ASI is not easy… (part 1)

Alhamdulillah BabyM baru aja lulus ASI Eksklusif 6 bulan. Sekarang sudah mulai belajar makan. Ah… Betapa waktu cepat berlalu.

Eh, cepat? Ngggg… Situ sih mikir cepat. Sini? Beuuhhh… Kayaknya nggak cepat-cepat amat deeehh. Perjalanan itu panjaaaaaang dan terasa lamaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Bwahahahhah!

Sebelum BabyM lahir, aku memang sudah terpapar (atau memaparkan diri lebih tepatnya) kepada isu ASI eksklusif. Walaupun nggak terlalu riset-riset amat, tapi intinya aku tau ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Gratis pula kan ya. Dan sepertinya, ibu melahirkan kemudian menyusui terasa sangat alami. Aku juga tidak berniat kerja (males ini mah!), jadi nggak ada alasan untuk tidak memberikan ASI.

Waktu usia kadungan 7 bulan lewat, aku dan abang bahkan sempat konsul ke dokter laktasi. Kami diajarin hal-hal yang lebih teknis. Apa dan bagaimana itu ASI. Bagaimana posisi menyusui. Bagaimana cara perlekatan atau latch-on. Bahwa ibu menyusui harus happy dan tidak stress karena mood ibu sangat berpengaruh pada lancarnya ASI. Bahwa bapak berperan besar untuk membantu si ibu. Bahwa akan ada berbagai tantangan, dari lingkungan, mungkin bahkan dari ibu atau mertua yang akan menyuruh memberi makan kepada bayi. Kami diajarkan cara2 “menangkalnya”, termasuk mengajak ibu/mertua ke kelas laktasi (biasanya kalau dokter yang menjelaskan lebih diterima). Untuk yang terakhir ini, berkat “kampanye” soal pentingnya ASI ke si mama setelah dari dokter laktasi, si mama nggak terlalu cerewet.

Saat lahir juga kami sangat beruntung. Inisiasi menyusui dini sampai dua jam lamanya. Saat pertama menyusui juga sepertinya BabyM tidak kesulitan. Semua berjalan lancar bak cerita di film-film.

… sampai seminggu setelah lahir: ini nenen kok sakit banget yah?

Aku tanya ke semua orang tapi semua bilang: ya awal-awal memang sakit. Ya sudah lah ditahan aja. Sempat dikasi salep sama dokter anak, tapi tetep nggak membaik. Puting lecet, luka, berdarah, oh mai gat. Sakitnya sampe ubun-ubun. Tiap menyusu jadi ketakutan sendiri.

Sebagai ibu newbie, tentunya yang pertama disalahkan adalah diri sendiri. Apa emang kurang “tabah”? Apa sok manja aja, gini doang sakit? Yang lain kok kayaknya gampang-gampang aja? Apa cara latch-on nya salah? Dan gong-nya: apa emang nggak becus jadi ibu?

Ditambah tamu-tamu yang dateng nggak berhenti, anak yang kayaknya nangis melulu, plus badan rasanya remuk redam, stress pun muncul tanpa ketuk pintu. Untungnya ASI mengalir dengan deras meskipun kedua puting sakitnya luar biasa. Untung juga punya suami yang baik banget dan menolong dengan berbagai cara.

Hari ke-10, aku sungguh tak tahan lagi. Kami memutuskan untuk beli pompa. ASI di pompa saja, supaya putingnya bisa sembuh dulu. Tapiiii… ternyata anakku minumnya gila-gilaan. Pompa dapet 120ml, dia minum 150ml! Hasil pompa kejar-kejaranan sama nafsu menyusu BabyM. Ujung-ujungnya, nggak tega liat anak nangis kelaparan. Yasudah, nenen langsung lagi. Gantian aku yang nangis karena kesakitan.

Akhirnya aku lempar handuk. Terserah kalau dibilang manja atau nggak tahan sakit. Ayo kita ke dokter laktasi meminta pertanggung jawaban! Katanya ASI menyenangkan? HUH!

