Musik Malik: The Beginning

Kemampuan Malik menggebuk drum banyak membuat orang heran: masih tiga tahun kenapa sudah bermain drum dengan ketukan yang benar? Ada yang bilang Malik berbakat dan banyak yang penasaran kenapa bisa demikian. Aku sering ditanya: gimana ngajarinnya?

drum1

Malik and his ‘drum-set’ 

Sebenarnya, aku sendiri agak bingung menjawabnya. Dimataku, drum tak ubahnya mainan. Semuanya terjadi dengan proses yang normal-normal saja, nggak ada yang istimewa. Aku dan abang juga tidak punya background musik sama sekali. Kami hanya suka mendengarkan musik, itupun sesempatnya. Aku bisa sih main gitar sedikiiiiiiiitttt. Hanya tiga-empat kunci sebagai modal pergaulan (halah, istilahnya!).

Saat Malik lahir, aku pernah baca bahwa musik bagus untuk anak. Orang tua disarankan untuk memperdengarkan musik ‘beneran’, dari berbagai genre, tidak hanya sekedar lagu anak-anak. Saat dia masih bayi, aku hampir selalu bersenandung lagu ‘La Vie en Rose’ menjelang tidur, dan terkadang mengubah liriknya menjadi doa-doa untuk Malik. Aku sering memutar lagu-lagu berirama jazz yang tenang sambil menggendongnya. Atau, saat dia sudah agak besar, kami kerap memutar lagu-lagu hiphop dan joget-joget nggak jelas bersama sambil bermain.

Kalau sedang nyetir kami sering menyetel DVD konser. Alasannya sederhana: karena DVD konser itu bisa hanya didengarkan, tapi bisa juga ditonton kalau macet. Dua DVD yang sering di tonton adalah konser Michael Buble dan Josh Groban. Tapi lama-lama jadi pusing sendiri. Gara-gara ini, setiap naik mobil, Malik semacam sudah otomatis meminta diputarkan “Om Buble” atau “Om Josh” (Panggil om lah, biar akrab! Hahahaha!). Kadang-kadang sampe nggak enak sama orang yang kebetulan naik mobil kami, karena lagunya itu-itu melulu, hahaha!

Awal Malik ‘berkenalan’ dengan drum juga tidak sengaja. Namanya anak bayi, kadang-kadang suka mukul-mukul dengan tangannya. Saat dia sudah mulai bisa menggenggam, aku iseng memberikan dua buah sumpit makan dan kami berpura-pura main drum. Urusan pukul memukul ini lalu semakin sering karena kami membelikannya sebuah jimbe kecil saat kami mengunjungi Saung Angklung Udjo di Bandung.

Kegiatan bermusik ini kian berkembang sejak kami mulai memperkenalkan gadget kepadanya di usia 1,5 tahun. Awalnya sih karena dia terkesan sekali dengan pertunjukan di Saung Angklung Udjo dan sangat senang jika aku memutar video “kakak menari” di handphoneku. Karena udah diputer sekian ribu kali, si ibu ini kan bosan ya. Jadilah aku mencari video di youtube. Tapi video apa? Karena waktu itu Malik sangat senang dengan jimbenya, aku mencari video dengan key word: “the best drummer in the world” hahah! Dari situ, keluarlah video solo-nya Mike Portnoy (drummernya Dream Theatre).

Sejak itu, Malik semakin mengeksplorasi jimbenya. Segala panci, ember, gayung, kaleng cat, kemudian juga dia jejerin untuk dijadikan drum set. Setiap hari selalu memainkannya. Meski begitu, aku juga selalu berusaha mengajaknya bermain yang lain. Dalam pikiranku, ya bagus kalau dia suka satu hal dan konsisten. Tapi tidak berarti hal-hal lain juga tidak perlu diperkenalkan. Diantara bermain drum, Malik juga suka masak-memasak, bermain dengan tepung dan playdoh, main cat dan crayon, berenang, main di playground, main pasir, dan macam-macam lain. Hanya saja, kalau dihitung durasinya dalam seminggu, sebagian besar memang ia habiskan dengan bermain drum. Berbekal sumpit yang sangat mudah untuk dibawa kemana-mana, Malik selalu bisa bermain drum, hampir kapan saja, dimana saja.

Memasuki umur dua tahun, screen-time Malik bertambah. Video yang dia lihat juga semakin bervariasi. Youtube seringkali memberi suggestion video baru yang kemudian dia tonton dan memberikan inspirasi baru. Kemampuan verbalnya yang meningkat cepat, juga memberikan kontribusi signifikan. Ia bisa membedakan tiap video, dan meminta kami memutarkan video tersebut. Yang ada Bapak-Ibunya harus selalu tau apa yang dia tonton. Karena, seringkali dia akan minta video yang spesifik. Bisa bingung kalau nggak tau apa yang dia maksud.

drum3

Setelah Mike Portnoy, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan drummer/youtuber Casey Cooper karena videonya meng-cover lagu “Burn”-nya Ellie Goulding dengan drum stik terbakar api yang sungguh epic sekali. Dan dari fitur suggested video di youtube, kami sering memutar berbagai video drummer/youtuber, termasuk Rani Ramadhany dari Indonesia. Soal drummer/musisi kesukaan Malik ini nanti aja deh buat posting terpisah. Panjang ajeeee ahahah!

drum4

drum5

Bertemu idola: Casey Cooper dan Rani Ramadhany

Tidak hanya itu, aku juga sering mengajaknya ke toko musik. Dia tahan berlama-lama nongkrong di sini. Kalau kebetulan ada drum set atau instrumen lain yang boleh dimainkan, dia pasti akan senang sekali. Tapi kalaupun nggak ada, dia sudah bahagia bisa sekedar mengelus gitar, memencet piano tanpa suara, atau bertanya-tanya soal berbagai instrumen musik yang dia lihat.

