami masih belum tau apakah akan meneruskan pelaksanaan homeschooling hingga pada saat BabyM sekolah nanti, seluruh usaha yang kami lakukan saat ini merupakan pengingat bagi kami berdua, bahwa kamilah yang paling bertanggung jawab atas tumbuh-kembang BabyM. Tidak ada salahnya mempertahankan dan terus membangun kebiasan-kebiasaan baik – terlepas dari homeschooling atau tidak.

 

Jadi, terimakasih banyak, Mas Aar dan Mbak Lala, atas semua ilmu, sharing pengalaman, serta tips-tipsnya yang oke banget! Terimakasih untuk semua praktisi homeschooling yang telah menceritakan kisah-kisah mereka lewat podcast (terutama keluarga Mbak Raken Asri yang podcastnya bikin kami berdua ketawa-ketawa tapi sekaligus belajar banyak! Jadi pengen ketemu deh!). Dan tidak lupa, terimakasih kepada rekan-rekan sesama peserta webinar yang bergabung di grup WhatsApp. Pada pinter-pinter banget sih, Pak, Bu! Bangga deh bisa kenal kalian semua. Mudah-mudahan berlanjut ke kopdar dan menjadi pertemanan yang langgeng yaaaa…. Aamiinn.

9 bye

 Salam dari keluarga kami. Sampai bertemu! *dadah-dadah*

 

Webinar Homeschooling #9: Manajemen Keseharian

Sebelumnya, maafkan yaaaa… ini postingannya terlambat, huhuhu. Kami sekeluarga kemarin sedang travelling, jadi terlalu sibuk bersenang-senang hahahaha! Dengerin webinar-nya aja pas lagi jalan, hihihi. Tapi, lebih baik terlambat lah ya, daripada tidak sama sekali *alesan*

 

Pembahasan terakhir dalam rangkaian webinar tentang homeschooling dari Rumah Inspirasi adalah soal “Manajemen Keseharian”. Utamanya yang dibahahas adalah soal manajemen keluarga dan manajeman waktu, plus mengulang sedikit soal manajemen materi belajar dan manajemen proses belajar. Sebab, tidak seperti sekolah yang sudah punya sistem belajar dan alokasi waktu yang tetap, homeschooling yang punya fleksibilitas tinggi bisa menyebabkan chaos jika kita tidak bisa mengelolanya dengan baik.

 

Intinya (dan juga tantangannya!) dalam manajemen keseharian ini adalah mencari pola yang sesuai dengan keluarga kita. Pola ini tentunya berbeda bagi tiap keluarga, jadi tidak bisa sekedar meniru apa yang dilakukan orang lain. Ngomongnya sih gampang ya, hahahaha! Kenyataannya? Ya mungkin kita emang mesti pakai model coba-coba, lalu dievaluasi. Dari satu sisi terdengar melelahkan banget yah, tapi di sisi lain, proses coba-coba ini sesungguhnya adalah proses menemukan diri sendiri: keluarga kita tuh sebenernya senengnya apa sih? Proses ini membuat keluarga menjadi satu tim, sebuah kesatuan. Dan ini berharga banget.

 

Dalam Manajemen Keluarga, yang dibicarakan adalah peran masing-masing anggota keluarga. Apa peran Bapak, peran ibu, dan peran anak sebagai bagian dari tim yang saling mengisi dan menuju ke arah yang sama. Hal yang penting dalam manajemen keluarga adalah:

 

Nyaman bersama anak & keluarga. Kenyamanan seluruh anggota keluarga adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam manajemen keluarga. Nyaman disini bukan berarti semua serba gampang dan mudah. Nyaman berarti kita semua menikmati prosesnya. Kalau dalam bahasa Mas Aar, center of gravity atau pusat hati kita adanya di rumah, sebab dalam homeschooling, segalanya berpusat di rumah.

 

Sepakati pembagian peran ibu-bapak. Setiap keluarga punya model hubungan sendiri antara suami istri. Ada yang bapak-ibu benar-benar bekerja sama masing-masing 50%-50%. Atau, bisa jadi bapaknya kerja full-time dan hanya menyediakan resource, jadi ibu yang lebih banyak berperan. Yang manapun boleh, sesuaikan saja dengan kondisi keluarga. Tapi yang harus ditekankan adalah, apapun modelnya, kedua orang tua harus tetap update dengan perkembangan anak.

