Bukan Sekadar Mainan

Dulu, aku pernah bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah aku ibu yang pelit? Kenapa aku tidak terlalu bersemangat untuk membeli berbagai macam mainan saat Malik lahir?

 

Mainan-mainan pertama Malik, hampir seluruhnya adalah hadiah dari orang saat lahiran. Paling yang dibeli sendiri bisa dihitung jari, seperti teether, jimbe dan beberapa alat musik. Tapi ya gimana? Abis anaknya dulu dikasih botol aqua kosong aja udah bahagia banget! Atau, lebih excited sama kotak pembungkus, ketimbang mainannya sendiri. Ibunya kan jadi hepi. Irit gitu loh… heheheh!

 

mainan4

Malik: loving box since 2014.

 

Selebihnya, kami justru sering bermain hal-hal yang kami temui di rumah, sesuai ‘konteks’ pada saat itu. Saat aku masak, Malik aku biarkan untuk turut memainkan wajan, panci dan sudip. Mau main beras, tepung, biji-bijian, atau sisa petikan sayuran juga bebas. Saat sedang mandi, sabun, shampoo, shaving cream bapaknya, berikut botol-botol bekas kami jadikan props untuk main. Kalau sedang jalan pagi atau main di taman sore-sore, kami mencari ranting, bunga jatuh atau daun kering untuk dimainkan. Atau, kalau ibu sedang bekerja, dia boleh bermain segala stationary, mulai dari stempel, gunting, kertas-kertas, selotip, pembolong kertas, dan sebagainya.

 

Dan sejauh ini – selama hampir lima tahun umurnya – keputusan untuk tidak menghujani Malik dengan mainan, adalah satu keputusan yang cukup aku banggakan. Aku memperhatikan, justru ia lebih kreatif mengobservasi sekelilingnya, dan menyulap apapun yang ditemui untuk dijadikan props bermain. Imajinasinya jadi lebih ‘liar’ dan kadang mengejutkan.

 

Saat kami berlibur misalnya. Ia tak perlu membawa segambreng mainan dari rumah (oh, kecuali saat dulu dia kerajingan main drum, segala jimbe wajib dibawa, hahaha!). Kalau menginap di hotel pun, kids club atau playground tak terlalu jadi prioritas. Sebab, yang pertama Malik cari adalah segala sabun, shampoo dan sikat gigi hotel yang akan dia pergunakan untuk bermain segala rupa. Sabun batangan kecil yang biasa ditemui di hotel, ia jadikan semacam frisbee untuk bermain lempar-lemparan. Dua sikat gigi ia jadikan stik drum. Sabun cair dan shampoo ia jadikan bubble dan main sambil mandi. Tray berisi gula, teh kopi dan segala pernak-perniknya juga tentu turut dijadikan mainan.

 

 

mainan3

Mainan liburan: ikutan masak di warung yang disinggahi, dan ikutan mencuci piring bersama kapten kapal yang ditumpangi 😀

 

 

Lalu, bagaimana saat Malik mulai beranjak besar dan sudah mulai mengerti mainan? Ternyata, pondasi yang telah dibangun ini juga merembet ke banyak hal. Karena mindsetnya adalah ‘apapun bisa dijadikan mainan’, ia tak pernah membabibuta saat diajak ke toko mainan. Ia bisa diajak untuk menimbang mainan mana yang pantas untuk dibeli, dan mana yang tidak.

 

Paling-paling, pernah satu kali ia merengek minta dibelikan lego. Aku memang sudah lama berniat membelikannya lego. Menurutku, lego adalah mainan yang edukatif dan bertahan sampai sangat lama. Tapi, alih-alih yang kecil, ia malah minta dibelikan sekotak besar lego yang harganya SANGAT menguras kantong. Apalagi itu pas akhir bulan, hiks. Ibunya pusing. Dibujuk sedemikian rupa, dia malah semakin keukeuh minta lego besar. Akhirnya, si ibu memberi syarat yang kelihatannya impossible: boleh beli lego sekarang, tapi karena harganya sangat mahal, hingga dia ulang tahun (sekitar 5 bulan lagi), dia tidak akan dibelikan apapun!

 

Tanpa diduga, ia menyanggupi! Waktu itu aku masih berfikir bahwa di tengah jalan ia akan menyerah. Tapi ternyata nggak loh! Yang ada, dalam rentang waktu 5 bulan itu (which i’m sure it felt like forever to a 3 year old!) setiap kami melewati toko mainan, ia hanya akan memperhatikan rak-rak mainan, menunjukkan kepadaku mainan-mainan yang menurutnya bagus, memegangnya, dan MENGEMBALIKANNYA ke rak, tanpa minta beli. Palingan hanya bilang: “Nanti kalau aku ulang tahun, aku beli ini ya Bu!”. Lalu aku akan menjawab: “Ya kamu lihat-lihat aja dulu mana yang menurut kamu bagus. Nanti kalau mau dekat-dekat ulang tahun, bisa kita pilih lagi, mana yang bisa kita beli.”

