Staycation di Puncak

Kalau punya waktu dan budget yang relatif terbatas untuk liburan, kalian biasanya ngapain sih? Keluarga kami biasanya paling senang ber-staycation. Leyeh-leyeh di hotel, sarapan sampai siang, main di kolam renang, pokoknya bersantai aja. Nah, minggu lalu sebelum Ramadhan, kami memutuskan untuk staycation lagi.

Tadinya, kami pengen cari hotel yang menyenangkan di tengah kota Jakarta. Tapi setelah dipikir-pikir, kok rasanya lebih pengen lihat ijo-ijo pepohonan, ya? Yah, selain males juga sih liat harga hotel bagus di Jakarta on weekdays, hahahah! (Bilang aja bokek, kak!). Diantara beberapa pilihan, tiba-tiba inget sebuah hotel yang tak jauh dari Taman Safari, Cisarua. Beberapa tahun lalu kami ke Taman Safari dan sempat melongok hotel ini dari luar sewaktu masih dalam proses pembangungan. Browsing sedikit, akhirnya jadi tau kalau hotel yang kami maksud itu adalah ‘Pesona Alam Resort’. Jadilah kami booking untuk 2 malam.

Day 1

Kami berangkat hari Minggu sekitar jam setengah tiga sore dengan perkiraan jalanan nggak macet. Soalnya pasti yang rame adalah arus balik. Tapi, ternyata salah perhitungan sodara-sodara. Jam 3, jalan menuju Puncak sudah mulai buka tutup, dan kami berada di situ jam 3 lewat sepuluh. Hhh… Tapi jangan sedih, akhirnya kami mengambil jalan alternative (makasih google maps!). Walau jadinya lebih jauh dan beberapa bagian jalan jelek, tapi justru malah senang karena jadi terasa kayak ‘liburan beneran’, ahahaha! Oh iya, buat yang juga lewat jalan alternative, ikutin aja tanda-tanda ke arah Taman Safari.

Sekitar jam setengah lima, kami tiba di estate Pesona Alam Resort. Jalan masuknya adalah hutan pinus yang cantik. Walaupun dari luar terlihat biasa, pas masuk ke lobby, kami langsung disuguhi pemandangan kayak begini:

E9879542-2FB7-4580-A9A0-C4A1AD909907

safari2

Lalu lihat ke bawah, ternyata terbentang kolam renang, plus playground yang luas.

EC97629F-0F0E-4C6C-81E5-82557F9F50F0

Whooaaaaaa! It was better than we expected, really! Nggak nyangka hotelnya akan seperti ini! Setelah welcome drink yang segar, kami diberi kamar di lantai 3. Kami memang meminta kamar dengan pemandangan gunung. Harganya lebih mahal dari kamar standar, tapi kayaknya kalau kesini yah sekalian aja kali yah liat pemandangan. Masak tembok lagi, tembok lagi 😀

03F15244-BDE2-4E96-91EB-F0F1586C9796

Kami memutuskan makan malam di hotel karena udah capek untuk ngapa-ngapain. Waktu itu kami belum tau kalau dalam kompleks hotel ini, sekitar 200an meter dari bangunan utama, ada dua tempat makan yang asyik. Begitupun, makan malam di hotel juga enak banget! Malik mencoba steak dua malam berturut-turut dan hampir menghabiskan 200gr daging plus kentang dalam sekali makan! Sementara nasi bakar kecombrangku pun bikin nagih.

Sehabis makan malam, kami bermain di playground. Dan untuk hari-hari ke depannya, kami hanya bermain di playground di malam hari. Kenapa? “Karena kalau siang-siang banyak orang”, kata Malik. Uhuk. Anaknya memang masih agak ansos ya kalau lihat keramaian. Di playground yang dialasi rumput sintetis itu ada lapangan dan gawang untuk main bola, ada ring basket, mini golf dan sofa-sofa besar untuk duduk. Walaupun dingin, kami bermain seru! Malik senang banget dibolehin main malam-malam, lari-larian pulak. Kalau capek, kami rebahan di rumput sambal melihat bintang-bintang yang banyak. Dan hati sungguh hangat setiap dia bilang betapa langitnya indah penuh bintang. It’s like he knows how to appreciate the little things in life. Mudah-mudahan sampe gede begitu ya nak.

