Category Archives: Baby M

Review Webinar Homeschooling oleh Rumah Inspirasi

Huaahh… akhirnya kelar juga 9 minggu ber-webinar-ria plus 1 minggu sesi tanya jawab intensif bersama Rumah Inspirasi. Kalau dirangkum lagi, berikut adalah materi dan link summary yang sudah aku buat:

Minggu 1 – Dasar dan Rancangan Homeschooling

Minggu 2 – Model dan Legalitas Homeschooling

Minggu 3 – Memulai Homeschooling

Minggu 4 – Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan Homeschooling

Minggu 5 – Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu 6 – Belajar Melalui Keseharian

Minggu 7 – Memanfaatkan Internet untuk Homeschooling

Minggu 8 – Evaluasi dalam Homeschooling

Minggu 9 – Manajemen Keseharian

 

Secara umum, aku suka sekali dengan materi-materinya. Banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari. Dengan contoh-contoh dan tips praktis yang sangat doable, aku dan abang pelan-pelan mulai mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Apalagi, materinya disajikan dengan cara yang menurutku cukup ringan dan sederhana, nggak berat dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Berasa udah kenal lama deh sama Mas Aar dan Mbak Lala, hihihi. *wooo… sok akrab woooo!*

 

Dari keseluruhan materi, yang paling membuka mata itu adalah Sesi #6, Belajar Melalui Keseharian. Materi ini memberikan perspektif baru dalam melihat aktivitas sehari-hari. Bahwa ada banyak sekali yang bisa dipelajari anak dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga. Selain itu, Aku juga suka Sesi #8, Evaluasi dalam Homeschooling. Konsep evaluasi bukan hanya untuk melihat perkembangan anak, tapi lebih kepada alat untuk orang tua melakukan refleksi. Kalau anak punya kebiasan buruk, orang tua lah yang harusnya pertama kali berkaca: dimana salahnya.

 

Setelah selesai Sesi #9 soal Manajemen Keseharian yang dengan pas-nya ditutup dengan berbagai tips yang sangat applicable, aku dan abang merasa jauh lebih percaya diri untuk menjalankan homeschooling untuk BabyM dibandingkan saat pertama sebelum webinar. Selain itu, aku merasakan ada perubahan signifikan dalam keluarga kami. Dulu, kalau ada ide bagus, paling kami hanya diskusi mengenai hal itu. Kalau sekarang, selain kami berdiskusi lebih intens soal isu-isu parenting, kami juga lebih cepat bergerak untuk mengeksekusi ide tersebut. Aku dan abang, sepertinya sudah mulai semakin satu frekewensi, hehehe.

 

Saat ini kami sudah menggodok Visi Pendidikan Keluarga dan sudah jadi separohnya. Gambaran besarnya sudah ada, namun kami memilih menjabarkannya dengan bertahap. Kami juga sudah sepakat mulai belajar membuat jadwal, walaupun sangat longgar. Rencananya, jadwal dibedakan antara 7 minggu saat abang bekerja, dan 5 minggu saat abang di rumah. Selain itu, pendokumentasian aktivitas dan perkembangan BabyM juga menjadi perhatian kami. Dengan ‘modal’ yearbook berisi foto-foto perkembangan babyM di tahun pertamnya yang aku buat tahun lalu, kami bermaksud untuk terus konsisten membuatnya.

 

Bagi aku dan abang, meskipun kami masih belum tau apakah akan meneruskan pelaksanaan homeschooling hingga pada saat BabyM sekolah nanti, seluruh usaha yang kami lakukan saat ini merupakan pengingat bagi kami berdua, bahwa kamilah yang paling bertanggung jawab atas tumbuh-kembang BabyM. Tidak ada salahnya mempertahankan dan terus membangun kebiasan-kebiasaan baik – terlepas dari homeschooling atau tidak.

 

Jadi, terimakasih banyak, Mas Aar dan Mbak Lala, atas semua ilmu, sharing pengalaman, serta tips-tipsnya yang oke banget! Terimakasih untuk semua praktisi homeschooling yang telah menceritakan kisah-kisah mereka lewat podcast (terutama keluarga Mbak Raken Asri yang podcastnya bikin kami berdua ketawa-ketawa tapi sekaligus belajar banyak! Jadi pengen ketemu deh!). Dan tidak lupa, terimakasih kepada rekan-rekan sesama peserta webinar yang bergabung di grup WhatsApp. Pada pinter-pinter banget sih, Pak, Bu! Bangga deh bisa kenal kalian semua. Mudah-mudahan berlanjut ke kopdar dan menjadi pertemanan yang langgeng yaaaa…. Aamiinn.

9 bye

 Salam dari keluarga kami. Sampai bertemu! *dadah-dadah*

 

Webinar Homeschooling #9: Manajemen Keseharian

Sebelumnya, maafkan yaaaa… ini postingannya terlambat, huhuhu. Kami sekeluarga kemarin sedang travelling, jadi terlalu sibuk bersenang-senang hahahaha! Dengerin webinar-nya aja pas lagi jalan, hihihi. Tapi, lebih baik terlambat lah ya, daripada tidak sama sekali *alesan*

 

Pembahasan terakhir dalam rangkaian webinar tentang homeschooling dari Rumah Inspirasi adalah soal “Manajemen Keseharian”. Utamanya yang dibahahas adalah soal manajemen keluarga dan manajeman waktu, plus mengulang sedikit soal manajemen materi belajar dan manajemen proses belajar. Sebab, tidak seperti sekolah yang sudah punya sistem belajar dan alokasi waktu yang tetap, homeschooling yang punya fleksibilitas tinggi bisa menyebabkan chaos jika kita tidak bisa mengelolanya dengan baik.

