Category Archives: BLW

BLW: Tiga Tahun Kemudian

Kayaknya sekarang metode memberi makan anak dengan cara Baby Led Weaning lagi naik daun ya, hihihihi! *lirik instagram-nya mbak artis*

Mungkin, para ibu-ibu baru yang pengen coba cara ini, bertanya-tanya ya. Bener nggak sih yang mbak-nya bilang? Nah, sebagai ibu yang (agak) newbie, dan pernah memakai metode ini, aku pengen share sedikit ya. Mudah-mudahan berguna!

Sebelumnya, mau ngasih background sedikit. Tiga tahun lalu, aku mencoba metode BLW saat MPASI pertama Malik. Persiapannya, jatuh-bangunnya, deg-degannya, bisa dibaca di beberapa postinganku di sini.

Nah, setelah tiga tahun kemudian, gimana sih Malik sekarang? Apa makan sendiri? Apa nggak picky eater? Apa nggak pernah GTM? Jawabannya… hhhmmmm… ya gitu deh, hahahaahahha! Walaupun ini aku yakin banyak biasnya, aku akan berusaha se-objektif mungkin ya.

Saat ini Malik makannya mix antara makan sendiri dan disuapin. Untuk makanan yang dia suka, dia akan sukarela makan sendiri. Tapi untuk makanan yang ‘biasa aja’, dia minta disuapin. Ini terjadi karena proses yang lumayan panjang.

Di awal-awal BLW, Malik memang full makan sendiri. Tapi, tiba-tiba saat dia berumur setahunan lebih, Malik sakit diare parah dan harus diet BRATY. Saat itu, karena dia makannya sedikit sekali, aku sungguhlah takut dia dehidrasi. Mau nggak mau, aku strap dia di stroller, dan suapin bubur.

Nah, dari situ, sesungguhnya godaan menyuapi itu tinggi ya buibu, ahhaha! Mana saat semakin besar, anaknya udah bisa main (nggak mau lagi di high chair!), dan mulai ngerti juga betapa enaknya disuapin. Dia bisa lari-lari sesukanya, hahahah! Bok, Bapaknya yang segede gitu aja kadang-kadang masih suka disuapin, gimana anaknya hahah! Nah, sejak itu, aku jadi lebih santai menggunakan metode ini. Toh awalnya dia udah bisa pegang makanan sendiri. Metode apapun, yang penting anaknya makan, ye kan?

Metode campur-campur ini juga karena aku melihat perkembangan berat badan Malik yang irit sekali. Nggak seperti saat bayi dulu dimana berat Malik selalu di persentil atas, alias ginduuttttt… nah, sekarang si anak kicik itu BB-nya bikin hati ibu kebat-kebit.

Lalu, apakah Malik picky eater? Nah, ini agak tricky. Sebenernya Malik nggak picky eater kalau makanannya enak, hahahaha! Makan sate, udah bisa seporsi orang dewasa saking sukanya. Steak, mie aceh, rendang, sup brokoli wortel, spaghetti, selalu habis. Buah, dia juga suka banget. Es krim, jangan ditanya.

Nah, tapiii…. Ada banyak juga yang dia nggak mau makan. Kalau aku lihat, selera makannya nggak jauh-jauh dari aku. Jadi, kayaknya soal picky eater ini harus dilihat lagi. Kalau aku berintrospeksi, lidahku ini juga nggak terbiasa makan macam-macam. Aku juga bukan tipe orang yang suka makan. Bisa jadi, kebiasaan makan orang tua juga berpengaruh sama selera dan kebiasaan anak. Mungkin, aku jarang memperkenalkan dia dengan berbagai makanan baru. Yang dimasak itu-itu mulu (skill-nya segitu doang kakaaakkk!), dan ini berpengaruh besar. Jadi, ibu-ibu yang mau ber-BLW-ria, kalau mau anaknya jadi pemakan segala, ya emang orang tuanya juga harus pemakan segala.

Kemudian, apa Malik pernah GTM? Nah, seumur dia yang sudah 3,5 tahun, baru satu kali aku mengalami yang namanya Malik ogah makan saat dia berusia dua tahunan. Mungkin ini ada kaitannya dengan psikologis anak usia segitu yang sangatlah rebellious. Tapi itu nggak lama.

Mungkin juga ini ada kaitannya dengan aku yang cukup santai menanggapi kalau Malik nggak mau makan. Biasanya, kalau dia nggak mau makan, atau makan sedikit, aku hanya bilang, “Ya udah. Nanti kalau lapar lagi, bilang sama ibu ya.” Dan memang, saat dia lapar dia akan bilang dan makan banyak (atau kasih nasi telur dadar pake saos tomat, pasti langsung banyak makan. Ibunya banget deh hahahha!). Dan makan bagi Malik juga nggak mesti nasi. Yang penting karbo cukup, protein cukup, dan serat cukup yang aku seimbangkan dalam rentang waktu seminggu.

