BabyM’s Food Adventure: Bulan ketiga

Tulisan soal metode BLW silahkan klik di sini. Tentang persiapannya klik di sini. Juga, pengalaman di bulan pertama dan bulan kedua.  

 

Memasuki bulan ketiga MPASI, level ke-PD-an si ibu newbie ini naik dengan drastis!

Alasannya banyak. Sebagian karena kegiatan masak-memasak sudah mulai jadi kebiasaan dan mulai bisa buat menu yang cukup disukai bayi dan bapaknya. Sebagian karena jadwal makan sudah mulai teratur. Daaann… juga karena BabyM sudah mulai konsisten memasukkan makanan ke dalam mulut! Yeeaaaahhh! Memang belum sepenuhnya dimakan (ditelan), tapi paling tidak ada yang digigit dan dikunyah walau setelah itu masih dilepeh.

Berikut ini adalah hal-hal yang aku lakukan selama bulan ini. Sedikit-banyaknya, mungkin ini bisa membuat proses makan semakin mudah bagiku, juga bagi BabyM. Mudah-mudahan membantu ibu-ibu yang juga memakai metode BLW.

 

1. Percaya sepenuhnya, nggak setengah-setengah!

Aku nggak terlalu ambil pusing lagi sama apa yang dimakan atau nggak dimakan BabyM. Aku belajar untuk percaya dengan instingnya. Dia akan makan kalau dia merasa butuh. Dan setiap hari kadarnya pasti berbeda. Mungkin hari ini makannya banyak karena dia banyak main. Tapi besoknya makannya berkurang karena memang nggak banyak aktivitas. Atau mungkin dia lagi perlu makan buah aja hari ini, dan besoknya dia pengen daging atau karbo. Mind-set seperti ini membuat aku lebih tenang.

 

2. Terus menerus ditawarkan.

Meskipun BabyM utamanya makan di meja makan dengan kami (makan sambil ngobrol biasa, tanpa ada distraksi apapun seperti TV), aku jadi tidak terlalu kecewa kalau dia tidak mau makan. Tapi, diluar jam makan di meja itu, aku selalu menawarkan makanan. Kalau udah lihat dia mulai gigit-gigit mainannya, aku akan dengan sigap menawarkan makanan. Ya karbo, ya protein, ya buah. Mau, ya syukur. Nggak mau, ya balik ke poin pertama 😀

 

3. Tawarkan satu-satu.

Dulu, aku selalu memberikan macam-macam makanan di hadapan BabyM dan membiarkan dia memilih sendiri mau makan yang mana. Tapi sekarang aku ubah caranya. Aku menawarkan satu-satu makanannya. Misalnya, kalau masak sup. Daripada meletakkan mangkuk berisi sup di hadapannya, aku akan tawarkan kentang dulu. Kalau dia mau, dia akan makan. Kalau nggak mau, aku akan tawarkan wortel. Lalu daging. Lalu buncis. Lalu kuahnya. Ini membuat BabyM lebih konsentrasi ke satu makanan, daripada bingung mau makan apa kalo banyak macam di hadapannya. Sejauh ini cukup berhasil.

 

4. Makan adalah hal biasa, nggak perlu overreacting.

Sebagaimanapun hati bahagia berbunga-bunga kalau makanannya masuk mulut dan dimakan, aku tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan. Nggak heboh langsung memuji “Waaaa makannya pintar”, paling hanya senyum dan bilang “Enak ya? Rasanya apa? Manis? Gurih? Mau lagi?”, sambil menawarkan satu potong lagi. Sebaliknya, kalau dia tidak mau makanan yang aku tawarkan, seberapapun khawatirnya, aku akan juga tetap tersenyum dan bilang “Belum lapar ya? Mau main dulu? Boleh kok”, sambil mengangkatnya dari high-chair, dan membiarkannya main.

 

5. Berusaha untuk tidak memberi label.

BabyM sering menolak nasi. Entah bentuknya nasi kepal plain. Nasi kepal dioles butter atau kuah sayur. Nasi kepal diisi macam-macam. Bahkan Sushi. Sampai sekarang dia masih sering menolak. Ini membuatku sering keceplosan bilang “Malik nggak suka nasi nih!” Agak susah menghentikan kebiasaan ini, tapi Alhamdulillah pelan-pelan mulai berkurang kok. Untuk itu aku merubah mindset. Mungkin BELUM suka nasi, jadi ya terus ditawarkan. Atau, memangnya harus nasi? BabyM dengan bahagia menyantap kentang, roti atau pasta untuk asupan karbo. Jadi nggak ada masalah! Nggak usah dibikin repot! Melabeli anak sama aja dengan menanamkan pikiran negatif, kan? Bisa aja dia ternyata suka, tapi keburu diberi label, jadi nggak suka.