 

Intinya (dan juga tantangannya!) dalam manajemen keseharian ini adalah mencari pola yang sesuai dengan keluarga kita. Pola ini tentunya berbeda bagi tiap keluarga, jadi tidak bisa sekedar meniru apa yang dilakukan orang lain. Ngomongnya sih gampang ya, hahahaha! Kenyataannya? Ya mungkin kita emang mesti pakai model coba-coba, lalu dievaluasi. Dari satu sisi terdengar melelahkan banget yah, tapi di sisi lain, proses coba-coba ini sesungguhnya adalah proses menemukan diri sendiri: keluarga kita tuh sebenernya senengnya apa sih? Proses ini membuat keluarga menjadi satu tim, sebuah kesatuan. Dan ini berharga banget.

 

Dalam Manajemen Keluarga, yang dibicarakan adalah peran masing-masing anggota keluarga. Apa peran Bapak, peran ibu, dan peran anak sebagai bagian dari tim yang saling mengisi dan menuju ke arah yang sama. Hal yang penting dalam manajemen keluarga adalah:

 

Nyaman bersama anak & keluarga. Kenyamanan seluruh anggota keluarga adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam manajemen keluarga. Nyaman disini bukan berarti semua serba gampang dan mudah. Nyaman berarti kita semua menikmati prosesnya. Kalau dalam bahasa Mas Aar, center of gravity atau pusat hati kita adanya di rumah, sebab dalam homeschooling, segalanya berpusat di rumah.

 

Sepakati pembagian peran ibu-bapak. Setiap keluarga punya model hubungan sendiri antara suami istri. Ada yang bapak-ibu benar-benar bekerja sama masing-masing 50%-50%. Atau, bisa jadi bapaknya kerja full-time dan hanya menyediakan resource, jadi ibu yang lebih banyak berperan. Yang manapun boleh, sesuaikan saja dengan kondisi keluarga. Tapi yang harus ditekankan adalah, apapun modelnya, kedua orang tua harus tetap update dengan perkembangan anak.

 

Mengatur pola aktivitas keluarga. Ini lebih kepada teknis pelaksanaan. Misalnya, secara umum dalam soal pendidikan, bapak lebih fokus mengajarkan bidang A dan ibu bertanggungjawab pada bidang B. Atau dalam soal pembagian tugas rumah tangga, bapak mengerjakan apa, ibu mengerjakan apa dan anak-anak diberi tugas apa.

 

Sepakati apa yang penting & apa yang dapat ditolerir. Idealnya, hidup ini berjalan teratur sesuai yang kita rencanakan. Tapi yaaaaa, namanyapun hidup ya. Umumnya sih perlu kompromi. Jadi, daripada terus-terusan capek karena mengejar kesempurnaan, ada baiknya seluruh keluarga menyepakati apa yang penting, dan apa yang dapat di tolerir. Misalnya: idealnya sih rumah selalu bersih rapi dan anak-anak makan tepat waktu. Tapi, kalau memang kenyataannya tidak bisa begitu, ya sepakati saja: yang penting adalah makan tepat waktu. Rumah berantakan ya masih bisa di tolerir lah. Dengan demikian, mindset kita bisa disesuaikan: Kalau pagi, yang penting adalah memasak dulu. Membereskan rumah paling hanya sekenanya. Membersihkan dengan seksama mungkin bisa dua atau tiga hari sekali.

9 berantakanYang penting, anak bisa senang belajar, plus bisa sosialisasi sama anak-anak tetangga juga. Kalo sudip dan pompa bertebaran, ember pun bisa nyampe taman, ya sudah lah ya, nggak usah setres-setres amat 😀

 

Membuat rutinitas dapat membatu membentuk pola. Bahkan jika menggunakan metode unschooling yang serba tidak teratur, sekalipun, adanya rutinitas itu penting untuk membangun pola. Misalnya saja, pola tidur atau pola makan. Walau sederhana, tapi pola ini bisa membantu anak membuat ekspektasi.

 

Rutinitas ini cukup erat kaitannya dengan manajemen waktu. Ngomongin soal manajemen waktu ini emang, yaaaa… gitu deh. Hahahah! Kadang-kadang, orang tua dengan anak yang sekolah aja masih bisa keteteran ngurusin ini itu. Gimana lagi dengan orang tua yang anaknya homeschooling yaaaaa! Seperti yang aku tuliskan di awal tadi, memang perlu banyak coba-coba. Apalagi, kegiatan keluarga kan nggak stagnan. Semakin anak bertumbuh, semakin banyak aktifitasnya, sehingga, kalaupun sudah bikin jadwal yang cocok, kemungkinan untuk berubah lagi itu sangatlah mungkin.

