BabyM’s Food Adventure: Bulan pertama

Tulisan soal metode Baby Led Weaning, klik di sini. Tulisan soal persiapanku, klik di sini

Hari pertama BabyM makan, aku nggak pakai persiapan khusus. Dia hanya diikutkan dalam acara makan kami. Karena kadang-kadang aku dan abang makan sendiri, sejak MPASI kami selalu berusaha makan bersama-sama supaya anaknya bisa belajar. Sedikit deg-degan sih, tapi aku memang nggak mau terlalu heboh. Intinya sih, menjaga ekspektasi aja, hihihih…

Pagi itu saat buka kulkas yang ada hanya semangka dan timun. Karena kami memang biasa sarapan buah, dua jenis makanan ini didaulat menjadi makanan pertama BabyM. Setelah dipotong-potong memanjang agar bisa dipegang, makanannya ditawarkan ke BabyM. Si Bapak sudah disuruh stand-by dengan kamera untuk merekam acara perdana ini. Apa yang terjadi? Yak. Tidak terjadi apa-apa sodara-sodara, hahahah! Makanannya hanya dipegang, diremas-remas, dipukul-pukul ke piring dan tray di kursinya, lalu dilempar atau jatuh ke lantai. Sama sekali nggak ada yang masuk mulut, hahahah!

Hari kedua juga diberi buah, karena memang buah yang selalu tersedia di rumah. Disiapkan apel, pisang, dan semangka. Tetep dong, cuma dimainin.

Hari ketiga, sarapan buahnya masih diremas. Tapi, waktu makan siang, aku menumis wortel dan tahu sutra dan menawarkannya ke BabyM. Eeehhhhh… ternyata tahunya masuk mulut! Yeeeaaaahhhh!

Hari keempat, makan malamnya sangat sukses! Aku memberikan ayam goreng bagian paha agar mudah dipegang, tomat dan selada dan BabyM memasukkan semuanya ke dalam mulut. Tidak hanya itu, dia juga sudah bisa minum dengan sippy cup, walaupun masih harus dibantu supaya airnya keluar.

Tapi ya jangan dikira dari situ langsung pinter makannya. Setiap hari, urusan makan adalah eksplorasi. Kegiatan makan, nggak jauh beda dengan main. Hari ini ada yang masuk mulut, besok hanya dipegang, diremas, dipukul-pukul, dijatuhkan, atau dilempar. Kadang bahkan tidak disentuh sama sekali, dan anaknya langsung merengek minta keluar dari high-chair. Hati pun mulai galau. Haruskan tangannya dituntun masuk mulut? Haruskan makanannya dicuil dikit dan dimasukkan ke mulut biar dia penasaran? Haduh, si buku bilang harusnya santai aja di meja makan. Tapi gimana caranya bisa santai?

Belum lagi urusan menu. Dari kiri kanan, aku diwanti-wanti untuk tidak memberikan gula dan garam sama sekali. Jadi, selama sebulan aku hanya memberikan sayur atau buah yang dikukus atau direbus. Kalaupun di tumis atau di goreng, haruslah pakai minyak zaitun dan sama sekali tidak memakai garam. Jadi ujung-ujungnya, tetap saja aku membuat makanan khusus yang terpisah dari makanan kami sehari-hari.

Untungnya, waktu cek 7 bulan sekaligus imuniasi ke dokter anak, berat badan BabyM meningkat dengan normal dan sesuai kurva pertumbuhan. Memang sih, asupan ASI-nya tidak berubah sama sekali. Kadang-kadang sebelum makan malah di nen dulu, dan sesuadah makan juga nen. Pokoknya kapanpun BabyM mau nenen, pasti selalu dikasih.

Tapi tapi tapi… kalau setiap makan caranya begini terus kan aku tetap aja galau, kakaaaak! Karena tetap bingung, akhirnya diputuskan untuk konsultasi ke dr Ratih. Dokter cantik ini adalah dokter laktasi BabyM sewaktu tongue-tie dulu. Selain di KMC, dokter ini juga buka praktek di rumahnya, untuk konsultasi khusus BLW dan lainnya. Blognya bisa dilihat di sini.

Setelah buat janji, akhirnya kami ke rumah dr. Ratih di Bintaro. Mama yang kebetulan ada di rumah juga sekalian diboyong supaya mama juga tau apa itu BLW. Begitu ketemu, langsung deh curhat panjang lebar: kenapa anaknya masih makan-gak makan? Sampai kapan harus begini? Kenapa aku jadi nggak santai? Kenapa preparasinya juga ribet?

