Category Archives: Baby M

Musik Malik: The Beginning

Kemampuan Malik menggebuk drum banyak membuat orang heran: masih tiga tahun kenapa sudah bermain drum dengan ketukan yang benar? Ada yang bilang Malik berbakat dan banyak yang penasaran kenapa bisa demikian. Aku sering ditanya: gimana ngajarinnya?

drum1

Malik and his ‘drum-set’ 

Sebenarnya, aku sendiri agak bingung menjawabnya. Dimataku, drum tak ubahnya mainan. Semuanya terjadi dengan proses yang normal-normal saja, nggak ada yang istimewa. Aku dan abang juga tidak punya background musik sama sekali. Kami hanya suka mendengarkan musik, itupun sesempatnya. Aku bisa sih main gitar sedikiiiiiiiitttt. Hanya tiga-empat kunci sebagai modal pergaulan (halah, istilahnya!).

Saat Malik lahir, aku pernah baca bahwa musik bagus untuk anak. Orang tua disarankan untuk memperdengarkan musik ‘beneran’, dari berbagai genre, tidak hanya sekedar lagu anak-anak. Saat dia masih bayi, aku hampir selalu bersenandung lagu ‘La Vie en Rose’ menjelang tidur, dan terkadang mengubah liriknya menjadi doa-doa untuk Malik. Aku sering memutar lagu-lagu berirama jazz yang tenang sambil menggendongnya. Atau, saat dia sudah agak besar, kami kerap memutar lagu-lagu hiphop dan joget-joget nggak jelas bersama sambil bermain.

Kalau sedang nyetir kami sering menyetel DVD konser. Alasannya sederhana: karena DVD konser itu bisa hanya didengarkan, tapi bisa juga ditonton kalau macet. Dua DVD yang sering di tonton adalah konser Michael Buble dan Josh Groban. Tapi lama-lama jadi pusing sendiri. Gara-gara ini, setiap naik mobil, Malik semacam sudah otomatis meminta diputarkan “Om Buble” atau “Om Josh” (Panggil om lah, biar akrab! Hahahaha!). Kadang-kadang sampe nggak enak sama orang yang kebetulan naik mobil kami, karena lagunya itu-itu melulu, hahaha!

Awal Malik ‘berkenalan’ dengan drum juga tidak sengaja. Namanya anak bayi, kadang-kadang suka mukul-mukul dengan tangannya. Saat dia sudah mulai bisa menggenggam, aku iseng memberikan dua buah sumpit makan dan kami berpura-pura main drum. Urusan pukul memukul ini lalu semakin sering karena kami membelikannya sebuah jimbe kecil saat kami mengunjungi Saung Angklung Udjo di Bandung.

Kegiatan bermusik ini kian berkembang sejak kami mulai memperkenalkan gadget kepadanya di usia 1,5 tahun. Awalnya sih karena dia terkesan sekali dengan pertunjukan di Saung Angklung Udjo dan sangat senang jika aku memutar video “kakak menari” di handphoneku. Karena udah diputer sekian ribu kali, si ibu ini kan bosan ya. Jadilah aku mencari video di youtube. Tapi video apa? Karena waktu itu Malik sangat senang dengan jimbenya, aku mencari video dengan key word: “the best drummer in the world” hahah! Dari situ, keluarlah video solo-nya Mike Portnoy (drummernya Dream Theatre).

Sejak itu, Malik semakin mengeksplorasi jimbenya. Segala panci, ember, gayung, kaleng cat, kemudian juga dia jejerin untuk dijadikan drum set. Setiap hari selalu memainkannya. Meski begitu, aku juga selalu berusaha mengajaknya bermain yang lain. Dalam pikiranku, ya bagus kalau dia suka satu hal dan konsisten. Tapi tidak berarti hal-hal lain juga tidak perlu diperkenalkan. Diantara bermain drum, Malik juga suka masak-memasak, bermain dengan tepung dan playdoh, main cat dan crayon, berenang, main di playground, main pasir, dan macam-macam lain. Hanya saja, kalau dihitung durasinya dalam seminggu, sebagian besar memang ia habiskan dengan bermain drum. Berbekal sumpit yang sangat mudah untuk dibawa kemana-mana, Malik selalu bisa bermain drum, hampir kapan saja, dimana saja.

Memasuki umur dua tahun, screen-time Malik bertambah. Video yang dia lihat juga semakin bervariasi. Youtube seringkali memberi suggestion video baru yang kemudian dia tonton dan memberikan inspirasi baru. Kemampuan verbalnya yang meningkat cepat, juga memberikan kontribusi signifikan. Ia bisa membedakan tiap video, dan meminta kami memutarkan video tersebut. Yang ada Bapak-Ibunya harus selalu tau apa yang dia tonton. Karena, seringkali dia akan minta video yang spesifik. Bisa bingung kalau nggak tau apa yang dia maksud.

drum3

Setelah Mike Portnoy, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan drummer/youtuber Casey Cooper karena videonya meng-cover lagu “Burn”-nya Ellie Goulding dengan drum stik terbakar api yang sungguh epic sekali. Dan dari fitur suggested video di youtube, kami sering memutar berbagai video drummer/youtuber, termasuk Rani Ramadhany dari Indonesia. Soal drummer/musisi kesukaan Malik ini nanti aja deh buat posting terpisah. Panjang ajeeee ahahah!

drum4

drum5

Bertemu idola: Casey Cooper dan Rani Ramadhany

Tidak hanya itu, aku juga sering mengajaknya ke toko musik. Dia tahan berlama-lama nongkrong di sini. Kalau kebetulan ada drum set atau instrumen lain yang boleh dimainkan, dia pasti akan senang sekali. Tapi kalaupun nggak ada, dia sudah bahagia bisa sekedar mengelus gitar, memencet piano tanpa suara, atau bertanya-tanya soal berbagai instrumen musik yang dia lihat.

