Category Archives: Baby M

Bukan Sekadar Mainan

Dulu, aku pernah bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah aku ibu yang pelit? Kenapa aku tidak terlalu bersemangat untuk membeli berbagai macam mainan saat Malik lahir?

 

Mainan-mainan pertama Malik, hampir seluruhnya adalah hadiah dari orang saat lahiran. Paling yang dibeli sendiri bisa dihitung jari, seperti teether, jimbe dan beberapa alat musik. Tapi ya gimana? Abis anaknya dulu dikasih botol aqua kosong aja udah bahagia banget! Atau, lebih excited sama kotak pembungkus, ketimbang mainannya sendiri. Ibunya kan jadi hepi. Irit gitu loh… heheheh!

 

mainan4

Malik: loving box since 2014.

 

Selebihnya, kami justru sering bermain hal-hal yang kami temui di rumah, sesuai ‘konteks’ pada saat itu. Saat aku masak, Malik aku biarkan untuk turut memainkan wajan, panci dan sudip. Mau main beras, tepung, biji-bijian, atau sisa petikan sayuran juga bebas. Saat sedang mandi, sabun, shampoo, shaving cream bapaknya, berikut botol-botol bekas kami jadikan props untuk main. Kalau sedang jalan pagi atau main di taman sore-sore, kami mencari ranting, bunga jatuh atau daun kering untuk dimainkan. Atau, kalau ibu sedang bekerja, dia boleh bermain segala stationary, mulai dari stempel, gunting, kertas-kertas, selotip, pembolong kertas, dan sebagainya.

 

Dan sejauh ini – selama hampir lima tahun umurnya – keputusan untuk tidak menghujani Malik dengan mainan, adalah satu keputusan yang cukup aku banggakan. Aku memperhatikan, justru ia lebih kreatif mengobservasi sekelilingnya, dan menyulap apapun yang ditemui untuk dijadikan props bermain. Imajinasinya jadi lebih ‘liar’ dan kadang mengejutkan.

 

Saat kami berlibur misalnya. Ia tak perlu membawa segambreng mainan dari rumah (oh, kecuali saat dulu dia kerajingan main drum, segala jimbe wajib dibawa, hahaha!). Kalau menginap di hotel pun, kids club atau playground tak terlalu jadi prioritas. Sebab, yang pertama Malik cari adalah segala sabun, shampoo dan sikat gigi hotel yang akan dia pergunakan untuk bermain segala rupa. Sabun batangan kecil yang biasa ditemui di hotel, ia jadikan semacam frisbee untuk bermain lempar-lemparan. Dua sikat gigi ia jadikan stik drum. Sabun cair dan shampoo ia jadikan bubble dan main sambil mandi. Tray berisi gula, teh kopi dan segala pernak-perniknya juga tentu turut dijadikan mainan.

 

 

mainan3

Mainan liburan: ikutan masak di warung yang disinggahi, dan ikutan mencuci piring bersama kapten kapal yang ditumpangi 😀

 

 

Lalu, bagaimana saat Malik mulai beranjak besar dan sudah mulai mengerti mainan? Ternyata, pondasi yang telah dibangun ini juga merembet ke banyak hal. Karena mindsetnya adalah ‘apapun bisa dijadikan mainan’, ia tak pernah membabibuta saat diajak ke toko mainan. Ia bisa diajak untuk menimbang mainan mana yang pantas untuk dibeli, dan mana yang tidak.

 

Paling-paling, pernah satu kali ia merengek minta dibelikan lego. Aku memang sudah lama berniat membelikannya lego. Menurutku, lego adalah mainan yang edukatif dan bertahan sampai sangat lama. Tapi, alih-alih yang kecil, ia malah minta dibelikan sekotak besar lego yang harganya SANGAT menguras kantong. Apalagi itu pas akhir bulan, hiks. Ibunya pusing. Dibujuk sedemikian rupa, dia malah semakin keukeuh minta lego besar. Akhirnya, si ibu memberi syarat yang kelihatannya impossible: boleh beli lego sekarang, tapi karena harganya sangat mahal, hingga dia ulang tahun (sekitar 5 bulan lagi), dia tidak akan dibelikan apapun!

 

Tanpa diduga, ia menyanggupi! Waktu itu aku masih berfikir bahwa di tengah jalan ia akan menyerah. Tapi ternyata nggak loh! Yang ada, dalam rentang waktu 5 bulan itu (which i’m sure it felt like forever to a 3 year old!) setiap kami melewati toko mainan, ia hanya akan memperhatikan rak-rak mainan, menunjukkan kepadaku mainan-mainan yang menurutnya bagus, memegangnya, dan MENGEMBALIKANNYA ke rak, tanpa minta beli. Palingan hanya bilang: “Nanti kalau aku ulang tahun, aku beli ini ya Bu!”. Lalu aku akan menjawab: “Ya kamu lihat-lihat aja dulu mana yang menurut kamu bagus. Nanti kalau mau dekat-dekat ulang tahun, bisa kita pilih lagi, mana yang bisa kita beli.”

 

Dan saat ulang tahunnya tiba, kupikir ia akan berniat untuk memborong segala apa dari toko mainan. Tapi, lagi-lagi, ternyata ia oke-oke saja saat dibilang hanya boleh pilih satu mainan! *menjura pada anak sendiri!* Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa alasan yang tepat, batasan jelas dan konsistensi dalam menerapkan peraturan berdampak sangat besar bagi kemampuan Malik mengelola emosinya.