 

Empat belas tahun ber-homeschool-ria, pasangan Mas Aar dan Mbak Lala juga terus-terusan berproses soal manajemen waktu. Namun, dari hasil trial and error selama itu, mereka jadi punya beberapa strategi dalam manajemen waktunya. Bolehlah, dijadikan “contekan” buat coba-coba sampe ketemu pola buat diri sendiri, hehehehe…

 

Manajemen waktu ala Rumah Inspirasi:

Strategi 1: Jadwal => Rencanakan – Tulis – Pasang – Evaluasi

Strategi 2: Menyederhanakan Target => Cukup 3 hal penting saja dalam sehari – Fleksibel – Pokoknya jalan terus

Strategi 3: Slot Waktu => Sarapan adalah waktunya ‘bel pagi’ – Makan siang adalah waktunya cek kegiatan – Makan malam adalah waktu evaluasi harian.

 

Tiga strategi ini dipakai bolak-balik. Kalau sedang dalam kondisi “prima”, ya pakai Strategi 1. Semua direncanakan dengan baik, lalu ditulis entah itu di whiteboard, di buku diary/planner, di apps handphone, di tempel di dinding, (atau bahkan gabungan semuanya, biar inget, hahaha!) lalu dievaluasi dengan teratur. Terkadang, dalam beberapa bulan semuanya berjalan sesuai rencana, sampai tiba-tiba ada masalah. Entah ada yang sakit, atau ada kejadian luar biasa yang tidak bisa diabaikan, digantilah jadi Strategi 2. Jadwal yang sudah ada disederhanakan. Misalnya dalam sehari ada 10 to-do-list yang harus dikerjakan, dalam keadaan “darurat”, pilih 3 saja yang diprioritaskan dan fleksibel dalam hal-hal lain. Pokoknya, walapun tidak sempurna, kita harus jalan terus. Strategi 3 biasanya juga selalu dipakai sehari-hari untuk memudahkan pengecekan. Keluarga Mas Aar dan Mbak Lala membiasakan makan bersama. Sarapan pagi menjadi bel sekaligus menanyakan kegiatan apa yang mau dilakukan pada hari itu. Pada saat makan siang, adalah waktunya istirahat sebentar, untuk kemudian anak-anak melanjutkan kegiatan yang bersifat olahraga. Saat makan malam dipakai untuk ngobrol, evaluasi kegiatan pada hari itu.

 

Mbak Lala juga memberikan tips untuk manajemen waktu. Selain yang diuraikan diatas, seperti membuat rutinitas, membuat rencana di depan, dan berdamai dengan ketidaksempurnan, ini ada beberapa tips yang bagiku sangat bisa dilakukan dalam keseharian:

  • Buat target yang ingin dicapai. Ini fungsinya untuk menyamakan ekspekatasi antara orang tua dan anak. Misalnya dalam minggu ini targetnya apa. Dalam bulan ini targetnya apa.
  • Tentukan skala prioritas dan belajar mengatakan tidak. Banyak kegiatan ‘keren’ yang pengen diikuti (atau bisa jadi di ajak sama orang), tapi waktu kan terbatas. Mendingan pilih yang paling berdampak besar dan fokus pada itu.
  • Buat daftar kegiatan. Misalnya kalau teringat ingin melakukan sesuatu, bisa langsung ditulis dalam daftar. Nanti, jika ada waktu kosong, tapi bingung mau ngapain, bisa liat daftar ini.
  • Kenali waktu terbaikmu. Mana yang paling ‘on’. Pagi? Siang? Malam? Belajar dulu baru main? Atau main dulu baru belajar?
  • Jangan menunda pekerjaan.
  • Atur barang di rumah.

 

Satu hal lain yang juga tak kalah penting dari semua pengaturan ini adalah menjaga agar orang tua (terutama sih ibu-ibu ya) supaya tidak burnout, alias kelelahan tingkat akut. Soalnya, ini sangat mungkin terjadi. Kalau kata Mas Aar, ibu itu matahari keluarga. Kalau ibunya happy, maka keluarganya akan bersinar-sinar ceria. Kalau ibunya kusut, seluruhnya juga ikutan kusut, ehehehe. Makanya, penting banget menjaga mental ibu. Kalau sudah mulai terasa agak-agak capek, mendingan stop dulu rutinitasnya, istirahatlah, cari me-time atau lakukan hal-hal yang disenangi bersama. Selain itu, dalam jangka panjang ada baiknya untuk mendorong anak untuk belajar mandiri dan membiasakan anak mengevaluasi diri sendiri. Kalau anak sudah terbiasa, maka beban orang tua akan banyak berkurang.

 

Isi webinar kali ini kayaknya emang ‘kena’ banget deh ke keluarga kami. Sudah cukup lama kami berusaha bongkar-pasang jadwal, tapi masih belum ketemu juga ritme yang pas. Apalagi, model pekerjaan si Abang yang 7 minggu kerja dan 5 minggu off. Sulit sekali membuat aktivitas rutin. Hal-hal rutin yang sering aku bangun saat si abang bekerja, biasanya langsung bubar saat si abang cuti (soalnya dia kalo udah dirumah bawaannya mau leyeh-leyeh melulu sih!) Apalagi, kami adalah model orang yang sangat spontan. Contoh paling mutakhir: rencananya hanya liburan beberapa hari ke Sukabumi, jadinya malah roadtrip 12 hari menyisir pantai-pantai di Jawa Barat dan Banten. Hyukkkkk!