Sampai di dokter (dadah-dadah dr Ratih di KMC), curhatnya sampe nangis-nangis. Nggak cuma soal ASI dan puting sakit, semua yang tertahan di hati ini langsung keluar: termasuk merasa nggak becus jadi ibu. Kayak bendungan jebol, air mata mengalir deras.

Setelah diperiksa, ternyataaaaaaaa… BabyM punya tongue tie dengan grade 4. Ada jaringan dibawah lidah yang membuat lidahnya tidak dapat bergerak dengan baik saat menyusui. Tidak hanya itu… BabyM juga punya upper lip tie dengan grade 3-4. Intinya, ada jaringan yang melekat antara gusi dan bibir atas, sehingga menahan bibir atas untuk  monyong dengan sempurna sebagaimana harusnya bayi latch-on. Lip tie ini membuat bibir atasnya sampai lecet yang berbentuk noda kehitaman di tengah bibir atasnya. Pada beberapa kasus, tongue tie dan lip tie ini membuat bayi kesulitan menyusu sehingga berat bayi rendah. Pada kasus lain, bayinya bisa menyusu dan berat badan bagus, tapi si ibu yang kesakitan. Bisa jadi keduanya.

Karena sakitnya sudah luar biasa, dokter menyararankan untuk segera mengambil tindakan. Jaringan itu harus diinsisi, alias dipotong. Mendengar kata “dipotong” sekujur tubuh ini langsung lemas. Anakku mau diapain lagi ini….

Dokter laktasi langsung menghubungi dokter anak yang praktek saat itu juga. Ia juga menjelaskan bahwa proses insisi ini sangat cepat. Jaringan bawah lidah hanya punya sedikit pembuluh darah dan tidak sakit. Tapi, jaringan bibir atas akan mengeluarkan lebih banyak darah namun akan segera mereda karena anak akan langsung menyusu.

Di kamar praktek dokter anak, aku sudah gemetar dan keringat dingin. Si Abang mendengarkan penjelasan yang lebih rinci soal tongue tie dan lip tie dari dokter, tapi aku udah sulit mencerna. Aku hanya bisa pelukin BabyM yang nangis, sambil pengen ikutan nangis.

Lalu BabyM diserahkan ke dokter untuk langsung tindakan. Aku disuruh menyiapkan nenen, sehingga BabyM bisa langsung menyusu setelah dipotong, jadinya aku dudu di sofa. Bagus deh, aku pasti pingsan kalau harus liat. Aku biarkan si Abang ikut memegangi BabyM.

 

tt

Dokter sedang melakukan tindakan insisi :_(

 

Prosesnya cepat, tapi tetap aja terasa lama. Tongue tie dipotong duluan, paling hanya dua detik, dan BabyM nangis. Ini membuat pemotongan lip tie jadi agak repot karena BabyM udah mulai meronta. Setelah dipotong keduanya, BabyM langsung diserahkan ke aku untuk disusui. Maakkk… mulutnya berlumuran darah! Aku langsung menyusui, tapi kepalaku langsung pening, berkunang-kunang. Badanku gemetar, lemas, terasa dingin dan pandangan gelap. Aku berusaha bernafas teratur menjaga kesadaran. Si Abang memberiku minum dan tangis BabyM berangsur mereda. Perlahan, aku normal lagi. Fiuuhhhh….

Setelah tindakan itu, kami kembali ke dokter laktasi untuk diajarkan cara memijat wajah dan mulut bayi agar si jaringan tidak muncul lagi. Ini penting, karena bayi sedang bertumbuh pesat, sehingga kalau tidak dipijat, jaringannya bisa tumbuh lagi. Aku juga diberi salep antibiotik untuk puting yang sudah terluka. Yang pasti, BabyM harus terus disusui langsung, agar dia terus belajar. Nenennya masih sakit, tapi tidak sesakit sebelumnya. Sakit ini pastinya karena luka yang masih ada.

