Eleven is a Strange(r) Thing

Tahun yang aneh, bukan begitu, sayang? Lebih satu dekade bersama, kita pikir kita sudah khatam tiap kelok, turunan dan tanjakan. Tapi pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Sekeras apapun kita mencoba, itu adalah hal yang tak terelakkan.

Ada banyak air mata yang mengalir, tahun ini. Kadang ia tertahan di kerongkongan, lebih banyak lagi yang mengucur tak berhenti. Kesedihan yang menggumpal bersama kekecewaan pada diri sendiri. Emosi yang sering kali hilang kendali.

Kita menyalahkan jarak. Mengutuk waktu yang terserak. Membenci suara-suara sumbang yang kerap bersorak. Menyumpahi isi kepala dan ego yang tak kunjung melunak.

Tapi kurasa Tuhan memang mendengar doa yang terlantun dengan sungguh. Kita selalu meminta dijauhkan dari penyesalan, dari pikiran yang keruh. Kita selalu memohon untuk diberikan kekuatan dan hati yang teguh. Untuk selalu bisa mencintai satu sama lain dengan utuh.

Memaafkan diri sendiri bukan perkara yang mudah. Ia mewajibkan kita untuk berkaca demi mengenali dan mengakui semua ketakutan yang kerap tersamar sebagai amarah. Butuh keberanian yang besar untuk mengaku salah. Memaafkan, tidak dilakukan oleh orang yang lemah.

Pada akhirnya kita akan kembali pada pertanyaan paling klise sedunia: percayakah kita pada cinta? Dan mata kita yang beradu, serta tangan yang bergenggaman menyatu, adalah jawabannya. Cinta saja memang tidak cukup untuk membina rumah tangga. Tapi cinta adalah fondasinya. Aku percaya.

Selamat ulang tahun perkawinan ke-11, abang.

I love you, I really do.

This one is for you :-*

 

Looking back on anniversaries: 10th, 9th, 8th, 7th, 6th, 5th, 4th, 3rd, 2nd

Today’s Happiness!

Buku ‘Happiness is Homemade’ karya Puty Puar yang di PO kemarin hari ini nyampe dan bukunya menyenangkan banget! Begitu sampai di halaman 9, langsung pengen mewek (ini sih emang cengeng aja deh kayaknya! Dikit-dikit nangis, hih!). Di halaman itu tertulis, “…and realizing that there will be just enough time for everything.” Langsung mengena sampe ulu hati, kak…

Processed with VSCO with f2 preset

 

Di tengah timbunan to-do-list yang sepertinya nggak habis-habis, rasanya selalu kekurangan waktu untuk mengerjakan semuanya. Kadang-kadang pengen toyor kepala sendiri, kenapa sih sampe segitunya. Tapi ya mau gimana lagi? Emang HARUS segitunya, kan? Membangun usaha itu kan nggak semudah mengucapkannya.

Tapi bukunya Puty mengingatkan aku untuk tarik napas sebentar dan merasa ‘cukup’ dengan diri sendiri (baca: segala kelebihan dan keterbatasan yang ada). Mengingatkan untuk bersyukur akan kebahagiaan-kebahagiaan kecil sehari-hari.

Dulu, aku dengan mudahnya menjadi ‘mindful’ akan sekitarku yang membuatku banyak sekali bersyukur. Tapi, hidup selalu berubah-ubah, dan kebiasaan-kebiasan kecil yang dulu membuat bahagia seringkali lupa untuk dilakukan. Ujung-ujungnya merasa kering dan kosong tapi nggak tau kenapa. Seringkali, kita butuh pengingat, semacam jangkar yang menjaga supaya kita tidak terbawa arus terlalu jauh. Dan karya Puty ini adalah jangkar yang manis sekali.