 

Begitupun, kami berdua berkomitmen untuk berlatih membuat rencana dan membuat jadwal. Kami sepakat mulai menerapkan beberapa tips dari rumah inspirasi. Kemaren barusan beli whiteboard, dong, heheheh! Susah memang, tapi bukan berarti nggak bisa kan? * singsingkan lengan baju*

 

 

Webinar Homeschooling #8: Evaluasi dalam Homeschooling

Nggak terasa webinar homeschooling Rumah Inspirasi udah masuk minggu ke-8 ya. Udah menjelang akhir. Apalagi temanya kemarin adalah soal evaluasi. Makin kerasa deh aura perpisahannya. Huhuhhu…

 

Soal evaluasi ini sesungguhnya buat aku bingung. Kalau di sekolah kan evaluasinya rapor ya? Setelah belajar sekian bulan, lalu anak-anak ikut ujian, kemudian dikeluarkanlah rapor berisi nilai yang sebagian besarnya merupakan skor ujian akhir. Nah, Kalau homeschooling gimana dong evaluasinya? Gimana caranya mengukur sudah sejauh apa anak kita belajar?

 

Menurut Mas Aar, pertama dan yang paling utama, sudut pandang evaluasi menggunakan rapor atau nilai-nilai ini perlu diformat ulang. Meskipun rapor bisa digunakan untuk menilai hasil, tapi ia hanyalah bagian kecil dalam proses pendidikan anak-anak. Dalam homeschooling, evaluasi tidak hanya soal angka, tapi juga bagaimana memberi perhatian soal prosesnya.

 

Setiap evaluasi tentunya mempunyai titik awal pengukuran. Nah, dalam homeschooling titik awalnya tentulah si Visi Pendidikan Keluarga. Visi ini kan kemudian dijabarkan dalam bentuk kurikulum atau rencana kegiatan. Lalu, dalam jangka waktu tertentu, barulah kita bisa mengevaluasi, apakah yang terjadi di lapangan itu sudah sejalan dengan yang dicita-citakan. Proses ini idealnya dan seharusnya dilakukan secara terus menerus. Bisa evaluasi tahunan, bulanan, mingguan, bahkan harian.

 

Hah? Evaluasi harian? Nggak salah nih? Itu yang ada dalam pikiranku pada awalnya. Kalau yang di kepala adalah rapor, tentunya membingungkan ya. Tapi seperti yang dijelaskan sebelumnya, evaluasi bukan melulu soal angka. Dan homeschooling (terutama pada anak usia dini) tentunya menitikberatkan pada pembentukan karakter dan kebiasaan baik. Jadi, kalau misalnya dalam visi pendidikan keluarga dicantumkan bahwa ingin anaknya menjadi manusia yang berakhlak baik, saat anaknya berkata kasar kepada orang lain, orang tua bisa langsung mengingatkan, memberi masukan dan contoh bagaimana bicara yang sopan. Itu juga namanya evaluasi, loh! Dan mengingat toddler macam BabyM itu bisa berbuat macam-macam hal yang “ajaib”, pastinya ada aja tingkahnya tiap hari yang harus dikoreksi. Jadi, masuk akal juga bahwa untuk evaluasi seperti ini, bisa dilakukan tiap hari.

8 tanggaContoh evaluasi harian: Tangga udah ditutup agar tidak dinaiki, tapi anaknya ketahuan naik sendiri, dan tiba-tiba meluncur bak main perosotan. *Jantung ibu mau copot* Langsung deh dinasihati supaya tidak melakukan itu sendirian. “Kalau mau main itu, harus ditemani oleh Ibu atau Bapak, ya!” Lalu menghela nafas panjaaaaaaaaaaang banget T.T

 

Dalam homeschooling, ada dua sudut pandang evaluasi. Yang pertama adalah evaluasi sebagai alat refleksi orang tua. Apakah kegiatan homeschooling ini sudah efektif? Apakah anak senang dan menikmati prosesnya? Cukup variatifkah kegiatannya? Sudah sesuai dengan Visi Pendidikan Keluarga? Sudut pandang ini terus terang baru bagiku. Aku tau sih, bahwa orang tua harus refleksi. Tapi, kalau dipandang sebagai evaluasi proses pendidikan anak, ya baru ngeh saat denger webinar. Ini sangat masuk akal dan menohok. Ibaratnya, kalau anaknya salah, atau kurang baik dalam satu bidang, yang pertama dilakukan adalah refleksi diri dulu. Kali aja kita yang memberi contoh kurang baik atau tidak konsisten dalam keseharian.

 

Yang kedua adalah evaluasi untuk menilai hasil belajar anak. Untuk evaluasi ini, cara dan alat evaluasinya bisa macam-macam. Bisa dengan tanya-jawab informal atau meminta anak melakukan narasi atau menceritakan ulang hal-hal yang baru saja ditemui/dilakukan/ditonton/dibaca. Bisa juga dengan menyuruh anak membuat essay atau presentasi. Bisa dengan mengerjakan soal-soal atau ikut tes. Atau bisa juga membuat portofolio hasil karya anak, Membuat dokumentasi kegiatan dan hasil belajar akan sangat membantu dalam melihat perkembangan skill anak dari waktu ke waktu.

 

Menurut pengalaman keluarga Mas Aar, ada beberapa tipe evaluasi yang selama ini mereka lakukan. Saat anak-anak masih pra-sekolah, fokus utama evaluasi adalah seberapa baik tumbuh-kembangnya, motoric halus-kasarnya, sosialisasinya dan logikanya. Apakah anaknya terlihat menikmati kegiatan. Sesekali, perkembangan itu dicocokkan dengan ceklis tumbuh kembang yang ada.