Apakah masalah per-ASI-an selesai sampai disitu? Oohhh… tentu tidaaaaak 😀

Tunggu lanjutannya aja ya, udah panjang 😀

 

*lanjutannya bisa dilihat di sini*

12 Responses

  1. atta August 15th, 2014 at 8:42 am

    hola dinda. semoga terus diberikan sehat dan kelancaran ya 🙂

  2. dindajou August 15th, 2014 at 11:18 am

    attaaaa… makasih yaaa :-* Aamiiin!

  3. ASI is not easy… (Part2) | Dindajou August 19th, 2014 at 9:02 am

    […] *Part 1 bisa dibaca di sini* […]

  4. Devi August 21st, 2014 at 11:49 am

    Ha ha ha… Mau ketawa aja baca blogmu ni na.. Mgkn krna ingat dlu dikau tomboynya minta ampiiiuuuun jd rasanya mau blg,”akhirnya tau rasakan jd omak2″ Tp gmnapun kisahnya kereen kok,kan g smua org merasakan hal sama. Selamat menuai pahala disetiap detik membersamai baby M.. Miss u mmmmuuuaahhhh

  5. […] Karena tetap bingung, akhirnya diputuskan untuk konsultasi ke dr Ratih. Dokter cantik ini adalah dokter laktasi BabyM sewaktu tongue-tie dulu. Selain di KMC, dokter ini juga buka praktek di rumahnya, untuk konsultasi khusus BLW dan lainnya. […]

  6. anggun May 13th, 2015 at 8:39 am

    mba mau tanya domisili dmn n wktu dlu k laktasi & dsa mana ? kbtulan anak saya lip tie bb nya ssh naik,

  7. dindajou May 14th, 2015 at 10:41 am

    Hai anggun! Dulu saya konseling ke klinik laktasi di Kemang Medical Care (KMC), di Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Konselor Laktasinya dengan Dr ratih (bisa kontak juga ke rumahnya di bintaro atau cek websitenya di http://www.menjadiibu.com). Kalau DSA yang melakukan tindakannya adalah dr Made, juga di KMC. Mudah-mudahan membantu ya.

  8. difi May 24th, 2015 at 3:55 pm

    Mba, anak sy lip tie kelas 3 dan ini menganggu proses menyusu, sy dan suami msh bingung antara insisi ato tidak. Sy mau tanya ya mba, setelah insisi ada dampaknya ngak? Apakh menyusuinya memang jd lebih lancar?

  9. dindajou June 11th, 2015 at 11:25 am

    Aduh, maaf baru bales 🙁 Kalau aku setelah insisi sangat jauh bedanya. Menyusui jadi jauh lebih enak. Masih sakit sedikit sih, tapi sakitnya karena luka yang sudah ada sebelumnya. Kalau nggak diinsisi kayaknya dulu aku nggak bakalan sanggup buat menyusui. Duh, mudah-mudahan dikasih jalan yang terbaik ya difi :-*

  10. divi December 9th, 2015 at 8:54 pm

    Hai mba salam kenal ya ^^
    Anak saya juga lip tie dan tongue tie hiks…
    Sebenernya sih di awal menyusui lecet tapi dalam waktu 3 hari aman sentosa, masalah datang dibulan kedua berat bayi naik dikit, terus si bayi pup *maaf* selalu hijau curiga gak pernah dapet hindmilk
    Iya ternyata bener gak pernah dapaf hindmilk 🙁 anak ku gak pernah bisa ngosongin payudara ternyata masalah pada tongue dan lip
    After incisi aman semua anak saya bisa nenen denga sempurna 🙂

  11. dindajou December 10th, 2015 at 5:18 am

    Hai divi! duuhhh… deritanya yaaa kalau tongue tie dan liptie. Memang katanya beda-beda efeknya ya. ada yang sakit ibunya, ada yang anaknya ga bisa menyusu. mudah-mudahan babynya sekarang udah sehat dan nenen dengan happy yaaaa. kiss kiss buat babynya :-*

  12. Menyapih! | Dindajou May 28th, 2016 at 8:14 am

    […] sering dilanda para ibu. Padahal, kalau dirunut ke belakang, soal memberikan ASI ekslusif dulu juga drama banget. Jadi penyapihan ini terasa seperti milestone tidak hanya untuk BabyM, tapi juga […]

Any comment?