Sejak awal tahun, aku berjanji untuk lebih berbaik hati pada diri sendiri. Self-love, istilah kerennya. Lebih mengapresiasi apa saja yang telah dilakukan. Aku bahkan mengubah agenda tahunan – yang biasanya aku isi dengan berbagai rencana/kegiatan – menjadi gratitude journal. Setiap hari, aku menuliskan hal-hal yang membuatku senang dan karenanya bersyukur. Dulu, konsep ini terasa ‘meh’ banget buatku, karena ya seperti yang aku bilang tadi, aku cukup mindful terhadap sekitarku. Tapi, sekarang, aku sangat butuh mengingat hal-hal semacam ini untuk lebih merasa cukup dengan diri sendiri.

Di bukunya, Puty menyebutkan ini sebagai ‘reverse bucket list’ (hal. 120). Kalau Bucket List berisi tentang hal-hal yang ingin dicapai – yang sejujurnya kadang malah bikin gentar dan terintimidasi (or is it just me? Ahahahah!) – reverse bucket list adalah hal-hal yang telah dicapai. “Because success is getting what you want, but happiness is wanting what you got”. AMIN!

Jadi, terimakasih, Puty, untuk karyanya yang menghangatkan hati. Mudah-mudahan kamu diberi kebahagiaan selalu, dimanapun kamu meletakkan hatimu :-*

Processed with VSCO with f2 preset

 

So, guys. What little things that made you happy today?

2017: The Start Up Year – Perjalanan Menemukan (Kembali) Diri Sendiri

Aku memulai 2017 dengan sepenuh harap bahwa tahun ini akan lebih baik. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih menyenangkan hati. Setelah mengalami episode depresi di tahun sebelumnya, sungguh aku tak ingin itu terulang lagi.

Logikanya, tahun ini harusnya menjadi tahun yang santai, penuh liburan serta leyeh-leyeh. Memang sih, aku cukup banyak berpergian untuk liburan walaupun tidak jauh-jauh. Cirebon, Garut, Bandung, Medan, Banda Aceh, Sabang dan Purwokerto kami kunjungi. Bahkan kami sempat membawa orang tuaku jalan-jalan ke Garut dan Cirebon, serta membawa ibu mertua ke Bandung untuk berlibur sekaligus cek kesehatan.

Tapi, ternyata tidak demikian yang terjadi. Perenungan atas apa yang telah aku lalui membuatku merasa harus berbuat sesuatu. Depresi telah mengikis kepercayaan diriku hingga hampir habis. Ini adalah saatnya untuk menemukan kembali diri sendiri.

Usaha catering di Medan, catering adinda, yang sudah dimulai di akhir tahun 2016, pelan-pelan mulai berjalan. Ini tentunya memberikan tambahan semangat untukku. Aku merasa lebih berharga, karena merasa melakukan sesuatu yang berbeda dan berguna.

Maka, saat muncul ide untuk menggarap usaha baru dari adikku dan seorang sahabat, aku dengan suka cita menyambutnya. Dulu, saat Malik baru saja lahir, aku ingin sekali memproduksi baju anak-anak. Business plan sudah digarap, desain sudah dibuat, namapun sudah ada: minimons. Namun, karena banyak hal, usaha ini tidak jadi diluncurkan. Jadi, saat ide untuk menghidupkan kembali Minimons datang, aku jadi bersemangat.

Tapi, memulai sesuatu dari nol itu bukan perkara mudah memang. Setelah berbulan-bulan brainstorming, kami muncul dengan visi yang lebih menyentuh nilai-nilai keluarga. Pertengahan 2017 kami meluncurkan koleksi perdana yang tidak melulu baju anak, melainkan baju yang matching untuk seluruh keluarga. Ada sesuatu untuk bapak dan ibunya juga.

Begitupun, jalannya tidak mulus. Awalnya aku punya ekspektasi tinggi karena timku sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Tapi dalam perjalanannya, aku sadar bahwa tim yang terbentuk ini butuh banyak sekali adaptasi untuk bekerja sama. Ujung-ujungnya, aku harus realistis dan kembali kepada hal yang sungguh klise: semua butuh proses.

Di penghujung Oktober, saat deadline produksi mulai mengejar, partner bisnis sekaligus desainer memutuskan untuk keluar. Sungguh itu adalah pukulan telak yang membikin panik.  Tahun yang ‘harusnya’ menyenangkan, berubah jadi sekumpulan masalah yang saat itu tak terlihat jalan keluarnya.