Aku sempat membawanya beberapa kali ke studio musik jam-jaman agar ia bisa bermain drum dengan bebas. Tapi hanya beberapa kali pergi, dia sudah tidak tertarik lagi. Mungkin nanti di coba lagi.

Aku dan abang juga sempat membawanya ke beberapa kursus musik, bahkan untuk ikutan sesi drum privat di sebuah sekolah musik. Sayangnya, kami merasa kurang pas dengan instrukturnya. Padahal yang kami inginkan hanyalah supaya Malik punya teman main drum, tidak perlu belajar macam-macam. Tapi mungkin instrukturnya juga bingung dan waktunya juga belum tepat.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan ‘gimana ngajarinnya?’, seperti yang bisa dilihat, pertanyaan itu jadi tidak relevan. Karena Malik belajar sendiri. Kami sebagai orang tua, hanya memfasilitasinya. Atau kalau boleh ditarik ke belakang lagi, apa yang kami lakukan pada dasarnya adalah mengubah persepsi atas apa yang disukai Malik. Aku melihat kegiatan “mukul-mukulnya”  itu sebagai sesuatu yang positif alih-alih mengganggu. Aku mencari cara untuk menyalurkannya secara positif, yaitu dengan bermain drum. Pelan-pelan, dari drum ini kemudian melebar menjadi musik secara umum. Dan dengan musik sebagai “pintu”-nya, aku mengenalkan Malik dengan begitu banyak hal.

Otak manusia itu belajar jauh lebih baik dalam keadaan rileks. Jadi, kalau sudah suka dengan satu hal, pasti rasa suka itu akan membuat kita dengan suka rela dan senang hati mencari tahu mengenai hal itu. Nggak perlu memaksa untuk menjejalkannya. Kuncinya adalah bermain.

Kemaren waktu aku posting video Malik bermain drum di Instagram, ada yang komen betapa lucunya Malik sudah punya hobi, nggak seperti anaknya yang hanya suka mobil-mobilan. Buatku, persepsinya lah yang harus diubah. Anak yang sangat suka mobil-mobilan bisa banget difasilitasi “to the next level”. Ada banyak sekali keahlian yang bisa dipelajar dari kesukaan terhadap mobil. Bisa ngasi liat mobil sendiri dan bercerita tentang bagian-bagian mobil. Apa fungsi-fungsinya. Kenapa mobil bisa jalan, dll. Ajak ke pom bensin, ke bengkel, ke showroom mobil, nonton formula1 di TV. The possibility is endless!

Bagiku, tiap anak sudah dilahirkan dengan potensi sendiri. Dan tugas orang tua adalah “mengeluarkan” potensi itu dengan cara memfasilitasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak ada pemaksaan. Membuat anak punya hobi itu perlu waktu. Dan jika ia sudah sangat suka dengan ‘hobinya’, pada akhirnya kata hobi itu akan hilang, dan itu menjadi bagian dari hidupnya.

Begitupun, pastinya aku punya kekhawatiran sendiri soal Malik mendengarkan musik dewasa. Tapi itu bahas lain kali saja deh ya, hihihi!

So, ada anaknya disini yang juga suka gebuk drum? Yuk play date yuk sama Malik! *ketemuan mesti bekel headset dan panadol biar gak pusing, hahahaha!*

drum2

Pameran Studio Ghibli, Imajinasi yang Jadi Nyata

Siapa yang suka film-filmnya Studio Ghibli? *Tunjuk tangan!*

Aku tau tentang film-filmya Ghibli sejak awal-awal menikah dengan si Abang, sekitar satu dekade lalu. Waktu itu, dia sih yang suka banget. Aku hanya selewat aja, karena aku nggak begitu suka sama animasi. Pernah, Kompas membuat semacam festival Ghibli dan ada nonton bareng. Si abang menggeretku ke Bentara Budaya, dan aku terkantuk-kantuk di sebelahnya. Yah, gimana nggak ngantuk. Acaranya pun malam, nonton pake proyektor, duduknya macam di kursi sekolahan, aku pegel yha!

Kami sempat berburu DVD (ya bajakan lah, aslinya ga tau mau cari dimana!) dan mencari berbagai film. Nah, setelah ada dvd ini, nontonnya jadi lebih khusuk dan lalu jatuh cinta, ahahahah! Yang pertama adalah Spirited Away. Ceritanya menakjubkan, buatku. Imajinasinya luar biasa dan sangat menyentuh. Gambarnya nggak canggih macam pixar atau Disney, tapi bagus banget. Lalu kemudian berkenalan dengan Ponyo yang nggak kalah menyenangkan. Musiknya apalagi ini, bagus banget. Duo Spirited Away dan Ponyo ini selalu jadi andalanku kalo ada anak tetangga atau ponakan pada main di rumah, hehehe.

Dari situ, aku nonton Kiki Delivery Service, Howl’s Moving Castle, Totoro, The Wind Rises, dan belakangan Princess Mononoke, The Tale of Princess Kaguya dan Porco Roso. Nausica, Castle In The Sky dan When Marnie Was There malahan belakangan ditonton.

Tapi, sesungguhnya yang membuat makin cinta sama Ghibli adalah Totoro. Sejak Malik lahir, kami cukup selektif memilihkan tontonan untuknya. Dan film pertama yang kami berikan ke Malik adalah Totoro. Dan sejak itu, aku jadi sangat-sangat-sangat apresiatif sama film ini.

Kalau dulu, Totoro hanya sekedar di tonton, tapi sejak mengenalkan ke Malik, aku jadi “melihat” apa yang dulu nggak terlihat. Totoro, bukan hanya sekedar film lucu menggemaskan, tapi ada banyak sekali nilai-nilai di dalamnya yang sulit ditandingi oleh film lain. Bahkan aku bisa bilang, belum ada film anak-anak yang lebih baik dari Totoro. Lebay? Mungkin. Tapi aku rasa banyak orang tua yang setuju.