 

mainan2

 

Saat ini, Malik sedang tergila-gila dengan lego dan hotwheel. Namun, karena kami sudah yakin dengan kemampuannya untuk menahan diri, kami sangat santai membawanya ke toko mainan untuk hanya sekedar melihat-lihat dan tidak beli (walaupun kadang justru BAPAKNYA, yang jadi gemes pengen beli lego segala rupa, ahahahha!)

 

Dan belakangan, kami menggunakan mainan sebagai reward untuk Malik melakukan sesuatu yang ekstra. Misalnya, jika ia bisa menghafal satu surah pendek, maka ia akan dibelikan hotwheel. Dan saat ini, ia dengan semangat mengulang surah Al Kautsar tiap malam menjelang tidur, hihihi!

 

Intinya, aku dan Abang belajar banyak dari perihal memberikan mainan kepada Malik. Kalau boleh dirangkum, mungkin poinnya seperti ini:

 

  1. Yang terpenting sesungguhnya bukan mainannya. Tapi MENEMANINYA bermain. Meluangkan waktu untuk benar-benar bermain sepenuh hati saat bersama anak. Tidak terdistraksi dengan hal lain, tidak disambi mengerjakan hal lain. Ini sebenarnya tidak perlu seharian. Toh, anak juga butuh waktu untuk bermain sendiri. Tapi, memang harus meluangkan waktu untuk benar-benar fokus bermain bersama.

 

  1. Aku memberikan penekanan lebih pada free play. Free, yang bener-bener bebas. Membiarkan dia menentukan mau main apa dan memimpin permainan itu. Sedapat mungkin aku menghindari omongan semacam ‘mainnya tuh begini lho’. Menurutku, justru imajinasi akan berkembang jika ia diberikan kebebasan. Contohnya ya termasuk merelakan model lego yang sudah dibangun dengan susah payah, harus dibongkar dan diacak lagi, hahahaha! Atau, aku juga jarang mengajaknya membuat craft, karena cukup rentan jadi bikin ekspektasi tinggi. Kalaupun mau bikin-bikin, idenya harus datang dari Malik sendiri, dan aku berusaha menahan diri untuk tidak terlalu mencampuri prosesnya. Hanya membantu jika ia meminta.

 

  1. Bahwa anak-anak BISA dan PERLU dipercaya untuk membuat keputusan dan komitmen. Nggak mudah sih ini, butuh proses panjang, dan lagi-lagi komitmen dari orang tua. Yang pasti, aku selalu berusaha memberikan pilihan dan konsekwensinya. Sekali nggak, ya mesti tetep nggak. Dan sekali berjanji, harus ditepati. Awalnya memang susah, kadang juga nggak tega. Tapi, kalau berhasil dilakukan, ini akan jadi pondasi yang sangat berharga untuk masalah apapun kedepannya saat anak semakin besar.

 

  1. Just because you can afford it, doesn’t mean you have to buy it. Sesungguhnya kami sangat menekankan hal ini. Ujung-ujungnya, kami ingin Malik menjadi anak yang sederhana, yang bahagia dengan apa yang dimiliki. Dan jalan menuju ini masihlah sangat panjang. Orang tuanya juga masih harus banyak belajar. Tapi setidaknya, kemampuan menahan diri untuk tidak membeli/mempunyai segala hal yang dimau, adalah langkah awal yang menurut kami penting dibangun sejak usia dini.

 

Dih, ternyata urusan mainan doang bisa merembet kemana-mana ya! Jadi orang tua emang banyak seninya deh! *kretekin pinggang*

 

*Tulisan ini adalah demi ikutan #Modyarhood-nya mamamolilo dan byputy. Sungguh aku ngiler liat hadiahnya kaaakkkk….

It’s Just My Imagination

Seperti nama cawapres yang mucul tiba-tiba (eaaakkk!), nama Novizet juga hadir dengan sekonyong-konyong dalam percakapan keluarga kami. Beberapa bulan lalu, Malik bercerita bahwa ia mempunyai teman baru. Awalnya aku berfikir bahwa ada tetangga baru pindah, tapi lama-kelamaan kok cerita-cerita Malik tentang anak bernama Novizet ini aneh ya?

 

Ceritanya itu semacam dikarang sendiri. Atau, seperti penegasan terhadap sebuah fakta. Seringnya sih mirip hasrat terpendam, atau kode keras ahahahah!

 

Misalnya begini: kami sedang berada di toko mainan, dan Malik melihat mainan yoyo. Ia tau bahwa ibunya nggak bakalan membelikan karena tujuannya ke toko mainan memang bukan untuk beli yoyo. Lalu ia akan berkata: “Temanku Novizet punya yoyo loh bu. Dia udah bisa main yoyo, jadi dibelikan sama ibunya.” Atau, kami sedang bermain perosotan di taman. Lalu dia bisa tiba-tiba nyeletuk, “Novizet juga pernah loh bu main perosotan yang tinggi sekali!”. Kali lain, saat bermain sepeda bersama temannya, ia akan bilang, “Novizet aja bisa naik sepeda roda dua kencang banget!”.