Aku hampir menyerah. Rasanya, ingin sekali membubarkan Minimons dan melepaskan diri dari keruwetan yang terjadi. Tapi setelah berfikir lama, aku sadar. Selama ini aku selalu bertahan dengan apapun yang terjadi. I am a survivor, that is who I am. Aku bukan jenis orang yang berhenti begitu saja, tanpa berjuang hingga akhir. Dan yang membuat hati sungguh hangat, adalah sahabat-sahabat yang selalu menyemangati (you know who you are, girls. I owe it to you #MahmudSeadanya) dan orang-orang yang dipertemukan, yang memberikan banyak inspirasi.

Aku lantas mengerahkan segala yang aku punya untuk tetap meneruskan Minimons. Sebuah mantra terucap berkali-kali di hati: aku bisa! I’m a fast learner and I can learn anything I want. Aku adalah orang yang bisa beradaptasi dengan situasi apapun, itu yang menjadi kunci kenapa aku bisa survive hingga kini.

Dan di tengah ‘badai’ itu, aku seperti menemukan diriku kembali. Dinda yang punya tujuan. Dinda yang tak menyerah dengan keadaan. Dinda yang meskipun merasa takut, tapi terus berjalan.   

Maka, penghujung 2017 adalah ujian ketahanan fisik dan mental. Waktunya untuk benar-benar melakukan apa yang aku ucapkan. To walk the talk. Aku melakukan apapun yang bisa kulakukan tanpa berhenti. Tidak hanya mengurusi Minimons tentunya, aku masih harus mengurus usaha catering adinda di Medan, mengurus Malik, plus berbagai urusan keluarga besar. Sebentar di rumah, sebentar di Bandung untuk urusan Minimons, sebentar lagi sudah di Medan untuk urusan catering adinda.

Melelahkan. Sangat. Bahkan hingga aku menulis ini pun masih ada to-do-list yang menanti untuk dikerjakan. But hey, if it’s the price that I have to pay to be myself again, then so be it. I know for sure, I will not regret anything. Aku yakin – dengan seyakin-yakinnya – bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Hey 2018, bring it on! 

blog 2017 2Me, proudly wearing my first ever design, scarf for minimons.

Musik Malik: The Beginning

Kemampuan Malik menggebuk drum banyak membuat orang heran: masih tiga tahun kenapa sudah bermain drum dengan ketukan yang benar? Ada yang bilang Malik berbakat dan banyak yang penasaran kenapa bisa demikian. Aku sering ditanya: gimana ngajarinnya?

drum1

Malik and his ‘drum-set’ 

Sebenarnya, aku sendiri agak bingung menjawabnya. Dimataku, drum tak ubahnya mainan. Semuanya terjadi dengan proses yang normal-normal saja, nggak ada yang istimewa. Aku dan abang juga tidak punya background musik sama sekali. Kami hanya suka mendengarkan musik, itupun sesempatnya. Aku bisa sih main gitar sedikiiiiiiiitttt. Hanya tiga-empat kunci sebagai modal pergaulan (halah, istilahnya!).

Saat Malik lahir, aku pernah baca bahwa musik bagus untuk anak. Orang tua disarankan untuk memperdengarkan musik ‘beneran’, dari berbagai genre, tidak hanya sekedar lagu anak-anak. Saat dia masih bayi, aku hampir selalu bersenandung lagu ‘La Vie en Rose’ menjelang tidur, dan terkadang mengubah liriknya menjadi doa-doa untuk Malik. Aku sering memutar lagu-lagu berirama jazz yang tenang sambil menggendongnya. Atau, saat dia sudah agak besar, kami kerap memutar lagu-lagu hiphop dan joget-joget nggak jelas bersama sambil bermain.

Kalau sedang nyetir kami sering menyetel DVD konser. Alasannya sederhana: karena DVD konser itu bisa hanya didengarkan, tapi bisa juga ditonton kalau macet. Dua DVD yang sering di tonton adalah konser Michael Buble dan Josh Groban. Tapi lama-lama jadi pusing sendiri. Gara-gara ini, setiap naik mobil, Malik semacam sudah otomatis meminta diputarkan “Om Buble” atau “Om Josh” (Panggil om lah, biar akrab! Hahahaha!). Kadang-kadang sampe nggak enak sama orang yang kebetulan naik mobil kami, karena lagunya itu-itu melulu, hahaha!