Filmnya sederhana dan terasa ‘dekat’ dengan kehidupan sehari-hari. Tokoh utamanya adalah anak-anak, dan semua hal dibuat sesuai dengan sudut pandang anak-anak. Nilai-nilainya tentang mencintai lingkungan terasa subtle, namun pasti. Imajinasinya luar biasa, tapi terasa tidak berlebihan. Duh, pokoknya Totoro cintaku deh. Dulu sempet film ini diputar sehari tiga kali karena Malik minta, tapi aku gak bosen juga, ahahaha.

Cita-citanya sih pengen banget ke Museum Ghibli ke Jepang. Tapi, yah… kayaknya dalam waktu dekat masih belum bisa. Banyak prioritas lain yang harus didulukan. We’re gonna save it for much later, hehehehe.

Waktu ada festival film Ghibli digelar di Jakarta, rasanya pengeeeennn… banget nonton film-film itu di layar lebar. Tapi, waktunya selalu nggak pernah tepat. Si abang lagi kerja lah. Kalo dia pulang, banyak urusan ini itu lah. Susah. Bawa Malik ke bioskop masih belum bisa. Anaknya masih takut sama gelap dan suara berisik di bioskop. Pernah dicoba dan udah sampe beli tiket, tapi bubar jalan karena anaknya berubah pikiran, hahaha.

Jadi, pas ada exhibitionnya, dengan iming-iming ada beberapa item langsung dibawa dari Jepang sono, aku langsung YES! Pokoknya, harus lihat apapun yang terjadi, ahahah! Daaaann… kemaren akhirnya kesampean, dateng ke exhibition World Of Ghibli di Pacific Place, bertiga dengan abang dan Malik, pas sebelum si Abang berangkat kerja.

Waktu dateng dan membeli tiket, sebenernya aku agak bingung. Prosesnya cukup lama karena sepertinya petugasnya belum terbiasa. Tapi karena kami nggak buru-buru, aku santai aja. Tapi, ternyata sebelum membeli tiket, panitianya menerangkan bahwa pamerannya belum kelar 100 persen. Waaaaahhhh *kuciwa*

Kami datang di minggu pertama setelah pameran dibuka. Wahana 3 dimensinya baru kelar sekitar 70 persenan. Menurut panitia, sebagai kompensasinya, dengan tiket yang sama kami bisa dateng lagi kapan aja. Kalau pas dateng ternyata masih belum siap 100 persen juga, ya boleh dateng terus sampai akhirnya kami bisa melihat semua exhibit selesai 100 persen. Buat yang tinggal di Jakarta sih ini kedengerannya menarik. Tapi yang di luar kota kasihan juga ya? Si abang yang harus berangkat kerja segera, pulangnya baru awal oktober nanti. Pamerannya sudah selesai, jadi dia nggak bakalan bisa dateng liat lagi, hiks sedih.

Dengan harga tiket yang cukup mahal, apakah setimpal dengan pamerannya? Yah, menurutku sih 50-50 ya. Terutama karena faktor belum kelar tadi. Jadi waktu masuk tuh berasa kentang banget. Apalagi sepertinya nggak ada hal-hal “penambah informasi” yang tersedia. Nggak ada keterangan/cerita soal Ghibli, story behind the scene, atau apapunlah yang mungkin bisa dibaca dan menambah pengetahuan. Aku berfikir bakal berada di sana dari pagi sampe malem buat puas-puasin, tapi ternyata, ya gitu deh. Pada dasarnya, kami hanya datang, lalu foto-foto, that’s it.

Tapi, sebagai orang yang pengen banget ke Museum Ghibli di Jepang dan belum kesampaian, aku sih hepi banget dan menikmati. Detail-detailnya sangat bagus dan sangat layak untuk diapresiasi. Apalagi, Malik juga sudah cukup mengerti. Paling nggak dia inget sama Totoro dan Nekobus. Dia juga tertarik banget sama Castle-nya Howl dan pulang-pulang dia minta diputerin filmnya 😀

Ini foto-foto kami waktu kunjungan kemaren. Mahapkan fotonya banyak banget yaaa (dan mungkin bakal nambah lagi kalo kunjungan lagi, hihihih).

PS: menurut instagramnya, pamerannya hari ini sudah 100 persen loh!

***

From “My Neighbor Totoro”. 

Kayaknya exhibit ini yang paling di tonjolkan ya, mengingat Totoro emang monumental banget. Disini ada Totoro (ya iyalah!), Nekobus/Cat Bus, dan rumah keluarga Kusukabe yang detail banget. Katanya sih, rumahnya ini belum selesai. Bagian belakang rumah (yang harusnya ada tempat mandi dan dapur) belum kelar. Nantinya, rumah ini boleh dimasukin. Katanya sih 😀

201708 ghibli01 201708 ghibli02 201708 ghibli03 201708 ghibli04 201708 ghibli05 201708 ghibli06 201708 ghibli07

From “Porco Rosso”

Settingnya sederhana, tapi pesawat merahnya Porco Rosso ini cukup eye catching.

201708 ghibli12 201708 ghibli13

From “Ponyo”

Ini agak ‘kecewa’ sih. Padahal aku suka banget sama Ponyo. Tapi exhibitnya hanya ada begini doang, namanya ‘wall of ponyo’ yang terbuat dari dinding yang berlayer-layer gitu.

201708 ghibli16

From “Castle In The Sky”

Katanya ini wahana juga belum selesai. Hanya ada robot dan pesawatnya doang. Katanya sih bakal ada miniatur Laputa-nya segala. Katanyaaaaaa….