Aku sempat membawanya beberapa kali ke studio musik jam-jaman agar ia bisa bermain drum dengan bebas. Tapi hanya beberapa kali pergi, dia sudah tidak tertarik lagi. Mungkin nanti di coba lagi.

Aku dan abang juga sempat membawanya ke beberapa kursus musik, bahkan untuk ikutan sesi drum privat di sebuah sekolah musik. Sayangnya, kami merasa kurang pas dengan instrukturnya. Padahal yang kami inginkan hanyalah supaya Malik punya teman main drum, tidak perlu belajar macam-macam. Tapi mungkin instrukturnya juga bingung dan waktunya juga belum tepat.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan ‘gimana ngajarinnya?’, seperti yang bisa dilihat, pertanyaan itu jadi tidak relevan. Karena Malik belajar sendiri. Kami sebagai orang tua, hanya memfasilitasinya. Atau kalau boleh ditarik ke belakang lagi, apa yang kami lakukan pada dasarnya adalah mengubah persepsi atas apa yang disukai Malik. Aku melihat kegiatan “mukul-mukulnya”  itu sebagai sesuatu yang positif alih-alih mengganggu. Aku mencari cara untuk menyalurkannya secara positif, yaitu dengan bermain drum. Pelan-pelan, dari drum ini kemudian melebar menjadi musik secara umum. Dan dengan musik sebagai “pintu”-nya, aku mengenalkan Malik dengan begitu banyak hal.

Otak manusia itu belajar jauh lebih baik dalam keadaan rileks. Jadi, kalau sudah suka dengan satu hal, pasti rasa suka itu akan membuat kita dengan suka rela dan senang hati mencari tahu mengenai hal itu. Nggak perlu memaksa untuk menjejalkannya. Kuncinya adalah bermain.

Kemaren waktu aku posting video Malik bermain drum di Instagram, ada yang komen betapa lucunya Malik sudah punya hobi, nggak seperti anaknya yang hanya suka mobil-mobilan. Buatku, persepsinya lah yang harus diubah. Anak yang sangat suka mobil-mobilan bisa banget difasilitasi “to the next level”. Ada banyak sekali keahlian yang bisa dipelajar dari kesukaan terhadap mobil. Bisa ngasi liat mobil sendiri dan bercerita tentang bagian-bagian mobil. Apa fungsi-fungsinya. Kenapa mobil bisa jalan, dll. Ajak ke pom bensin, ke bengkel, ke showroom mobil, nonton formula1 di TV. The possibility is endless!

Bagiku, tiap anak sudah dilahirkan dengan potensi sendiri. Dan tugas orang tua adalah “mengeluarkan” potensi itu dengan cara memfasilitasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak ada pemaksaan. Membuat anak punya hobi itu perlu waktu. Dan jika ia sudah sangat suka dengan ‘hobinya’, pada akhirnya kata hobi itu akan hilang, dan itu menjadi bagian dari hidupnya.

Begitupun, pastinya aku punya kekhawatiran sendiri soal Malik mendengarkan musik dewasa. Tapi itu bahas lain kali saja deh ya, hihihi!

So, ada anaknya disini yang juga suka gebuk drum? Yuk play date yuk sama Malik! *ketemuan mesti bekel headset dan panadol biar gak pusing, hahahaha!*

drum2

BLW: Tiga Tahun Kemudian

Kayaknya sekarang metode memberi makan anak dengan cara Baby Led Weaning lagi naik daun ya, hihihihi! *lirik instagram-nya mbak artis*

Mungkin, para ibu-ibu baru yang pengen coba cara ini, bertanya-tanya ya. Bener nggak sih yang mbak-nya bilang? Nah, sebagai ibu yang (agak) newbie, dan pernah memakai metode ini, aku pengen share sedikit ya. Mudah-mudahan berguna!

Sebelumnya, mau ngasih background sedikit. Tiga tahun lalu, aku mencoba metode BLW saat MPASI pertama Malik. Persiapannya, jatuh-bangunnya, deg-degannya, bisa dibaca di beberapa postinganku di sini.

Nah, setelah tiga tahun kemudian, gimana sih Malik sekarang? Apa makan sendiri? Apa nggak picky eater? Apa nggak pernah GTM? Jawabannya… hhhmmmm… ya gitu deh, hahahaahahha! Walaupun ini aku yakin banyak biasnya, aku akan berusaha se-objektif mungkin ya.

Saat ini Malik makannya mix antara makan sendiri dan disuapin. Untuk makanan yang dia suka, dia akan sukarela makan sendiri. Tapi untuk makanan yang ‘biasa aja’, dia minta disuapin. Ini terjadi karena proses yang lumayan panjang.

Di awal-awal BLW, Malik memang full makan sendiri. Tapi, tiba-tiba saat dia berumur setahunan lebih, Malik sakit diare parah dan harus diet BRATY. Saat itu, karena dia makannya sedikit sekali, aku sungguhlah takut dia dehidrasi. Mau nggak mau, aku strap dia di stroller, dan suapin bubur.

