2015: Traveling… Inside Out.

UK24

 

Aku bisa dengan gampang menyebutkan bahwa 2015 adalah tahun traveling. Posting blog bertama di tahun ini adalah soal aku yang kangen laut, dan postingan terakhir adalah tentang perjalanan ke pantai Ujung Genteng dan Sawarna, bagian dari roadtrip yang diberi tajuk ‘Life is A Beach’.

 

Diantaranya, ada banyak perjalanan. Kami liburan ke Bali di bulan Maret untuk merayakan sewindu ulangtahun pekawinan, disusul dengan kedatangan keluarga dari Medan yang membuat kami mengunjungi banyak tempat wisata. Di bulan Juni, kami melakukan roadtrip pertama bersama BabyM, 17 hari mengelilingi Pulau Jawa. Dan sepanjang Juli-Agustus kami pulang kampung ke Medan dan Aceh untuk berlebaran. Ketagihan roadtrip, kami melakukannya lagi di bulan November. Menghabiskan 12 hari perjalanan menyusur pantai barat Jawa, kami mengunjungi Ujung Genteng, Sawarna, Ujung Kulon, hingga Tajung Lesung – yang bahkan belum kelar ditulis.

 

Traveling, memang selalu mendapat porsi yang besar dalam hidupku – dan kini, hidup kami sekeluarga. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, jika kita benar-benar mau. Kami hendak menularkan kebiasaan ini kepada BabyM. Kami ingin ia terpapar dengan banyak hal, banyak perbedaan, banyak nuansa, banyak keadaan, banyak kehidupan; agar dia tau, bahwa hidup kadang tidak senyaman rumahnya, dan oleh karenanya ia tau kenapa dia harus bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaan-kebahagiaan yang didapatkan, sesederhana apapun dia menganggapnya.

 

Perjalanan-perjalananku sepanjang tahun 2015 berkelindan dengan banyak hal lain yang terjadi dalam keluarga kami. Pada bulan Mei, misalnya. Aku dan Abang dihadapkan pada kenyataan bahwa anak kami yang umurnya belum pun dua tahun itu, harus dioperasi hernia plus disunat sekalian. Sekali lagi, ketabahan kami sebagai orang tua kembali diuji. Bagiku, ini juga adalah sebuah perjalanan. Perjalanan mental, bahkan cenderung spiritual. ‘We don’t know how strong we are until being strong is the only choice we have’, kata Bob Marley, dan aku mengamini sepenuhnya.

 

Selain itu, pada bulan September – November, aku melakukan sebuah ‘perjalanan’ yang tak kalah penting untuk menjadi orang tua yang lebih baik: Aku mengikuti webinar soal homeschooling. Ya, kami memang berencana untuk tidak memasukkan BabyM ke sekolah konvensional. Mengikuti webinar itu adalah sebuah langkah awal bagi kami untuk mempersiapkan bentuk pendidikan bagi BabyM. Aku – juga abang – sadar, bahwa perjalanan yang satu ini adalah jalur yang jarang ditempuh, the road less travelled. Tapi, tak bisa dipungkiri, bahwa hidup kami kini berpusat pada anak, dan cara ini adalah yang paling masuk akal untuk dijalani. Sejatinya, hidup adalah perjalanan. Kita yang menentukan tujuan, kita juga yang memutuskan rute mana yang hendak diambil.

 

Selamat datang, 2016. I’m ready.

 

Any comment?