 

Aku akhirnya sadar bahwa Novizet ini adalah semacam teman imajiner Malik. Dan sejujurnya aku awalnya khawatir. Apakah dia berhalusinasi? Atau memang ada “teman” yang mendatanginya? Atau hanya memang murni imajinasi semata?

 

Sejauh ini sih, Malik nggak pernah terlihat ngomong sendiri sambil menatap ruang kosong, ehehehe. Jadi kemungkinan punya ‘teman’ yang tak kasat mata bisa dieliminir. Meski begitu, tetap saja mengkhawatirkan. Ada banyak mitos terkait hal ini. Katanya, punya teman imajiner itu adalah pertanda ada yang salah pada anak. Mungkin anaknya tidak berkembang secara sosial, atau bahkan ada masalah kejiwaan. Sementara di ekstrim lain, anak yang punya teman imajiner adalah indikasi kecerdasan yang superior. Bingung kan?

 

Dengan penuh rasa ingin tahu, aku mencoba mencari lebih banyak informasi soal teman imajiner ini. Dari hasil aku baca sana hasil, ada bahasan tentang sebuah buku karya Marjorie Taylor – seorang Developmental Psychologist –  bertajuk ‘Imaginary Companions and the Children Who Create Them’, yang menjelaskan banyak mengenai teman imajiner.

 

Dari artikel yang bisa dibaca di sini, hasil riset panjang Taylor menunjukkan bahwa punya teman imajiner itu adalah sesuatu yang positif. Walaupun mitos tentang kecerdasan superior itu tidak terlalu terbukti, tapi anak-anak yang punya teman imajiner cenderung memiliki lebih banyak kosa kata, tidak pemalu, dan lebih baik dalam memahami sudut pandang orang lain. Punya teman imajiner adalah salah satu cara yang dilakukan anak untuk mencerna dunianya yang semakin berkembang. Terus terang, mengetahui lebih jauh soal teman imajiner ini membuat aku tenang.

 

Ini ada video mengenai riset Taylor tentang teman imajiner. Terdiri dari tiga episode, video ini menjelaskan dengan sederhana perihal ini. Silahkan ditonton!

 

 

Menarik ya!

 

Dan karena mencoba melihat dunia dari kacamata anak 4 tahun itu sangat menyenangkan (dan penuh kejutan, tentunya!) aku malah jadi suka bertanya-tanya pada Malik tentang teman imajinernya. Aku menganggap ini sebagai cara untuk mengembangkan imajinasi. Membuat ia berfikir lebih jauh tentang karakter yang dia ciptakan itu.

 

Kembali ke Novizet, setelah ditanya lebih detail, ternyata ini adalah dua orang berbeda. Zet adalah anak laki-laki berusia 6 tahun. Sedangkan Novi, keterangannya jauh lebih detail. Novi adalah anak perempuan berusia 10 tahun yang – menurut Malik – wajahnya mirip dia dan rambutnya sering dikuncir. Bapaknya Novi bekerja sebagai chef dan rumah mereka besar sekali. Kalau Zet, Bapaknya bekerja di hotel tapi rumahnya tidak terlalu besar. Tapi belakangan ini, bapak Novi dan Zet sudah pindah kerja ke gurun, ke tempat kerja Bapaknya Malik, hahahah!

 

Semakin kesini, teman imajinasi ini juga semakin bertambah, meski yang paling konsisten muncul adalah NoviZet (ini sampai semua teman main malik di rumah juga sudah ikut-ikutan menganggap NoviZet itu ada!). Kadang-kadang, teman-teman baru ini muncul tiba-tiba.

 

Misalnya seperti minggu lalu. Kami sedang membaca buku sebelum tidur. Ia memilih salah satu buku kesukaannya, ‘House for Hermit Crab’ karya Eric Carle. Saat baru mulai baca sampulnya, tiba-tiba dia bilang kalau dia juga punya teman bernama Eric Carle. Dan beginilah percakapan kami:

 

Ibu: Loh, Eric Carle kan sudah opa-opa, memangnya kamu berteman dengan opa-opa?

Malik: Ya nggak lah. Kalau Eric Carle temanku itu umurnya 6 tahun. Dia sudah kelas sepuluh.

Ibu: Sekolahnya dimana?

Malik: Dia sekolahnya sama dengan Vito (salah seorang teman Malik di rumah).

Ibu: Kalau rumahnya dimana?

Malik: Dia itu sekarang tinggal di Camper Van (fyi, Malik ini memang terobsesi punya camper van yang atapnya bisa naik untuk jadi kamar – seperti salah satu episode Peppa Pig).

Ibu: Oh, gitu…

Malik: Eric Carle nggak suka nonton TV Bu. Karena dia pusing (fyi lagi, beberapa waktu lalu Malik nonton youtube di handphone saat kami sedang di mobil dan itu membuatnya pusing).

Ibu: Jadi dia sukanya ngapain dong?

Malik: Eric Carle ini hanya punya satu hotwheel, tapi Ibunya janji akan belikan banyak hotwheel kalau dia ulang tahun ke-7 nanti (dan fyi, Malik sedang tidak boleh beli hotwheel lagi, karena menurut kami dia sudah punya lebih dari cukup, kalaupun boleh beli, nanti bisa dijadikan hadiah saat ulang tahun).