Yang pasti, aku memang harus berterimakasih kepada metode BLW. Dengan memulai MPASI dengan metode ini, Malik sama sekali nggak pernah ngemut makanan. Malik mengunyah dengan sangat baik. Se-setres-setresnya liat Malik makan sedikit, aku tetap bersyukur kalo Malik makannya nggak pernah lama-lama. Kalau kenyang ya udah, berhenti. Nggak PHP dengan ngemut makanan, hihihi!

Selain itu, Malik juga motorik halusnya cukup baik. Diumur segini, dia sudah bisa memegang pulpen dengan baik, dan pura-pura menulis dengan membuat bentuk-bentuk yang kecil-kecil. Sesungguhnya dia bisa makan dan menggunakan sendok dengan baik. Cuma ya males ajaaaaaa gituuu… *kzl!

Jadi, kalau secara keseluruhan, aku sangat bersyukur mengenal metode BLW di awal MPASI. Segala kerepotannya, berantakannya, cukup terbayarkan dengan kebiasaan makannya yang cukup baik (tentunya menurut standarku ya).

Tapi begitupun, yang paling utama menurutku adalah anak yang sehat, apapun metodenya. Ya nggak?

BLW1

Minum sirop oke, minum antangin juga mau 😀

BLW2

Kiri: Ngoprek kulkas. Kanan: Donat sih udah pasti makan sendiri lah!

BLW3

Kopi oke, Tapi dikiiitttt! Kalo eskrim jangan ditanya 😀

BLW4Bapak aja masih disuapin, Malik juga boleh lah ya!

BabyM’s Food Adventure: Bulan ketiga

Tulisan soal metode BLW silahkan klik di sini. Tentang persiapannya klik di sini. Juga, pengalaman di bulan pertama dan bulan kedua.  

 

Memasuki bulan ketiga MPASI, level ke-PD-an si ibu newbie ini naik dengan drastis!

Alasannya banyak. Sebagian karena kegiatan masak-memasak sudah mulai jadi kebiasaan dan mulai bisa buat menu yang cukup disukai bayi dan bapaknya. Sebagian karena jadwal makan sudah mulai teratur. Daaann… juga karena BabyM sudah mulai konsisten memasukkan makanan ke dalam mulut! Yeeaaaahhh! Memang belum sepenuhnya dimakan (ditelan), tapi paling tidak ada yang digigit dan dikunyah walau setelah itu masih dilepeh.

Berikut ini adalah hal-hal yang aku lakukan selama bulan ini. Sedikit-banyaknya, mungkin ini bisa membuat proses makan semakin mudah bagiku, juga bagi BabyM. Mudah-mudahan membantu ibu-ibu yang juga memakai metode BLW.

 

1. Percaya sepenuhnya, nggak setengah-setengah!

Aku nggak terlalu ambil pusing lagi sama apa yang dimakan atau nggak dimakan BabyM. Aku belajar untuk percaya dengan instingnya. Dia akan makan kalau dia merasa butuh. Dan setiap hari kadarnya pasti berbeda. Mungkin hari ini makannya banyak karena dia banyak main. Tapi besoknya makannya berkurang karena memang nggak banyak aktivitas. Atau mungkin dia lagi perlu makan buah aja hari ini, dan besoknya dia pengen daging atau karbo. Mind-set seperti ini membuat aku lebih tenang.

 

2. Terus menerus ditawarkan.

Meskipun BabyM utamanya makan di meja makan dengan kami (makan sambil ngobrol biasa, tanpa ada distraksi apapun seperti TV), aku jadi tidak terlalu kecewa kalau dia tidak mau makan. Tapi, diluar jam makan di meja itu, aku selalu menawarkan makanan. Kalau udah lihat dia mulai gigit-gigit mainannya, aku akan dengan sigap menawarkan makanan. Ya karbo, ya protein, ya buah. Mau, ya syukur. Nggak mau, ya balik ke poin pertama 😀

 

3. Tawarkan satu-satu.

Dulu, aku selalu memberikan macam-macam makanan di hadapan BabyM dan membiarkan dia memilih sendiri mau makan yang mana. Tapi sekarang aku ubah caranya. Aku menawarkan satu-satu makanannya. Misalnya, kalau masak sup. Daripada meletakkan mangkuk berisi sup di hadapannya, aku akan tawarkan kentang dulu. Kalau dia mau, dia akan makan. Kalau nggak mau, aku akan tawarkan wortel. Lalu daging. Lalu buncis. Lalu kuahnya. Ini membuat BabyM lebih konsentrasi ke satu makanan, daripada bingung mau makan apa kalo banyak macam di hadapannya. Sejauh ini cukup berhasil.

