(Aku) Nggak Keren.

Dari kemaren aku mencari-cari foto lama, dan nggak ketemu karena harddisk rusak. Yang ketemu cuma beberapa foto dari blog jaman dulu yang sudah dihapus. Foto yang diambil satu decade lalu.

Bromo051

Yang ini waktu aku backpacking sendirian di penghujung tahun 2005. Ke Gambir tanpa tujuan dan melihat jadwal kereta terdekat akan kemana. Ternyata ada yang ke Solo. Lalu aku beli tiket dan naik. Habis senang-senang di Solo seharian, aku naik bis dengan tujuan mau ke Bromo. Tanpa tau harus berhenti dimana, hahahah! Lalu, jam 2 dini hari, aku sampai terminal Probolinggo, makan indomi rebus sambil nungguin mobil minibus untuk naik ke Pananjakan, melihat sunrise. Segitu perjuangannya, ternyata sunrise nggak kelihatan, tertutup kabut, hahahahah! Menghabiskan tahun baru 2006 di gurun pasir dan kawah Bromo juga bukit telletubbies. Berkenalan dengan sesama pelancong, dan kami foto-foto bersama. Aku bahkan dikirimin dvd foto-foto kami yang masih ada sampe sekarang (barusan diputer dan, omaygat, kocak! Hahahaha). Abis Bromo ini aku masih terus jalan sendirian ke Surabaya, dan Mojokerto.

 

lampung

Kalau yang ini juga backpacking sendirian, ketagihan setelah Bromo. Tujuannya Lampung, naik bis Damri malam-malam, dari Gambir juga. Aku ke Way Kambas dan main-main dengan gajah seharian. Nggak cuma itu, aku ke Kalianda dan mencari perahu nelayan yang mau membawaku ke Anak Karakatau. Perginya seruuu… sempat snorkeling segala. Pulangnya, hari mulai gelap, ombak tinggi bikin kapal terbang-terbang, dan kami nggak nyampe-nyampe. Mulai dari ketawa-ketawa sama yang punya perahu, sampe semuanya membisu karena dalem hati khawatir malam-malam masih di tengah laut.

 

Hihihi… seru ya jaman dulu. Kayaknya dulu aku cukup keren yah? Hahahaha!

 

Beberapa waktu lalu, topik ‘kurang keren’ ini sempat dibahas di grup whatsapp Mahmud Gosip Bermutu kesayangan. Aku merasa saat ini aku nggak keren sama sekali. Belum lagi, pelan-pelan kayaknya semakin bego. Yang dikepala paling seputar urusan domestik dan urusin anak. Kalau bertemu teman-teman, pembicaraan seputar topik politik selalu sukses buat senyum-senyum ngangguk-ngangguk dikit, biar dikira ngerti, ahahahaha!

 

Dan sejujurnya, ngeliat teman-teman yang karirnya pada kinclong mentereng, dan otaknya masih pada encer-encer semua, aku merasa tak pantas berteman dengan mereka. Apalah aku ini, huhuhuh….

 

Diantara teman-teman yang memberi semangat, Dewi yang udah kenal aku cukup lama justru jujur mengatakan, “Iya Dinda. Kamu dulu keren, sekarang… nggg… kurang keren.” HAHAHAHHA! * Cium Dewi* Seperti aku, Dewi juga ngerasa makin kesini dia juga makin oon. terus kami berdua tertakjub-takjub melihat teman-teman kami yang masih rajin-rajin banget (dan mampu!) belajar. Jadilah kami ngakak-ngakak berdua menertawakan diri kami sendiri.

 

Aku sangat menghargai kejujuran Dewi. Dan dari obrolan kami, kayaknya sindrom ‘merasa lebih bego’ atau ‘merasa kurang keren’ ini banyak dialami para ibu-ibu. Itu justru membuatku bertanya, kenapa ya aku sekarang nggak sekeren dulu? (Kalo Dewi mah menurutku tetep keren, abisnya diantara ngurus anak dan aktif kerja, masih sempat pula rutin lari dan olahraga!)

 

Tapi memang rumput tetangga selalu lebih hijau yah :D. Setelah melalui kontemplasi panjang #eaakkkk, kadar kekerenan ini sepertinya berkaitan dengan prioritas hidup. Setidaknya bagiku.

 

Dulu, aku adalah Dinda yang adventurous. Dinda yang siap mencoba apa saja, dan ingin membuktikan diri bahwa dia bisa. Bisa survive sendirian, hidup jauh dari keluarga. Bisa tidak bergantung sama orang lain. Dinda yang memaksa diri untuk mengetes sejauh apa limitnya. Mungkin, umur duapuluhan memang masanya seperti itu ya. Punya nyali dan tenaga besar, semua dilakukan. Membiarkan diri melakukan kesalahan dan punya keberanian menertawakannya.