 

Hahahahha… lihat kan bagaimana dia menjadikan teman imajinernya sebagai ‘perpanjangan tangan’ dari keinginan dan fantasinya? Teman imajiner ini seolah menjadi dunia alternatif dimana semua keinginannya yang paling gila sekalipun, bisa terpenuhi.

 

Selain itu, ia juga punya teman bernama Dustak, yang kemungkinan besar namanya dicomot dari lagu Havana (karena kalau Malik menyanyikan lagu Havana, liriknya jadi seperti ini: Havana u nana, dustak kelap kelip havana u nana 😂😂😂). Menurut Malik, Dustak ini sekarang sedang membangun rumah. Karena rumahnya belum selesai, keluarganya tinggal di dalam truk. Tapi truk ini di dalamnya ada kamar dan kasur, kamar mandi, juga TV.

 

Yang hanya muncul sekali-kali ada Avery Drummer yang suka main drum. Ada Avery Cullen yang tidak suka bermain dengan Vito (salah seorang teman malik di rumah), karena Vito suka bilang ‘hiu megalodon’ (entahlan apa artinya ini!). Ada Kunya, anak perempuan berumur 7 tahun. Ada Audrey yang juga perempuan 7 tahun dan punya kakak laki-laki. Serta sepasang saudara bernama Cayden dan Hayden. Entahlah darimana dia mendengar nama-nama ini.

 

Dan walaupun aku tidak pernah menyatakan dengan jelas bahwa itu hanya teman imajiner, aku bisa merasakan bahwa dia tau bahwa aku paham soal mana yang nyata dan yang tidak. I know that he knows that I know, hahahah! But still, it’s so fun to see him telling me those stories and he enjoys telling them to me 😁 Menggemaskan!

 

Anak kalian ada yang punya teman imajiner model begini? Kalau model yang ‘lain’, mmmm… aku nyerah deh. Takuuutttt…

Guest Post: Anak Laki Main Boneka? Relaaax!

Intro: Jadi, beberapa waktu lalu, Okke si Mamamolilo mencari penulis tamu untuk blognya. Dan perempuan inpiratif ini memilih aku (yay!). Jadi, kami saling memberi challenge satu sama lain untuk menuliskan sebuah topik.

Mengenal ibu satu anak ini sejak zaman blognya masih bertajuk Sepatu Merah, Okke adalah perempuan witty yang banyak menulis tentang isu kontroversial, termasuk soal perempuan. Walau topiknya ‘berat’, tulisannya mudah dicerna dan enak dibaca.

Nah, untuk challenge kali ini, Okke memintaku untuk menulis tentang homeschooling di blognya, dan aku memintanya menulis soal urusan gender dalam mendidik anak. Aku tertarik dengan isu ini, sebab belakangan ini Malik agak ‘di-bully’ oleh teman sepermainannya karena sangat suka menonton My Little Pony yang didapuk sebagai ‘tontonan anak perempuan’. Apa pendapat Okke soal ini? Silahkan simak tulisannya!

***

ANAK LAKI MAIN BONEKA? RELAAAX!

By: Mamamolilo

Anyway, ngomongin soal gender, saya dan partner termasuk orangtua yang nggak ngikut stereotip gender dalam membesarkan anak kami.

Anak saya perempuan. Saya dan suami beri dia berbagai macam jenis mainan, dari mainan yang dikategorikan oleh masyarakat sebagai mainan anak perempuan seperti peralatan dapur dan boneka, sampai ‘mainan anak cowok’, seperti mobil-mobilan, truk, robot-robotan. Warna barang-barang miliknya pun random, pink ada, hitam ada, biru ada. Aktivitas yang dia lakukan? Macam-macam. Main boneka iya, main bola iya, main karate-karatean oke, main belanja ke pasar boleh.

Saya dan partner, alih-alih mengikuti stereotip gender dalam masyarakat untuk aktivitas/permainan dan mainan untuk anak saya, lebih memilih untuk mengikuti mana-mana yang dia suka saja.

Hal ini kami lakukan dengan dasar pemikiran bahwa anak kami harus diberi keleluasaan dalam memilih dan mengembangkan skill, potensi dan minatnya.

Contohnya begini, saya tidak berminat pada olahraga sepak bola, baik melakukan kegiatannya, mau pun menonton tayangan permainan sepak bola. Dan saya tahu, saya bukan satu-satunya perempuan yang demikian. Yang menjadi masalah, ketidaksukaan saya itu bukan karena saya sudah mencoba dan nggak suka, tapi karena di masa saya kecil, olahraga tersebut dikategorikan sebagai aktivitas anak laki-laki, sehingga saya sama sekali tidak sempat kenalan dengan sepak bola. Mungkin, kalau dulu saya diajak bermain bola, sekarang saya jadi hooligans. Eh, nggak gitu juga kali ya? 🙂

Begitulah. Saya biarkan anak saya bermain bola, karena siapa tahu ternyata anak saya minat untuk menjadi atlit sepakbola, ya nggak? Atau siapa tau ternyata dia berminat di bidang otomotif, kan? Atau, bisa jadi dia punya potensi untuk menjadi drummer. Ya sayang saja, kalau sampai potensi dan minatnya tidak tereksplorasi sepenuh-penuhnya, gegara sudah dibatasi oleh orangtua sejak dini.

Apakah ada protes untuk keputusan kami?

Syukurnya nggak. Nenek dan kakeknya Lilo, baik dari pihak partner dan dari pihak saya oke-oke saja dan mendukung.