 

4. Makan adalah hal biasa, nggak perlu overreacting.

Sebagaimanapun hati bahagia berbunga-bunga kalau makanannya masuk mulut dan dimakan, aku tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Nggak heboh langsung memuji “Waaaa makannya pintar”, paling hanya senyum dan bilang “Enak ya? Rasanya apa? Manis? Gurih? Mau lagi?”, sambil menawarkan satu potong lagi. Sebaliknya, kalau dia tidak mau makanan yang aku tawarkan, seberapapun khawatirnya, aku akan juga tetap tersenyum dan bilang “Belum lapar ya? Mau main dulu? Boleh kok”, sambil mengangkatnya dari high-chair, dan membiarkannya main.

 

5. Berusaha untuk tidak memberi label.

BabyM sering menolak nasi. Entah bentuknya nasi kepal plain. Nasi kepal dioles butter atau kuah sayur. Nasi kepal diisi macam-macam. Bahkan Sushi. Sampai sekarang dia masih sering menolak. Ini membuatku sering keceplosan bilang “Malik nggak suka nasi nih!” Agak susah menghentikan kebiasaan ini, tapi Alhamdulillah pelan-pelan mulai berkurang kok. Untuk itu aku merubah mindset. Mungkin BELUM suka nasi, jadi ya terus ditawarkan. Atau, memangnya harus nasi? BabyM dengan bahagia menyantap kentang, roti atau pasta untuk asupan karbo. Jadi nggak ada masalah! Nggak usah dibikin repot! Melabeli anak sama aja dengan menanamkan pikiran negatif, kan? Bisa aja dia ternyata suka, tapi keburu diberi label, jadi nggak suka.

 

6. Anak juga punya selera seperti orang dewasa.

Dulu kalau lihat BabyM suka dengan satu jenis makanan, aku akan kasih itu terus supaya dia makannya banyak. Tapi sekarang sih udah nggak begitu. Sebagian karena merasa ya buat apa juga makan banyak? Yang penting kan cukup. Tapi sebagian besar ya karena aku beranggapan BabyM juga seorang individu yg punya kemauan dan selera. Jadi ya mungkin hari ini pengennya makan A, tapi besok makan B. Bukan berarti nggak suka, tapi lagi nggak pengen aja.

 

7. ASI tetap yang utama sampai satu tahun!

Aku tetap berpegang teguh pada kata PENDAMPING di MPASI. Makanan hanyalah pendamping, yang utama tetaplah ASI. Jadi kalaupun dia makan-nggak makan, yang penting ASI-nya tetep jalan, tetap diberikan kapanpun dia mau. Ada yang bilang berikan ASI-nya agak jauh sebelum makan biar makannya banyak. Tapi untuk BabyM itu nggak berlaku. Kadang kalau dia cranky, aku sering kasih ASI sebelum makan, dan itu tidak berpengaruh sama sedikit-banyaknya makan. Atau, meskipun sudah makan cukup banyak, BabyM juga tetap bangun malam beberapa kali untuk nenen. Kadang, selepas makan banyak, dia juga masih minta nenen. Jadi, untuk saat ini, ASI tetap yang utama.

 

Jaaadiiiiii…. Kalau melihat progres tiga bulan belakangan, sebenarnya kegalauanku sebelumnya itu tak berdasar. Yang terjadi adalah PROSES BELAJAR makan. Setelah melewati perenungan panjang, kesimpulannya: makan itu adalah skill, butuh waktu untuk mempelajarinya. Ya makanya wajar aja di bulan pertama dan kedua BabyM masih ogah-ogahan begitu.

Pernah denger banget kan orang-orang bilang “sabar ya”. Atau “biarkan berproses”. Kalo baca segala buku pun bilangnya begitu. Bukannya nggak tau kalo jadi orang tua harus sabar dan menghargai proses anak. Tapiiiii… KENYATAANNYA itu kan nggak semudah ngomong doang ya kakaaaakkkk! Jadi harap maklum lah kalo pake galau-galau sedikit. Kalo lancar-lancar aja, kurang seru ah! Dan buat para ibu yang pake metode BLW ini: ayoooohhhh semangaaaatttt! Galau dan khawatir dikit nggak apa-apa, yang penting tetap konsisten yaaaaa! Insya Allah bisa!