201708 ghibli08 201708 ghibli09

From “Howl’s Moving Castle”

Miniatur castle-nya Howl ini detail banget loh buatnya, aku kaguuummm! Malik awalnya takut, tapi lama-lama dia suka banget. Sampe pas pulang ke rumah minta diputerin filmnya 😀

201708 ghibli10 201708 ghibli11

From “Princess Mononoke”

Ini hutannya Princess Mononoke juga belum kelar semua. Katanya nanti bakal ada semacam hologram-hologram gitu. Katanyaaaaaa… 😀

201708 ghibli14 201708 ghibli15

Masih ada set bath house-nya Spirited Away, dan toko roti-nya Kiki Delivery Sevice yang belum kelar. Padahal pengen banget lihat dua ini. Yah… mudah-mudahan pas balik lagi udah kelar semua yaaaa!

Roadtrip Seadanya: Cirebon

Cerita sebelumnya bisa lihat di sini

Day 5

Hari ini, kami checkout dari hotel Java Heritage Purwokerto. Awalnya kami berniat untuk langsung pulang. Tapi, belakangan Malik lagi suka banget sama air mancur. Nah, di henponku, ada foto kami saat liburan ke Cirebon, mengunjungi Goa Sunyaragi, sebuah tempat pertapaan zaman dahulu. Goa ini juga mempunyai kolam-kolam dan air mancur.

Mulanya sih hanya iseng menawarkan apakah dia mau ke Cirebon. Aku kira dia akan menolak, karena dari kemaren dia bilang ‘nggak mau pindah hotel’ alias nggak mau jalan-jalan lagi. Tapiii… ternyata dia berubah pikiran dan semangat mau ke Cirebon! Kuwalat deh ibunya!

Akhirnya, kami pun sepakat menuju Cirebon. Paling hanya semalam, liat goa, lalu pulang. Oh iya, kami sempat berhenti di jalan untuk makan siang di Tegal, dan itu enak banget! Namanya Rumah Makan Suka Sari. Aku pesan tongseng sapi, astagaaaa… enaknya kebangetan!

Setelah melewati tol baru dengan pemandangan yang dramatis, kami tiba menjelang magrib di Cirebon. Karena hanya ingin ke Sunyaragi, kami pilih hotel yang dekat dengan kota. Pilihan jatuh pada hotel Batiqa. Harga hotelnya cukup affordable. Tentunya, hotel ini tidak punya fasilitas kolam renang dan lainnya. Tapi karena kami hanya semalam, itu tidak jadi masalah. Kami memesan kamar suite yang harganya juga masih terjangkau budget. Hotelnya ternyata cukup menyenangkan. Kamarnya lega dengan tempat tidur yang nyaman. Aku juga suka desainnya yang minimal, namun tetap terasa homey. Kami juga sempat makan malam di restoran bawah sebelum tidur dengan nyenyak karena capek.

201707 crb2

Tongseng superenak!

201707 crb3

201707 crb4

Pemandangan dramatis di jalan :’)

201707 crb1

Hotel Batiqa Cirebon

***

Day 6

Setelah sarapan, kami checkout dari hotel dan menuju Goa Sunyaragi yang hanya beberapa menit dari hotel. Tapi, hari itu adalah hari senin dan aku ada janji meeting virtual dengan tim minimons. Walhasil, aku membiarkan Malik dan si Abang duluan masuk ke Goa Sunyaragi, sementara aku bekerja di parkiran.

Setelah kelar meeting dan mau masuk ke lokasi, ya ampun… Malik dan si Abang sudah keluar dan menuju ke arahku. Hahaha! Meetingnya kelamaan atau merekanya yang terlalu cepat? Usut punya usut, ternyata air kolamnya kering dan air mancurnya juga tidak beroperasi. Yaaahh!

Untungnya Malik nggak marah-marah. Lalu, aku meminta izin kepadanya untuk masuk ke dalam kawasan goa sebentar. Masak sudah sampai sini aku nggak masuk. Walaupun sudah pernah, tetep aja. Akhirnya Malik mau. Dia dan si abang anteng menunggu di warung, karena dia dibolehin minum teh botol, hahaha!

Aku jalan-jalan sendirian menyusuri Sunyaragi. Foto-foto sebentar dan akhirnya memutuskan untuk udahan. Eehh… ternyata Malik dan si Abang masuk lagi, hahah! Ya udah, kami jadi muter-muter lagi, dan Malik seru sendiri main hide-and-seek diantara dinding karang.

Dari Sunyaragi, kami makan siang di Empal Gentong H. Apud. Aku memang udah kebayang-bayang empal asem yang segar dari kemaren. Kami makan dengan lahap, sambil mengira-ngira, apakah kami akan langsung pulang atau nggak. Mau pulang kok rasanya masih capek.

Karena aku masih pengen liat Batik Trusmi yang nggak jauh dari tempat makan, kami sepakat untuk menginap satu hari lagi di Cirebon. Toh Malik nggak keberatan. Walaupun nggak lama-lama, aku sempat mengunjungi salah satu toko dan beli beberapa potong batik.

Sepertinya, Cirebon memang bisa jadi pilihan menyenangkan untuk berakhir pekan kalau dari Jakarta. Sejak ada tol baru, jarak tempuhnya semakin dekat. Cirebon juga banyak menawarkan atraksi. Mau makan enak, ada empal gentong dan nasi jamblang yang terkenal. Mau belanja, ada pusat batik. Mau wisata sejarah, ada keraton dan Sunyaragi. Hotelnya pun terjangkau. Jadi terpikir lain kali pengen bawa orangtua kesini deh.

Karena mau menginap semalam lagi, aku jadinya cari-cari hotel lagi. Dari hasil browsing, aku menemukan hotel baru yang cukup menarik. Resort sih, lebih tepatnya. Namanya Desa Alamanis. Seusai belanja, kami langsung menuju lokasinya yang agak keluar kota.