Awal Malik ‘berkenalan’ dengan drum juga tidak sengaja. Namanya anak bayi, kadang-kadang suka mukul-mukul dengan tangannya. Saat dia sudah mulai bisa menggenggam, aku iseng memberikan dua buah sumpit makan dan kami berpura-pura main drum. Urusan pukul memukul ini lalu semakin sering karena kami membelikannya sebuah jimbe kecil saat kami mengunjungi Saung Angklung Udjo di Bandung.

Kegiatan bermusik ini kian berkembang sejak kami mulai memperkenalkan gadget kepadanya di usia 1,5 tahun. Awalnya sih karena dia terkesan sekali dengan pertunjukan di Saung Angklung Udjo dan sangat senang jika aku memutar video “kakak menari” di handphoneku. Karena udah diputer sekian ribu kali, si ibu ini kan bosan ya. Jadilah aku mencari video di youtube. Tapi video apa? Karena waktu itu Malik sangat senang dengan jimbenya, aku mencari video dengan key word: “the best drummer in the world” hahah! Dari situ, keluarlah video solo-nya Mike Portnoy (drummernya Dream Theatre).

Sejak itu, Malik semakin mengeksplorasi jimbenya. Segala panci, ember, gayung, kaleng cat, kemudian juga dia jejerin untuk dijadikan drum set. Setiap hari selalu memainkannya. Meski begitu, aku juga selalu berusaha mengajaknya bermain yang lain. Dalam pikiranku, ya bagus kalau dia suka satu hal dan konsisten. Tapi tidak berarti hal-hal lain juga tidak perlu diperkenalkan. Diantara bermain drum, Malik juga suka masak-memasak, bermain dengan tepung dan playdoh, main cat dan crayon, berenang, main di playground, main pasir, dan macam-macam lain. Hanya saja, kalau dihitung durasinya dalam seminggu, sebagian besar memang ia habiskan dengan bermain drum. Berbekal sumpit yang sangat mudah untuk dibawa kemana-mana, Malik selalu bisa bermain drum, hampir kapan saja, dimana saja.

Memasuki umur dua tahun, screen-time Malik bertambah. Video yang dia lihat juga semakin bervariasi. Youtube seringkali memberi suggestion video baru yang kemudian dia tonton dan memberikan inspirasi baru. Kemampuan verbalnya yang meningkat cepat, juga memberikan kontribusi signifikan. Ia bisa membedakan tiap video, dan meminta kami memutarkan video tersebut. Yang ada Bapak-Ibunya harus selalu tau apa yang dia tonton. Karena, seringkali dia akan minta video yang spesifik. Bisa bingung kalau nggak tau apa yang dia maksud.

drum3

Setelah Mike Portnoy, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan drummer/youtuber Casey Cooper karena videonya meng-cover lagu “Burn”-nya Ellie Goulding dengan drum stik terbakar api yang sungguh epic sekali. Dan dari fitur suggested video di youtube, kami sering memutar berbagai video drummer/youtuber, termasuk Rani Ramadhany dari Indonesia. Soal drummer/musisi kesukaan Malik ini nanti aja deh buat posting terpisah. Panjang ajeeee ahahah!

drum4

drum5

Bertemu idola: Casey Cooper dan Rani Ramadhany

Tidak hanya itu, aku juga sering mengajaknya ke toko musik. Dia tahan berlama-lama nongkrong di sini. Kalau kebetulan ada drum set atau instrumen lain yang boleh dimainkan, dia pasti akan senang sekali. Tapi kalaupun nggak ada, dia sudah bahagia bisa sekedar mengelus gitar, memencet piano tanpa suara, atau bertanya-tanya soal berbagai instrumen musik yang dia lihat.