 

 

blw301Makanannya ditawarin satu-satu, langsung di masukin mulut!

 

blw302Pakai metode BLW, kalau sedang berpergian dan harus makan di luar jadi lebih santai. BabyM makan apa aja, steak juga 😀 Cuma kalau di restoran, harus sering tebar-tebar senyum dengan waiter soalnya lumayan berantakan, heheheh. Tapi aku jamin deh, para waiter juga gemes liat bayi makan sendiri begini 😀 *Apalagi kalo diselipin uang tips lebih banyak, hahaha!*

 

BabyM’s Food Adventure: Bulan kedua

Tulisan sebelumnya dan link soal metode Baby Led Weaning, klik di sini

 

Setelah konsultasi ke dr. Ratih, bulan ke dua ini acara makan BabyM jadi *sedikit* lebih santai. Semua dikasih tanpa pantangan. Tapi ya tentunya masakan rumahan dari bahan yang segar, bukan junk-food. Tapiiiii…. kenapa ini malah ada alergiiiiii? Berhubung semua dikasih, agak sulit menentukan makanan mana yang memicu alergi. Tadinya curiga sama yogurt dan roti gandum. Tapi setelah dieliminir, kenapa itu masih ada aja? Kasihan BabyM, kulitnya merah-merah dan gatal.

Akhirnya kami periksa ke dokter lagi. Kali ini ke DSA, dr. Yovita di RSPI. Setelah melihat kondisi BabyM, dokter menyatakan kulit BabyM memang sangat sensitif. Jadi, diresepkan obat alergi Ozen dan sabun serta lotion Physiogel. Lotion ini berguna untuk melembabkan kulit yang kering. Soalnya, kalau kering bisa jadi lebih gatal.

Selain itu, si dokter bilang, kalau lagi kumat alerginya, sebaiknya menghindari makanan yang citrus-citrusan seperti jeruk atau stroberi. Oalaaaaahhhhh…. pantesan gak sembuh-sembuh! BabyM soalnya tetap kami kasih jeruk sih hampir tiap pagi. Pernah juga dikasih kiwi yang juga bercitrus. Hemmmmppphh….

Setelah menghentikan citrus-citrusan, makan obat, plus memakai Physiogel, kulit BabyM berangsur membaik. Karena was-was, aku juga mencatat setiap makanan yang dikasih. Ternyata yang membuat alergi selama ini adalah PEPAYA! Hiks. Padahal aku dan abang sangat suka pepaya. Hiksss…

Diluar masalah alergi, makannya BabyM ya masih bikin deg-degan sih. dr Ratih yang baik juga masih memonitor perkembangan BabyM lewat sms. Karena masih banyak khawatirnya, akhirnya aku curhat panjang lebar lewat email. Dan jawabannya, aduh… sungguhlah bikin adem. Supaya gampang, aku copy-paste aja yah emailnya. Mudah-mudahan membantu para ibu yang juga pakai metode BLW yaaa…

 

Dokter Ratih,

Aaakkk mau curhaaattttt

Dok, sejak ketemu dokter kemaren, menu makan Malik udah nambah. Setidaknya saya nggak terlalu bingung lagi mau ngasih makan apa.

Tapiiii.. Kok sampe sekarang masih makan-nggak-makan ya dok? Kalo adapun yang digigit, kadang masiih dilepeh. Udah mulai dikunyah sih sama dia, tapi karena mungkin belum pinter nelen, akhirnya ya dilepeh juga. Kalo di video dokter, Arka (anaknya dr Ratih yang juga BLW) tuh 8 bulan makannya kayak udah banyak dan lahap bener. Malik kenapa masih ogah-ogahan begini? Sampe kapan ya dok dia begini? Kapan sih akan makan dengan “normal”?

Ini dia udah 8 bulan dan kayaknya progress-nya gak banyak. Paling minumnya aja yang banyak. Kadang saya suka kasih jus atau kuah sup di sippy cup-nya. (Minum masih pake sippy cup nih dok, saya kasi gelas dia masih belum mau minum, cuma dimainin. Apa terus latihan aja pake gelas dengan konsekwensi dia ga minum air putih, atau terusin aja sippy cup biar dia minum banyak?)

Tapi emang dia nenennya sih masih nggak berkurang samasekali. Justru kadang malah suka nenen terus kalo lagi tidur, sampe saya harus selalu ikut tidur sama dia. Apa itu artinya dia kelaperan ya dok? Apa saya yang kurang rajin kasih makanan? Sekarang ini selain 3x sehari sarapan-lunch-dinner, saya kadang juga kasi makanan snack sambil dia main. Tapi ya itu, dimainin atau dibuang begitu sajah. Kadang sampe seharian dia ga makan apa2, cuma dipegang-pegang dan dimainin doang.

