2017: The Start Up Year – Perjalanan Menemukan (Kembali) Diri Sendiri

Aku memulai 2017 dengan sepenuh harap bahwa tahun ini akan lebih baik. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih menyenangkan hati. Setelah mengalami episode depresi di tahun sebelumnya, sungguh aku tak ingin itu terulang lagi.

Logikanya, tahun ini harusnya menjadi tahun yang santai, penuh liburan serta leyeh-leyeh. Memang sih, aku cukup banyak berpergian untuk liburan walaupun tidak jauh-jauh. Cirebon, Garut, Bandung, Medan, Banda Aceh, Sabang dan Purwokerto kami kunjungi. Bahkan kami sempat membawa orang tuaku jalan-jalan ke Garut dan Cirebon, serta membawa ibu mertua ke Bandung untuk berlibur sekaligus cek kesehatan.

Tapi, ternyata tidak demikian yang terjadi. Perenungan atas apa yang telah aku lalui membuatku merasa harus berbuat sesuatu. Depresi telah mengikis kepercayaan diriku hingga hampir habis. Ini adalah saatnya untuk menemukan kembali diri sendiri.

Usaha catering di Medan, catering adinda, yang sudah dimulai di akhir tahun 2016, pelan-pelan mulai berjalan. Ini tentunya memberikan tambahan semangat untukku. Aku merasa lebih berharga, karena merasa melakukan sesuatu yang berbeda dan berguna.

Maka, saat muncul ide untuk menggarap usaha baru dari adikku dan seorang sahabat, aku dengan suka cita menyambutnya. Dulu, saat Malik baru saja lahir, aku ingin sekali memproduksi baju anak-anak. Business plan sudah digarap, desain sudah dibuat, namapun sudah ada: minimons. Namun, karena banyak hal, usaha ini tidak jadi diluncurkan. Jadi, saat ide untuk menghidupkan kembali Minimons datang, aku jadi bersemangat.

Tapi, memulai sesuatu dari nol itu bukan perkara mudah memang. Setelah berbulan-bulan brainstorming, kami muncul dengan visi yang lebih menyentuh nilai-nilai keluarga. Pertengahan 2017 kami meluncurkan koleksi perdana yang tidak melulu baju anak, melainkan baju yang matching untuk seluruh keluarga. Ada sesuatu untuk bapak dan ibunya juga.

Begitupun, jalannya tidak mulus. Awalnya aku punya ekspektasi tinggi karena timku sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Tapi dalam perjalanannya, aku sadar bahwa tim yang terbentuk ini butuh banyak sekali adaptasi untuk bekerja sama. Ujung-ujungnya, aku harus realistis dan kembali kepada hal yang sungguh klise: semua butuh proses.

Di penghujung Oktober, saat deadline produksi mulai mengejar, partner bisnis sekaligus desainer memutuskan untuk keluar. Sungguh itu adalah pukulan telak yang membikin panik.  Tahun yang ‘harusnya’ menyenangkan, berubah jadi sekumpulan masalah yang saat itu tak terlihat jalan keluarnya.

Aku hampir menyerah. Rasanya, ingin sekali membubarkan Minimons dan melepaskan diri dari keruwetan yang terjadi. Tapi setelah berfikir lama, aku sadar. Selama ini aku selalu bertahan dengan apapun yang terjadi. I am a survivor, that is who I am. Aku bukan jenis orang yang berhenti begitu saja, tanpa berjuang hingga akhir. Dan yang membuat hati sungguh hangat, adalah sahabat-sahabat yang selalu menyemangati (you know who you are, girls. I owe it to you #MahmudSeadanya) dan orang-orang yang dipertemukan, yang memberikan banyak inspirasi.

Aku lantas mengerahkan segala yang aku punya untuk tetap meneruskan Minimons. Sebuah mantra terucap berkali-kali di hati: aku bisa! I’m a fast learner and I can learn anything I want. Aku adalah orang yang bisa beradaptasi dengan situasi apapun, itu yang menjadi kunci kenapa aku bisa survive hingga kini.

Dan di tengah ‘badai’ itu, aku seperti menemukan diriku kembali. Dinda yang punya tujuan. Dinda yang tak menyerah dengan keadaan. Dinda yang meskipun merasa takut, tapi terus berjalan.   

Maka, penghujung 2017 adalah ujian ketahanan fisik dan mental. Waktunya untuk benar-benar melakukan apa yang aku ucapkan. To walk the talk. Aku melakukan apapun yang bisa kulakukan tanpa berhenti. Tidak hanya mengurusi Minimons tentunya, aku masih harus mengurus usaha catering adinda di Medan, mengurus Malik, plus berbagai urusan keluarga besar. Sebentar di rumah, sebentar di Bandung untuk urusan Minimons, sebentar lagi sudah di Medan untuk urusan catering adinda.

Melelahkan. Sangat. Bahkan hingga aku menulis ini pun masih ada to-do-list yang menanti untuk dikerjakan. But hey, if it’s the price that I have to pay to be myself again, then so be it. I know for sure, I will not regret anything. Aku yakin – dengan seyakin-yakinnya – bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Hey 2018, bring it on! 

blog 2017 2Me, proudly wearing my first ever design, scarf for minimons.

2 Responses

  1. Ditsss January 2nd, 2018 at 10:28 pm

    Happy New Year, Dinda.
    Selalu senang baca curhat taun barunya 🙂
    Semoga tahun 2018 lebih seru tapi santai, dan kita (aku terutama) lebih mahir akan self-love :*

  2. dindajou January 19th, 2018 at 5:01 pm

    @dita: akkk.. baru liat ini ahaha. AMIN banget doanya ditaaaaa!

Any comment?