Aku sempat membawanya beberapa kali ke studio musik jam-jaman agar ia bisa bermain drum dengan bebas. Tapi hanya beberapa kali pergi, dia sudah tidak tertarik lagi. Mungkin nanti di coba lagi.

Aku dan abang juga sempat membawanya ke beberapa kursus musik, bahkan untuk ikutan sesi drum privat di sebuah sekolah musik. Sayangnya, kami merasa kurang pas dengan instrukturnya. Padahal yang kami inginkan hanyalah supaya Malik punya teman main drum, tidak perlu belajar macam-macam. Tapi mungkin instrukturnya juga bingung dan waktunya juga belum tepat.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan ‘gimana ngajarinnya?’, seperti yang bisa dilihat, pertanyaan itu jadi tidak relevan. Karena Malik belajar sendiri. Kami sebagai orang tua, hanya memfasilitasinya. Atau kalau boleh ditarik ke belakang lagi, apa yang kami lakukan pada dasarnya adalah mengubah persepsi atas apa yang disukai Malik. Aku melihat kegiatan “mukul-mukulnya”  itu sebagai sesuatu yang positif alih-alih mengganggu. Aku mencari cara untuk menyalurkannya secara positif, yaitu dengan bermain drum. Pelan-pelan, dari drum ini kemudian melebar menjadi musik secara umum. Dan dengan musik sebagai “pintu”-nya, aku mengenalkan Malik dengan begitu banyak hal.

Otak manusia itu belajar jauh lebih baik dalam keadaan rileks. Jadi, kalau sudah suka dengan satu hal, pasti rasa suka itu akan membuat kita dengan suka rela dan senang hati mencari tahu mengenai hal itu. Nggak perlu memaksa untuk menjejalkannya. Kuncinya adalah bermain.

Kemaren waktu aku posting video Malik bermain drum di Instagram, ada yang komen betapa lucunya Malik sudah punya hobi, nggak seperti anaknya yang hanya suka mobil-mobilan. Buatku, persepsinya lah yang harus diubah. Anak yang sangat suka mobil-mobilan bisa banget difasilitasi “to the next level”. Ada banyak sekali keahlian yang bisa dipelajar dari kesukaan terhadap mobil. Bisa ngasi liat mobil sendiri dan bercerita tentang bagian-bagian mobil. Apa fungsi-fungsinya. Kenapa mobil bisa jalan, dll. Ajak ke pom bensin, ke bengkel, ke showroom mobil, nonton formula1 di TV. The possibility is endless!

Bagiku, tiap anak sudah dilahirkan dengan potensi sendiri. Dan tugas orang tua adalah “mengeluarkan” potensi itu dengan cara memfasilitasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak ada pemaksaan. Membuat anak punya hobi itu perlu waktu. Dan jika ia sudah sangat suka dengan ‘hobinya’, pada akhirnya kata hobi itu akan hilang, dan itu menjadi bagian dari hidupnya.

Begitupun, pastinya aku punya kekhawatiran sendiri soal Malik mendengarkan musik dewasa. Tapi itu bahas lain kali saja deh ya, hihihi!

So, ada anaknya disini yang juga suka gebuk drum? Yuk play date yuk sama Malik! *ketemuan mesti bekel headset dan panadol biar gak pusing, hahahaha!*

drum2

Pameran Studio Ghibli, Imajinasi yang Jadi Nyata

Siapa yang suka film-filmnya Studio Ghibli? *Tunjuk tangan!*

Aku tau tentang film-filmya Ghibli sejak awal-awal menikah dengan si Abang, sekitar satu dekade lalu. Waktu itu, dia sih yang suka banget. Aku hanya selewat aja, karena aku nggak begitu suka sama animasi. Pernah, Kompas membuat semacam festival Ghibli dan ada nonton bareng. Si abang menggeretku ke Bentara Budaya, dan aku terkantuk-kantuk di sebelahnya. Yah, gimana nggak ngantuk. Acaranya pun malam, nonton pake proyektor, duduknya macam di kursi sekolahan, aku pegel yha!

