Category Archives: BLW

BabyM’s Food Adventure

Sebulan menjelang kelulusan ASI Eksklusif kemarin, si ibu newbie ini mulai lebih intens mencari-cari soal apa itu Makanan Pendamping ASI (MPASI). Awalnya sih cari-cari informasi soal resep-resep bubur dan puree ciamik. Tapi, kok ya nyantol ke web yang bercerita soal Baby Led Weaning atau BLW: bayinya disuruh makan sendiri. Wah, apa ini?

Tidak puas dengan membaca web, aku membeli buku BLW yang dikarang Gill Rapley dan Tracey Murkett. Judulnya sedap: Baby-Led Weaning, The Essential Guide to Introducing Solid Foods and Helping Your Baby to Grow Up a Happy and Confident Eater. Plus embel-embel yang langsung menawan hati: “no purees, no stress, no fuss”. Sebagai ibu yang “paling rajin” cari catering dan delivery makanan, judul ini sangatlah menggoda iman, sodarasodara. Yuk, mari kita baca!

 

bukublw

… baca… hmmm… oh ya?

… baca… oh gitu.

… baca lagi… eh, masuk akal juga sih

… baca… terus gimana-gimana….

… baca… Waaahh… yayaya…

… baca lagi… hmmm jadi gitu ya?

*pikir-pikir* hmmm… bisa gak ya? Ya udahlah, kita coba dulu!

 

Dari yang awalnya skeptis, setelah membaca penjelasan panjang lebar di buku aku memutuskan untuk mencoba. Sepertinya lebih banyak manfaatnya. Apalagi BabyM beratnya lebih dari cukup, sehingga aku tidak perlu khawatir untuk ber-adventure-ria. Toh ASI masih akan terus dilanjut sebagai makanan utama sampai berumur satu tahun.

 

Oke, jadi sebenernya BLW tuh apa sih? 

Jadi gini. Dari bayi baru lahir, kita percaya kalo bayi itu pinter buat menyusu kan? Walapun awalnya masih susah, tapi terus-terusan belajar ngenyot nenen, lama-lama bisa kan. Kalo lapar dia akan minta (dengan cara nangis, pastinya!) dan kalo kenyang, dia akan berenti sendiri. Menyusu selalu jadi momen yang menyenangkan bagi ibu dan anak.

Nah, pada dasarnya, BLW juga begitu. Intinya, ibu mempercayai bahwa bayi BISA makan sendiri. Tapi tentu saja “bisa”-nya ini nggak datang tiba-tiba. Harus dengan belajar dan terus berlatih. Makanan yang diberikan adalah makanan rumahan biasa yang dimakan oleh seluruh keluarga (tentunya dengan asumsi keluarga makan sehat dan gizi seimbang), namun dipotong/dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa dipegang oleh bayi. Jadi, nggak perlu disuapin dengan “makanan bayi” khusus yang berbentuk bubur-buburan.

Dengan metode BLW, kita membiarkan bayi untuk percaya pada instingnya sendiri. Dia akan makan jika lapar, dan akan berhenti jika kenyang. Nggak perlu disuap-suapin dan diminta “menghabiskan” makanan di piring yang udah kita buat takarannya.

Kata si buku, cara ini bisa membangun hubungan yang sehat dengan makanan. Anak akan terbiasa mengenali konsep “lapar” dan “kenyang” sehingga gedenya nggak obesitas. Dia hanya akan makan jika merasa lapar dan akan berhenti jika merasa sudah cukup. Karena sejak kecil juga dikenalkan dengan berbagai jenis makanan tanpa pantangan, katanya anak nggak akan pilih-pilih makanan. Nggak ada drama nggak mau makan sayur dan harus disembunyiin biar mau dimakan.

 

Ah, masak sih? Kalaupun itu semua benar, makan biasa kan sulit? Gimana dia megangnya? Apalagi kalo sup-supan atau yang cair-cair. Kan harus pegang sendok segala?

Yah kalau kita mikirnya makan adalah duduk rapi cantik tertata dengan table manner sejak bayi ya agak susah juga ya. Bayi BLW awalnya makan dengan tangan. Bayi 6 bulan kan udah bisa pegang teether dan masuk-masukin ke mulut. Jadi, ya makanan itu emang masih “mainan” buat mereka. Justru makanan lebih bagus buat bermain dan eksplorasi. Karena bayi nggak hanya belajar tekstur, tapi juga indera penciuman dan perasa. Dan karena rajin megang macem-macem makanan, motorik halusnya jadi terlatih. Kalau makanan cair sih, bisa disiasati. Dicelup pakai roti atau diminumkan juga bisa.