232C3421-5FE5-4342-BF29-B87C498CACDF

Day 2

Kami memulai hari dengan sarapan yang astagaaaaa… banyak banget pilihannya! Ini benar-benar mengejutkan buat kami. Soalnya kemaren niatnya mau ke hotel bagus di Jakarta adalah karena pengen sarapan yang berlimpah, ahahah!

Nggak menyangka dengan rate yang cukup terjangkau, sarapan di hotel ini ala bintang 5 banget. Station buburnya aja ada 3 macam bubur. Lalu ada laksa, lontong dan mie ayam. Ada station omelette, nasi uduk/kuning, nasi dan lauk, gorengan dan sambal, juga salad dan buah. Ada setidaknya 10 jenis roti di bread station-nya, dan setidaknya 10 macam minuman panas/dingin. Ada juga station sereal, mesin popcorn, dan ibu jamu yang standby! Dan nggak cuma itu: rasanya ENAK!

Puas sarapan berlama-lama, kami sepakat untuk mengunjungi Taman Safari yang hanya 5 menit naik mobil dari hotel. Oh iya, hotel ini juga memberikan diskon 15% untuk tiket masuk Taman Safari. Lumayan juga!

Walaupun awalnya sangat semangat, Malik ternyata biasa-biasa aja begitu kami tiba. Ia hanya sedikit tertarik dengan beberapa binatang, dan malah sangat senang saat dipangku Bapaknya sambil menyetir. Seusai safari, ia bahkan sempat tertidur di parkiran.

safari1

Saat Malik bangun, dia melihat peta dan menunjuk dua tempat: mau lihat penguin dan air terjun. Dasar anak empat tahun, saat lihat penguin, dia malah adem-adem aja dan mau segera lihat air terjun. Aku sendiri baru ngeh loh kalo di Taman Safari ada air terjun ahaha! Jalannya agak menanjak, tapi cukup bagus. Malik senang banget lihat air terjun daaaannn… dia mau mandi aja dong! Untung aku membawa baju gantinya. Dia senang banget, padahal airnya dingin. Dan selama beberapa hari di hotel, dia nggak ada satu kalipun berenang di kolam hotel loh! Lebih milih berenang di air terjun seadanya yang sepi, ahhaha!

IMG_3951safari3IMG_4050

Setelahnya Malik merengek minta kembali ke hotel. Tapi aku sesungguhnya sangat pengen melihat Panda yang wahananya baru aja dibuka awal tahun. Tadinya aku mau pergi sendiri, tapi ternyata ke wahana ini harus naik bis segala, dan bayar tiket lagi (hih pastinya!). Untungnya, melihat bis, Malik jadi semangat pengen naik. Akhirnya kami semua pergi melihat Panda. Lumayan liat sebentar, sebelum anaknya merengek lagi. Tapi akhirnya ditodong sama anak kicik untuk membelikan boneka panda… (jago juga nih anak triknya!)

 safari4

Day 3

Harusnya hari ini kami checkout, sebab hanya booking untuk 2 malam. Awalnya kami kira puasa dimulai Rabu, ternyata Kamis. Jadi, masih ada sehari ekstra, plus kami masih pengen bersantai. Akhirnya kami sepakat untuk extend satu hari lagi. Tapi hari ini kami beneran hanya beredar di kawasan hotel.

Setelah sarapan, kami ke petting zoo di playground. Nggak terlalu bagus sih, dan harus bayar 25ribu perak per orang untuk masuk. Tapi yah lumayan lah, Malik bisa sayang-sayang kelinci dan marmut. Ada kura-kura dan kambing juga.