 

Dan saat ulang tahunnya tiba, kupikir ia akan berniat untuk memborong segala apa dari toko mainan. Tapi, lagi-lagi, ternyata ia oke-oke saja saat dibilang hanya boleh pilih satu mainan! *menjura pada anak sendiri!* Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa alasan yang tepat, batasan jelas dan konsistensi dalam menerapkan peraturan berdampak sangat besar bagi kemampuan Malik mengelola emosinya.

 

mainan2

 

Saat ini, Malik sedang tergila-gila dengan lego dan hotwheel. Namun, karena kami sudah yakin dengan kemampuannya untuk menahan diri, kami sangat santai membawanya ke toko mainan untuk hanya sekedar melihat-lihat dan tidak beli (walaupun kadang justru BAPAKNYA, yang jadi gemes pengen beli lego segala rupa, ahahahha!)

 

Dan belakangan, kami menggunakan mainan sebagai reward untuk Malik melakukan sesuatu yang ekstra. Misalnya, jika ia bisa menghafal satu surah pendek, maka ia akan dibelikan hotwheel. Dan saat ini, ia dengan semangat mengulang surah Al Kautsar tiap malam menjelang tidur, hihihi!

 

Intinya, aku dan Abang belajar banyak dari perihal memberikan mainan kepada Malik. Kalau boleh dirangkum, mungkin poinnya seperti ini:

 

  1. Yang terpenting sesungguhnya bukan mainannya. Tapi MENEMANINYA bermain. Meluangkan waktu untuk benar-benar bermain sepenuh hati saat bersama anak. Tidak terdistraksi dengan hal lain, tidak disambi mengerjakan hal lain. Ini sebenarnya tidak perlu seharian. Toh, anak juga butuh waktu untuk bermain sendiri. Tapi, memang harus meluangkan waktu untuk benar-benar fokus bermain bersama.

 

  1. Aku memberikan penekanan lebih pada free play. Free, yang bener-bener bebas. Membiarkan dia menentukan mau main apa dan memimpin permainan itu. Sedapat mungkin aku menghindari omongan semacam ‘mainnya tuh begini lho’. Menurutku, justru imajinasi akan berkembang jika ia diberikan kebebasan. Contohnya ya termasuk merelakan model lego yang sudah dibangun dengan susah payah, harus dibongkar dan diacak lagi, hahahaha! Atau, aku juga jarang mengajaknya membuat craft, karena cukup rentan jadi bikin ekspektasi tinggi. Kalaupun mau bikin-bikin, idenya harus datang dari Malik sendiri, dan aku berusaha menahan diri untuk tidak terlalu mencampuri prosesnya. Hanya membantu jika ia meminta.

 

  1. Bahwa anak-anak BISA dan PERLU dipercaya untuk membuat keputusan dan komitmen. Nggak mudah sih ini, butuh proses panjang, dan lagi-lagi komitmen dari orang tua. Yang pasti, aku selalu berusaha memberikan pilihan dan konsekwensinya. Sekali nggak, ya mesti tetep nggak. Dan sekali berjanji, harus ditepati. Awalnya memang susah, kadang juga nggak tega. Tapi, kalau berhasil dilakukan, ini akan jadi pondasi yang sangat berharga untuk masalah apapun kedepannya saat anak semakin besar.

 

  1. Just because you can afford it, doesn’t mean you have to buy it. Sesungguhnya kami sangat menekankan hal ini. Ujung-ujungnya, kami ingin Malik menjadi anak yang sederhana, yang bahagia dengan apa yang dimiliki. Dan jalan menuju ini masihlah sangat panjang. Orang tuanya juga masih harus banyak belajar. Tapi setidaknya, kemampuan menahan diri untuk tidak membeli/mempunyai segala hal yang dimau, adalah langkah awal yang menurut kami penting dibangun sejak usia dini.

 

Dih, ternyata urusan mainan doang bisa merembet kemana-mana ya! Jadi orang tua emang banyak seninya deh! *kretekin pinggang*

 

*Tulisan ini adalah demi ikutan #Modyarhood-nya mamamolilo dan byputy. Sungguh aku ngiler liat hadiahnya kaaakkkk….

One Response

  1. Ponari September 1st, 2018 at 4:27 pm

    Kalian orang tua yg kereen!!
    So proud of you.

Any comment?