Terus rasanya terintimidasi banget deh liat temen-temen yang anaknya udah makan dengan lahap. Disuapin apapun masuk dan kayaknya anaknya happy-happy aja deh begitu. Ujung-ujungnya selalu gak yakin: cara ini bener apa nggak ya?

Aduh maaf ya dok ini ceritanya lompat-lompat gak beraturan. Tapi pokoknya gitu deh. Banyak khawatirnya hiks…

Sebagai bahan pertimbangan, ini saya kasih jadwal dan daftar menu malik belakangan ini. Kadang saya suka lupa tulis sih huhuhuhu.

Jadwal:

07.00 bangun, jemuran

07.30 sarapan

08.00 mandi, main

09.00 nenen sampe tidur

11.00 bangun, snack, main

11.30 makan

12.00 mandi

12.30 nenen sampe tidur

15.30 bangun, main

16.30 makan

17.00 mandi, main, snack

20.00 nenen sampe tidur (Sepanjang malam sampe pagi setidaknya nenen 3x)

 

Menu

MINGGU Pagi apel pir, perkedel gak dimakan | Siang lontong dan sayuran rebus (jagung baby, bunga kol, buncis, wortel), hanya makan wortel dikit, lontongnya dimainin

SABTU Pagi: mangga, makan dikit | Snack lupis, dimainin aja | Siang lontong dan sup brokoli. Dimainin aja

JUMAT Pagi: roti butter, keju gak dimakan | Siang tomat ga dimakan timun makan dikit

KAMIS Pagi: roti celup kacang ijo. Gak dimakan | Siang tempe ayam goreng, kroket ayam, kentang goreng, gak dimakan, makannya timun | Malam sama kayak diatas yang dimakan kentang

RABU Pagi roti bubur kacang ijo – nggak dimakan | Siang tempe terong wortel nggak dimakan | Sore tempe terong wortel nggak dimakan

SELASA Pagi timun keju agar-agar air putih ga ada yg dimakan | Siang nasi kepal keju butter daging ga dimakan air kaldu diminum agak banyak | Sore daging ga dimakan paprika dimakan dikit | Malam krekers dimakan lumayan banyak

SENIN Pagi semangka melon cuma diremas jus semangka diminum dikit trus ganti air putih | Siang kentang goreng lumayan banyak dimakan Agar agar

 

MINGGU Pagi Jagung ga dimakan | Wortel di rebus makan pake butter dimakan. Paprika dimakan dikit

SABTU Pagi melon, air putih | Siang perkedel baby kol, sup daging ga mau dimakan dipegang aja paprika mau dimakan dikit

JUMAT Pagi crackers | Siang penne carbonara, kuah sop, daging dipegang2 aja | Sore krekes, kuah sop, daging dipegang2 aja

KAMIS Siang kue kampung ga dimakan | Malam paprika dimakan kue surabi dipegang2 aja

RABU Pagi kiwi dan melon, kiwinya diremas ke seluruh badan dan muka. alergi makin parah ternyata karena air kiwi kayaknya juga tajem buat alergi | Siang wortel labu | Malam krekers

SELASA Pagi jeruk pisang tidak dimakan hanya diremas2 aja | Snack roti diremas aja, Wortel mentah digigit2 dikit, Labu rebus *sore muka merah2 di pipi. Di tangan juga ada. Mencret pagi siang minum oralit | Malam makan timun (lumayan banyak) dan roti garlic

SENIN Pagi air jeruk (minum dikit), pisang-kok pas mandi liat di badan ada merah2 yah? | Siang makaroni cuma dimainin | Snack roti dimainin, crackers cuma diemut dua kali | Sore melon diisep dikit *Malam ini pipi agak kemerahan

 

Dan ini jawaban dr Ratih

 

Dear Bu Dinda,

Makasi ya udh email saya, hebat udah masak macem-macem!

Dalam perjalanannya BLW memang seringkali bikin ibu-ibu galau karena khawatir, bayinya makan nggak sih? Kok cuman dimainin aja? Karena itu BLW memang paling baik kalau mamanya selalu sama-sama baby, karena bisa masak dan tawarkan terus seperti yang sudah ibu lakukan.

Kalau saya lihat catatan ibu, bukan berarti Malik tdk makan. Ada yang Malik makan. Di buku BLW sendiri (kalau ibu sudah selesai baca) ada banyak bayi-bayi yang makannya sedikit sekali dan menjelang 1 tahun mereka makan lebih banyak, dan mereka tetap tumbuh (BB-nya naik setiap bulan).