Ternyataaaa, resort ini menyenangkan sekali! Di desain dengan nuansa kayu yang kuat plus lansekap yang hijau segar, begitu masuk terasa adeeeeemmm, kayak di desa beneran. Bahkan, resort ini mengelompokkan kamar-kamarnya dalam bentuk RT. Ada enam RT yang tersebar, dan dalam satu RT ada beberapa kamar.

Kami sendiri memilih kamar dengan jenis Panembahan yang lebih besar dari kamar standard. Lokasinya ada di RT 1, tak jauh dari lobby. Namun, jalannya adalah jalan setapak bertangga. Pegel juga kalau harus bawa barang berat. Dalam RT 1 ini, ada 6 kamar yang jadi seperti tetangga. Di depannya, ada teras besar yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni RT.

Kamar kami sendiri ternyata lebih besar dari yang kami bayangkan, hahaha! Selain area kamar yang terdapat sofa dan TV, masih ada ruang kerja yang dipisahkan dengan gebyok, teras belakang dengan taman kecil untuk bersantai, serta kamar mandi super besar dilengkapi kolam kecil dan taman.

Malik yang tadinya ogah-ogahan di ajak ke hotel baru, tiba-tiba jadi semangat sekali. Dia bilang dia suka banget sama hotelnya. Kami juga sempat memesan makan malam dari restoran, yang rasanya cukup enak dengan harga cukup terjangkau pula! Bahkan setelah makan, si Bapak tepar tertidur, sementara anaknya masih banyak batre dan mainin ini itu sampai berantakan, hahah!

201707 crb5 201707 crb6 201707 crb7

Air mancurnya ngga ada dan kolamnya kering, tapiiii tetep seru main hide and seek 😀

201707 crb8

Duo Empal, keniqmatan yang HQQ.

201707 crb9

Ada yang keukeuh mau beli baju dan pilih sendiri bajunya. Ungu-orens bok! 

201707 alamanis01

Nyampe di Desa Alamanis Resort dan dikasi pemandangan ijo ijo beginiii… laaaf!

201707 alamanis13

Lobby-nya lucuk!

201707 alamanis12 Pulang dari sini, malik terobsesi sama mesin ketik 😀 

201707 alamanis17Si ibu, nggak bisa liat background bagus dikit ih!

201707 alamanis14

Beranda di depan kamar yang bisa dipakai berbarengan dengan kamar tetangga. 

201707 alamanis02

Kamar yang masih rapi sebelum diberantakin Malik. Luas yaaaa!

201707 alamanis15

Kamar mandinya juga gedeeee… pake kolam mini segala.

201707 alamanis16 Masih ada teras belakang kamar plus taman kecil di depannya. Beneran berasa rumah deh!

***

Day 7

Aku sengaja bangun pagi demi mengelilingi resort ini. Ternyata, kalau okupansi tamu nggak banyak, sarapannya diantar. Jadi, pagi-pagi di teras sudah ada ibu-ibu yang membawa rantang, termos dan segala rupa untuk sarapan. Karena Malik dan Bapaknya belum bangun, aku sarapan sendirian sambil ngobrol dengan ibu-ibu itu. Duh, berasa ngerumpi dengan tetangga! Sarapannya pun pakai pisang rebus segala, lucu!

Aku mengitari resort sambil motret-motret. Ketemu dan ngobrol sama tukang kebun yang lagi beresin tanaman. Duh, ngiler banget liat bunga-bunganya. Waktu kembali ke kamar, Malik sudah bangun dan mau berenang. Kami pun meminta sarapan diantar aja ke pinggir kolam. Wih, sarapan nasi bogananya enak!

Kami menghabiskan pagi dengan berenang di kolam. Walaupun airnya dingin, tapi Malik senang banget! Kayaknya pas banget deh resort ini jadi penutupan perjalanan kami.

Sebelum pulang, kami sempat makan siang di restoran Klapa Manis yang masih satu grup dengan resort. Letaknya pun hanya seratusan meter dari resort. Katanya, ini restoran dengan view terbaik di Cirebon. Kalau malam sepertinya bagus lihat lampu-lampu kota Cirebon dari restoran ini.

Ahhh… selesai juga akhirnya liburan singkat kami. meskipun ada diselingi kerja sedikit, tapi aku senang! Sampai liburan berikutnya ya!

201707 alamanis03

Sarapan di Desa Alamanis pakai rantang di antar ke kamar, lucu!

201707 alamanis04

Kiri – Salah satu sudut. Kanan – Ngurusin taman segini besar kelarnya lama deh kayaknya yaaaa

201707 alamanis05

Kamar-kamar di Desa Alamanis resort modelnya kayak rumah di kampung yang bertetangga.

201707 alamanis06

Eh, ada yang udah bangun dan nggak sabar pengen berenang!

201707 alamanis07 201707 alamanis08

201707 alamanis11 201707 alamanis10

Difotoin Malik :’)

***

RM Suka Sari – Jalan Raya Prupuk, Tegal.

Hotel Batika Cirebon – Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo, Kesambi Cirebon West Java, Indonesia Ph. +62 231 833 8000

Goa Sunyaragi – Sunyaragi, Kesambi, Cirebon

Empal Gentong H. Apud – Jl. Raya Ir. H. Djuanda No. 24, Battembat, Tengah Tani, Battembat, Tengah Tani, Cirebon, Jawa Barat 45153

Desa Alamanis Resort Villa – Jalan Cirebon Kuningan, Gronggong, Beber, Patapan, Beber, Cirebon, Jawa Barat 45172. Phone: (0231) 8800889

Roadtrip Seadanya: Purwokerto

Belakangan ini kami sering pergi-pergi. Tapi, perginya bukan buat liburan seperti biasa. Sejak sibuk mengurusi bisnis baru di Medan dan Bandung, plus banyak acara keluarga besar, “liburan” selalu diselip-selipin diantara kerjaan atau urusan lain. Nah, bulan Juli lalu, kami bertekad untuk beneran libur. Bersantai aja gitu. Kami pengen ke tempat yang nggak terlalu jauh (budget terbatas bok!), tapi tetap menyenangkan. Dengan segala pertimbangan, kami memilih roadtrip ke Purwokerto! Yay!