Dan saya rasa pemikiran seperti ini tidak hanya dimiliki oleh saya dan partner saja. Beberapa kawan kami yang memiliki anak perempuan juga sepemikiran. So, kayaknya sih sudah bukan hal yang aneh lagi melihat anak perempuan dibiarkan main mobil-mobilan dan robot-robotan.

Seharusnya pemikiran seperti ini berlaku juga buat anak laki-laki ya?

Karena seharusnya sih, semua anak itu dibiarkan berkembang sepenuh-penuh minat dan bakatnya.

Namun pada kenyataannya, ya enggak.

Beberapa tahun yang lalu, jauuuh sebelum punya anak, saya pernah ‘terjebak’ dalam obrolan ibu-ibu. Topiknya? Kekhawatiran salah seorang ibu tentang preferensi seksual anak di masa yang akan datang. Gara-garanya anak ibu tersebut (laki-laki) suka bermain boneka dan masak-masakan bersama kakaknya, plus suka menonton Frozen.

“Ntar gimana ya kalau anak gue jadi homo?” katanya.

Lalu ibu-ibu yang lain menanggapi, kebanyakan melarang si anak untuk terlibat dalam permainan kakak perempuannya, “JANGAN AH! Bahaya! Ntar gimana-gimana nyesel.”, gitu katanya.

Saya memahami kekhawatiran ibu-ibu tadi.

Menurut Conversation, seorang anak baru akan memahami identitas gendernya mulai usia dua tahun. Sebelumnya, konsep gender itu fleksibel bagi mereka. So, artinya memang usia batita dan balita itu krusial untuk membangun identitas gender, supaya dia bisa hidup selaras dengan lingkungannya. Lagian kasihan juga kalau dia bingung gender kan? Tapi bukan dengan cara membatasi aktivitas dan objek, karena, balik lagi, itu bisa membatasi dirinya mengeksplor dunia.

“Jadi kudu begimana dong?” Kata buibuk.

Ada satu jawaban yang saya dapat ketika saya mengikuti sesi parenting di Kursus Pra Pernikahan di gereja Katedral, yang saya pikir perlu di-highlight, supaya orangtua nggak terlalu khawatir soal mainan/permainan anak ini. Intinya, kurang lebih : yang paling penting itu bukan mainannya, aktivitasnya atau tayangannya, karena pada dasarnya semua itu objek dan gender neutral.  Yang lebih penting penyertaan dan bimbingan orangtua saat bermain. Misal, kalau lagi bermain boneka, ya jangan dipanggil ‘Bu!’ tapi panggil dengan ‘Pak, lagi jagain anak ya, Pak?’.

Selain didampingi saat bermain, Dr Alan Greene di theparents.com menyatakan bahwa di umur 18 – 30 bulan, seorang anak akan memahami bahwa jenis kelamin (dan tuntutan perilaku yang menyertainya) itu adalah sesuatu yang permanen. Di usia sekian, keinginan untuk meniru orangtua berjenis kelamin yang sama semakin kuat. Yang laki-laki mengimitasi bapaknya, yang perempuan mengimitasi ibunya. Artinya, ya memang kudu ada role model untuk diimitasi.

Namun, mengimitasi aktivitas jenis kelamin yang lain masih dikatakan baik-baik saja.

Almost all healthy toddlers will copy and enjoy behaviors of the other gender. This kind of play is expected and desirable. Often toddlers will imitate many activities of the opposite sex. In one study, 22.8 percent of boys and 38.6 percent of girls enjoyed 10 or more gender-atypical behaviors (Nelson Textbook of Pediatrics, Saunders 2000)

Jadi, ya kalau anak laki- -laki bermain boneka atau masak-masakan (atau nonton My Little Pony, atau pakai baju pink), nggak autogay, atau autotranssexual gitu.

Lagi pula, ada kok positifnya dari seorang anak laki-laki yang main/melakukan aktivitas yang dianggap aktivitas anak perempuan, antara lain :

1. Apa yang disebut aktivitas cewek (main bonekalah, masak-masakah, rumah-rumahan) sebenarnya termasuk life-skill. Dengan membiarkan seorang anak laki-laki melakukannya, maka ia akan berpikir, itu adalah bagian aktivitas dalam kehidupannya.

Di Instastory saya sempat membuat semacam diskusi terbuka tentang peran serta suami dalam urusan domestik, ternyata kebanyakan buibuk mengeluh karena suaminya gak becus bahkan gak mau sama sekali ikut campur. Well, jangan salahkan suami, tapi salahkan background-nya yang menjauhkan mereka dari urusan domestik.

Selain buat bantuin pasangan, buat apa menguasai urusan domestik?

Karena tidak di semua tempat ada GoClean, si Mbak ART, atau warteg. Sekian.

2. Bermain boneka dan rumah-rumahan atau masak-masakan itu termasuk role-play. Sama kayak main polisi pencuri, guru murid, dokter pasien.  Role play itu menstimulasi imajinasi anak, selain itu ada beberapa keterampilan lain yang terlibat dari bermain boneka-bonekaan : berkenalan dengan emosi (sedih, senang, marah), mengembangkan motorik halus saat anak memperlakukan boneka/alat-alat masak-masakannya, belajar bahasa/memperkaya vocabulary dan lain-lain.

