2016: A Rough Patch

Iya. Ho oh. Blog ini memang nggak di-update enam bulan. Setengah tahun. SE-TE-NGAH-TA-HUN. Kepada para pembaca setia (kayak ada aja!), mohon maaf ya. Bukannya update, yang punya blog ini malah kadang curhat panjang lebar di Instagram. Jadi, sekedar tips aja nih. Kalau disini lagi sepi tulisan, boleh lah tengok Instagram aja. Mau di-follow juga boleh banget *modus* hahahaha…

Begitulah. Sebenernya banyak yang terjadi. Banyak banget sampai kadang nggak tau lagi harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya: ah, sudahlah! Nanti aja tulis-tulisnya. Ini juga sebenernya bingung mau nulis apa. Otak sama jari suka nggak singkron. Apalagi sama hati, eeaaaakkk…. Jadi, mumpung ini sudah penghujung tahun, kayaknya enak kalau merekap apa yang terjadi selama tahun 20016 ini. Here it goes.

Project #RumahPapa

Postingan terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana awalnya, rumah ini sudah selesai pada bulan November.

Saat ini, aku sedang berada di Medan, melihat bangunannya sudah berdiri… tapi belum ada atapnya, hahahahah! Waktu membangun struktur sih terlihat cepat. Begitu finishing, rasanya lamaaaaaa kaliiiiii! Sebenernya sih, sudah tinggal dikit lagi. Lantai 1 dan 2 paling tinggal merapikan, serta pasang pintu dan jendela. Tapi karena atap belum kelar, tentunya ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, terutama untuk lantai paling atas, juga untuk tangga-tangga. Jadi yah, kebanyakan pekerjaan harus ditunda sampai atap selesai.

Memang membangun rumah itu perlu mental baja ya. Baja kokoh nan padat, bukan baja ringan – itu sih buat atap aja! Pasti ada aja yang terjadi di lapangan, diluar perhitungan awal. Ya soal desain, soal waktu, soal budget apalagi. Mohon doa ya supaya project ini bisa kelar sebelum kalender berganti, agar diriku tetap waras adanya, hahaha!

201612-atap

201612-rumah

#BabyM (yang sudah bukan baby lagi, hiks!)

Di usianya yang memasuki dua tahun, BabyM tentunya makin bisa macem-macem. Skill-nya menggebuk drum makin mencengangkan karena sudah mulai bisa mengikuti musik. Skill ‘memasak’ apalagi. Hampir tiap hari dia main dengan playdoh, tepung, wajan, sudip dan kawan-kawannya. Belakangan malah sudah bisa ditemani memasak telur dadar beneran, dan dia bahagia banget kalau diajak mencuci piring setelahnya. Mudah-mudahan rajin sampe gede, AMIN!

Terakhir cerita soal BabyM disini adalah soal kesuksesan menyapih. Ya ampun, menuliskannya bagaikan kejadian itu sudah dilewati bertahun-tahun lalu! Aku kira, setelah kelar menyapih, drama akan segera berlalu. Little did I know, drama itu malah semakin melebar kemana-mana, seiring dengan kemampuan verbalnya yang meningkat pesat bak roket menuju Mars!

Di satu sisi, BabyM sangat menggemaskan sekali. Dia udah bisa diajak ngobrol. Tapi disisi lain, bok… anak kicik ini kerjaannya membantah muluk! Padahal dulu kayaknya asik-asik aja deh nyuruh dia beresin mainan, atau makan, atau mandi atau tidur. Sekarang… OMAIGAT! Perjuangan banget!

“Malik, yuk mainannya dibereskan.”

“Nggak usah lah. Nanti aja.”

“Loh, kan sudah mau mandi. Mainannya dibereskan dulu.”

“Ibu aja yang bereskan.”

“Ih, kan kamu yang main. Ayo lah, ibu ikut bantuin deh.”

“Ibu aja lah yang bereskan. Tangan Malik lagi kotor.”

“Tangan kotor kan bisa di lap dulu.”

“Nggak mau. Nanti aja bereskannya SEKALIAN ABIS MANDI.”