IMG_4139

Untuk makan siang, kami memutuskan untuk mencoba ‘Club Huis’, salah satu dari dua tempat makan di kompleks hotel itu. Tadinya mau jalan kaki, tapi stafnya menawarkan untuk diantar naik golf cart. Dan tempat ini menyenangkan sekali! Semacam rumah tua nan mungil yang berada di tengah-tengah hutan pinus dan taman. Malik lari-larian dengan bebasnya. Bahkan dia dengan sengaja memasukkan diri ke kolam-kolam dangkal di sekitar bangunan, yang sebeneranya hanya untuk estetika semata. Apapunlah nak, yang penting happy ya! Oh iya, dari segi makanan, tempat ini lebih cocok untuk ngopi sore karena menu-menunya tergolong ringan.

safari5

Sedangkan untuk makan malam, kami mencoba ke ‘Lake House’, tempat makan satu lagi dalam kompleks hotel. Makanan disini lebih berat dan lebih bervariasi, dan dari segi harga bahkan lebih murah dibanding Club Huis atau di hotel. Yang istimewa sebenarnya adalah bentuk bangunannya. Ada area outdoornya yang dikelilingi kolam. Mungkin lebih seru kalau kesini sore-sore, ya.

IMG_4275

Day 4

Setelah menikmati sarapan, kami kembali main di sekitar hotel. Malik keukeuh nggak mau berenang, karena kolamnya rame. Nggak mau juga main di kids club, katanya itu untuk baby (eaaakkk!). Akhirnya kami ke petting zoo lagi, dan lari-larian di taman. Setelah checkout, kami langsung pulang ke rumah.

safari6

Secara keseluruhan, hotel ini menyenangkan sekali. Pelayanan dan stafnya, flawless! Kami ngobrol dengan beberapa staf dan semua ramah. Fasilitasnya juha sangat family-friendly dan highly recommended. Lokasinya juga cukup strategis. Tapi untuk nilai paling optimal ya kalau nginepnya weekdays yah. Selain harga lebih murah, tamunya juga nggak terlalu rame, jadi lebih enak aja. Kalau weekend yah, kayaknya harganya lebih tinggi dan sering full booked juga sepertinya. I think we’re gonna comeback here sooner than we expected, hihihi!

Astaga, Anakku Memukul Temannya!

Kemarin Malik pulang ke rumah sambil menangis tersedu-sedu. Katanya, temannya – sebut saja A – nakal, tidak mau mengembalikan pedang-pedangan kayu Malik yang dipinjam. Saat aku berusaha menenangkannya, dua orang temannya, termasuk si A, datang menghampiri. Tapi, mereka tidak hanya datang untuk mengembalikan pedang. Dengan dramatis, mereka melaporkan kejadian barusan: Malik memukul temannya yang lain – si B – sampai bibir dan gusinya berdarah! Tak tanggung-tanggung, Malik memukul dengan roller cat kecil (yang terbuat dari besi), yang saat itu memang sedang dia pegang! Astaga….

 

Malik memang sering memainkan roller cat itu. Ia menggunakannya untuk pura-pura mengecat, untuk main pedang-pedangan, main pukul bola, macam-macam. Begitupun, ia juga sudah paham kalau roller cat itu keras dan harus dimainkan dengan berhati-hati. Jadi, saat mendengar Malik memukul – apalagi dengan alat seperti itu – terdengar sangat tidak masuk akal buatku. Lagipula, tadi bukannya dia marah dengan si A? Kenapa yang dipukul malah si B?

 

Ditengah kepanikan, aku berusaha bertanya kepadanya apa benar dia memukul si B. Tapi, dia malah diam, sepertinya bingung dan takut. Kedua temannya yang datang juga tidak memberikan penjelasan yang bisa aku mengerti, ya namanya juga penjelasan anak-anak. Setengah memaksa, aku mengajak Malik ke rumah si B yang hanya berbeda satu blok dari rumah kami. Biasanya kalau dia salah, dia akan menurut. Tapi kok ya malah dia terus diam dan nggak mau beranjak sedikitpun. Akhirnya aku menyuruh dia tinggal di rumah dan tidak kemana-mana, dan aku langsung pergi ke rumah si B dengan perasaan khawatir luar biasa.