 

Saat anak-anaknya beranjak besar, ada evaluasi harian dan mingguan yang dilakukan secara informal. Biasanya, saat sarapan anak-anak ditanya rencana mereka hari ini dan saat makan malam mereka me-review kembali kegiatan hari itu. Lalu, ada evaluasi peristiwa, evaluasi yang dilakukan sewaktu-waktu jika anak melakukan tindakan yang kurang terpuji. Jadi setelah kejadian, anak langsung diberi masukan agar tidak melakukan hal demikian dimasa yang akan datang.

 

Selain itu, ada evaluasi karya. Saat berusia 8 tahun, anaknya diberi hadiah blog. Ibarat orang tua memberikan modal sebidang tanah untuk digarap ke anaknya, blog ini juga diserahkan sepenuhnya kepada anak untuk dikelola. Evaluasi berupa ujian juga ada. Bisa berbentuk online atau buku soal.

 

Walaupun aku baru paham seluk beluk evaluasi pada sesi ini, tapi sejak mengikuti webinar Rumah Inspirasi kami (sedikit banyak) ternyata sudah melakukan evaluasi. Selain mencocokkan tumbuh kembang BabyM dengan checklist yang ada, belakangan ini kami juga sering meminta BabyM untuk menceritakan ulang apa-apa yang dilakukan atau dilihatnya.

 

Misalnya, saat pergi piknik ke Kebun Raya Bogor beberapa waktu lalu dengan mengajak mbak-mbak pengasuh anak tetangga, aku bertanya pada BabyM lihat apa disana? Main apa? Dia sudah bisa menjawab “Main sama Mbak,” dan “Lihat Anggrek”. Itu aja udah buat takjub. Karena sering ditanya-tanya, belakangan dia malah berinisiatif untuk cerita sendiri. Seperti saat membaca buku, BabyM sudah bisa menerangkan apa yang dilihatnya. Bahkan dia menunjukkan hal-hal yang aku tidak perhatikan di buku. Terharu tingkat tinggi deh dibuat BabyM.

 

8 krbPergi ke Kebun Raya Bogor dengan para Mbak tetangga. Lihat apa tadi, nak? “Anggrek!” WAH!

 

8 walterBulan ini baca buku Walter The Baker-nya Eric Carle. BabyM sudah bisa cerita, “Susunya tumpah, bu”. Siapa yang tumpahin ya? “Kucing, bu”. Abang Walter sedang apa? “Adon-adon kue”. Aaaww…

 

Sesungguhnya, capaian-capaian kecil itu membuat hati hangat. Hasil “evaluasi” yang membuat segala capeknya jadi ibu rumah tangga jadi lumer. Klise sih, tapi yaaa… emang bener, hihihhi! Duh, ini jadi beneran pengen buat blog khusus untuk dokumentasi perkembangan dan capaian BabyM deh. Buat aja apa ya?

Webinar Homeschooling #7: Internet Untuk Homeschooling

Minggu lalu, kelas webinar Rumah Inspirasi membahas tentang penggunaan internet untuk homeschooling. Walaupun sesungguhnya bebas-bebas aja, tergantung kita mau pakai internet atau tidak, tapi dalam keluarga Mas Aar dan Mbak Lala, internet menjadi elemen yang penting dalam proses homeschooling mereka.

 

Penggunaan internet ini memang ‘ngeri-ngeri sedap’, kalo kata orang Medan. Peluangnya banyak banget. Tapi seperti dua sisi koin, ancamannya juga nggak sedikit. Dengan internet, anak-anak yang tinggal di pelosok desa bisa mengakses informasi yang sama dengan anak-anak yang tinggal di New York atau Tokyo. Ia seperti perpustakaan atau sekolah terbesar di dunia. Tidak hanya bahan bacaan atau referensi, kita juga bisa menemukan guru dan sumber belajar dari segala penjuru dunia. Bumi menjadi tanpa batas dan kita bisa bersosialisasi dengan siapa saja, dimana saja.

 

Tapi, internet membuat kita kebanjiran informasi dan itu bukan hal yang menyenangkan. Memilah informasi, mencari yang benar-benar kredibel, menjadi tugas yang relatif sulit dan butuh tenaga ekstra banyak. Susah sekali untuk focus dengan distraksi macam-macam. Pernah kan, kita niatnya mencari A, tapi udah sejam browsing malah nggak dapet hasil apa-apa karena sibuk klak klik link lain yang menarik? Belum lagi soal kecanduan internet, soal pornografi atau kejahatan internet.

 

Terlepas dari peluang dan tantangannya, nggak bisa dipungkiri bahwa generasi sekarang sudah kenal teknologi sejak lahir. Aku aja udah termasuk generasi millennial, apalagi BabyM, kan? Aku aja udah susah kalo hidup nggak ada internet, apalagi BabyM nanti?

 

Soal internet ini (dan soal screen time secara umum), juga menjadi salah satu perhatianku dan Abang. Saat BabyM lahir, ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa sebisa mungkin kami menjadi orang tua yang present. Kami membatasi penggunaan smartphone jika sedang bersama. Kami juga jarang sekali menghidupkan TV (ya pada dasarnya emang nggak terlalu suka nonton TV juga sih). Tapi, seiring tumbuh kembang BabyM, ya makin sulit banget untuk menjaga agar BabyM tidak terpapar dengan screen, entah itu smartphone, laptop, atau TV. Sebab, kini BabyM sudah melihat banyak hal, dan ia sudah mulai mengerti.