Kami sempat berburu DVD (ya bajakan lah, aslinya ga tau mau cari dimana!) dan mencari berbagai film. Nah, setelah ada dvd ini, nontonnya jadi lebih khusuk dan lalu jatuh cinta, ahahahah! Yang pertama adalah Spirited Away. Ceritanya menakjubkan, buatku. Imajinasinya luar biasa dan sangat menyentuh. Gambarnya nggak canggih macam pixar atau Disney, tapi bagus banget. Lalu kemudian berkenalan dengan Ponyo yang nggak kalah menyenangkan. Musiknya apalagi ini, bagus banget. Duo Spirited Away dan Ponyo ini selalu jadi andalanku kalo ada anak tetangga atau ponakan pada main di rumah, hehehe.

Dari situ, aku nonton Kiki Delivery Service, Howl’s Moving Castle, Totoro, The Wind Rises, dan belakangan Princess Mononoke, The Tale of Princess Kaguya dan Porco Roso. Nausica, Castle In The Sky dan When Marnie Was There malahan belakangan ditonton.

Tapi, sesungguhnya yang membuat makin cinta sama Ghibli adalah Totoro. Sejak Malik lahir, kami cukup selektif memilihkan tontonan untuknya. Dan film pertama yang kami berikan ke Malik adalah Totoro. Dan sejak itu, aku jadi sangat-sangat-sangat apresiatif sama film ini.

Kalau dulu, Totoro hanya sekedar di tonton, tapi sejak mengenalkan ke Malik, aku jadi “melihat” apa yang dulu nggak terlihat. Totoro, bukan hanya sekedar film lucu menggemaskan, tapi ada banyak sekali nilai-nilai di dalamnya yang sulit ditandingi oleh film lain. Bahkan aku bisa bilang, belum ada film anak-anak yang lebih baik dari Totoro. Lebay? Mungkin. Tapi aku rasa banyak orang tua yang setuju.

Filmnya sederhana dan terasa ‘dekat’ dengan kehidupan sehari-hari. Tokoh utamanya adalah anak-anak, dan semua hal dibuat sesuai dengan sudut pandang anak-anak. Nilai-nilainya tentang mencintai lingkungan terasa subtle, namun pasti. Imajinasinya luar biasa, tapi terasa tidak berlebihan. Duh, pokoknya Totoro cintaku deh. Dulu sempet film ini diputar sehari tiga kali karena Malik minta, tapi aku gak bosen juga, ahahaha.

Cita-citanya sih pengen banget ke Museum Ghibli ke Jepang. Tapi, yah… kayaknya dalam waktu dekat masih belum bisa. Banyak prioritas lain yang harus didulukan. We’re gonna save it for much later, hehehehe.

Waktu ada festival film Ghibli digelar di Jakarta, rasanya pengeeeennn… banget nonton film-film itu di layar lebar. Tapi, waktunya selalu nggak pernah tepat. Si abang lagi kerja lah. Kalo dia pulang, banyak urusan ini itu lah. Susah. Bawa Malik ke bioskop masih belum bisa. Anaknya masih takut sama gelap dan suara berisik di bioskop. Pernah dicoba dan udah sampe beli tiket, tapi bubar jalan karena anaknya berubah pikiran, hahaha.

Jadi, pas ada exhibitionnya, dengan iming-iming ada beberapa item langsung dibawa dari Jepang sono, aku langsung YES! Pokoknya, harus lihat apapun yang terjadi, ahahah! Daaaann… kemaren akhirnya kesampean, dateng ke exhibition World Of Ghibli di Pacific Place, bertiga dengan abang dan Malik, pas sebelum si Abang berangkat kerja.

Waktu dateng dan membeli tiket, sebenernya aku agak bingung. Prosesnya cukup lama karena sepertinya petugasnya belum terbiasa. Tapi karena kami nggak buru-buru, aku santai aja. Tapi, ternyata sebelum membeli tiket, panitianya menerangkan bahwa pamerannya belum kelar 100 persen. Waaaaahhhh *kuciwa*

Kami datang di minggu pertama setelah pameran dibuka. Wahana 3 dimensinya baru kelar sekitar 70 persenan. Menurut panitia, sebagai kompensasinya, dengan tiket yang sama kami bisa dateng lagi kapan aja. Kalau pas dateng ternyata masih belum siap 100 persen juga, ya boleh dateng terus sampai akhirnya kami bisa melihat semua exhibit selesai 100 persen. Buat yang tinggal di Jakarta sih ini kedengerannya menarik. Tapi yang di luar kota kasihan juga ya? Si abang yang harus berangkat kerja segera, pulangnya baru awal oktober nanti. Pamerannya sudah selesai, jadi dia nggak bakalan bisa dateng liat lagi, hiks sedih.