Day 1&2

Kami sudah pernah ke Purwokerto sebelumnya. Dan itu sangat berkesan. Kebetulan, kami juga ingin kembali bersilaturahim dengan sahabat lama, teman kerja si Abang dulu, Pak Zaky dan keluarganya.

Begitu nyampe Purwokerto menjelang magrib, kami langsung disamperin di hotel. Mereka mengajak kami makan malam di warung kopi bernama “Kopi Lanang”. Tempatnya seru banget. Kopi dan makanannya juga enak-enak. Aku makan sayur pakis yang sedap atas rekomendasi Mbak Arum, istrinya Pak Zaky. Tapi di antara gossip emak-emak dengan Mbak Arum, liatin anak-anak kicik yang lari-larian (Malik sempet jatuh dan nangis kejer ajah!), aku nggak sempet fotoin tempat ini malam itu.

Dari hasil ngobrol, aku tau bahwa Pak Zaky dan Mbak Arum barusan membuka usaha hidroponikan. Tadinya kirain hidroponik mereka hanya buat konsumsi pribadi, eh taunya banyak yang mau beli. Jadilah kami dengan semangat mengatur rencana supaya besokannya bisa mengunjungi kebun, hihihi!

Tapi ternyata besokan paginya hari hujan! Kami menunggu-nunggu, tapi hujan tak kunjung reda, hiks. Akhirnya kami memutuskan untuk main aja ke rumah mereka, membiarkan anak-anak main bersama. Agak sore, langit sedikit cerah, jadi kami memutuskan untuk langsung berangkat ke kebun yang nggak jauh dari rumah mereka.

Dan kebunnya menyenangkan sekali! Mata langsung seger ger ger, liat barisan selada, pokcoy, dan kale. Ada juga timun yang rasanya manis banget! Anak-anak langsung heboh main tanah, sementara kami ngobrol santai sambil ngopi. Duhh… beneran deh, ngiler banget liat kebunnya! Pak Zaky bilang malah banyak ibu-ibu dateng kemari, bukan hanya buat beli sayur petik sendiri, tapi juga foto-foto, hihihih!

201707 pwt01

Menuju kebun, wiii udah kelihatan tuh!

201707 pwt09

Nggak sanggup liat begini langsung poto-poto, ahahahha!

201707 pwt02

Anak-anak pada hepi main tanah :’)

201707 pwt08

Coba, gimana nggak kalap liat beginian?

201707 pwt11

Sepatu dan celana Malik udah nggak jelas warnanya 😀

201707 pwt03

Ngopi-ngopi di kebun, adududududuh… sedap!

201707 pwt07

Foto keluarga wajib 😀

201707 pwt10

Sampai ketemu lagi, kebun hidroponikan!

***

Day 3

Hari kedua di Purwokerto, kami memutuskan untuk stay di hotel aja. Sebab, kemarin sudah seharian di luar. Kami menginap di Java Heritage Hotel, yang terletak di kota. Hotel ini menyenangkan sekali. Di lobby-nya ada seperangkat gamelan yang sebenernya hanya untuk display. Tapi, begitu melihat ini, Malik langsung beraksi, hahaha! Hampir setiap ada kesempatan dia akan meminta untuk turun ke lobby dan bermain gamelan.

Kolam renangnya juga luas dan menyenangkan. Ada air mancur yang buat Malik kesenengan, sebab dia sedang tergila-gila sama air mancur. Kami menghabiskan sepagian bermain di kolam. Mmm… maksudnya si Abang main sama Malik, sementara aku ada sedikit kerjaan yang harus diselesaikan, hihihi. Taman kolam ini juga lucu! Ada maze kecil yang buat penasaran, ada kolam ikan dengan dinding transparan seperti aquarium, plus banyak tempat duduk yang nyaman.

Kami memilih kamar deluxe yang ternyata cukup lega. Awalnya hanya booking dua malam karena berpikir untuk pindah dan merasakan hotel lain (kebiasaan!). Tapi Malik sepertinya terlalu capek dan nggak mau pindah, akhirnya malah extend dua malam lagi.

Kami makan siang di restoran Umaeh Inyong yang dulu pernah kami datangi juga. Lokasinya pun tak jauh dari hotel. Tapi, ternyata Malik ngantuk banget. Jadilah kami makan buru-buru dan balik ke hotel.

Sorenya, setelah segar, kami keluar untuk makan malam. Diajakin Pak Zaky dan Mbak Arum untuk makan Soto Jalan Bank. Ya ampun, ini enak banget deh! Kalau ke Purwokerto harus coba pokoknya!

Setelah makan, kami jalan-jalan ke tempat paling hits: alun-alun Purwokerto, hihihi. Anak-anak langsung lari-larian dan minta beli bubble. Tapiii, sayangnya hujan mulai rintik-rintik. Anak-anak juga mulai gelisah. Akhirnya Pak Zaky dan keluarga pamit dan kami bertahan sebentar di Alun-alun karena Malik pengen liat air mancur dulu!

201707 jahe02

Sebelum main gamelan harus permisi sendiri, tanya ke pak satpam boleh apa nggak dimainin 😀

201707 jahe01

Adukan es dan sikat gigi pun bisa jadi stick drum kalau sama Malik -.-

201707 jahe04

Hanya satu menit lah kamar bisa rapi begini. Selebihnya ya anak kicik udah heboh mainin ini itu. Senangnya, kamar di Java Heritage Hotel ini cukup lega, jadi nggak khawatir anaknya lari-larian gak jelas 😀

201707 jahe07

Kiri: Kolam renang hotel Java Haritage ini menyenangkan! Kanan: Yah, sendal pun dijadikan ‘stik drum’. Bebas lah Malik!