Setelah mendengarkan semua pertanyaanku, dokter menjawab dengan panjang lebar. Dan ooooohhhhhh… dokter Ratih itu sungguhlah seperti air yang menyejukkan. Seperti kipas untuk api semangat yang mulai redup *ahahah lebaaaayyy!* Jadi, menurut penjelasan si dokter, tampaknya aku terlalu tegang (hmmpphhh!). Inti BLW adalah YAKIN pada kemampuan anak. PERCAYA bahwa dia punya insting, tau kapan harus makan dan kapan berhenti. Orang tua hanya harus SABAR mengikuti ritme dan kecepatan belajar anak. Dan belajar – apapun bentuknya – semestinya menyenangkan.

Soal menu yang bikin ribet, ternyata aku juga terlalu “takut” sama gula dan garam. Garam boleh di konsumsi bayi paling banyak 1 gram per hari. Itu sama dengan 1/5 sendok. Kalau aku masak sup untuk satu panci, paling garam-nya nggak sampai satu sendok. Nah, BabyM kan hanya makan dikit aja. Jadi nggak sampai 1 gram juga.

Sesungguhnya yang lebih dikhawatirkan adalah kalau bayi diberi makanan instan atau fast food yang kadar gula garam nggak diketahui dan cenderung banyak. Kalau makan makanan dari bahan segar dan dimasak sendiri di rumah, tentunya garam ini bisa dikontrol. Jadi, aku sebenarnya bisa masak seperti biasa dan memberikannya kepada BabyM. Selama makanannya sehari-hari mengandung karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, sayur dan buah, harusnya sih baik-baik aja.

Dan yang paling penting – kata dr Ratih – masaklah dengan penuh cinta. Aiiissshhhh…. *langsung mau pake apron dan ambil wajan saat itu juga!*

Baiklah kalau begitu! Mari kita lanjutkan petualangan kuliner ini sodara-sodara! Semangaaattt!

 

blw04 Kalau BLW, makannya harus bareng-bareng, biar anaknya bisa meniru. Sedapat mungkin makanan yang dimakan anak, sama dengan yang dimakan orang tua.

 

blw05   Yang dibawah itu adalah alas makan. Awalnya dicoba pakai koran biar gampang dibersihkan. Tapi, kalau jatuh ke koran, makanannya jadi kotor, nggak bisa diberikan lagi. Lalu dicoba pakai plastik belanjaan yang dibelah dua (biar gede), tapi masih kurang besar jadi setidaknya harus pakai dua plastik. Akhirnya ya beli karpet plastik meteran 🙂

 

blw06 Makan roti gandum sambil jemuran di taman. Kadang-kadang kami makan a la piknik di luar. Asyik juga.

 

blw07 Tadinya heboh mau belikan bib supaya makanan tidak tumpah dan ngotorin baju. Tapiiii… yang ada bib-nya malah bikin dia nggak konsen makan, dan malah jilatin bib-nya -.-“

 

blw09   Kiri: Makan melon yang dipotong panjang dan masih ada kulitnya biar pegangnya lebih gampang. Kalau nggak ada kulitnya, licin dan jatuh terus. Oh iya, kadang-kadang bajunya juga di buka waktu makan. Tapi kalau sudah makan sore kasihan juga karena dingin. Kanan: Ekspresi serius kalau sudah bisa memasukkan makanan dalam mulut. Selama ini, kalau makan di rumah, kami usahakan makan tanpa ada gangguan suara seperti dari TV. Supaya anaknya bisa lebih mudah konsentrasi dan menikmati makanannya, tidak gampang terdistraksi.

 

blw08   Kiri: Makan ayam goreng dan tomat, dan sudah pintar minum pakai sippy cup walaupun airnya lebih banyak disembur hahhaha! Kanan: Lagi bertamu ke rumah saudara, aku bawa kain bedong BabyM untuk dijadikan alas makan. Setidaknya nggak berantakan banget lah, hahahah. Kain bedong ini memang serba guna banget deeeehhh! Mulai dari jadi bedong, selimut, sorban, sampai alas makan 😀

 

2 Responses

  1. windi November 5th, 2014 at 10:21 am

    hahahahah Malik lucu kaliiiiii. Titip cium yaa naaa..
    Raffi dulu ga pernah aku kasi makanan instan. Semuanya masak sendiri. Cape sih, tapi puas. Dari buah potong, sampe jus.
    Sebelum makan nasi keras, aku bikin beras merah yang digongseng kering trus aku haluskan kayak bubuk. Jadinya itu kayak susu bubuk. Dimasak tiap dia mau makan. Encer, tapi mengenyangkan. Sehat jugaa.
    Selamat belajar makan ya Maliknyaa. Pasti seru 😉

  2. BabyM’s Food Adventure: Bulan kedua | Dindajou December 9th, 2014 at 9:02 am

    […] Tulisan sebelumnya dan link soal metode Baby Led Weaning, klik di sini […]

Any comment?