 

Setelah selama ini tidak pernah memberikan gadget kepada BabyM, sekitar tiga bulan lalu, aku akhirnya “menyerah”. Awalnya, ia meminta diputarkan video “kakak nari”, yaitu pertunjukan tarian di Saung Angklung Mang Udjo yang aku rekam di smartphone. Ia meminta rekaman itu diputar berulang-ulang di laptop. Setelah diulang untuk kesekian ratus kali, ibu ini tentunya sangatlah bosan, hahahaha! Akhirnya, muncul ide untuk mencari video di youtube. BabyM saat itu sangat senang main “pam pam”, alias memukul gendang, atau mukul apapunlah yang bersuara. Aku mencari video dengan keyword ‘best drummer in the world’, dan dari beberapa yang ada, akhirnya pilihan jatuh ke video ini:

Ya baru ngerti kalau Mike Portnoy ini eks drummer Dreamtheatre. Aku nggak ngerti sama sekali soal drum, hihihi!

 

Keren ya? Aku dan BabyM melongo dibuatnya! Dan sejak itu, video “Om pam-pam” ini juga sering diputar. Sejak nonton video ini, BabyM makin eksploratif dalam skill pam-pamnya 😀 Dulu dia hanya menggunakan tangan untuk pukul-pukul. Sekarang, dia akan minta sepasang sumpit, dan bahkan menyusun gendang, beberapa kaleng, atau apapun yang bisa dia temui, untuk dipukul bergantian, biar mirip “Om pam-pam” (artinya Om yang pintar pam-pam alias main drum).

 

Setelah itu, aku semakin membuka diri untuk menggunakan gadget bersama BabyM. Selain drum, BabyM sangat suka masak-masak. Aku jadinya mencari video masak yang atraktif. Yang pertama disukai BabyM adalah video ini, video “Om sreng-sreng” (artinya Om yang pintar sreng-sreng alias masak-masak) 😀

 

Sejak nonton video ini, BabyM suka menirukan gaya masak ini. Dengan menggunakan botol air minum, dia akan pura-pura membuat api. Atau pura-pura menambahkan kecap dan merica. Selain ini, ada beberapa video lain yang dia suka, termasuk salah satu favoritnya ini, video “Oma Tusing” (artinya Oma yang pintar tossing pancake), yang membuatnya pintar memainkan Teflon 😀

 

Begitulah, aku ‘menyerah’ dan memilih untuk menggunakan teknologi dna internet dalam urusan parenting. Tapi, tentunya dengan tetap melakukannya secara sadar dan diawasi. Toh dalam sehari paling hanya setengah jam. Itu juga nggak sekaligus. Dan sejauh ini, hasilnya justru positif.

 

Kalau dari webinar kemarin, Mas Aar menyebutkan bahwa kunci pemanfaatan internet adalah menjadi orang tua yang kuat dengan kepemimpinan yang efektif. Kitalah yang memimpin, tidak dipaksa atau disandera anak. Kita harus bisa bilang tidak, meskipun anak merengek, merajuk, marah, atau segala trik lain. Kalau anak kita tidak bisa diatur, itu masalahnya bukan pada anak, tapi pada leadership ortunya. Kita juga mesti memberikan batasan koridor yang jelas. Kapan dan berapa lama anak-anak bisa menggunakan gadget, dan konsisten dengan itu.

 

Orang tua memang musti punya strategi untuk urusan internet ini. Kenali dulu kebutuhan dan tujuannya apa. Apakah untuk belajar, atau hiburan? Beda tujuan pasti beda caranya. Selain itu, orang tua juga sebaiknya melakukan kurasi atas materi yang diakses anak. Apakah layak? Apakah sesuai dengan nilai yang akan ditanamkan? Durasi juga harus ditetapkan, karena anak-anak perlu punya batasan yang jelas. Dan yang tak kalah penting adalah evaluasi secara teratur, sehingga bisa menghindari kecanduan. Kalau sudah ada tanda-tanda kecanduan, misalnya, bisa puasa gadget sejenak dan lebih banyak kegiatan fisik.

 

Tapi pada akhirnya, menurutku, semua kembali ke orang tua. Godaan internet ini banyak banget. Orang tua aja kadang nggak sanggup menahannya, apalagi anak-anak kan? Kalau aku dan si Abang, kami berdua sepakat untuk melatih diri sendiri dulu, mumpung anaknya masih kicik dan belum perlu-perlu amat sama internet. Mudah-mudahan pada waktunya nanti, kami sudah jadi orang tua yang bisa dicontoh anaknya. Aaamiiinnn….

 

Sekarang, offline dulu yaaaaa… mau ngobrol-ngobrol sama si Abang, mumpung BabyM udah tidur. Eaaakkk…

Webinar Homeschooling #6: Belajar dari Keseharian

Oke, sebelum kita lanjut dengan summary webinar minggu ke-6 yang bertemakan ‘Belajar Dari Keseharian’ oleh Rumah Inspirasi, aku mau bilang bahwa materi ini sungguhlah menjawab sebuah pertanyaan sekaligus kegelisahanku selama menjadi seorang ibu:

 

Apakah aku ibu yang pelit?