 

Mengatur pola aktivitas keluarga. Ini lebih kepada teknis pelaksanaan. Misalnya, secara umum dalam soal pendidikan, bapak lebih fokus mengajarkan bidang A dan ibu bertanggungjawab pada bidang B. Atau dalam soal pembagian tugas rumah tangga, bapak mengerjakan apa, ibu mengerjakan apa dan anak-anak diberi tugas apa.

 

Sepakati apa yang penting & apa yang dapat ditolerir. Idealnya, hidup ini berjalan teratur sesuai yang kita rencanakan. Tapi yaaaaa, namanyapun hidup ya. Umumnya sih perlu kompromi. Jadi, daripada terus-terusan capek karena mengejar kesempurnaan, ada baiknya seluruh keluarga menyepakati apa yang penting, dan apa yang dapat di tolerir. Misalnya: idealnya sih rumah selalu bersih rapi dan anak-anak makan tepat waktu. Tapi, kalau memang kenyataannya tidak bisa begitu, ya sepakati saja: yang penting adalah makan tepat waktu. Rumah berantakan ya masih bisa di tolerir lah. Dengan demikian, mindset kita bisa disesuaikan: Kalau pagi, yang penting adalah memasak dulu. Membereskan rumah paling hanya sekenanya. Membersihkan dengan seksama mungkin bisa dua atau tiga hari sekali.

9 berantakanYang penting, anak bisa senang belajar, plus bisa sosialisasi sama anak-anak tetangga juga. Kalo sudip dan pompa bertebaran, ember pun bisa nyampe taman, ya sudah lah ya, nggak usah setres-setres amat 😀

 

Membuat rutinitas dapat membatu membentuk pola. Bahkan jika menggunakan metode unschooling yang serba tidak teratur, sekalipun, adanya rutinitas itu penting untuk membangun pola. Misalnya saja, pola tidur atau pola makan. Walau sederhana, tapi pola ini bisa membantu anak membuat ekspektasi.

 

Rutinitas ini cukup erat kaitannya dengan manajemen waktu. Ngomongin soal manajemen waktu ini emang, yaaaa… gitu deh. Hahahah! Kadang-kadang, orang tua dengan anak yang sekolah aja masih bisa keteteran ngurusin ini itu. Gimana lagi dengan orang tua yang anaknya homeschooling yaaaaa! Seperti yang aku tuliskan di awal tadi, memang perlu banyak coba-coba. Apalagi, kegiatan keluarga kan nggak stagnan. Semakin anak bertumbuh, semakin banyak aktifitasnya, sehingga, kalaupun sudah bikin jadwal yang cocok, kemungkinan untuk berubah lagi itu sangatlah mungkin.

 

Empat belas tahun ber-homeschool-ria, pasangan Mas Aar dan Mbak Lala juga terus-terusan berproses soal manajemen waktu. Namun, dari hasil trial and error selama itu, mereka jadi punya beberapa strategi dalam manajemen waktunya. Bolehlah, dijadikan “contekan” buat coba-coba sampe ketemu pola buat diri sendiri, hehehehe…

 

Manajemen waktu ala Rumah Inspirasi:

Strategi 1: Jadwal => Rencanakan – Tulis – Pasang – Evaluasi

Strategi 2: Menyederhanakan Target => Cukup 3 hal penting saja dalam sehari – Fleksibel – Pokoknya jalan terus

Strategi 3: Slot Waktu => Sarapan adalah waktunya ‘bel pagi’ – Makan siang adalah waktunya cek kegiatan – Makan malam adalah waktu evaluasi harian.

 