 

6. Anak juga punya selera seperti orang dewasa.

Dulu kalau lihat BabyM suka dengan satu jenis makanan, aku akan kasih itu terus supaya dia makannya banyak. Tapi sekarang sih udah nggak begitu. Sebagian karena merasa ya buat apa juga makan banyak? Yang penting kan cukup. Tapi sebagian besar ya karena aku beranggapan BabyM juga seorang individu yg punya kemauan dan selera. Jadi ya mungkin hari ini pengennya makan A, tapi besok makan B. Bukan berarti nggak suka, tapi lagi nggak pengen aja.

 

7. ASI tetap yang utama sampai satu tahun!

Aku tetap berpegang teguh pada kata PENDAMPING di MPASI. Makanan hanyalah pendamping, yang utama tetaplah ASI. Jadi kalaupun dia makan-nggak makan, yang penting ASI-nya tetep jalan, tetap diberikan kapanpun dia mau. Ada yang bilang berikan ASI-nya agak jauh sebelum makan biar makannya banyak. Tapi untuk BabyM itu nggak berlaku. Kadang kalau dia cranky, aku sering kasih ASI sebelum makan, dan itu tidak berpengaruh sama sedikit-banyaknya makan. Atau, meskipun sudah makan cukup banyak, BabyM juga tetap bangun malam beberapa kali untuk nenen. Kadang, selepas makan banyak, dia juga masih minta nenen. Jadi, untuk saat ini, ASI tetap yang utama.

 

Jaaadiiiiii…. Kalau melihat progres tiga bulan belakangan, sebenarnya kegalauanku sebelumnya itu tak berdasar. Yang terjadi adalah PROSES BELAJAR makan. Setelah melewati perenungan panjang, kesimpulannya: makan itu adalah skill, butuh waktu untuk mempelajarinya. Ya makanya wajar aja di bulan pertama dan kedua BabyM masih ogah-ogahan begitu.

Pernah denger banget kan orang-orang bilang “sabar ya”. Atau “biarkan berproses”. Kalo baca segala buku pun bilangnya begitu. Bukannya nggak tau kalo jadi orang tua harus sabar dan menghargai proses anak. Tapiiiii… KENYATAANNYA itu kan nggak semudah ngomong doang ya kakaaaakkkk! Jadi harap maklum lah kalo pake galau-galau sedikit. Kalo lancar-lancar aja, kurang seru ah! Dan buat para ibu yang pake metode BLW ini: ayoooohhhh semangaaaatttt! Galau dan khawatir dikit nggak apa-apa, yang penting tetap konsisten yaaaaa! Insya Allah bisa!

 

 

blw301Makanannya ditawarin satu-satu, langsung di masukin mulut!

 

blw302Pakai metode BLW, kalau sedang berpergian dan harus makan di luar jadi lebih santai. BabyM makan apa aja, steak juga 😀 Cuma kalau di restoran, harus sering tebar-tebar senyum dengan waiter soalnya lumayan berantakan, heheheh. Tapi aku jamin deh, para waiter juga gemes liat bayi makan sendiri begini 😀 *Apalagi kalo diselipin uang tips lebih banyak, hahaha!*

 

6 Responses

  1. fina April 30th, 2015 at 4:16 pm

    Halo. Salam kenal ya mbak dinda. Aku nemu blognya mbak waktu lagi googling ttg BLW. Kebetulan pernah denger dokter ratih yang di KMC juga waktu dulu anak aku insisi tongue tie.

    Mau nanya2 dan sharing boleh ya mbak? Hehe. Sekarang Malik gimana BLW nya udah jagokah?

    Anak aku, azka umurnya 8 bulan. Pengenalan mpasi nya bisa dibilang agak kacau (hiks). Diawali dengan spoonfeeding..awal2nya dia mau..berjalan seminggu kok jadi ogah2an. Nah berhubung beratnya dia ini mungil tetep aku paksain lah makan (digendong, ditipu pake mainan, diselipin di mulutnya, dll) berjalan sekitar sebulanan, yang ternyataa bikin dia trauma makan ..huhu nyeselnya banget2. Tambah nolak sendok dan udah bisa ngelepeh makanan. Akhirnya di umur 7.5 bulan aku mutusin mau full BLW dan berusaha gak terlalu stres dalam urusan MPASI2an ini (seperti yang mbak tulis di atas, hehe).

    Nah..kurang lebih berjalan 2 mingguan kasusnya masih mirip malik yang mbak email ke dr.ratih. Yang dimakan masi dikiiit banget dan yang dibuang (ke perut ibunya) banyak banget..hehe. Aku kepikiran mau konsul ke dr.ratih soalnya masih sering galau..haha. boleh sharing ngga mba..kalo perkembangan nya malik gimana? Makasih yaa sebelumnya.