Nah, dari situ, sesungguhnya godaan menyuapi itu tinggi ya buibu, ahhaha! Mana saat semakin besar, anaknya udah bisa main (nggak mau lagi di high chair!), dan mulai ngerti juga betapa enaknya disuapin. Dia bisa lari-lari sesukanya, hahahah! Bok, Bapaknya yang segede gitu aja kadang-kadang masih suka disuapin, gimana anaknya hahah! Nah, sejak itu, aku jadi lebih santai menggunakan metode ini. Toh awalnya dia udah bisa pegang makanan sendiri. Metode apapun, yang penting anaknya makan, ye kan?

Metode campur-campur ini juga karena aku melihat perkembangan berat badan Malik yang irit sekali. Nggak seperti saat bayi dulu dimana berat Malik selalu di persentil atas, alias ginduuttttt… nah, sekarang si anak kicik itu BB-nya bikin hati ibu kebat-kebit.

Lalu, apakah Malik picky eater? Nah, ini agak tricky. Sebenernya Malik nggak picky eater kalau makanannya enak, hahahaha! Makan sate, udah bisa seporsi orang dewasa saking sukanya. Steak, mie aceh, rendang, sup brokoli wortel, spaghetti, selalu habis. Buah, dia juga suka banget. Es krim, jangan ditanya.

Nah, tapiii…. Ada banyak juga yang dia nggak mau makan. Kalau aku lihat, selera makannya nggak jauh-jauh dari aku. Jadi, kayaknya soal picky eater ini harus dilihat lagi. Kalau aku berintrospeksi, lidahku ini juga nggak terbiasa makan macam-macam. Aku juga bukan tipe orang yang suka makan. Bisa jadi, kebiasaan makan orang tua juga berpengaruh sama selera dan kebiasaan anak. Mungkin, aku jarang memperkenalkan dia dengan berbagai makanan baru. Yang dimasak itu-itu mulu (skill-nya segitu doang kakaaakkk!), dan ini berpengaruh besar. Jadi, ibu-ibu yang mau ber-BLW-ria, kalau mau anaknya jadi pemakan segala, ya emang orang tuanya juga harus pemakan segala.

Kemudian, apa Malik pernah GTM? Nah, seumur dia yang sudah 3,5 tahun, baru satu kali aku mengalami yang namanya Malik ogah makan saat dia berusia dua tahunan. Mungkin ini ada kaitannya dengan psikologis anak usia segitu yang sangatlah rebellious. Tapi itu nggak lama.

Mungkin juga ini ada kaitannya dengan aku yang cukup santai menanggapi kalau Malik nggak mau makan. Biasanya, kalau dia nggak mau makan, atau makan sedikit, aku hanya bilang, “Ya udah. Nanti kalau lapar lagi, bilang sama ibu ya.” Dan memang, saat dia lapar dia akan bilang dan makan banyak (atau kasih nasi telur dadar pake saos tomat, pasti langsung banyak makan. Ibunya banget deh hahahha!). Dan makan bagi Malik juga nggak mesti nasi. Yang penting karbo cukup, protein cukup, dan serat cukup yang aku seimbangkan dalam rentang waktu seminggu.

Yang pasti, aku memang harus berterimakasih kepada metode BLW. Dengan memulai MPASI dengan metode ini, Malik sama sekali nggak pernah ngemut makanan. Malik mengunyah dengan sangat baik. Se-setres-setresnya liat Malik makan sedikit, aku tetap bersyukur kalo Malik makannya nggak pernah lama-lama. Kalau kenyang ya udah, berhenti. Nggak PHP dengan ngemut makanan, hihihi!

Selain itu, Malik juga motorik halusnya cukup baik. Diumur segini, dia sudah bisa memegang pulpen dengan baik, dan pura-pura menulis dengan membuat bentuk-bentuk yang kecil-kecil. Sesungguhnya dia bisa makan dan menggunakan sendok dengan baik. Cuma ya males ajaaaaaa gituuu… *kzl!

Jadi, kalau secara keseluruhan, aku sangat bersyukur mengenal metode BLW di awal MPASI. Segala kerepotannya, berantakannya, cukup terbayarkan dengan kebiasaan makannya yang cukup baik (tentunya menurut standarku ya).

Tapi begitupun, yang paling utama menurutku adalah anak yang sehat, apapun metodenya. Ya nggak?

BLW1

Minum sirop oke, minum antangin juga mau 😀

BLW2

Kiri: Ngoprek kulkas. Kanan: Donat sih udah pasti makan sendiri lah!

BLW3

Kopi oke, Tapi dikiiitttt! Kalo eskrim jangan ditanya 😀

BLW4Bapak aja masih disuapin, Malik juga boleh lah ya!

2016: A Rough Patch

Iya. Ho oh. Blog ini memang nggak di-update enam bulan. Setengah tahun. SE-TE-NGAH-TA-HUN. Kepada para pembaca setia (kayak ada aja!), mohon maaf ya. Bukannya update, yang punya blog ini malah kadang curhat panjang lebar di Instagram. Jadi, sekedar tips aja nih. Kalau disini lagi sepi tulisan, boleh lah tengok Instagram aja. Mau di-follow juga boleh banget *modus* hahahaha…

Begitulah. Sebenernya banyak yang terjadi. Banyak banget sampai kadang nggak tau lagi harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya: ah, sudahlah! Nanti aja tulis-tulisnya. Ini juga sebenernya bingung mau nulis apa. Otak sama jari suka nggak singkron. Apalagi sama hati, eeaaaakkk…. Jadi, mumpung ini sudah penghujung tahun, kayaknya enak kalau merekap apa yang terjadi selama tahun 20016 ini. Here it goes.

Project #RumahPapa

Postingan terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana awalnya, rumah ini sudah selesai pada bulan November.