Tapiiii… ya namanya “main” pastilah berantakan! Makan dengan metode BLW ini memberikan jaminan bahwa saat makan akan berantakan banget, hahahah. Mungkin makanan malah nggak masuk ke mulut, tapi dijatuhin ke lantai, dipukul-pukul, diremas, dilempar atau diusap ke seluruh badan. Kalo siap mental untuk berkotor ria, boleh dicoba kakaaaakk…

 

Okelah, berantakan gak masalah. Tapi apa anaknya nggak tersedak dikasih makanan yang bukan berbentuk bubur?

Menurut si buku, ibu-ibu kadang nggak bisa bedain mana tersedak, mana pengen muntah. Walaupun mekanisme keduanya berkaitan, tapi ini adalah dua hal yang berbeda. Tersedak itu, makanan masuk menutup jalan udara. Sedang muntah, adalah gerakan mengeluarkan makanan dari jalan udara jika potongan makanannya terlalu besar untuk ditelan. Muntah itu biasa bagi bayi, bahkan berguna untuk mencegah tersedak.

Kata buku itu lagi, pada orang dewasa titik penyebab muntah terletak agak masuk kedalam, mendekati kerongkongan (inget gak, kalo mau muntahin sesuatu kita colok pake jari sampe dalem?). Kalau pada bayi enam bulan, titik ini masih ada jauh di depan. Jadi, kalopun dia tersentuh dan menyebabkan muntah, artinya makanan masih jauh dari jalan udara. Jauh dari tersedak.

Begitupun, ada dua hal yang mungkin membuat bayi bisa tersedak: yang pertama adalah jika orang lain memasukkan makanan atau minuman dalam mulutnya. Yang kedua adalah kalau dia duduknya nggak tegak (cenderung tiduran). Soalnya gaya gravitasi membuat bayi kehilangan kontrol atas makanannya. Jadi, untuk metode BLW ini, bayi harus sudah bisa duduk tegak. Biasanya sih 6 bulan sudah bisa.

 

Kira-kira penjelasan garis besarnya sih seperti itu ya. Jadi, intinya dalam metode BLW, yang terjadi adalah seperti ini:

– Bayi duduk bersama anggota keluarga lain saat makan (bisa pakai highchair, atau dipangku)

– Bayi diajak untuk mengeksplorasi makanan, dengan MENAWARKAN makanan kepadanya – tidak masalah akan dimakan atau nggak.

– Makanan ini dibuat dalam bentuk dan ukuran yang disesuaikan dengan perkembangannya. Misalnya di awal pengenalan, wortel dipotong memanjang agar dia bisa menggenggamnya. Kalau terlalu pendek, susah baginya untuk dipegang.

– Bayi makan sendiri sejak dari awal, tidak disuapi.

– Seberapa banyak makannya, itu diserahkan kepada insting si bayi

– Bayi tetap minum ASI kapan pun dia mau.

 

Di buku itu masih banyak penjelasan lain yang cukup detail. Studi kesehatannya, cara kerja metodenya, persiapan serta tips dan trik dalam pelaksanaannya, gizi yang seimbang itu bagaimana, makanan apa yang harus dihindari, bagaimana metode ini berpengaruh pada kehidupan keluarga, macam-macam lah.

Nah, setelah membaca semuanya, si ibu pemalas newbie ini agak galau. Dibutuhkan konsistensi DAN kesabaran tingkat tinggi untuk menggunakan metode ini. Ternyata BLW itu nggak sekedar nyuruh anak makan sendiri, trus ibunya santai-santai seperti yang dipikirkan sebelumnya. Justru aku akan lebih repot, karena pasti lebih berantakan. Juga, sebaiknya kan masak sendiri (hyukkkk… bye-bye catering dan delivery!) agar makanan lebih terjamin dan bentuk/ukurannya sesuai dengan kemampuan bayi.

Tapi yah, mungkin ini adalah “paksaan” yang aku butuhkan untuk hidup lebih sehat dan lebih memperhatikan gizi makanan. Apapun untuk anak kan? Mudah-mudahan dengan ini, pola makan seluruh keluarga juga jadi bertambah baik. Baiklah, mari kita mulai petualangan makanan ini dengan membaca Bismillah. Ya Tuhan, kuatkan hati ini!