  2. dindajou April 30th, 2015 at 8:33 pm

    Hai Fina! Awalnya ya emang galau yah hahahah. Tapi, kayaknya memang gitu kok prosesnya. Proses mempercayai anak itu emang gak mudah, hehehe. Dikit-dikit khawatir gapapa lah. Itu tandanya kita kan pengen yang terbaik buat anak. Tapi nggak usah khawatir berlebihan. Tarik napas, santai, coba lagi makanan lain, hahahahha. Masih 8 bulan kan? Dia masih belajar makan tuh. Lagian sampe 1 tahun utamanya masih ASI kok. Malik sampe satu tahun baru dia lumayan konsisten makan.

    Sekarang Malik (15bulan) makannya udah lumayan advance. Tapi ya gitu deh, suka bikin gemes juga kadang (ibunya sih yang gemes, padahal anaknya mah santey ajah!) Kayak kemaren, sarapan oats+parutan apel+madu+kayu manis, maunya cuma dua suap, trus baru mau makan lagi sore, “cuma” makan anggur meskipun lumayan banyak. Lah hari ini, sarapannya melon lumayan banyak. trus jam 10 aku goreng kentang, habis banyak (sampe hampir separoh kentang besar), trus siang masih mau kentang. dikasi pastel, mangap juga. Sorenya disuapin bihun sama telur eh mangap. Trus Malah minta nasi+gulai kentang makanan anak tetangga 😀

    Jadi, kalo dia emang lagi gak mau/nggak laper, dikasi makan apapun ya nolak. Tapi kalo laper, ya dia akan minta. Dan aku sendiri juga gak anti nyuapin sih. Kadnag-kadang aku suapin pake sendok kalo makan sore sambil main di taman. Tapi aku tetap nggak memaksa. kalo dia mangap, baru aku suapin. Kalo emang hanya mau dua suap, ya sutralah 😀

    At the end of the day, aku kok merasa BLW bukan hanya sekedar metode ngasih makan yah. Tapi itu adalah parenting: gimana cara mempercayai naluri anak. Bagaimana jadi orang tua yang tidak memaksakan kehendak. yaaaa… gitu deehhh hahahaha! Mudah-mudahan membantu yaaaa. Cium buat Azka!

  3. fina May 1st, 2015 at 9:35 pm

    Makasi sharingnya yaa mbak dinda *peluk*

    Iya ya…emanglah ibu ibu ini mesti ngumpulin stok sabar sekarung. Ahaha. Sebenernya kalo dicermatin baik2 Azka 3 minggu BLWan berprogress sih, dari yang awalnya hampir semua makanan cuma dimainin, sekarang hampir semua dicobain dulu masuk mulut. Tapiii ibunya ekspektasi ketinggian melulu..maunya liat anaknya udah mulai kunyah2 dan nelen :p

    Yang bikin galaunya sering muncul sebenernya karna azka cenderung mungil mbak, soalnya dulu tongue tienya telat ketauannya, baru ketauan pas umur 5 bulan, gara2 beratnya stagnan dari umur 4 bulan. Jadii setelah diinsisi berharap banget MPASI bisa jadi sarana tambahan untuk booster BB nya..eh ternyata anaknya nggak mau makan, patah hati lah ibunya..hehehe. Jadi curhat kemana mana.

    Wih hebat yaa Malik makin pinter makannya. Doain adek azka tambah pinter juga yah. Cium balik untuk tante dan kakak Malik dari Azka :*

  4. dindajou May 14th, 2015 at 10:43 am

    Fina, memang BB anak tuh suka bikin deg-deg ser yah hehehe. Sejak umur 9 bulan pun berat malik seret bgt naiknya. padahal sebelumnya di persentil atas. Tapi secara fisik anaknya kelihatan sehat segar dan aktif, jadi yaahh… aku mikirnya emang ada anak yang langsing ada yang chubby, asal sehat ya udah lah yah 😀 Mudah-mudahan makannya udah nambah ya azka :-*

  5. Renike July 30th, 2016 at 3:27 pm

    Mom Dinda baby M kan tdnya tongue tie ya?? Setelah ditindak,sekarang BLWnya tdk ada kendala apa2 ya? aku pernah baca kalo bayi yg ada kelainan tongue tie akan ksulitan makan trmasuk Ber BLW

  6. dindajou October 5th, 2016 at 6:11 pm

    @renike ya ampun, maaf balesnya telat amat 😀 ahamdulillah ini nggak kenapa-kenapa kok. BLW lanca jaya dan anaknya udah makan biasa. walaupun sekarang udah tau ‘lebih enak’ kalo disuapin karena dia bisa sambil main… hih!

Any comment?