 

Di rumah si B, ibunya – yang juga kukenal sejak kami pindah kemari dan anak-anaknya juga sering main kerumah – menyambutku dengan marah! Dia memanggil anaknya dan memperlihatkan bibir yang kena roller cat itu. Di sudut kiri bibir bawahnya ada robek sedikit dan gusinya juga cowel. Aku gemetar dan memeluk si anak dan bertanya apa masih sakit. Dia mengangguk sambil terus menempelkan es batu ke lukanya. Syukurnya, darahnya sudah tak keluar lagi.

 

Aku meminta maaf dan bertanya apa yang bisa aku lakukan. Tapi ibunya masih terlalu panik dan marah, dengan suara tinggi bilang, “Tolong jaga anaknya yang bener dong!” Jantungku berdebar kencang, rasanya ingin menangis. Aku menyarankan untuk pergi ke dokter, tapi dia bilang tidak perlu. Lalu aku ingat, di rumah ada minyak yang lumayan mujarab untuk luka. Aku bilang aku akan ambil sebentar ke rumah, mudah-mudahan bisa lekas sembuh. Ibunya bilang besok si B ada performance sekolah dan harus tampil. “Bagaimana ini mau tampil bibirnya jontor begini?”. Sejujurnya, aku pikir luka itu tidak akan jadi masalah untuk performance. Tapi ya namanya orang sedang panik dan marah, ya nggak mungkin dibantah.

 

Akhirnya aku pulang sebentar untuk mengambil minyak. Aku marah sekali dengan Malik. Sampai di rumah, aku bilang sama Malik kalau si B bibirnya luka dan berdarah. Aku mengingatkan dia soal bibirnya yang dulu juga pernah sobek dan berdarah karena jatuh. “Kamu tahu itu sakit sekali kan?” kataku ke Malik. Dia diam, tapi terlihat sudah mengerti. “Sekarang kita pergi ke rumah si B dan kamu bawakan minyak ini untuk dia supaya dia lekas sembuh. Mengerti?” Dia mengangguk dan kami pergi bersama.

 

Kami menemukan si B dan ibunya di rumah si A yang hanya berselang tiga rumah. Malik lalu mendekati ibunya B dan dengan sopan meminta maaf sembari menyerahkan minyak. “Ini untuk B, supaya cepat sembuh,” katanya terbata. Syukurnya, ibunya sudah ‘kembali normal’, tak lagi marah dan panik seperti sebelumnya. Dia lalu memeluk Malik dan bilang bahwa lain kali Malik tidak boleh begitu. Malik lalu mendekati si B yang juga sudah tidak marah. “Maaf ya. Aku tidak sengaja pukul kamu. Mana yang sakit?” tanya Malik. Si B menunjukkan lukanya. “Aku bawa minyak supaya kamu cepat sembuh. Aku janji besok-besok aku tidak begitu lagi,” katanya.

 

Walaupun sudah saling memaafkan, tetap saja kejadian ini membuat aku sungguh tidak tenang. Saat anak kamu memukul temannya, kamu akan dengan serta merta mempertanyakan kapasitasmu sebagai orang tua. What did i do wrong? Aku jadi meragukan banyak keputusan yang aku buat. Mungkin Malik memang tidak sengaja seperti yang dia katakan. Tapi belakangan ini menurutku Malik memang lebih agresif. Tidak pernah sampai memukul, tapi setiap kesal dia akan berkata-kata dengan ekstrem, misalnya “Malik marah sekali, Malik mau pukul dia sampai berdarah!” Jadi aku rasa memang ada sesuatu yang harus dievaluasi.

 

Sekarang aku ‘menghukum’ dia untuk tidak main keluar sampai beberapa waktu. Aku jelaskan padanya kalau aku sangat khawatir dia tidak bisa mengontrol amarahnya. Aku juga jelaskan, hukuman akan berakhir kalau dia sudah bisa menunjukkan kepadaku kalau dia sudah bisa berlaku baik dan tidak langsung marah-marah ke teman-temannya. Selain itu, aku juga meminta pengertiannya untuk tidak lagi menonton film superhero kesukaannya (yang lumayan banyak adegan berantemnya). Syukurnya dia bisa mengerti, dan (sepertinya) dia tahu kalau dia salah. Aku juga bilang kalau besok (maksudnya hari ini), Malik harus menjenguk si B dan menanyakan kabarnya. Entahlah keputusan ini benar atau tidak, tapi rasanya aku harus berbuat sesuatu.