Kunci dari BLW adalah terus memasak dengan cinta, menawarkannya dengan kasih sayang walaupun itu akan diremas-remas, dibejeg-bejeg, atau mendarat ke lantai 😀 dan yang paling penting adalah percaya sama malik. Kalau Malik tidak makan karena dia tidak perlu. Percaya deh sama saya, begitu ibu mulai percaya sama Malik, tidak lagi membuat catatan makan Malik, tidak lagi khawatir dengan merah-merah di pipi, BLW akan jadi lebih mudah! 🙂

Untuk minum dengan gelas, ibu perlu bantu dulu. Usia 9/10bln baru Malik bisa pegang gelas sendiri. Belajar dengan gelas biasa saja tdk perlu sippy cup. Memang akan lebih berantakan, sup atau kuah kaldu bisa diminum dari mangkuk.

Selama di medan Malik sudah ditawarkan roti cane belum? 🙂

Cheers

dr. Ratih Ayu Wulandari

 

Begitulahhhh… mudah-mudahan setelah ini makin PD dan nggak panik lagi, hihihi!

 

blw203

Penampakan alerginyaaaa :_( 

 

blw201

Makan rawon 😀

 

blw202

Aduh, apalah ini gayanya -.-“

BabyM’s Food Adventure: Bulan pertama

Tulisan soal metode Baby Led Weaning, klik di sini. Tulisan soal persiapanku, klik di sini

Hari pertama BabyM makan, aku nggak pakai persiapan khusus. Dia hanya diikutkan dalam acara makan kami. Karena kadang-kadang aku dan abang makan sendiri, sejak MPASI kami selalu berusaha makan bersama-sama supaya anaknya bisa belajar. Sedikit deg-degan sih, tapi aku memang nggak mau terlalu heboh. Intinya sih, menjaga ekspektasi aja, hihihih…

Pagi itu saat buka kulkas yang ada hanya semangka dan timun. Karena kami memang biasa sarapan buah, dua jenis makanan ini didaulat menjadi makanan pertama BabyM. Setelah dipotong-potong memanjang agar bisa dipegang, makanannya ditawarkan ke BabyM. Si Bapak sudah disuruh stand-by dengan kamera untuk merekam acara perdana ini. Apa yang terjadi? Yak. Tidak terjadi apa-apa sodara-sodara, hahahah! Makanannya hanya dipegang, diremas-remas, dipukul-pukul ke piring dan tray di kursinya, lalu dilempar atau jatuh ke lantai. Sama sekali nggak ada yang masuk mulut, hahahah!

Hari kedua juga diberi buah, karena memang buah yang selalu tersedia di rumah. Disiapkan apel, pisang, dan semangka. Tetep dong, cuma dimainin.

Hari ketiga, sarapan buahnya masih diremas. Tapi, waktu makan siang, aku menumis wortel dan tahu sutra dan menawarkannya ke BabyM. Eeehhhhh… ternyata tahunya masuk mulut! Yeeeaaaahhhh!

Hari keempat, makan malamnya sangat sukses! Aku memberikan ayam goreng bagian paha agar mudah dipegang, tomat dan selada dan BabyM memasukkan semuanya ke dalam mulut. Tidak hanya itu, dia juga sudah bisa minum dengan sippy cup, walaupun masih harus dibantu supaya airnya keluar.

Tapi ya jangan dikira dari situ langsung pinter makannya. Setiap hari, urusan makan adalah eksplorasi. Kegiatan makan, nggak jauh beda dengan main. Hari ini ada yang masuk mulut, besok hanya dipegang, diremas, dipukul-pukul, dijatuhkan, atau dilempar. Kadang bahkan tidak disentuh sama sekali, dan anaknya langsung merengek minta keluar dari high-chair. Hati pun mulai galau. Haruskan tangannya dituntun masuk mulut? Haruskan makanannya dicuil dikit dan dimasukkan ke mulut biar dia penasaran? Haduh, si buku bilang harusnya santai aja di meja makan. Tapi gimana caranya bisa santai?

Belum lagi urusan menu. Dari kiri kanan, aku diwanti-wanti untuk tidak memberikan gula dan garam sama sekali. Jadi, selama sebulan aku hanya memberikan sayur atau buah yang dikukus atau direbus. Kalaupun di tumis atau di goreng, haruslah pakai minyak zaitun dan sama sekali tidak memakai garam. Jadi ujung-ujungnya, tetap saja aku membuat makanan khusus yang terpisah dari makanan kami sehari-hari.