3. Mainan/permainan/tayangan yang dikategorikan sebagai mainan/permainan/tayangan laki-laki itu kebanyakan yang bersifat agresif dan violent. Sementara untuk yang perempuan, kebanyakan nurturing. Dengan membiarkan anak laki-laki melakukan aktivitas/mainan/menonton tayangan perempuan setidaknya bisa mengimbangi, sehingga seorang anak laki-laki nggak jadi sosok yang agresif dan violent.

Gitu deh kurang lebih. Lagipula, pada dasarnya aktivitas/mainan itu nggak bergender yak. Masyarakat aja yang suka bikin kategori-kategori demikian. Belum tentu ketika seorang anak laki-laki memainkan boneka dia sedang role play jadi ibu. Siapa tahu sebenarnya ada skenario lain yang sedang dibuatnya. Dulu saya bermain Barbie, tapi permainan saya dan teman-teman nggak melulu dress-up, lho. Kadang kami berpura-pura jadi Lima Sekawan yang sedang berusaha menangkap penjahat.

Jadi, relaaax.

mlp

Malik, si cowok gondrong yang cinta mati sama Rainbow Dash 😀

Homeschooling : Membuat Jadwal Kegiatan Anak 4 Tahun

Aku dan Abang telah memantapkan hati untuk memilih homeschool sebagai pilihan pendidikan untuk Malik. Namun tak bisa diingkari, minggu pertama sekolah kemarin sempat membuat aku galau. Teman-teman sepermainan Malik yang berumur sebaya, sudah mulai sekolah semua. Aku khawatir Malik jadi sedih, karena sebelumnya setiap hari selalu bermain bebas dari pagi hingga sore.

Karena alasan itu, akhirnya aku berniat membuat jadwal kegiatan untuk Malik. Tapi sesungguhnya ini membuat makin bingung lagi. Aku sudah mencoba beberapa cara untuk membuat jadwal sebelumnya. Tapi pada pelaksanaannya malah terlalu memaksakan. Akhirnya bubar jalan.

Maka, berbekal trial and error sebelumnya, aku mencoba lebih realistis. Beberapa tantangan yang harus kami hadapi juga dijadikan bahan pertimbangan, misalnya:

  1. Jadwal seperti apa yang pantas diberikan untuk anak 4 tahun yang bahkan belum mengerti konsep hari?
  2. Keluarga kami sesungguhnya lebih condong kepada metode ‘unschooling’, dimana selama ini kami mengikuti kemauan anak untuk belajar. Menyerahkan sepenuhnya kepadanya, kapan dia mau belajar, dan apa yang mau dia pelajari, alih-alih memberikan dia serangkaian materi di waktu-waktu khusus.
  3. Kami sebenernya tidak ingin mengajarkan content/materi dan ingin lebih fokus pada membangun kebiasaan baik. Yang mana hal ini -menurut kami- harus dilakukan setiap saat secara konsisten.
  4. Keluarga kami cukup ‘fleksibel’ dan spontan dengan waktu dan kegiatan (untuk tidak menyebut random :D), sehingga konsep jadwal harian agak menyulitkan buat semuanya.

Berdasarkan tantangan-tantangan itu, aku akhirnya membuat jadwal mingguan. Artinya, kami punya serangkaian kegiatan yang harus dilakukan selama seminggu, namun bisa dilakukan di hari yang acak. Misalnya, minimal kami jalan pagi/olahraga dua kali dalam seminggu, terserah kapan harinya. Minimal satu kali seminggu pergi berenang. Minimal satu kali seminggu membuat craft (sesuai keinginan anaknya mau buat apa), dan seterusnya.

Aku membuat daftar kegiatan ini berdasarkan teori ‘Multiple Inteligence’. Berdasarkan teori ini, ada sembilan aspek yang hendak kami kembangkan. Namun, mengingat Malik masih 4 tahun, tentunya kegiatannya harus sangat sederhana. Berikut adalah kegiatan yang aku rencanakan:

1. Bodily Kinesthetic (Body Smart) – jalan pagi, berenang, main sepeda, olahraga, dll.

2. Naturalist (Nature Smart)  – Mengajak Malik berkegiatan di alam, entah itu ke taman dekat rumah, atau ke tempat wisata yang dekat dengan alam.

3. Logical Mathematical (Logic Smart) – Belajar berhitung dengan mengajaknya menghitung apapun, memberikan waktu untuk bermain game matematika/logika (saat ini kami memilih game Khan Kids), melakukan ekperimen sains sederhana.

4. Spatial (Picture Smart) – menggambar, menonton film, ke pameran seni, dll

5. Linguistic (Word Smart) – membaca buku, bermain game terkait huruf, menonton film atau mendengar musik dengan berbagai bahasa, bercerita, dll

6. Musical (Music Smart) – Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan musik. Contoh kegiatannya adalah membiarkan dia bermain drum kesukaannya, mengunjungi toko musik, bernyanyi atau menari bersama, menonton pertunjukan dll.

7. Interpersonal (Self Smart) – Belajar personal hygiene dan mengurus diri sendiri (mandi, sikat gigi, pakai baju, dll), memberikan kesempatan memilih, memberikan kesempatan untuk merencanakan, dll.

