Astaga, Anakku Memukul Temannya!

Kemarin Malik pulang ke rumah sambil menangis tersedu-sedu. Katanya, temannya – sebut saja A – nakal, tidak mau mengembalikan pedang-pedangan kayu Malik yang dipinjam. Saat aku berusaha menenangkannya, dua orang temannya, termasuk si A, datang menghampiri. Tapi, mereka tidak hanya datang untuk mengembalikan pedang. Dengan dramatis, mereka melaporkan kejadian barusan: Malik memukul temannya yang lain – si B – sampai bibir dan gusinya berdarah! Tak tanggung-tanggung, Malik memukul dengan roller cat kecil (yang terbuat dari besi), yang saat itu memang sedang dia pegang! Astaga….

 

Malik memang sering memainkan roller cat itu. Ia menggunakannya untuk pura-pura mengecat, untuk main pedang-pedangan, main pukul bola, macam-macam. Begitupun, ia juga sudah paham kalau roller cat itu keras dan harus dimainkan dengan berhati-hati. Jadi, saat mendengar Malik memukul – apalagi dengan alat seperti itu – terdengar sangat tidak masuk akal buatku. Lagipula, tadi bukannya dia marah dengan si A? Kenapa yang dipukul malah si B?

 

Ditengah kepanikan, aku berusaha bertanya kepadanya apa benar dia memukul si B. Tapi, dia malah diam, sepertinya bingung dan takut. Kedua temannya yang datang juga tidak memberikan penjelasan yang bisa aku mengerti, ya namanya juga penjelasan anak-anak. Setengah memaksa, aku mengajak Malik ke rumah si B yang hanya berbeda satu blok dari rumah kami. Biasanya kalau dia salah, dia akan menurut. Tapi kok ya malah dia terus diam dan nggak mau beranjak sedikitpun. Akhirnya aku menyuruh dia tinggal di rumah dan tidak kemana-mana, dan aku langsung pergi ke rumah si B dengan perasaan khawatir luar biasa.

 

Di rumah si B, ibunya – yang juga kukenal sejak kami pindah kemari dan anak-anaknya juga sering main kerumah – menyambutku dengan marah! Dia memanggil anaknya dan memperlihatkan bibir yang kena roller cat itu. Di sudut kiri bibir bawahnya ada robek sedikit dan gusinya juga cowel. Aku gemetar dan memeluk si anak dan bertanya apa masih sakit. Dia mengangguk sambil terus menempelkan es batu ke lukanya. Syukurnya, darahnya sudah tak keluar lagi.

 

Aku meminta maaf dan bertanya apa yang bisa aku lakukan. Tapi ibunya masih terlalu panik dan marah, dengan suara tinggi bilang, “Tolong jaga anaknya yang bener dong!” Jantungku berdebar kencang, rasanya ingin menangis. Aku menyarankan untuk pergi ke dokter, tapi dia bilang tidak perlu. Lalu aku ingat, di rumah ada minyak yang lumayan mujarab untuk luka. Aku bilang aku akan ambil sebentar ke rumah, mudah-mudahan bisa lekas sembuh. Ibunya bilang besok si B ada performance sekolah dan harus tampil. “Bagaimana ini mau tampil bibirnya jontor begini?”. Sejujurnya, aku pikir luka itu tidak akan jadi masalah untuk performance. Tapi ya namanya orang sedang panik dan marah, ya nggak mungkin dibantah.

 

Akhirnya aku pulang sebentar untuk mengambil minyak. Aku marah sekali dengan Malik. Sampai di rumah, aku bilang sama Malik kalau si B bibirnya luka dan berdarah. Aku mengingatkan dia soal bibirnya yang dulu juga pernah sobek dan berdarah karena jatuh. “Kamu tahu itu sakit sekali kan?” kataku ke Malik. Dia diam, tapi terlihat sudah mengerti. “Sekarang kita pergi ke rumah si B dan kamu bawakan minyak ini untuk dia supaya dia lekas sembuh. Mengerti?” Dia mengangguk dan kami pergi bersama.