Saat ini, aku sedang berada di Medan, melihat bangunannya sudah berdiri… tapi belum ada atapnya, hahahahah! Waktu membangun struktur sih terlihat cepat. Begitu finishing, rasanya lamaaaaaa kaliiiiii! Sebenernya sih, sudah tinggal dikit lagi. Lantai 1 dan 2 paling tinggal merapikan, serta pasang pintu dan jendela. Tapi karena atap belum kelar, tentunya ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, terutama untuk lantai paling atas, juga untuk tangga-tangga. Jadi yah, kebanyakan pekerjaan harus ditunda sampai atap selesai.

Memang membangun rumah itu perlu mental baja ya. Baja kokoh nan padat, bukan baja ringan – itu sih buat atap aja! Pasti ada aja yang terjadi di lapangan, diluar perhitungan awal. Ya soal desain, soal waktu, soal budget apalagi. Mohon doa ya supaya project ini bisa kelar sebelum kalender berganti, agar diriku tetap waras adanya, hahaha!

201612-atap

201612-rumah

#BabyM (yang sudah bukan baby lagi, hiks!)

Di usianya yang memasuki dua tahun, BabyM tentunya makin bisa macem-macem. Skill-nya menggebuk drum makin mencengangkan karena sudah mulai bisa mengikuti musik. Skill ‘memasak’ apalagi. Hampir tiap hari dia main dengan playdoh, tepung, wajan, sudip dan kawan-kawannya. Belakangan malah sudah bisa ditemani memasak telur dadar beneran, dan dia bahagia banget kalau diajak mencuci piring setelahnya. Mudah-mudahan rajin sampe gede, AMIN!

Terakhir cerita soal BabyM disini adalah soal kesuksesan menyapih. Ya ampun, menuliskannya bagaikan kejadian itu sudah dilewati bertahun-tahun lalu! Aku kira, setelah kelar menyapih, drama akan segera berlalu. Little did I know, drama itu malah semakin melebar kemana-mana, seiring dengan kemampuan verbalnya yang meningkat pesat bak roket menuju Mars!

Di satu sisi, BabyM sangat menggemaskan sekali. Dia udah bisa diajak ngobrol. Tapi disisi lain, bok… anak kicik ini kerjaannya membantah muluk! Padahal dulu kayaknya asik-asik aja deh nyuruh dia beresin mainan, atau makan, atau mandi atau tidur. Sekarang… OMAIGAT! Perjuangan banget!

“Malik, yuk mainannya dibereskan.”

“Nggak usah lah. Nanti aja.”

“Loh, kan sudah mau mandi. Mainannya dibereskan dulu.”

“Ibu aja yang bereskan.”

“Ih, kan kamu yang main. Ayo lah, ibu ikut bantuin deh.”

“Ibu aja lah yang bereskan. Tangan Malik lagi kotor.”

“Tangan kotor kan bisa di lap dulu.”

“Nggak mau. Nanti aja bereskannya SEKALIAN ABIS MANDI.”

….

Pengen ditujes nggak sih anak kicik ini? Iya, ngomongnya kata-per-kata kayak gitu. Pake ‘Lah’ segala. Ngelesnya pun super duper jago. Kadang-kadang sampe kepikiran, anak dua tahun kok ya udah advance banget kayak gini. Berasa ngomong sama bapaknya deh #eh.

201612-drum

201612-masak

Tentang Diri Sendiri

Nah, ini mungkin yang cukup sulit menceritakannya. Yang kayaknya menjadi akar permasalahan kenapa nggak nulis-nulis. Tahun ini terasa cukup ‘menantang’ buatku, baik fisik maupun mental. Aku tidak tau apa persisnya, tapi – tanpa harus mengkambing hitamkan masalah apapun – aku sepertinya kewalahan mengerjakan banyak hal sendirian. I think 2016 is quite rough.

Mengurus pembangunan rumah di Medan, mengurus rumah tangga sendiri, menjaga anak yang memasuki fase penuh drama membuatku sangat lelah jiwa dan raga. Dengan model kerja si Abang yang 8 minggu kerja – 5 minggu cuti, aku kebanyakan sendirian. Saat si Abang cuti pun, kami harus mengurus banyak hal. Kami juga sepakat memangkas budget liburan karena sedang membangun rumah (yang kayaknya adalah langkah yang salah, huhuhu).

Aku seperti tak punya jeda. Dan bulan puasa lalu adalah puncaknya. Aku sering menangis. Hal-hal kecil membuatku sedih dan sangat marah. Mood swing yang sangat aneh. Aku sulit tidur walaupun terasa sangat capek. Tidak punya energi untuk melakukan apapun, sulit konsentrasi dan merasa sangat tidak berdaya. Pelan-pelan aku merasa tidak mampu berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Aku keluar dari grup whatsapp, atau tidak membaca whatsapp sama sekali. Log-out dari Path dan tidak menyentuh facebook. Aku bahkan berhenti menulis. Padahal menulis adalah hal yang paling aku suka – dan aku merasa tak punya tenaga melakukannya.

Sesekali aku posting di Instagram, lebih karena aku tak mampu berkata-kata, dan menyerahkan diri pada bahasa gambar: berharap ada yang membaca ‘tanda’ ini dan berusaha menarikku keluar. Aku merasa berada dalam terowongan gelap pekat, tak tau harus berbuat apa, tanpa bisa memetakan perasaan sendiri, apalagi meminta tolong. Mau minta tolong apa coba?