201707 jahe06

Bapak push-up dulu katanya biar perut agak rata pas di foto :D, ibu mah santai di pinggir kolam aja lah ya… 

201707 jahe05

Tenang Pak… perutnya nggak keliatan kok 😀

201707 jahe03

Se. La. Lu. 

201707 btr08

Soto Jalan Bank. Endeeuusssshhh…

201707 jahe12

Alun-Alun Purwokerto. Nama mall-nya mesra ya 😀 

201707 jahe09

Bapak Ibu gak mau kalah pengen main, ahahahah!

201707 jahe10 201707 jahe11

Kayaknya beginian ada di mana-mana ya sekarang 😀

***

Day 4

Belakangan ini, adekku juga sering bolak-balik Purwokerto. Bukan cuma karena mendoannya yang ngangenin, dia suka nyari air terjun alias curug buat lompat. Yes, you heard me right: BUAT LOMPAT! Jadi, ada komunitas yang namanya cliff jumping Purwokerto, yang sering jadi teman main adekku.

Nah, kami juga pengen ke curug bawa Malik. Purwokerto memang banyak curugnya. Letak curug-curug ini pun berdekatan, di daerah Baturraden ke atas. Nggak usah sampe lompat-lompat juga sih, tapi buat main air aja. Ceritanya bisa tour de curug gitu. Si Adek merekomendasi temannya untuk aku hubungi biar nemenin kami. Sayangnya anak-anak Pak Zaki tiba-tiba sakit jadi nggak ikutan. Akhirnya, kami pergi ditemanin dengan dua teman si Adek, namanya Oii dan Ripto.

Saat berangkat dari hotel, cuaca udah mendung-mendung manja gitu. Memang sejak kami dateng, Purwokerto agak kelabu. Padahal sebelumnya cerah ceria ngga ada hujan udah lama. Begitu mulai naik ke atas, hujan mulai menetes. Semakin ke atas, semakin lebat. Kami sempat berhenti di parkiran salah satu curug menunggu hujan reda. Tapi karena nggak reda-reda juga, sedangkan hari udah mulai menunjukkan waktunya makan siang, kami sepakat untuk makan dulu. Kamipun menuju Kopi Lanang tempat kami makan di malam pertama kemaren.

Tapiiiii…. Di tengah jalan, Malik nangis meraung-raung! Dia keukeuh mau main di sungai. Memang dari awalnya berangkat ke Purwokerto, kami sudah bilang akan main di sungai. Tapi ya gimana? Akhirnya mobil dihentikan di pinggir jalan, dan aku mengajak Malik keluar mobil. Menceramahinya panjang lebar soal hujan yang deras dan Malik bisa lihat sendiri kabut semakin tebal. Main di sungai saat hujan deras itu berbahaya. Tapi dasar Malik, dia tetap teguh pendirian mau main di sungai. Hhhhh… gimana dong.

Setelah berfikir, aku ingat bahwa di Lokawisata Baturraden juga ada sungai. Dulu saat kesana, sungainya hampir kering, jadi mungkin bisa buat main. Akhirnya, ditengah hujan, kami memutuskan untuk ke Lokawisata Baturraden aja.

Sampai disana, walah! Ternyata sungai yang dulu kering kini airnya sudah tinggi dan arusnya deras sekali. Dulu bisa santai menyebrang sungai, kini bermain pun dilarang karena arus sedang deras. Ya udah, akhirnya kami makan pecel aja deh, sambil minum susu jahe menunggu hujan agak reda.

Setelah hujan reda, aku ingat ada aliran sungai kecil di situ. Lebih kayak parit sih, hihihih. Jadilah kami mengitari area lokawisata itu demi sungai/parit itu. Malik girang sekali saat ketemu sungai kecil itu. Tapiiiii… saat Bapaknya  mencelupkan kaki Malik ke air, dia langsung minta udahan, hahahahah! Dingiiiinnnn, katanya! Owalah naaakkk, minta sungai sampe tantrum, eh udah ketemu sungai mainnya nggak sampe lima menit. HIH!

Dari situ, kami langsung kembali lagi ke Kopi Lanang buat leyeh-leyeh. Minum hangat-hangat dan makan pisang goreng. Yang kasihan sih Oii dan Ripto yang udah nemenin kami sampe hujan-hujanan. Huhuhu… maaf yaaa! (bersambung)

201707 btr02

Sungai Baturradennya juga udah banjir begini…

201707 btr01

Hujan-hujan pun keukeuh ya nak…

201707 btr03

Daaannnn… dia hanya bertahan dua menit sodarasodara…

201707 btr04

Akhirnya pindah tongkrongan ke warung kopi.

 

 

 

Processed with VSCO with f2 preset

Warung Kopinya lucuuu…

201707 btr05

Santai baeeeeeee…..

***

Kebun Hidroponikan Purwokerto – Delivery/Kunjungan kebun : 08112209230

Java Heritage Hotel – Jl. Dokter Angka No. 71, Sokanegara, Purwokerto Timur
Purworkerto, Jawa Tengah, Indonesia

Soto Jalan Bank – Jl. RA. Wiryaatmaja No. 15

Kopi Lanang – Jl. Raya Baturaden Bar. Karangtengah, Rempoah, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53151

BLW: Tiga Tahun Kemudian

Kayaknya sekarang metode memberi makan anak dengan cara Baby Led Weaning lagi naik daun ya, hihihihi! *lirik instagram-nya mbak artis*

Mungkin, para ibu-ibu baru yang pengen coba cara ini, bertanya-tanya ya. Bener nggak sih yang mbak-nya bilang? Nah, sebagai ibu yang (agak) newbie, dan pernah memakai metode ini, aku pengen share sedikit ya. Mudah-mudahan berguna!

