2014: The Baby Year!

No doubt, 2014 was the year of the baby! Sejak awal tahun, kedatangan BabyM sudah diantisipasi. Begitupun, saat ia lahir di penghujung Januari, aku belum sepenuhnya menyadari perubahan drastis yang menanti di depan. Bukan hanya soal rutinitas setiap hari, tapi juga soal pemikiran, nilai-nilai dan kebiasaan yang selama ini aku yakini dan aku lakukan.

Dan ternyata, begitu ya rasanya punya anak. Hidupku berputar dengan sang bayi sebagai porosnya. Dia adalah pusat semestaku kini. Semua dilakukan agar bisa memberikan yang terbaik untuknya. Segala bacaan soal bayi dan parenting dilahap dengan rakus, demi bisa memahami dunianya. Memahami caranya melihat dunia sesuai dengan perkembangan usianya.

Dengan informasi dan pengetahuan baru setiap hari, mau tidak mau, aku jadi merenungi banyak hal. Aku menelusuri kembali nilai-nilai penting yang aku yakini. Dari mana asalnya? Masih relevankah nilai-nilai itu saat ini? Jika iya, perlukah ditanamkan kepada anakku? Jika perlu, siapkah aku dengan segala konsekwensi yang akan diakibatkannya? Jika siap, bagaimanakah cara menanamkannya, cara merawat nilai-nilai itu hingga ia bisa berbuah manis kelak?

Aku mempertanyakan semua keputusan yang kubuat dari bangun pagi hingga tidur malam. Menganalisa sendiri, mengapa aku lebih melakukan A dan bukan B. Apakah A lebih baik dari B? Mengapa pilihannya hanya A dan B, kenapa aku tidak mencari C, D, atau bahkan XYZ.

Ribet, memang. Bikin pusing. Tapi aku tak bisa berhenti.

Aku percaya, suatu saat nanti BabyM akan mempertanyakan nilai-nilai dan keputusan-keputusan itu. Sebab, kini aku juga mempertanyakan keputusan-keputusan yang dulu dibuat oleh orang tuaku. Keputusan yang membuat aku punya kenangan-kenangan indah yang kupilih untuk kuingat selamanya; juga untuk luka-luka yang inginnya kulupakan tapi entah mengapa kerap muncul lagi dan lagi.

Tapi, semua pertanyaan itu juga membantuku memahami banyak hal. Yang rasanya dulu tidak masuk akal, kini jadi mengerti. Hal-hal yang dulu terlihat remeh-temeh, sesungguhnya kompleks Dan aku berkali-kali diingatkan, dunia toh tidak hitam-putih. Tidak ada keputusan yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Masing-masing punya konsekwensi dan aku harus berdamai dengan itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku punya pertimbangan yang cukup untuk memutuskan, apapun itu.

Anak adalah cermin diri yang paling cemerlang. Apapun yang aku lakukan, APAPUN, akan meninggalkan jejak dalam memorinya kelak. Dan karena aku tidak bisa memilihkan memori untuk disimpannya, aku jadi lebih berhati-hati akan segala ucapan dan tindakanku. Aku membiasakan diri untuk melakukan hal-hal baik. Berbicara yang baik-baik. Sebab, mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Aku hanya berharap, saat dia sudah mengerti nanti, aku sudah bisa menjadi orang yang pantas untuk ditirunya. Semoga.

Selamat datang, 2015.

 

 

ibunm01

One Response

  1. Windi February 10th, 2015 at 1:13 pm

    ihhiik… jadi pengen punya anak lagi haahhaahah..
    nikmat ya jadi bunda. belajar terus supaya si anak melihat yang baik di diri kita. berat sih, tapi kalo buat anak rasanya gak ada yang mustahil.
    Deuh jadi rindu raffi. Punya anak udah besar rasanya ada yang hilang, gak bisa dikelonin kayak masih bayi dulu :p

Any comment?