 

Tapi sesungguhnya ada sebuah kegelisahan di sudut hati yang seringkali ditutupi. Bahwa dulu aku kerap merasa sendiri. Merasa lelah karena selalu ‘bergerak’ nggak berhenti. Kalau ngomong berandai-andai, dulu pernah bilang,: kalau suatu saat nanti aku punya anak, aku pengen istirahat. Tentunya waktu itu bilangnya sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Boro-boro mikirin anak. Pacar aja dulu nggak ada meskipun cemceman nggak terhitung jumlahnya. *uhukuhuk* * batuk rejan*

 

You really have to be careful of what you wish for, it may come true.

 

And here I am now. Umur 34, punya suami satu dan anak juga satu. Yang dikerjain cuma urusan domestik dan anak melulu tiap hari. Sama sekali nggak keren, agak oon dan lambat loading, tapi anehnya kok ya merasa jaaaauuuuuhhhh lebih bahagia. Walaupun kadang-kadang bosan dan bete dan jenuh dan capek sama urusan rumah tangga, tapi Dinda yang sekarang jauh lebih santai, nggak merasa kayak dikejar-kejar melulu, nggak merasa harus meng-impress siapapun, nggak merasa harus membuktikan diri ke siapa-siapa, dan nggak perlu menyenangkan siapa-siapa kecuali diri sendiri.

 

Prioritasnya berubah. Faktor umur? Mungkin. People change? Bisa jadi. Tapi yang pasti, kalau dulu aku nggak segelisah itu, mungkin sekarang juga nggak sesantai ini. Setiap orang sepertinya harus melewati jalannya sendiri untuk menemukan dirinya.

 

Dan kalau sekarang konsekwensinya aku tidak sekeren dulu, melainkan jadi ibu-ibu rumah tangga yang ngurusin anak dan suami melulu, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting aku bahagia. Siapa yang tau masa depan nanti bagaimana, saat situasi dan kondisi berubah lagi.

34

I was cool once. I think that’s enough.

 

Happy birthday, Dinda!

7 Responses

  1. devi October 21st, 2015 at 4:08 pm

    Keren itu tergantung siapa y melihat n sudut pandang apa y digunakan.. bg para adventours mgkn ina adlh dinda y keren.. tp mesti bg para Irt itu tdk keren ..he he.

    Jd tergantung dunianya.. tergantung temannya, lingkungannya.. teman itu cermin bg temannya..

    Sama sprti dlu di kmpus kami menganggap — diriku- tdk keren.

    Insy bagiku ina tetap keren kok.. tetap menginspirasi. Slm u malik 😉

  2. Mponk October 21st, 2015 at 4:24 pm

    COOL…!!
    just a word that works to Teenagers….
    For you or me or someone in our age, just a word that makes you smile to remember it….

  3. Nilla October 21st, 2015 at 4:28 pm

    Mbaaakk… Tau ga, sih? Sejak punya anak, aku jg memikirkan ini. Ini kyknya jd bahan pikiran umum perempuan2 yg sempat senang berpetualang ya? Soalnya sekarang udah ga sebebas dulu lg. Dulu mah jalan sendirian ke Papua jg aku jabanin. Sekarang? Ke Bogor aja mikir puluhan kali dulu! ahahahahaha…

  4. Mbilung October 21st, 2015 at 4:51 pm

    Kerennya masih…bentuknya beda.

    Happy belated birthday Ina…

  5. dindajou October 23rd, 2015 at 2:49 pm

    @devi: hehehe makasih devi :-*
    @Mponk: tapi..tapi… aku kan masih remaja kaakkk… *lalu dilempar cermin* hahahah. Thanks for visiting 🙂
    @Nilla: hahaha iya sepertinya yaaaa. Baby Aya apa kabarnyaaaaa
    @Pakde Mbilung: awww, bapak bijaksana sekali *peluk* Makasih bapaaakkk

  6. Fany October 28th, 2015 at 10:51 am

    *baru baca*

    Mbak Dinda dulu kereeen..
    Sekarang yang keren Ibu Dinda! Gimana gak keren, rajin ikut webinar homeschooling dan telaten praktekin ke Malik. Aku mana bisaa.. 😀

  7. dindajou October 28th, 2015 at 2:34 pm

    awww… fany. aku jadi tersipu-sipuuuuu ahahha

Any comment?