Suatu hari keadan menjadi semakin buruk. Aku yang selama ini tidak pernah bersuara keras kepada Malik, tiba-tiba tanpa kontrol membentaknya hingga Malik ketakutan. Aku bahkan lupa kenapa. Aku terduduk dan menangis di dapur setelah itu. Malik duduk tak jauh dariku, terdiam dan bingung memperhatikan. Setelah tangisku mereda, aku meminta maaf dan memeluknya. Sejak itu, setiap ada perubahan pada wajahku atau nada suaraku, Malik akan bertanya: “Ibu marah?” dan itu sungguh mengiris hati.

Dengan putus asa, aku mengetikkan sebuah pertanyaan di google: why am I angry all the time? Google memberikan link, merujuk pada laman yang menunjukkan gejala depresi. Astaga, memikirkan bahwa aku ‘mungkin’ depresi malah semakin membuat depresi!

Processed with VSCO with f2 preset

Sepertinya, aku memang harus meminta bantuan. Tapi tak tau harus mulai dari mana. Untungnya, menjelang lebaran, Mama Papaku datang dari Medan. Aku jadi tidak sendiri di rumah. Aku tidak bisa menjelaskan banyak kepada mereka, tapi aku berkali-kali menangis padahal membicarakan hal-hal biasa. Namanya orang tua, mereka mungkin bisa merasa, kali ya. Sepanjang lebaran rumahku juga ramai oleh keluarga sehingga aku bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari hasil diskusi dengan si Abang, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk saat ini, aku sedapat mungkin untuk tidak sendiri. Jadi jika si Abang sedang kerja, aku bisa terbang ke Medan. Selain aku ada temannya, Malik juga punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang, mengingat ia berada fase yang memang perlu bersosialisasi. Jadi sejak pertengahan tahun, aku kerap bolak-balik Medan jika si Abang sedang bekerja.

Saat ini, aku jauh lebih baik walau mood kadang-kadang masih suka drop. Aku sadar aku mungkin butuh bantuan professional untuk ini. Tapi, setidaknya, mengakui bahwa aku ‘bermasalah’, dan mampu meminta bantuan kepada orang lain, adalah sebuah langkah yang baik. Aku juga sudah mulai menulis lagi, which also a good sign, kan?

Jadi begitulah sodara-sodara. Tahun ini bukan tahun yang mudah. I can’t say I’m ready and confident enough for 2017, tapi begitulah hidup bukan? Siap nggak siap ya mesti dihadapi.

So, here I come, 2017. I’m going to take it one day at a time. Wish me luck, everybody.

201612-din

Menyapih!

BabyM sudah berhasil disapih! SUPERYAY!

Sudah tiga mingguan ini BabyM tidak lagi menyusu. Sekali dua kali masih minta sambil nyengir, tapi dikasih susu UHT juga sudah selesai perkara. Dan senangnya, aku tidak merasa sakit secara fisik, dan merasa benar-benar bahagia. Tidak ada semacam perasaan sedih atau mixed feeling yang sering dilanda para ibu. Padahal, kalau dirunut ke belakang, soal memberikan ASI ekslusif dulu juga drama banget. Jadi penyapihan ini terasa seperti milestone tidak hanya untuk BabyM, tapi juga untukku.

Tapi tentunya ada cerita penyapihan (yang lumayan) panjang sebelum sampai pada titik ini. Dan yang aku pelajari sesungguhnya adalah bahwa semuanya butuh waktu untuk berproses. Kebiasaan tidak bisa diubah dengan perintah. Ia butuh dilaksanakan pada waktu yang tepat, takaran yang pas, konsistensi, dan ketabahan hati. Yang semuanya bisa dikira dengan mendengarkan insting. Ribet? Embeeerrr! Tapi buatku, disitulah seninya menjadi orang tua!

Jadi begini. Sejak awal, aku tidak ingin melakukan penyapihan dengan tiba-tiba (nenennya dikasih sesuatu yang pahit lah, dikasih lipstick lah, atau apapun yang bentuknya seperti itu). Bagiku, itu sangat tidak adil buat BabyM. Sejauh ini, aku selalu berusaha memperlakukan BabyM sebagai seorang individu dan menghormati keinginannya. Begitupun, aku juga menanamkan padanya bahwa orang lain (dalam hal ini, ibunya) juga punya keingininan DAN keterbatasan. Menyusui adalah soal hubungan dua orang, dan kami berdua harusnya punya bagian masing-masing. Aku ingin BabyM menyapih dirinya sendiri. Namun, mengingat keterbatasanku, aku juga memberikan batas waktu: cukup dua tahun.

Dalam pikiranku, penyapihan ini dilakukan dengan pelan-pelan. Sekitar 6 bulan menjelang ulang tahunnya, aku mulai memperkenalkan susu UHT. BabyM sempat terdeteksi lactose intolerant sebelumnya, tapi untungnya setelah beberapa bulan dicoba lagi, ia sudah cukup kuat minum susu UHT.

Tidak hanya itu, aku juga sudah sesekali menyatakan ide soal menyapih padanya. Pemilihan kalimat untuk memasukkan ide ini pun benar-benar dipilih: menggunakan kalimat positif dan tidak bersayap. “Kalau nanti sudah dua tahun, setelah tiup lilin, tidak nenen lagi ya. Begitupun, anaknya masih tetap nenen tak berhenti dan setiap malam masih terbangun berkali-kali untuk nenen. Aku bisa merasakan, ia sesungguhnya tak memerlukan air susunya, tapi perlu perasaan dekat dengan ibu. Sehingga, kalimat menyapih pun ditambah dengan, “Kalau mau tidur, bisa ibu pijat-pijat aja…

Setelah beberapa bulan berlalu, kalimat ini sudah melekat. Setiap nenen, kalimat ini di ulang. Bahkan, BabyM sudah bisa bilang sendiri: “Kalau sudah tiup lilin, nggak nenen lagi. Pijat-pijat aja….” Hati ibu mana yang tidak berbunga-bunga, ya kan?

