ASI is not easy… (Part2)

*Part 1 bisa dibaca di sini*

 

Sebulan lebih berlalu dan kelecetan puting masih belum mereda. Lalu, si Abang pun harus berangkat balik kerja. Alahmaakk… berpisah selama enam minggu? Siapa yang akan memijitiku di kala capek? Siapa yang akan menyuapiku kalau aku nggak sempat makan karena harus jagain anak? Siapa yang akan jadi bahu tempat menangis kalau hari-hari terasa berat? Mama sih masih di rumah menemani, tapi kan tapi kaaaannn…. Ya sudahlah. Tarik napas dan ikhlaskan. Suami harus bekerja jauh, mbok ya jangan dibebani dengan kecengengan.

Dua hari ditinggal si abang, aku baik-baik saja. Tapi, rasanya kok ada sesuatu yang aneh dengan nenen kananku. Rasanya mengeras dan penuh, seperti ASI-nya tidak keluar. Padahal, aku menyusui seperti biasa, tidak ada yang berubah. Aduh, ini kenapa lagi siiiiikkkkk!

Karena lecet yang masih sakit dan khawatir si tongue tie balik lagi, plus nenen kanan yang keras, aku balik ke dokter laktasi. Tongue tie ternyata balik tapi sedikiiiittt, sepertinya tidak signifikan untuk membuat sakit. Dokter Laktasi bilang, puting memang sangat sangat sensitif, jadi ya sabar aja dulu. Mudah-mudahan lekas sembuh dan tidak sakit lagi.

Lalu, ada apa dengan nenen kanannya yang mengeras? Dokter bilang, ada penyumbatan saluran ASI. Hormon yang memproduksi ASI (prolaktin) kan berbebeda dengan hormon yang mendistribusikan ASI (oksitoksin). Nah, yang terjadi sekarang adalah si prolaktin terus berproduksi, tapi oksitoksinnya ngambek kerja. Jadi asi terus ada, tapi nggak keluar maksimal. Untungnya belum sampai meradang atau yang dikenal dengan mastitis.

Lantas penyebabnya apa ya? Dokter bertanya, apa menyusu hanya di satu nenen? Apa ada kebiasaan menyusu yang berbeda? Rasanya sih nggak ya. Hmmm… kenapa ya? Lalu kami ngobrol ini itu sambil cari-cari penyebabnya, sampai akhirnya dokter bertanya: ini Bapaknya kemana, biasanya ikut? Aku jawablah si Bapak sudah pergi kerja blablabla…

Yak. Betul! Ternyataaaaaa… ini dia masalahnya. Oksitoksin itu adalah hormon cinta, hormon bahagia. Ada perubahan emosi yang membuat sedih sedikit aja, bisa berpengaruh pada produksinya. Jadi, sepertinya, walaupun berusaha mengihkhlaskan si Abang untuk kerja, badan ini berkata lain, huhuhu. Dokter pun menyuntikkan hormon oksitoksin ini ke lenganku. Aku harus disuntik tiga hari berturut-turut, sambil terus memberi ASI langsung, agar nenen kembali normal. Sambil senyum dokter berpesan kalau aku harus “belajar” menetralisir emosi. Kalo nggak, bisa sering-sering mampet. Ehmmmmm….

Selesai? Yahhh…. Nggak juga sih 😀 Urusan memberikan ASI Eksklusif itu kayaknya selalu ada drama deh. Yang pasti, segala sakit-lecet-perih itu memang harus ditelan saja sampai kebal. Beberapa ibu butuh waktu sebentar, tapi aku butuh empat bulan sampai tidak merasakan sakit-lecet-perih sama sekali. Sementara itu, aku juga terus belajar untuk menetralisir emosi (ya secara kalo berantem sama si abang, ini nenen langsung keras! Hih!)