Untungnya, waktu cek 7 bulan sekaligus imuniasi ke dokter anak, berat badan BabyM meningkat dengan normal dan sesuai kurva pertumbuhan. Memang sih, asupan ASI-nya tidak berubah sama sekali. Kadang-kadang sebelum makan malah di nen dulu, dan sesuadah makan juga nen. Pokoknya kapanpun BabyM mau nenen, pasti selalu dikasih.

Tapi tapi tapi… kalau setiap makan caranya begini terus kan aku tetap aja galau, kakaaaak! Karena tetap bingung, akhirnya diputuskan untuk konsultasi ke dr Ratih. Dokter cantik ini adalah dokter laktasi BabyM sewaktu tongue-tie dulu. Selain di KMC, dokter ini juga buka praktek di rumahnya, untuk konsultasi khusus BLW dan lainnya. Blognya bisa dilihat di sini.

Setelah buat janji, akhirnya kami ke rumah dr. Ratih di Bintaro. Mama yang kebetulan ada di rumah juga sekalian diboyong supaya mama juga tau apa itu BLW. Begitu ketemu, langsung deh curhat panjang lebar: kenapa anaknya masih makan-gak makan? Sampai kapan harus begini? Kenapa aku jadi nggak santai? Kenapa preparasinya juga ribet?

Setelah mendengarkan semua pertanyaanku, dokter menjawab dengan panjang lebar. Dan ooooohhhhhh… dokter Ratih itu sungguhlah seperti air yang menyejukkan. Seperti kipas untuk api semangat yang mulai redup *ahahah lebaaaayyy!* Jadi, menurut penjelasan si dokter, tampaknya aku terlalu tegang (hmmpphhh!). Inti BLW adalah YAKIN pada kemampuan anak. PERCAYA bahwa dia punya insting, tau kapan harus makan dan kapan berhenti. Orang tua hanya harus SABAR mengikuti ritme dan kecepatan belajar anak. Dan belajar – apapun bentuknya – semestinya menyenangkan.

Soal menu yang bikin ribet, ternyata aku juga terlalu “takut” sama gula dan garam. Garam boleh di konsumsi bayi paling banyak 1 gram per hari. Itu sama dengan 1/5 sendok. Kalau aku masak sup untuk satu panci, paling garam-nya nggak sampai satu sendok. Nah, BabyM kan hanya makan dikit aja. Jadi nggak sampai 1 gram juga.

Sesungguhnya yang lebih dikhawatirkan adalah kalau bayi diberi makanan instan atau fast food yang kadar gula garam nggak diketahui dan cenderung banyak. Kalau makan makanan dari bahan segar dan dimasak sendiri di rumah, tentunya garam ini bisa dikontrol. Jadi, aku sebenarnya bisa masak seperti biasa dan memberikannya kepada BabyM. Selama makanannya sehari-hari mengandung karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, sayur dan buah, harusnya sih baik-baik aja.

Dan yang paling penting – kata dr Ratih – masaklah dengan penuh cinta. Aiiissshhhh…. *langsung mau pake apron dan ambil wajan saat itu juga!*

Baiklah kalau begitu! Mari kita lanjutkan petualangan kuliner ini sodara-sodara! Semangaaattt!

 

blw04 Kalau BLW, makannya harus bareng-bareng, biar anaknya bisa meniru. Sedapat mungkin makanan yang dimakan anak, sama dengan yang dimakan orang tua.

 

blw05   Yang dibawah itu adalah alas makan. Awalnya dicoba pakai koran biar gampang dibersihkan. Tapi, kalau jatuh ke koran, makanannya jadi kotor, nggak bisa diberikan lagi. Lalu dicoba pakai plastik belanjaan yang dibelah dua (biar gede), tapi masih kurang besar jadi setidaknya harus pakai dua plastik. Akhirnya ya beli karpet plastik meteran 🙂

 

blw06 Makan roti gandum sambil jemuran di taman. Kadang-kadang kami makan a la piknik di luar. Asyik juga.

 

blw07 Tadinya heboh mau belikan bib supaya makanan tidak tumpah dan ngotorin baju. Tapiiii… yang ada bib-nya malah bikin dia nggak konsen makan, dan malah jilatin bib-nya -.-“

 

blw09   Kiri: Makan melon yang dipotong panjang dan masih ada kulitnya biar pegangnya lebih gampang. Kalau nggak ada kulitnya, licin dan jatuh terus. Oh iya, kadang-kadang bajunya juga di buka waktu makan. Tapi kalau sudah makan sore kasihan juga karena dingin. Kanan: Ekspresi serius kalau sudah bisa memasukkan makanan dalam mulut. Selama ini, kalau makan di rumah, kami usahakan makan tanpa ada gangguan suara seperti dari TV. Supaya anaknya bisa lebih mudah konsentrasi dan menikmati makanannya, tidak gampang terdistraksi.