 

Siang tadi, kami ke supermarket untuk berbelanja sesuatu yang bisa diberikan untuk menjenguk si B. Malik sempat mengusulkan untuk beli mainan, tapi aku menjelaskan, biasanya menjenguk orang sakit itu diberikan buah yang banyak vitamin, supaya lekas sembuh. Akhirnya dia memilih sendiri buahnya. Dia membelikan apel, pear, jeruk dan anggur, semua buah kesukaannya. Kami membungkusnya bersama dan membuatkan kartu. Dia mengarang kata-katanya sendiri dan menuliskan namanya sendiri, walau belepotan. Setidaknya, itu menunjukkan kalau dia memang bertanggung jawab.

Buah

Sayangnya, saat kami ke rumah si B, mereka belum pulang. Jadi, hadiahnya kami letakkan di teras. Dan lepas magrib tadi, si B dan ibunya ternyata datang ke rumah untuk berterima kasih atas hadiah Malik. Kami ngobrol cukup lama. Dia meminta maaf karena sempat marah dan panik. Aku bilang, aku paham dan maklum. Orang tua manapun pasti marah kalau anaknya begitu. Aku juga minta maaf dan menjelaskan kepadanya langkah-langkah yang sudah aku lakukan ke Malik. Dan saat mereka pamit, kami berpelukan. Sungguh, aku merasa jauh lebih lega. Meskipun masih ada PR yang harus dikerjakan, tapi setidaknya satu masalah terselesaikan.

 

Segininya ya, jadi orangtua…

 

Ada yang pernah begini juga? What did you do?

Eleven is a Strange(r) Thing

Tahun yang aneh, bukan begitu, sayang? Lebih satu dekade bersama, kita pikir kita sudah khatam tiap kelok, turunan dan tanjakan. Tapi pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Sekeras apapun kita mencoba, itu adalah hal yang tak terelakkan.

Ada banyak air mata yang mengalir, tahun ini. Kadang ia tertahan di kerongkongan, lebih banyak lagi yang mengucur tak berhenti. Kesedihan yang menggumpal bersama kekecewaan pada diri sendiri. Emosi yang sering kali hilang kendali.

Kita menyalahkan jarak. Mengutuk waktu yang terserak. Membenci suara-suara sumbang yang kerap bersorak. Menyumpahi isi kepala dan ego yang tak kunjung melunak.

Tapi kurasa Tuhan memang mendengar doa yang terlantun dengan sungguh. Kita selalu meminta dijauhkan dari penyesalan, dari pikiran yang keruh. Kita selalu memohon untuk diberikan kekuatan dan hati yang teguh. Untuk selalu bisa mencintai satu sama lain dengan utuh.

Memaafkan diri sendiri bukan perkara yang mudah. Ia mewajibkan kita untuk berkaca demi mengenali dan mengakui semua ketakutan yang kerap tersamar sebagai amarah. Butuh keberanian yang besar untuk mengaku salah. Memaafkan, tidak dilakukan oleh orang yang lemah.

Pada akhirnya kita akan kembali pada pertanyaan paling klise sedunia: percayakah kita pada cinta? Dan mata kita yang beradu, serta tangan yang bergenggaman menyatu, adalah jawabannya. Cinta saja memang tidak cukup untuk membina rumah tangga. Tapi cinta adalah fondasinya. Aku percaya.

Selamat ulang tahun perkawinan ke-11, abang.

I love you, I really do.

This one is for you :-*

 

Looking back on anniversaries: 10th, 9th, 8th, 7th, 6th, 5th, 4th, 3rd, 2nd

Today’s Happiness!