Sebelumnya, mau ngasih background sedikit. Tiga tahun lalu, aku mencoba metode BLW saat MPASI pertama Malik. Persiapannya, jatuh-bangunnya, deg-degannya, bisa dibaca di beberapa postinganku di sini.

Nah, setelah tiga tahun kemudian, gimana sih Malik sekarang? Apa makan sendiri? Apa nggak picky eater? Apa nggak pernah GTM? Jawabannya… hhhmmmm… ya gitu deh, hahahaahahha! Walaupun ini aku yakin banyak biasnya, aku akan berusaha se-objektif mungkin ya.

Saat ini Malik makannya mix antara makan sendiri dan disuapin. Untuk makanan yang dia suka, dia akan sukarela makan sendiri. Tapi untuk makanan yang ‘biasa aja’, dia minta disuapin. Ini terjadi karena proses yang lumayan panjang.

Di awal-awal BLW, Malik memang full makan sendiri. Tapi, tiba-tiba saat dia berumur setahunan lebih, Malik sakit diare parah dan harus diet BRATY. Saat itu, karena dia makannya sedikit sekali, aku sungguhlah takut dia dehidrasi. Mau nggak mau, aku strap dia di stroller, dan suapin bubur.

Nah, dari situ, sesungguhnya godaan menyuapi itu tinggi ya buibu, ahhaha! Mana saat semakin besar, anaknya udah bisa main (nggak mau lagi di high chair!), dan mulai ngerti juga betapa enaknya disuapin. Dia bisa lari-lari sesukanya, hahahah! Bok, Bapaknya yang segede gitu aja kadang-kadang masih suka disuapin, gimana anaknya hahah! Nah, sejak itu, aku jadi lebih santai menggunakan metode ini. Toh awalnya dia udah bisa pegang makanan sendiri. Metode apapun, yang penting anaknya makan, ye kan?

Metode campur-campur ini juga karena aku melihat perkembangan berat badan Malik yang irit sekali. Nggak seperti saat bayi dulu dimana berat Malik selalu di persentil atas, alias ginduuttttt… nah, sekarang si anak kicik itu BB-nya bikin hati ibu kebat-kebit.

Lalu, apakah Malik picky eater? Nah, ini agak tricky. Sebenernya Malik nggak picky eater kalau makanannya enak, hahahaha! Makan sate, udah bisa seporsi orang dewasa saking sukanya. Steak, mie aceh, rendang, sup brokoli wortel, spaghetti, selalu habis. Buah, dia juga suka banget. Es krim, jangan ditanya.

Nah, tapiii…. Ada banyak juga yang dia nggak mau makan. Kalau aku lihat, selera makannya nggak jauh-jauh dari aku. Jadi, kayaknya soal picky eater ini harus dilihat lagi. Kalau aku berintrospeksi, lidahku ini juga nggak terbiasa makan macam-macam. Aku juga bukan tipe orang yang suka makan. Bisa jadi, kebiasaan makan orang tua juga berpengaruh sama selera dan kebiasaan anak. Mungkin, aku jarang memperkenalkan dia dengan berbagai makanan baru. Yang dimasak itu-itu mulu (skill-nya segitu doang kakaaakkk!), dan ini berpengaruh besar. Jadi, ibu-ibu yang mau ber-BLW-ria, kalau mau anaknya jadi pemakan segala, ya emang orang tuanya juga harus pemakan segala.

Kemudian, apa Malik pernah GTM? Nah, seumur dia yang sudah 3,5 tahun, baru satu kali aku mengalami yang namanya Malik ogah makan saat dia berusia dua tahunan. Mungkin ini ada kaitannya dengan psikologis anak usia segitu yang sangatlah rebellious. Tapi itu nggak lama.

Mungkin juga ini ada kaitannya dengan aku yang cukup santai menanggapi kalau Malik nggak mau makan. Biasanya, kalau dia nggak mau makan, atau makan sedikit, aku hanya bilang, “Ya udah. Nanti kalau lapar lagi, bilang sama ibu ya.” Dan memang, saat dia lapar dia akan bilang dan makan banyak (atau kasih nasi telur dadar pake saos tomat, pasti langsung banyak makan. Ibunya banget deh hahahha!). Dan makan bagi Malik juga nggak mesti nasi. Yang penting karbo cukup, protein cukup, dan serat cukup yang aku seimbangkan dalam rentang waktu seminggu.

Yang pasti, aku memang harus berterimakasih kepada metode BLW. Dengan memulai MPASI dengan metode ini, Malik sama sekali nggak pernah ngemut makanan. Malik mengunyah dengan sangat baik. Se-setres-setresnya liat Malik makan sedikit, aku tetap bersyukur kalo Malik makannya nggak pernah lama-lama. Kalau kenyang ya udah, berhenti. Nggak PHP dengan ngemut makanan, hihihi!

Selain itu, Malik juga motorik halusnya cukup baik. Diumur segini, dia sudah bisa memegang pulpen dengan baik, dan pura-pura menulis dengan membuat bentuk-bentuk yang kecil-kecil. Sesungguhnya dia bisa makan dan menggunakan sendok dengan baik. Cuma ya males ajaaaaaa gituuu… *kzl!

Jadi, kalau secara keseluruhan, aku sangat bersyukur mengenal metode BLW di awal MPASI. Segala kerepotannya, berantakannya, cukup terbayarkan dengan kebiasaan makannya yang cukup baik (tentunya menurut standarku ya).

Tapi begitupun, yang paling utama menurutku adalah anak yang sehat, apapun metodenya. Ya nggak?

BLW1

Minum sirop oke, minum antangin juga mau 😀

BLW2

Kiri: Ngoprek kulkas. Kanan: Donat sih udah pasti makan sendiri lah!

BLW3

Kopi oke, Tapi dikiiitttt! Kalo eskrim jangan ditanya 😀

BLW4Bapak aja masih disuapin, Malik juga boleh lah ya!