8. Intrapersonal (People Smart)  mengajak bersilaturahim ke saudara, menyapa tetangga, bermain dengan teman di sekitar rumah, playdate, dan lain-lain

9. Existential (Spiritual Smart) – Mengajarkan agama dan spiritual. Selain mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kami juga mengajari malik soal praktek agama. Sejak Malik kecil, aku sudah membiasakan untuk berdoa sebelum tidur. Awalnya aku mengulang Al-Fatihah setiap hari, sehingga lama-kelamaan dia hafal. Jadi setiap malam ia akan membaca Al Fatihah menjelang tidur. Dulu, selain Alfatihah dan doa tidur, aku akan memperdengarkan audio Quran dan membiarkan dia memilih surah untuk didengarkan sebelum tidur (biasanya sampai tertidur). Tapi belakangan kami mengganti strategi dengan membacakan satu surah pendek berulang-ulang, hingga dia akhirnya hafal sendiri. Untuk sholat, kami tidak memaksanya, hanya sekedar mengajak. Namun, beberapa minggu belakangan ini kami memintanya untuk ikut sholat magrib berjamaah. Malik menyanggupi, tapi dia minta tidak setiap hari, melainkan selang-seling. Lumayan lah, asal mau aja.

Dari hal-hal yang ingin kami kembangkan ini, aku masih harus mengolahnya menjadi lebih sederhana. Yang dimasukkan ke jadwal adalah hal-hal yang gampang dimengerti oleh Malik.

Awalnya, aku membuat jadwal seperti ini:

HS Jadwal 1

Pada awalnya, isinya hanya musik, arts and crafts, math/logic/science, berenang, outdoor activities, dan weekly planning & review. Semua kegiatan ditempel di sebelah kiri, dan jika sudah dilakukan, dipindahkan ke kanan. Papan ini aku letakkan di ruang kerja di rumah kami.

Tapi, beberapa hari berlalu, tampaknya cara ini kurang efektif. Malik belum bisa membaca, sehingga dia kurang paham dengan tulisan-tulisan itu. Apalagi letaknya kurang strategis sehingga sulit dijangkau.

Lalu, tiba-tiba aku melihat magnet lembaran di sudut kantor. Sisa dari entah membuat apa beberapa lama lalu. Dari sini, aku punya ide untuk membuat jadwal ini dalam bentuk gambar yang ditempel di magnet. Magnet lembaran dipotong persegi kecil, bagian yang tidak lengket ke besi diberi double tape, lalu ditempel kertas yang sudah digambar lambang kegiatan. Jadwalnya pun bisa diletakkan di kulkas yang lebih mudah dilihat oleh Malik. Jadinya seperti ini:

HS Jadwal 2

Aku sengaja membuat nama-nama hari, agar Malik juga bisa belajar soal hari dan waktu. Agar ia bisa membayangkan yang disebut ‘besok’ itu hari apa (soalnya belajar hari dengan melihat kalender masih terlalu rumit untuk Malik :D).

Ternyata, Malik suka sekali dengan konsep ini! dari 5 jadwal awal yang dibuat, Malik malah minta tambah! Yang awalnya aku hanya membuat berenang, ia minta menambahkan gambar olahraga dan bersepeda. Dia juga meminta jadwal untuk belanja (anaknya tukang jajan banget deh!) dan gambar sholat (yang diwakilkan dengan tulisan Allah).

Usai magrib, kami akan me-review kegiatan hari itu. Malik mengingat apa yang dilakukannya sepanjang hari, mencabut gambar dari kolom paling kiri, dan memindahkannya ke kolom paling kanan. Setelahnya, kami juga akan merencanakan besok kira-kira mau melakukan apa. demikian seterusnya.

Selain jadwal ini, aku dan si Abang juga sepakat untuk membuat laporan kegiatan sederhana. Tujuannya adalah untuk bahan evaluasi kami dalam jangka panjang.

Setahun belakangan ini sesungguhnya aku sudah membeli buku agenda harian untuk mencatat kegiatan Malik dan sesekali memberikan catatan jika ada hal penting yang terjadi pada bulan itu. Bentuknya seperti berikut ini:

HS Jadwal 3

HS Jadwal 4

Tapi, aku rasa bentuk ‘laporan’ seperti ini perlu di-upgrade menjadi lebih baik. Setelah lihat-lihat, akhirnya aku membuat laporan kegiatan yang dibuat di lembaran yang bisa dimasukkan dalam binder. Contohnya seperti ini:

HS Jadwal 5

Terlihat agak ribet mungkin, tapi aku senang melakukannya. Hitung-hitung melatih konsistensi untuk membuat jurnal. Plus, aku juga bisa bisa lebih mindful saat menghabiskan waktu bersama Malik. Toh laporan semacam ini bisa sangat berguna untuk kami belajar menjadi orang tua yang lebih baik. Kalau di sekolah kan ada rapor dan hasil tes yang bisa dijadikan acuan. Kalau homeschool ya mesti orang tuanya sendiri yang (agak) capek, heheheh.

Begitulah ceritanya soal jadwal ini. Mudah-mudahan ini bisa memberikan ide kepada para orang tua yang juga masih newbie soal homeschooling kayak kami (yuk mari kita bingung bersama, hahahah!). Atau ada yang punya tips dan pengalaman soal buat jadwal untuk anak 4 tahun? I’d be happy to hear!