Buku ‘Happiness is Homemade’ karya Puty Puar yang di PO kemarin hari ini nyampe dan bukunya menyenangkan banget! Begitu sampai di halaman 9, langsung pengen mewek (ini sih emang cengeng aja deh kayaknya! Dikit-dikit nangis, hih!). Di halaman itu tertulis, “…and realizing that there will be just enough time for everything.” Langsung mengena sampe ulu hati, kak…

Processed with VSCO with f2 preset

 

Di tengah timbunan to-do-list yang sepertinya nggak habis-habis, rasanya selalu kekurangan waktu untuk mengerjakan semuanya. Kadang-kadang pengen toyor kepala sendiri, kenapa sih sampe segitunya. Tapi ya mau gimana lagi? Emang HARUS segitunya, kan? Membangun usaha itu kan nggak semudah mengucapkannya.

Tapi bukunya Puty mengingatkan aku untuk tarik napas sebentar dan merasa ‘cukup’ dengan diri sendiri (baca: segala kelebihan dan keterbatasan yang ada). Mengingatkan untuk bersyukur akan kebahagiaan-kebahagiaan kecil sehari-hari.

Dulu, aku dengan mudahnya menjadi ‘mindful’ akan sekitarku yang membuatku banyak sekali bersyukur. Tapi, hidup selalu berubah-ubah, dan kebiasaan-kebiasan kecil yang dulu membuat bahagia seringkali lupa untuk dilakukan. Ujung-ujungnya merasa kering dan kosong tapi nggak tau kenapa. Seringkali, kita butuh pengingat, semacam jangkar yang menjaga supaya kita tidak terbawa arus terlalu jauh. Dan karya Puty ini adalah jangkar yang manis sekali.

Sejak awal tahun, aku berjanji untuk lebih berbaik hati pada diri sendiri. Self-love, istilah kerennya. Lebih mengapresiasi apa saja yang telah dilakukan. Aku bahkan mengubah agenda tahunan – yang biasanya aku isi dengan berbagai rencana/kegiatan – menjadi gratitude journal. Setiap hari, aku menuliskan hal-hal yang membuatku senang dan karenanya bersyukur. Dulu, konsep ini terasa ‘meh’ banget buatku, karena ya seperti yang aku bilang tadi, aku cukup mindful terhadap sekitarku. Tapi, sekarang, aku sangat butuh mengingat hal-hal semacam ini untuk lebih merasa cukup dengan diri sendiri.

Di bukunya, Puty menyebutkan ini sebagai ‘reverse bucket list’ (hal. 120). Kalau Bucket List berisi tentang hal-hal yang ingin dicapai – yang sejujurnya kadang malah bikin gentar dan terintimidasi (or is it just me? Ahahahah!) – reverse bucket list adalah hal-hal yang telah dicapai. “Because success is getting what you want, but happiness is wanting what you got”. AMIN!

Jadi, terimakasih, Puty, untuk karyanya yang menghangatkan hati. Mudah-mudahan kamu diberi kebahagiaan selalu, dimanapun kamu meletakkan hatimu :-*

Processed with VSCO with f2 preset

 

So, guys. What little things that made you happy today?

2017: The Start Up Year – Perjalanan Menemukan (Kembali) Diri Sendiri

Aku memulai 2017 dengan sepenuh harap bahwa tahun ini akan lebih baik. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih menyenangkan hati. Setelah mengalami episode depresi di tahun sebelumnya, sungguh aku tak ingin itu terulang lagi.

Logikanya, tahun ini harusnya menjadi tahun yang santai, penuh liburan serta leyeh-leyeh. Memang sih, aku cukup banyak berpergian untuk liburan walaupun tidak jauh-jauh. Cirebon, Garut, Bandung, Medan, Banda Aceh, Sabang dan Purwokerto kami kunjungi. Bahkan kami sempat membawa orang tuaku jalan-jalan ke Garut dan Cirebon, serta membawa ibu mertua ke Bandung untuk berlibur sekaligus cek kesehatan.

Tapi, ternyata tidak demikian yang terjadi. Perenungan atas apa yang telah aku lalui membuatku merasa harus berbuat sesuatu. Depresi telah mengikis kepercayaan diriku hingga hampir habis. Ini adalah saatnya untuk menemukan kembali diri sendiri.