Dukungan dari suami sangat penting untuk bisa memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Para suami, tolong istrinya dibahagiakan yah! Happy wife, happy life pokoknya! Dukungan dari orang-orang terdekat untuk membantu dan membuat suasana hati selalu senang juga perlu. Dan jika bisa, carilah support grup yang berisi para mahmud, alias mamah muda, untuk saling berbagi pengalaman dan saling menguatkan hati *dadah-dadah para Mahmud kece tersayang di grup WA*

Pokoknya apa aja lah. Anything to get you through the first 6 months, before another epic battle: memberi makan anak. Aaakkkkk…..

Begitupun, rasanya legaaaaaaaa dan bersyukuuuuuuur bisa lulus ASI Eksklusif 6 bulan. Ini sama sekali nggak mudah, tapi imbalannya luar biasa. Melihat BabyM tumbuh sehat, akfif, hampir nggak pernah sakit, membuat semua capek hilang. Dengan ini, aku dengan resmi ingin menyelamati diri sendiri.

Selamat ya Din, you’re doing great. Keep doing what you’re doing and always, ALWAYS have faith in yourself, AND your baby. God will take care everything. Aamiin.

Salam kompak buat para mahmud yang sedang berjuang memberikan ASI Eksklusif dimanapun kalian berada. Kalau aku bisa, kalian juga bisa! Peluuuukkk! Aku persembahkan sebuah lagu untuk menyemangati kalian para mahmud perkasa! Rawr!

7 Responses

  1. ASI is not easy… (part 1) | Dindajou August 21st, 2014 at 10:09 am

    […] *lanjutannya bisa dilihat di sini* […]

  2. and.i.try August 25th, 2014 at 3:29 pm

    oalaaaa baru paham kalau ternyata hormonnya beda ya… tunjukin suami aaaah…
    Semangat ASIX! *tossnenen*

  3. Novi September 10th, 2014 at 5:20 pm

    Din… aku ngilu baca perjuangan ASIXmu tapi memang every mother has her own battle ya. Dulu aku sempet nenennya mendlep dan stress trus kejar-kejaran mompa karena stok menipis ealah sekarang setelah 3 tahun mau mengulang lagi perASIan 😀

  4. dindajou September 11th, 2014 at 2:02 pm

    betul! every mother has her own battle indeed!
    Tapi kalo disuruh ulang lagi, banyak juga yang tetep mau, ahahahah. Worth the fight soalnya yaaa

  5. Pretty November 29th, 2014 at 9:11 pm

    Bunda, anak saya Waktu 1bulan juga tounge tie, sudah insisi. Puting saya juga smp berdarah Dan terkelupas. Tapi stelah insisi, masi luka Terus, padahal kata KL latch on uda bener.
    Krena kmarin uda ga tahan, cek lg trnyata ada lip tie. Tp usia anak saya skr sudah 3bulan, jd insisi harus ke dr bedah mulut.
    Masi aman ga ya di usia gini utk insisi? Ada saran ke dr/rs mana bun?

    Thanks bunda

  6. dindajou December 1st, 2014 at 10:49 am

    Hai2, kemaren aku ke Kemang Medical Care, di Jalan Ampera. Dengan konselor laktasi dr Ratih (web beliau di http://www.menjadiibu.com, bisa juga langsung ke rumahnya di Bintaro). Terus terang aku nggak tau secara medis bagaimana. Mungkin bisa langsung ke beliau kali ya. Mudah-mudahan membantu ya bu. Mudah-mudahan juga baby dan ibu-nya lekas bisa menikmati senangnyan menyusui.

  7. Rachma February 17th, 2015 at 12:10 pm

    Selamat ya Bun buat perjuangannya di per-ASIA-an…hehehe…
    Bersyukur Bun krna BabyM ketauan ada tongue and Lip tie dr baby…aku baru yakin anakky upper lip tie pas setaun….karna sebelumnya gak yakin..abis bibirnya bentuknya sama kyk Papa dan Bude PakDe nya…

Any comment?