 

Hhhahaha! Iya, beneran. Aku sering berkontemplasi apakah aku ini tipe ibu pelit? Pasalnya, aku hampir nggak pernah membelikan BabyM mainan. Selama hampir dua tahun usianya, mainan yang aku belikan itu bisa dihitung jari tangan. Dia punya sih beberapa mainan, hadiah dari sahabat dan kerabat waktu lahiran. Tapi itu juga gak terlalu banyak. Beberapa boneka, play mat, dua mainan ‘elektronik’yang kalau dipencet bunyi musik dan sekotak puzzle kayu.

 

Tapi yang aku belikan palingan hanya teether pas bayi, serokan pasir (yang dibeli waktu liburan ke pantai dan sampe sekarang masih suka banget dimainin), bola (obviously!), gasing (oleh-oleh dari Car Free Day), sebuah gendang kecil – atau ‘pam pam’, begitu BabyM menyebutnya – yang kami beli saat ke Saung Angklung Mang Udjo, dan sebuah kompor mini.

 

Katanya kalo punya anak bakal suka beliin macem-macem. Tapi kenapa aku enggak ya? Trus kalau nggak, babyM main apa dong?

 

Yahhh… macem-macem banget ya sebenarnya. Tergantung situasi aja. Kalo misalnya abis dari supermarket dan beli-beli sesuatu yang ada kotaknya, aku kasih aja kotaknya buat mainan. Pura-puranya itu mobil-mobilan, atau ditumpuk jadi rumah-rumahan, ala puzzle. Atau kalau lagi masak, aku kasi aja wajan dan sudip beneran. Kalau lagi mandi, bisa main botol sabun, shampo, sikat, dan segala apa yang di kamar mandi. Atau kalo lagi main di sekitar rumah, kami kumpulin daun-daun kering atau bunga-bunga jatuh. Bertamu ke tetangga untuk liat kucing/burung/ikan/kelinci mereka. Pokoknya main aja sama apa yang ada sambil ngobrolin ini itu.

bakar sateJepit jemuran pura-puranya jadi sate, dan BabyM akan bilang, “Bakar sateeeee…” sambil kipas-kipas 😀

 

gitar jepitBosan dijadiin sate, jepit jemurannya dibuat jadi gitar, dan BabyM akan nyanyi, “Wooowoodiii…. wooowoodii…”Jangan tanya lagu apa, itu dia karang sendiri 😀

 

Nah, lalu, apa hubunggannya perasaanku soal pelit dengan materi webinar ‘Belajar dari Keseharian’ kemarin? Menurut webinar kemarin, hal-hal yang kita lakukan sehari-hari itu sesungguhnya punya potensi besar untuk menjadi materi belajar. Mengutip ebook karya mas Aar, selama ini, sadar atau tidak sadar – kita dijejali pemikiran bahwa pendidikan adalah ‘scarce commodity’, sesuatu yang langka yang hanya boleh dilakukan oleh institusi dan orang-orang yang ahli. Dan tentunya, kita harus bayar mahal. Semakin mahal, semakin bagus. Jadi karena terus menerus ditanamkan dipikiran kita, lama-lama kita menjadi percaya. Percaya bahwa kita nggak mampu ngajarin anak sendiri. Kepercayaan diri kita hilang pelan-pelan. Padahal, siapa yang bisa menyangkal bahwa orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak?

 

Nggak perlu bayar mahal buat belajar. Yang gratis itu banyak banget dan nggak abis-abis buat di eksplor! Tentu saja kalau kita mau dan menyediakan waktu untuk itu.

 

Sebelum terlalu jauh, yang dimaksud KESEHARIAN itu apa aja sih? Contohnya adalah ini:

– kegiatan harian anak-anak (bangun tidur, main sepeda, mandi, makan)

– kegiatan harian ortu (bekerja/mencari nafkah, menyiapkan makanan, mengurus rumah, interaksi dengan lingkungan)

– rumah dan lingkngan sekitar (ruang-ruang rumah seperti dapur, kamar, dll, taman, fasilitas umum, bisnis rumah tangga)

– kegiatan incidental (berkendara pribadi, umum, ke pasar/bank supermarket, dll)

– kegiatan terencana (misalnya liburan keluarga, melalukan pengamatan lalu lintas, dll)

 

Apa saja di sekitar kita bisa dijadikan pelajaran. Yang penting, orang tuanya mau belajar dan sabar dengan proses. Bersedia membuka diri terhadap sekitar dan memperhatikan hal-hal sederhana. Yang terpenting, harus sering-sering praktek. Nah, dari keseharian ini ada banyaaaaaaaakkkk banget yang bisa dipelajari. Apa aja?

  1. Wawasan. Dari keseharian, anak-anak belajar tentang masyarakat, tentang nilai-nilai, lingkungan, dan bagaimana seharusnya menjalani hidup. Misalnya, saat jalan sore berpapasan dengan tetangga, lalu kita mengajak anak untuk menyapa, bertanya kabar. Anak bisa belajar untuk bersosialisasi, belajar tentang kesopanan dan pentingnya bertetangga.

 

  1. Pengetahuan. Dari keseharian, anak bisa belajar soal fakta dan informasi. Pas lagi makan siang, di meja ada tahu tempe. ‘Wah, lihat nih nak, tahu ini bentuknya seperti segitiga ya? Tempe seperti segi empat. Apa lagi ya yang bentuknya seperti itu di ruang makan kita?’. Sambil makan, anak belajar matematika.