Usaha catering di Medan, catering adinda, yang sudah dimulai di akhir tahun 2016, pelan-pelan mulai berjalan. Ini tentunya memberikan tambahan semangat untukku. Aku merasa lebih berharga, karena merasa melakukan sesuatu yang berbeda dan berguna.

Maka, saat muncul ide untuk menggarap usaha baru dari adikku dan seorang sahabat, aku dengan suka cita menyambutnya. Dulu, saat Malik baru saja lahir, aku ingin sekali memproduksi baju anak-anak. Business plan sudah digarap, desain sudah dibuat, namapun sudah ada: minimons. Namun, karena banyak hal, usaha ini tidak jadi diluncurkan. Jadi, saat ide untuk menghidupkan kembali Minimons datang, aku jadi bersemangat.

Tapi, memulai sesuatu dari nol itu bukan perkara mudah memang. Setelah berbulan-bulan brainstorming, kami muncul dengan visi yang lebih menyentuh nilai-nilai keluarga. Pertengahan 2017 kami meluncurkan koleksi perdana yang tidak melulu baju anak, melainkan baju yang matching untuk seluruh keluarga. Ada sesuatu untuk bapak dan ibunya juga.

Begitupun, jalannya tidak mulus. Awalnya aku punya ekspektasi tinggi karena timku sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Tapi dalam perjalanannya, aku sadar bahwa tim yang terbentuk ini butuh banyak sekali adaptasi untuk bekerja sama. Ujung-ujungnya, aku harus realistis dan kembali kepada hal yang sungguh klise: semua butuh proses.

Di penghujung Oktober, saat deadline produksi mulai mengejar, partner bisnis sekaligus desainer memutuskan untuk keluar. Sungguh itu adalah pukulan telak yang membikin panik.  Tahun yang ‘harusnya’ menyenangkan, berubah jadi sekumpulan masalah yang saat itu tak terlihat jalan keluarnya.

Aku hampir menyerah. Rasanya, ingin sekali membubarkan Minimons dan melepaskan diri dari keruwetan yang terjadi. Tapi setelah berfikir lama, aku sadar. Selama ini aku selalu bertahan dengan apapun yang terjadi. I am a survivor, that is who I am. Aku bukan jenis orang yang berhenti begitu saja, tanpa berjuang hingga akhir. Dan yang membuat hati sungguh hangat, adalah sahabat-sahabat yang selalu menyemangati (you know who you are, girls. I owe it to you #MahmudSeadanya) dan orang-orang yang dipertemukan, yang memberikan banyak inspirasi.

Aku lantas mengerahkan segala yang aku punya untuk tetap meneruskan Minimons. Sebuah mantra terucap berkali-kali di hati: aku bisa! I’m a fast learner and I can learn anything I want. Aku adalah orang yang bisa beradaptasi dengan situasi apapun, itu yang menjadi kunci kenapa aku bisa survive hingga kini.

Dan di tengah ‘badai’ itu, aku seperti menemukan diriku kembali. Dinda yang punya tujuan. Dinda yang tak menyerah dengan keadaan. Dinda yang meskipun merasa takut, tapi terus berjalan.   

Maka, penghujung 2017 adalah ujian ketahanan fisik dan mental. Waktunya untuk benar-benar melakukan apa yang aku ucapkan. To walk the talk. Aku melakukan apapun yang bisa kulakukan tanpa berhenti. Tidak hanya mengurusi Minimons tentunya, aku masih harus mengurus usaha catering adinda di Medan, mengurus Malik, plus berbagai urusan keluarga besar. Sebentar di rumah, sebentar di Bandung untuk urusan Minimons, sebentar lagi sudah di Medan untuk urusan catering adinda.

Melelahkan. Sangat. Bahkan hingga aku menulis ini pun masih ada to-do-list yang menanti untuk dikerjakan. But hey, if it’s the price that I have to pay to be myself again, then so be it. I know for sure, I will not regret anything. Aku yakin – dengan seyakin-yakinnya – bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Hey 2018, bring it on! 

blog 2017 2Me, proudly wearing my first ever design, scarf for minimons.