Drama Peliharaan

Sudah setahun belakangan ini Malik kerap menyebutkan bahwa ia ingin pelihara binatang. Dimulai dari kegemasan akan kucing anggora tetangga dan binatang-binatang lucu yang ia lihat di berbagai tempat, ia menyusun daftar peliharaannya sendiri. Ia ingin punya dua kucing, empat burung termasuk satu burung hantu, ikan, anak ayam, hamster, kura-kura dan kelinci.

Aku dan si abang sesungguhnya sangat senang dengan binatang. Saking sayangnya, kami lebih suka melihat binatang berada di habitat aslinya. Bahkan perjalanan ke kebun binatang seringkali justru membuat kami sedih. Setiap mengunjungi kebun binatang, tak lupa kami selalu menyelipkan pesan kepada Malik kalau binatang-binatang itu pasti lebih senang kalau berada di habitatnya.

Lagipula, rumah kami terlalu kecil untuk memelihara binatang. Plus kami sering berpergian, sehingga repot juga kalau masih harus memikirkan peliharaan.

Begitupun, anak kicik ini cukup konsisten soal peliharaan meski hingga kini keinginannya masih bisa ditahan. Malik paham bahwa ia masih alergi dengan bulu kucing. Ia juga mengerti bahwa rumah kami terlalu kecil. Ia toh sudah cukup bahagia dengan boneka kucing dan boneka burung hantu dari IKEA (yang saat pertama lihat, langsung dikekep, harus beli 😂).

Konsistensinya ini mau tak mau membuat aku dan abang berdiskusi soal urusan peliharaan. Dan sejujurnya, punya peliharaan juga punya dampak positif. Anak bisa belajar bertanggung jawab dan berempati. Jadi, binatang apa yang tidak ‘terlalu merepotkan’, dan bisa ditampung di rumah kami yang imut-imut ini? Kami sepakat bahwa jawabannya adalah ikan. Ikannya pun harus ikan yang kuat, seperti ikan cupang.

Kami sudah berencana akan membawa Malik untuk membeli ikan pada hari ulang tahunnya di Januari tahun depan. Kami menyusun rencana, bahwa sebelum beli, kami akan mempersiapkan dia dengan berbagai pengetahuan tentang ikan, dan nantinya dia memilih sendiri ikan yang dia mau. Kami juga bertanya ke Mbak yang bekerja di rumah, apakah dia tau tempat membeli ikan cupang di sekitar kompleks. Dan dari Mbak, kami mendapatkan beberapa tempat yang tak jauh dari rumah.

Tapiiii… ternyata Mbak menerjemahkan dengan berbeda. Perlu diketahui, Mbak kami adalah mbak harian yang pulang pergi setiap hari dan rumahnya tak jauh dari rumah kami. Kemarin, saat kami mau pergi keluar, kami berpapasan dengannya di jalan. Ia bilang mau mengantar ikan ke rumah. Aku hanya bilang ‘oke, terimakasih’, dan mengira si Mbak mengantar MASAKAN ikan, karena sebelumnya ia bicara tentang suaminya yang baru mancing.

Nah, saat kami kembali ke rumah dan aku membuka pintu, di meja sudah ada dua ikan cupang!!! Astaga, ternyata yang dimaksud si Mbak adalah ikan cupang untuk Malik! Buru-buru aku langsung keluar lagi dan mendekati si abang yang sedang memarkir mobil di carport. Untungnya, Malik masih di dalam mobil bersama si Abang.

Dengan berbisik-bisik, aku bilang bahwa ada dua ikan cupang di dalam rumah, what should we do? Si abang bengong sejenak. Setelah berfikir dan berdiskusi singkat, kami sepakat menyembunyikan dulu si ikan sampai kami tau langkah selanjutnya.

Setelah Malik tidur, kami pun menggelar rapat 😂. Setelah menimbang segala aspek, akhirnya kami memutuskan bahwa Malik boleh memelihara ikan. Tapi, status ikan adalah pinjaman dari si Mbak. Kalau Malik sampai lalai dengan tanggung jawabnya, maka ikan akan dikembalikan ke Mbak.

Paginya aku mem-briefing si Mbak tentang keputusan rapat kami. Jadi, si Mbak-lah yang harus memberikan ikan tersebut ke Malik, dan memberikan wejangan serta instruksi bagaimana cara memberi makannya.

Saat diberikan ikan, kami kira dia akan lompat-lompat histeris seperti di film-film. Tapi ternyata dia hanya senyum-senyum aja. Hahahah, antiklimaks deh! Dasar anak empat tahun! Tapi dia lumayan antusias mendengarkan penjelasan Mbak dan tak sabar mau memberitahu teman-temannya bahwa ia sekarang punya ikan.

Dua ikan cupang itu diberi nama Blue dan Orange, sesuai warnanya. Malik juga belajar memberi makan ikannya. Makanannya pelet superkecil, dan ia harus menghitung 10 butir pelet untuk satu ikan. Diberikan hanya di pagi hari.

Saat tadi pagi kami harus pergi sebentar, dia agak khawatir, apakah ikannya akan baik-baik saja kalau ditinggal. Kami berhasil meyakinkannya kalau ikannya bisa main sendiri, hahahh.

Jadi begitulah. Malik sekarang punya peliharaan. Mohon doanya agar ikan kami tetap bertahan yaaaa…

Kalau kalian, anaknya diizinkan punya peliharaan nggak? 

pet1

pet2