Begitupun, kenyataan tak seindah ucapan, sodara-sodara. Anak sekecil BabyM sudah bisa memberikan janji manis belaka, hih! Rasanya justru dia semakin semangat nenen sampai aku tidak bisa tidur malam dengan tenang. Keinginan untuk segera menyapih tanpa menunggu dua tahun sangatlah kuat! Kalau nggak ada si Bapak yang menyabarkan, mungkin aku akan menyerah pakai cara paksa.

Tiba-tiba, temanku Meyla (yang sebenarnya adalah seorang bidadari cantik yang menyamar jadi ibu beranak satu!) memberikan sebuah link artikel tulisan Dr Jay Gordon soal “Night Weaning” atau menyapih malam. Intinya, beliau ini memberikan sebuah opsi kepada ibu-ibu (kurang tidur) yang anaknya udah mulai besar dan galau antara pengen menyapih anak atau tidak. Solusinya adalah: anak “disapih” hanya pas malem aja, supaya bapak-ibunya bisa tidur selama 7 jam straight! Siangnya sih nenen kayak biasa aja nggak masalah, yang penting malam nggak nenen agar semua orang bisa istirahat cukup dan bangun dengan happy! WOWMEJIK banget kaaaannn????

Aku langsung mendapatkan A-HA! moment saat membaca artikel ini. Proses menyapih malam ini dilakukan dengan beberapa langkah yang semuanya dilakukan dalam 10 malam. Begini caranya:

Persiapan: Tentukan jam tidur yang paling berharga buat ibu-ibu sekalian sepanjang 7 jam. Mau dari jam 11 malam sampai 6 pagi, jam 12 malam sampai jam 7, bebas. Sebagai contoh, aku pilih dari jam 10 malam sampai 5 pagi. Karena jam 10 aku sudah teler banget dan jam 5 sudah segar karena selesai sholat subuh.  Proses 10 hari ini terbagi menjadi tiga bagian: 3-3-4.

Bagian pertama 1: Tiga malam pertama. Sebelum jam menunjukkan jam 10 malam (walaupun itu jam 9.58), anak dinenenin sampai tidur seperti biasa. Kalau kebangun juga ya nenenin sampai tidur lagi. Tapi, saat anak kebangun diantara jam 10 malam – 5 pagi, kasih nenen SEBENTAR, tapi jangan sampe tidur. Nah, saat anaknya masih teler-teler ngantuk gitu, lakukan apapun yang membuat dia tidur sendiri.  Usap-usap, atau tepok-tepok, atau pijat-pijat, atau apapunlah. Nanti, setelah jam 5 pagi, silahkan di nenen lagi sampai sepuasnya. Si dr. Gordon memperingatkan, tiga malam pertama ini bakal heboh. Persiapkanlah mental! Tapi kalau dirasa nggak sanggup, ya mungkin boleh dicoba beberapa bulan lagi.

Bagian ke dua: Tiga malam berikutnya. Kalau anaknya kebangun antara jam 10 malam – 5 pagi, JANGAN dikasih nenen. Boleh di peluk, di gendong, di usap-usap, diomingin baik-baik biar tidur lagi.

Bagian ke tiga: Empat malam berikutnya. Kalau kebangun, nggak boleh digendong atau di angkat, hanya boleh dibilangin dengan singkat untuk tidur lagi.

Nah, di awal tahun 2016, akhirnya aku menerapkan teknik ini ke BabyM. Agak khawatir sebab aku hanya sendirian sementara si Bapak masih kerja. Tapiiii… ternyata CARA INI SUKSES! Saat terbangun tengah malam, sebelum dia nenen, aku berbisik: “Nenennya satu menit aja ya,” sambil menghitung detik jam dan melepaskannya saat sudah satu menit. Sempat drama juga di hari ke tiga, nangis-nangis sampe minta keluar kamar, tapi tetap bisa aku handle dengan tenang. Tapi setelah 10 malam, BabyM bisa mulai bisa tidur nyenyak semalaman. Begitu juga ibunya! Kadang-kadang masih bangun juga sih, tapi ya namanya proses. Pelan-pelan dia sudah bisa tidur lebih pulas.

Keberhasilan night weaning ini membuatku “ngebut” pengen menyapih total. Setelah si Bapak pulang ke rumah, kami sepakat untuk mencoba dengan cara membiarkanku ber-me-time ria seharian, sementara BabyM di rumah dengan si Bapak. Setelah tiga hari berturut-turut pergi pagi pulang petang, BabyM baik-baik saja ditinggal! Tapiiiii… saat aku dirumah, dia nggak terima kalau aku nggak mau nenenin. Jadinya drama luar biasa!

Walaupun sedih, tapi masih ada harapan saat ulang tahunnya. Seperti yang sudah dia bilang sendiri, “Setelah tiup lilin, nggak nenen lagi.” Ternyata oh ternyata, selepas tiup lilin, masih nenen dengan semangat 45, sodara-sodara. Hih!

Disinilah akhirnya aku berdamai dengan diri sendiri dan benar-benar belajar soal proses. Orang dewasa aja kalau disapih dari apapun (mantan, misalnya? #eh) pasti galau. Apalagi anak kecil yang belum bisa mengontrol emosi kan?