Tiga strategi ini dipakai bolak-balik. Kalau sedang dalam kondisi “prima”, ya pakai Strategi 1. Semua direncanakan dengan baik, lalu ditulis entah itu di whiteboard, di buku diary/planner, di apps handphone, di tempel di dinding, (atau bahkan gabungan semuanya, biar inget, hahaha!) lalu dievaluasi dengan teratur. Terkadang, dalam beberapa bulan semuanya berjalan sesuai rencana, sampai tiba-tiba ada masalah. Entah ada yang sakit, atau ada kejadian luar biasa yang tidak bisa diabaikan, digantilah jadi Strategi 2. Jadwal yang sudah ada disederhanakan. Misalnya dalam sehari ada 10 to-do-list yang harus dikerjakan, dalam keadaan “darurat”, pilih 3 saja yang diprioritaskan dan fleksibel dalam hal-hal lain. Pokoknya, walapun tidak sempurna, kita harus jalan terus. Strategi 3 biasanya juga selalu dipakai sehari-hari untuk memudahkan pengecekan. Keluarga Mas Aar dan Mbak Lala membiasakan makan bersama. Sarapan pagi menjadi bel sekaligus menanyakan kegiatan apa yang mau dilakukan pada hari itu. Pada saat makan siang, adalah waktunya istirahat sebentar, untuk kemudian anak-anak melanjutkan kegiatan yang bersifat olahraga. Saat makan malam dipakai untuk ngobrol, evaluasi kegiatan pada hari itu.

 

Mbak Lala juga memberikan tips untuk manajemen waktu. Selain yang diuraikan diatas, seperti membuat rutinitas, membuat rencana di depan, dan berdamai dengan ketidaksempurnan, ini ada beberapa tips yang bagiku sangat bisa dilakukan dalam keseharian:

  • Buat target yang ingin dicapai. Ini fungsinya untuk menyamakan ekspekatasi antara orang tua dan anak. Misalnya dalam minggu ini targetnya apa. Dalam bulan ini targetnya apa.
  • Tentukan skala prioritas dan belajar mengatakan tidak. Banyak kegiatan ‘keren’ yang pengen diikuti (atau bisa jadi di ajak sama orang), tapi waktu kan terbatas. Mendingan pilih yang paling berdampak besar dan fokus pada itu.
  • Buat daftar kegiatan. Misalnya kalau teringat ingin melakukan sesuatu, bisa langsung ditulis dalam daftar. Nanti, jika ada waktu kosong, tapi bingung mau ngapain, bisa liat daftar ini.
  • Kenali waktu terbaikmu. Mana yang paling ‘on’. Pagi? Siang? Malam? Belajar dulu baru main? Atau main dulu baru belajar?
  • Jangan menunda pekerjaan.
  • Atur barang di rumah.

 

Satu hal lain yang juga tak kalah penting dari semua pengaturan ini adalah menjaga agar orang tua (terutama sih ibu-ibu ya) supaya tidak burnout, alias kelelahan tingkat akut. Soalnya, ini sangat mungkin terjadi. Kalau kata Mas Aar, ibu itu matahari keluarga. Kalau ibunya happy, maka keluarganya akan bersinar-sinar ceria. Kalau ibunya kusut, seluruhnya juga ikutan kusut, ehehehe. Makanya, penting banget menjaga mental ibu. Kalau sudah mulai terasa agak-agak capek, mendingan stop dulu rutinitasnya, istirahatlah, cari me-time atau lakukan hal-hal yang disenangi bersama. Selain itu, dalam jangka panjang ada baiknya untuk mendorong anak untuk belajar mandiri dan membiasakan anak mengevaluasi diri sendiri. Kalau anak sudah terbiasa, maka beban orang tua akan banyak berkurang.

 

Isi webinar kali ini kayaknya emang ‘kena’ banget deh ke keluarga kami. Sudah cukup lama kami berusaha bongkar-pasang jadwal, tapi masih belum ketemu juga ritme yang pas. Apalagi, model pekerjaan si Abang yang 7 minggu kerja dan 5 minggu off. Sulit sekali membuat aktivitas rutin. Hal-hal rutin yang sering aku bangun saat si abang bekerja, biasanya langsung bubar saat si abang cuti (soalnya dia kalo udah dirumah bawaannya mau leyeh-leyeh melulu sih!) Apalagi, kami adalah model orang yang sangat spontan. Contoh paling mutakhir: rencananya hanya liburan beberapa hari ke Sukabumi, jadinya malah roadtrip 12 hari menyisir pantai-pantai di Jawa Barat dan Banten. Hyukkkkk!

 

Begitupun, kami berdua berkomitmen untuk berlatih membuat rencana dan membuat jadwal. Kami sepakat mulai menerapkan beberapa tips dari rumah inspirasi. Kemaren barusan beli whiteboard, dong, heheheh! Susah memang, tapi bukan berarti nggak bisa kan? * singsingkan lengan baju*