 

blw08   Kiri: Makan ayam goreng dan tomat, dan sudah pintar minum pakai sippy cup walaupun airnya lebih banyak disembur hahhaha! Kanan: Lagi bertamu ke rumah saudara, aku bawa kain bedong BabyM untuk dijadikan alas makan. Setidaknya nggak berantakan banget lah, hahahah. Kain bedong ini memang serba guna banget deeeehhh! Mulai dari jadi bedong, selimut, sorban, sampai alas makan 😀

 

BabyM’s Food Adventure: Persiapan BLW

Soal BLW (Baby-Led Weaning) ada di postingan sebelumnya di sini

 

Karena memang inti dari BLW adalah ‘nggak repot’, aku nggak banyak beli peralatan. Untungnya, pas lahiran BabyM dapet hadiah satu set alat makan merk Pige*n. Ada piring, mangkuk, gelas sippy cup, dan sendok. Untuk masak-memasak aku hanya beli telenan aja.

 

Setelah itu, muncul pertanyaan selanjutnya: mau pakai high chair atau tidak? Kalau tidak pakai high chair, anaknya dipangku aja sambil makan. Setelah menimbang-nimbang, kami akhirnya memutuskan untuk pakai high chair. Soalnya, seringnya aku hanya sendirian di rumah. Jadi kalau anaknya harus ditinggal sebentar – misalnya mau ambil sesuatu di dapur – nggak terlalu repot.

 

Oke, lantas high chair yang bagaimana? Yang empuk dan nyaman? Yang nantinya bisa dipakai jadi meja belajar? Yang ringkes kayak di restoran? Atau yang portable, gampang dibawa-bawa? Tentunya lain keluarga lain kebutuhannya.

 

Kalau kami, kriterianya adalah: gampang dibersihkan (karena seringnya sendirian) dan tidak memakan tempat (rumahnya imut-imut!). Setelah membandingkan, akhirnya kami pilih yang ringkes kayak di restoran. Kami membelinya di Inf*rma, dengan harga tiga ratus ribu saja. Setelah dipakai, Alhamdulillah sesuai dengan yang diharapkan. Karena tidak pakai penutup busa, high chair ini terlihat ramping. Selain itu, membersihkannya juga gampang. Tinggal dicuci dengan sabun cuci piring dan disiram air. Atau, kalau sedang tidak terlalu berantakan, bisa dilap aja.

 

Oh iya, aku menggunakan sabun pencuci piring khusus untuk peralatan bayi dengan merk P*re. Sebelumnya, sabun ini digunakan untuk mencuci botol-botol ASI perahan. Sekarang juga dipakai untuk mencuci peralatan makan, dan high chair. Spons untuk mencuci printilan bayi ini juga aku bedakan dengan spons cuci piring, dan disimpan di wadah yang terpisah.

 

Setelah memulai BLW, ternyata aku menemukan bahwa alas makan sangat diperlukan. Alas makan ini harus cukup besar dan diletakkan dibawah high chair sehingga kalau makanan jatuh, masih bisa diambil lagi, hahah! Karena anaknya masih belajar, urusan makanan jatuh ini PASTI terjadi. Selain untuk menampung makanan jatuh agar masih bisa diberi lagi, ini juga memudahkan dalam membersihkan. Aku sudah mencoba berbagai bentuk alas ini: dari plastik, koran, hingga kain. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Tapi akhirnya kami memakai plastik saja. Dicuci sekalian dengan high chair.

 

Sebagai pelengkap, aku memakai tisu basah antiseptik Dett*l untuk mengelap high chair, meja makan dan plastik alas sebelum acara makan dimulai. Ruang makan kami yang semi out-door membuat aku lebih hati-hati aja. Tisu ini juga berguna jika hendak makan di restoran. High chair dan meja restoran biasanya juga aku lap dulu.

 

Jadi kesimpulannya, printilan makan punyaku adalah:

–        peralatan makan (piring, mangkok, gelas, sendok)

–        high chair

–        telenan 2 buah

–        Sabun cuci piring bayi

–        Spons

–        Alas makan dari karpet plastik, sekitar 1mx1m

–        Tisu basah antiseptik.

 

Ready, get set, GO!

 

blw01

Siap di jajal!

 

blw02

Ini adalah bentuk high chair dan karpet plastik dibawahnya.

 

blw03

Peralatan makan dan pencucinya.