Jadi yang aku lakukan adalah mempercayai prosesnya dan memberi waktu pada kami berdua. Aku tetap memberikannya setiap kali dia minta. Hanya saja, karena BabyM sudah paham arti satu menit, akupun konsisten hanya memberikan satu menit setiap kali nenen. Lama kelamaan, dari satu menit aku kurangi menjadi setengah menit. Selain itu, setiap dia minta nenen, aku coba tawarin air putih/susu UHT/jus jeruk atau cemilan. Kalau berhasil terdistraksi, ya Alhamdulillah. Kalau nggak berhasil, ya kasih nenen sebentar. Semakin kesini, frekwensinya semakin berkurang dan di usia 2 tahun 3 bulan, BabyM sudah tidak nenen sama sekali. Ahamdulillah….

Yang ada sekarang adalah hanya rasa bahagia. Setelah dua tahun tiga bulan yang penuh suka duka, aku dan BabyM berhasil melewati milestone ini bersama-sama. Tentunya kami juga tidak akan bisa berhasil tanpa si Bapak yang selalu bisa diandalkan. *Berpelukaaannnn*

Demikianlah kisah penyapihan BabyM 😀 Buat para Ibu dan Bapak yang juga sedang menyapih, semangat yaaaa. Sekarang kami menikmati tidur malam yang tenang dulu yaaaaaaaaa… hihii…

sapih1Fotonya pas ulang tahun aja deh ya 😀

Untuk Para Ibu Baru…

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru saja punya bayi mengirim email, bertanya dengan nada putus asa: “Dinda, bagaimana kiat menjadi ibu seperti yang kau tulis? Aku seperti tidak bahagia, capek, stress….

 

Sebelumnya, seorang teman lain juga bertanya hal-hal yang kurang lebih mirip. Intinya, kenapa punya anak kok nggak hepi seperti yang dibilang orang-orang? Lihat foto-foto para ibu baru di fesbuk, kok bisa terlihat cantik, menggendong bayi yang juga lucu menawan, terlihat sangat bahagia. Kenapa diri sendiri malah depresi?

 

Pertama-tama…. Sini sini, peluk dulu sini! *peluuukkkkkk*

 

Lalu, aku mau bilang kepada semua ibu baru yang juga merasa hal yang kurang lebih sama: KALIAN NGGAK SENDIRI!

 

Aku juga adalah ibu (yang masih tergolong) baru. Anak baru satu, belum pun dua tahun. Masih belajar ini itu, dan belum pada tempatnya untuk memberi nasihat. Jadi, tulisan ini BUKAN nasihat. Tulisan ini adalah sebuah uluran tangan kepada kalian, para ibu baru, untuk usep-usep punggung dan bilang kalau kalian nggak sendiri.

 

Kalau temanku itu mengira aku ‘bahagia-bahagia’ aja punya anak, ya mungkin memang nggak salah juga. Kalau lihat-lihat tulisan di blog ini, hampir semuanya bernada happy dan riang kalau aku cerita soal BabyM. Tapiii… ya itu karena aku menulisnya saat dalam keadaan WARAS, hahahah! Itu juga datangnya sekali-sekali. Kalau sedang merasa capek, engap, kesal dan sebagainya, boro-boro nulis, ketemu pensil aja kayaknya pengen ditusuk-tusukin kemana gitu 😀

 

“There are days when I feel victorious, but there are other days that makes me feel helpless, defeated, a complete loser. There are days that I feel like throwing bricks at people, but there are days when I really need other people because I just can’t handle it. I start wondering, is this right thing to do? How other mothers do that? Why it seems so easy for them but not for me?”

 

Tulisan diatas adalah entri di sebuah halaman diaryku sebulan setelah BabyM lahir. Sebulan. Dan bahkan setelahnya masih ada cerita soal nangis di shower karena ngerasa nggak sanggup lagi. Tapi, selain itu aku juga nulis hal-hal yang membuat aku ngerasa bahagia banget dan itu karena hal-hal sederhana aja: bisa tidur empat jam tanpa terganggu, bisa meletakkan BabyM di tempat tidur tanpa membangunkannya, atau bisa menggendong dengan gendongan kain!

 

Sepertinya, setelah tiga bulan barulah aku mulai bisa agak senyum. Dan tiap ada orang yang menyapa dan bilang, “Waaahh… nggak terasa yaaa, bayinya sudah tiga bulan. Sudah bisa apa?” itu rasanya campur aduk, antara pengen nonjok, pengen nangis dan pengen cerita panjang lebar. Pengen nonjok karena TIGA BULAN ITU KERASA BANGET! Hari-hari lamaaaaaa sekali berlalu, udah kayak nggak bergerak. Pengen nangis karena capek. Tapi juga pengen cerita panjang lebar dengan antusias karena tiga bulan itu bayinya sudah bisa menggenggam sesuatu loohh… dia juga udah mulai bisa tidur malam, udah bisa ini itu ono anu blablabla nyanyanya… teruuusss… cerita sampe yang nanya nyesel kali, kita ga mau berhenti membanggakan kebisaan-kebiasaan baru si bayi

 

Kalau menurutku, segala perasan sedih, capek, kesel, moody dan sebagainya di awal-awal kelahiran itu adalah sesuatu yang wajar. Masa-masa itu adalah masa adaptasi yang gila-gilaan. Baik bagi orangtua maupun bayinya. Bukan berarti kita nggak bahagia dan bukan pula berarti kita gagal jadi ibu. Jalan ke depan masih panjang, dan definisi gagal atau berhasil itu berbeda-beda tiap orang. Ingatlah satu hal penting: Ini semua akan berlalu….

 

… dan di depan masih menanti tantangan yang nggak kalah besarnya, HAHAHHAHaahha… haha… ha… h… hu… huhu… huhuhuhu….