 

Kami menemukan si B dan ibunya di rumah si A yang hanya berselang tiga rumah. Malik lalu mendekati ibunya B dan dengan sopan meminta maaf sembari menyerahkan minyak. “Ini untuk B, supaya cepat sembuh,” katanya terbata. Syukurnya, ibunya sudah ‘kembali normal’, tak lagi marah dan panik seperti sebelumnya. Dia lalu memeluk Malik dan bilang bahwa lain kali Malik tidak boleh begitu. Malik lalu mendekati si B yang juga sudah tidak marah. “Maaf ya. Aku tidak sengaja pukul kamu. Mana yang sakit?” tanya Malik. Si B menunjukkan lukanya. “Aku bawa minyak supaya kamu cepat sembuh. Aku janji besok-besok aku tidak begitu lagi,” katanya.

 

Walaupun sudah saling memaafkan, tetap saja kejadian ini membuat aku sungguh tidak tenang. Saat anak kamu memukul temannya, kamu akan dengan serta merta mempertanyakan kapasitasmu sebagai orang tua. What did i do wrong? Aku jadi meragukan banyak keputusan yang aku buat. Mungkin Malik memang tidak sengaja seperti yang dia katakan. Tapi belakangan ini menurutku Malik memang lebih agresif. Tidak pernah sampai memukul, tapi setiap kesal dia akan berkata-kata dengan ekstrem, misalnya “Malik marah sekali, Malik mau pukul dia sampai berdarah!” Jadi aku rasa memang ada sesuatu yang harus dievaluasi.

 

Sekarang aku ‘menghukum’ dia untuk tidak main keluar sampai beberapa waktu. Aku jelaskan padanya kalau aku sangat khawatir dia tidak bisa mengontrol amarahnya. Aku juga jelaskan, hukuman akan berakhir kalau dia sudah bisa menunjukkan kepadaku kalau dia sudah bisa berlaku baik dan tidak langsung marah-marah ke teman-temannya. Selain itu, aku juga meminta pengertiannya untuk tidak lagi menonton film superhero kesukaannya (yang lumayan banyak adegan berantemnya). Syukurnya dia bisa mengerti, dan (sepertinya) dia tahu kalau dia salah. Aku juga bilang kalau besok (maksudnya hari ini), Malik harus menjenguk si B dan menanyakan kabarnya. Entahlah keputusan ini benar atau tidak, tapi rasanya aku harus berbuat sesuatu.

 

Siang tadi, kami ke supermarket untuk berbelanja sesuatu yang bisa diberikan untuk menjenguk si B. Malik sempat mengusulkan untuk beli mainan, tapi aku menjelaskan, biasanya menjenguk orang sakit itu diberikan buah yang banyak vitamin, supaya lekas sembuh. Akhirnya dia memilih sendiri buahnya. Dia membelikan apel, pear, jeruk dan anggur, semua buah kesukaannya. Kami membungkusnya bersama dan membuatkan kartu. Dia mengarang kata-katanya sendiri dan menuliskan namanya sendiri, walau belepotan. Setidaknya, itu menunjukkan kalau dia memang bertanggung jawab.

Buah

Sayangnya, saat kami ke rumah si B, mereka belum pulang. Jadi, hadiahnya kami letakkan di teras. Dan lepas magrib tadi, si B dan ibunya ternyata datang ke rumah untuk berterima kasih atas hadiah Malik. Kami ngobrol cukup lama. Dia meminta maaf karena sempat marah dan panik. Aku bilang, aku paham dan maklum. Orang tua manapun pasti marah kalau anaknya begitu. Aku juga minta maaf dan menjelaskan kepadanya langkah-langkah yang sudah aku lakukan ke Malik. Dan saat mereka pamit, kami berpelukan. Sungguh, aku merasa jauh lebih lega. Meskipun masih ada PR yang harus dikerjakan, tapi setidaknya satu masalah terselesaikan.

 

Segininya ya, jadi orangtua…

 

Ada yang pernah begini juga? What did you do?

Any comment?