 

  1. Keterampilan. Dari keseharian, anak bisa belajar self-management seperti bisa makan sendiri, mandi yang bersih, menempatkan pakaian kotor pada tempatnya, bisa berkontribusi terhadap pekerjaan keluarga.

 

  1. Rasa hati. Dari keseharian, anak belajar merasakan menang, kalah, berbagi, kehilangan, sabar, syukur, pantang menyerah, berterimakasih, minta maaf dan lain sebagainya, yang umumnya nggak diajarin di sekolah. Dari pengalaman sehari-hari, anak terekspos dengan perasaan-perasaan ini dan kemudian bisa memahami perasaannya sendiri

 

Selain sangat murah atau bisa dibilang gratis seperti yang aku ceritakan di awal, kelebihan belajar dari keseharian ini banyak sekali. Salah satunya adalah fleksibilitas yang luar biasa. Materi yang selalu bisa diakses dimana saja, kapan saja, membuat kita nggak akan pernah kekurangan bahan belajar. Mau tinggal di pantai, gunung, kota besar, kota kecil, semua bisa dijadikan pembelajaran. Malah, hal ini akan membuat tiap keluarga menjadi unik, karena memiliki setting/pengalaman yang berbeda. Belajar dari keseharian juga memiliki relevansi tinggi dan memiliki ikatan emosional dengan kehidupan anak sebab materinya sangat dekat dengan mereka. Kalau belajar hal-hal yang dekat dengan kita, pastinya lebih nempel kan?

 

Tidak hanya itu, belajar dari keseharian ini juga sangat berkualitas karena dia memiliki paparan multi dimensi. Maksudnya apa? Gini, kalau kita hanya baca buku tentang kuda, ya kita hanya tau teorinya doang. Tapi, kalau kita langsung ketemu kuda kita merasakannya dengan seluruh indera. Kita bisa mencium baunya, bisa memegang bulunya, bisa mendengar suaranya, bisa memberi makan, juga bisa bertanya langsung pada penjaga kudanya.

 

Begitupun, belajar dari keseharian ini juga ada tantangannya. Kebanyakan materinya adalah ‘raw material’ dengan kompleksitas tinggi. Seperti soal kuda diatas, kalau kita beri anak buku soal kuda, kita bisa menyesuaikannya dengan kondisi anak. Untuk anak yang masih kecil, kita bisa berikan buku gambar-gambar kuda. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, bisa buku yang lebih banyak informasinya. Tapi, kalau melihat kuda langsung, bisa jadi ada pertanyaan-pertanyaan yang kompleks yang bisa buat orang tua bingung kalau tidak mampu mengelolanya.

 

Tantangan lainnya adalah kita tidak biasa dengan model belajar seperti ini, sehingga membutuhkan pendekatan berbeda. Metode ini juga membutuhkan wawasan dan keterampilan orang tua, serta memperkaya pengalaman keluarga.

 

Walaupun kadang-kadang sudah diterapkan dalam keluarga, menurut Mas Aar ada banyak praktisi homeschooling yang tetap aja merasa ‘anaknya nggak belajar apa-apa’. Sesekali mengeluh mungkin wajar ya. Tapi kalau keseringan, mungkin memang ada masalah. Apakah kurang stimulasi? Atau kurang variatif? Atau sebenernya konsep “belajar”-nya yang justru terlalu sempit?

 

Belajar toh bukan hanya tentang calistung atau mata pelajaran. Belajar juga tidak hanya dilakukan di waktu khusus dan dengan lembar kerja atau buku. Dan belajar tidak harus menunggu diajari. Belajar, adalah segala proses yang kita lakukan untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam tataran pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kualitas diri.

 

Mas Aar juga punya tips untuk belajar dari keseharian yang sangat sangat patut untuk dicoba dan dipraktekkan: Lapang hati dan perluas sudut pandang. Selain itu, jangan buru-buru juga mengharapkan hasil. Lebih baik melakukan sesuatu dengan waktu yang singkat tapi diulang-ulang setiap hari sehingga bisa jadi kebiasaan. Kalau anak bertanya dan ingin tau sesuatu, orang tua juga mesti bijaksana dalam menyikapinya. Nggak semua pertanyaan harus dijawab panjang lebar juga sih, nanti anaknya malah keder dan males nanya, hahaha! Yang penting lihat kondisi dan mood anak untuk menjaga agar proses kegiatan itu menarik. Soalnya, orang tua itu seringnya fokusnya pada materi/kualitas sedangkan anak pada proses. Materi seberat apapun, kalau prosesnya menyenangkan anak pasti senang dan melakukan. Sebaliknya, materi segampang apapun, kalau prosesnya dirasa tidak menyenangkan, akan sulit untuk dicerna.

 

Jadiiii, kembali ke poin pertama. Ternyata, aku bukan ibu yang pelit kan yaaaaa? Hahahaha! Aku hanya mengajak BabyM bermain dan belajar dengan menggunakan keseharian, hihihihi. Dan sejauh ini, sepertinya perkembangannya baik-baik aja. Yah, sambil tak lupa berdoa, mudah-mudahan BabyM memang belajar dari keseharian kami yah. Dan selain itu, mudah-mudahan sampai besar dia akan sadar bahwa nggak perlu hal-hal yang mahal untuk belajar dan berbahagia. Bahwa belajar bisa darimana saja dan bahagia itu sumbernya ada di diri sendiri. Amin!