 

Okelah, kalau memang susah begitu. Tapi yang membuat heran, kenapa nggak ada yang ngasih tau sih kalau jadi ibu itu ternyata susah??? Hemmm… untuk pertanyaan ini, kalau aku liat-liat ada dua kemungkinan.

 

Yang pertama, ada yang yang UDAH ngasi tau, tapi kita nggak cukup peka untuk dengerin karena di kepala kita masih sibu dengan hal lain (melahirkan, misalnyaaaaa!). Pernah baca-baca soal baby-blues sebelum melahirkan? Nah, itu orang udah ‘ngasi tau’ loh. Tapi aku dulu juga ngerasa: nggak mungkin lah aku nanti baby-blues. Itu kan hanya buat orang-orang yang nggak ada persiapan. Aku kan udah persiapan banget, udah sampe ikut konsultasi laktasi bareng suami pun! Kenyataannyaaaaaa…. Jreeeenggg…

 

Yang kedua adalah, orang-orang ‘nggak tega’, bilangnya karena wajah kita udah sumringah banget mau punya bayi. Malah kadang-kadang buat pasangan baru malah udah ngebet banget mau punya bayi begitu selesai akad nikah 😀 Kadang-kadang, aku suka mengingatkan dengan halus: “Apa nggak pengen menikmati aja dulu masa berdua dengan suami, membangun hubungan yang sehat dan kuat dulu, baru punya anak?” Sebab menurut pengalamanku, adaptasi dengan suami setelah menikah aja butuh waktu lumayan panjang. Apalagi kalau harus adaptasi dengan suami DAN bayi baru. Bisa pengsan. Tapi, yang ada aku dilihat dengan pandangan aneh dan para penganten baru ini malah menceramahi aku soal ‘bagusnya’ langsung punya bayi setelah menikah. Oh, baiklah kalau begitu, heheheh.

 

Kembali kepada persoalan semula, lalu harus bagaimana menghadapi semua ini kakaaakkk? Tentunya tidak ada formula yang jitu. Setiap orang berbeda-beda. Tapi kalau seandainya aku punya mesin waktu untuk kembali ke dua tahun lalu dan bilang kepada dinda yang dulu, aku akan bilang:

 

Dinda, tarik nafas banyak-banyak dan tetaplah tenang. Belajarlah untuk tidak langsung panik. Juga, belajarlah mengasah insting. Iya, dua hal ini harus dipelajari. Cobalah untuk tidak mikir terlalu jauh apalagi mikir aneh-aneh, ‘gimana kalau begini, gimana kalau begitu’, jalani aja sehari-sehari. One day at a time. Belajar lah dengan si bayi, juga dengan suami, bersama-sama. You’re in this together. Kalian adalah sebuah tim.

 

Selain itu, belajarlah menerima kenyataan bahwa hidupmu akan berubah. Total. Ini juga perlu dipelajari, karena sungguhlah tidak mudah. Seringnya malah denial dan pengen kembali ke ‘kehidupan lama’. Semakin cepat menerima bahwa kini ada prioritas-prioritas baru dan ada hal-hal yang harus dikorbankan, semakin baik. Dan karenanya, janganlah malu untuk meminta bantuan. Aku dulu rasanya ‘terlalu pede’ bisa melakukan semuanya sendiri. Kenyataannya, kalau aku menerima bantuan, hidupku akan jauh lebih mudah, dan orang-orang disekitarku juga merasa senang karena bisa membantu.

 

Carilah orang-orang yang bisa dipercaya untuk bisa saling berbagi. Punya teman-teman senasib yang juga punya anak kecil? Ayok buat grup. Atau, bisa ikut forum-forum ibu di grup-grup seperti babycenter. Sesama ibu baru bisa saling menguatkan dan saling curhat. Aku sendiri cukup beruntung punya teman-teman baru yang bergabung dalam sebuah grup whatsapp. Kebangun jam dua pagi karena anak mau nenen pun pasti ada ibu yang sedang online juga. Lumayan bisa ngobrol, curhat atau malah sekedar saling menertawakan, hhehehe!

 

Kalau lagi capek stress kesel pengen marah, rasanya semua masalah numpuk jadi satu, ada baiknya istirahat sebentar. Titipkan bayi sebentar kepada orang yang bisa dipercaya. Kadang-kadang, emosi yang menumpuk itu hanya karena kita capek dan butuh istirahat. Atau butuh makan enak. Setelah istirahat dan makan, baru diurai masalahnya apa. Seringnya masalah ‘besar’ ternyata adalah sekumpulan masalah ‘kecil’ yang gampang solusinya, tapi menumpuk.

 

Dan yang terakhir, menjadi ibu itu sering kali berarti melakukan ‘trial and error’. Semuanya coba-coba. Kadang-kadang malah hasilnya ‘salah’ membuat diri merasa bersalah. Atau juga dalam menjaga anak, kadang anaknya jatuh atau kenapa-napa, itu buat rasanya pengen jeduk-jedukin kepala ke dinding: kok bisa bego banget siiihhh! But it happens, all the time. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jadi ibu itu harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan diri sendiri, lalu move on, sambil berjanji untuk lebih baik lagi besok. It’s okay.

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu para ibu-ibu baru. Kalaupun tidak, aku dengan senang hati menjadi kuping untuk mendengarkan curhat kalian. Kirim saja email atau pesan di fesbuk. Aku akan senang sekali jika bisa membantu sedikit meringankan beban!

 

Selamat hari ibu, para ibu baru! You’re doing good! *tos!*

 

hari ibu