Dengan harga tiket yang cukup mahal, apakah setimpal dengan pamerannya? Yah, menurutku sih 50-50 ya. Terutama karena faktor belum kelar tadi. Jadi waktu masuk tuh berasa kentang banget. Apalagi sepertinya nggak ada hal-hal “penambah informasi” yang tersedia. Nggak ada keterangan/cerita soal Ghibli, story behind the scene, atau apapunlah yang mungkin bisa dibaca dan menambah pengetahuan. Aku berfikir bakal berada di sana dari pagi sampe malem buat puas-puasin, tapi ternyata, ya gitu deh. Pada dasarnya, kami hanya datang, lalu foto-foto, that’s it.

Tapi, sebagai orang yang pengen banget ke Museum Ghibli di Jepang dan belum kesampaian, aku sih hepi banget dan menikmati. Detail-detailnya sangat bagus dan sangat layak untuk diapresiasi. Apalagi, Malik juga sudah cukup mengerti. Paling nggak dia inget sama Totoro dan Nekobus. Dia juga tertarik banget sama Castle-nya Howl dan pulang-pulang dia minta diputerin filmnya 😀

Ini foto-foto kami waktu kunjungan kemaren. Mahapkan fotonya banyak banget yaaa (dan mungkin bakal nambah lagi kalo kunjungan lagi, hihihih).

PS: menurut instagramnya, pamerannya hari ini sudah 100 persen loh!

***

From “My Neighbor Totoro”. 

Kayaknya exhibit ini yang paling di tonjolkan ya, mengingat Totoro emang monumental banget. Disini ada Totoro (ya iyalah!), Nekobus/Cat Bus, dan rumah keluarga Kusukabe yang detail banget. Katanya sih, rumahnya ini belum selesai. Bagian belakang rumah (yang harusnya ada tempat mandi dan dapur) belum kelar. Nantinya, rumah ini boleh dimasukin. Katanya sih 😀

201708 ghibli01 201708 ghibli02 201708 ghibli03 201708 ghibli04 201708 ghibli05 201708 ghibli06 201708 ghibli07

From “Porco Rosso”

Settingnya sederhana, tapi pesawat merahnya Porco Rosso ini cukup eye catching.

201708 ghibli12 201708 ghibli13

From “Ponyo”

Ini agak ‘kecewa’ sih. Padahal aku suka banget sama Ponyo. Tapi exhibitnya hanya ada begini doang, namanya ‘wall of ponyo’ yang terbuat dari dinding yang berlayer-layer gitu.

201708 ghibli16

From “Castle In The Sky”

Katanya ini wahana juga belum selesai. Hanya ada robot dan pesawatnya doang. Katanya sih bakal ada miniatur Laputa-nya segala. Katanyaaaaaa….

201708 ghibli08 201708 ghibli09

From “Howl’s Moving Castle”

Miniatur castle-nya Howl ini detail banget loh buatnya, aku kaguuummm! Malik awalnya takut, tapi lama-lama dia suka banget. Sampe pas pulang ke rumah minta diputerin filmnya 😀

201708 ghibli10 201708 ghibli11

From “Princess Mononoke”

Ini hutannya Princess Mononoke juga belum kelar semua. Katanya nanti bakal ada semacam hologram-hologram gitu. Katanyaaaaaa… 😀

201708 ghibli14 201708 ghibli15

Masih ada set bath house-nya Spirited Away, dan toko roti-nya Kiki Delivery Sevice yang belum kelar. Padahal pengen banget lihat dua ini. Yah… mudah-mudahan pas balik lagi udah kelar semua yaaaa!