….

Pengen ditujes nggak sih anak kicik ini? Iya, ngomongnya kata-per-kata kayak gitu. Pake ‘Lah’ segala. Ngelesnya pun super duper jago. Kadang-kadang sampe kepikiran, anak dua tahun kok ya udah advance banget kayak gini. Berasa ngomong sama bapaknya deh #eh.

201612-drum

201612-masak

Tentang Diri Sendiri

Nah, ini mungkin yang cukup sulit menceritakannya. Yang kayaknya menjadi akar permasalahan kenapa nggak nulis-nulis. Tahun ini terasa cukup ‘menantang’ buatku, baik fisik maupun mental. Aku tidak tau apa persisnya, tapi – tanpa harus mengkambing hitamkan masalah apapun – aku sepertinya kewalahan mengerjakan banyak hal sendirian. I think 2016 is quite rough.

Mengurus pembangunan rumah di Medan, mengurus rumah tangga sendiri, menjaga anak yang memasuki fase penuh drama membuatku sangat lelah jiwa dan raga. Dengan model kerja si Abang yang 8 minggu kerja – 5 minggu cuti, aku kebanyakan sendirian. Saat si Abang cuti pun, kami harus mengurus banyak hal. Kami juga sepakat memangkas budget liburan karena sedang membangun rumah (yang kayaknya adalah langkah yang salah, huhuhu).

Aku seperti tak punya jeda. Dan bulan puasa lalu adalah puncaknya. Aku sering menangis. Hal-hal kecil membuatku sedih dan sangat marah. Mood swing yang sangat aneh. Aku sulit tidur walaupun terasa sangat capek. Tidak punya energi untuk melakukan apapun, sulit konsentrasi dan merasa sangat tidak berdaya. Pelan-pelan aku merasa tidak mampu berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Aku keluar dari grup whatsapp, atau tidak membaca whatsapp sama sekali. Log-out dari Path dan tidak menyentuh facebook. Aku bahkan berhenti menulis. Padahal menulis adalah hal yang paling aku suka – dan aku merasa tak punya tenaga melakukannya.

Sesekali aku posting di Instagram, lebih karena aku tak mampu berkata-kata, dan menyerahkan diri pada bahasa gambar: berharap ada yang membaca ‘tanda’ ini dan berusaha menarikku keluar. Aku merasa berada dalam terowongan gelap pekat, tak tau harus berbuat apa, tanpa bisa memetakan perasaan sendiri, apalagi meminta tolong. Mau minta tolong apa coba?

Suatu hari keadan menjadi semakin buruk. Aku yang selama ini tidak pernah bersuara keras kepada Malik, tiba-tiba tanpa kontrol membentaknya hingga Malik ketakutan. Aku bahkan lupa kenapa. Aku terduduk dan menangis di dapur setelah itu. Malik duduk tak jauh dariku, terdiam dan bingung memperhatikan. Setelah tangisku mereda, aku meminta maaf dan memeluknya. Sejak itu, setiap ada perubahan pada wajahku atau nada suaraku, Malik akan bertanya: “Ibu marah?” dan itu sungguh mengiris hati.

Dengan putus asa, aku mengetikkan sebuah pertanyaan di google: why am I angry all the time? Google memberikan link, merujuk pada laman yang menunjukkan gejala depresi. Astaga, memikirkan bahwa aku ‘mungkin’ depresi malah semakin membuat depresi!

Processed with VSCO with f2 preset

Sepertinya, aku memang harus meminta bantuan. Tapi tak tau harus mulai dari mana. Untungnya, menjelang lebaran, Mama Papaku datang dari Medan. Aku jadi tidak sendiri di rumah. Aku tidak bisa menjelaskan banyak kepada mereka, tapi aku berkali-kali menangis padahal membicarakan hal-hal biasa. Namanya orang tua, mereka mungkin bisa merasa, kali ya. Sepanjang lebaran rumahku juga ramai oleh keluarga sehingga aku bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari hasil diskusi dengan si Abang, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk saat ini, aku sedapat mungkin untuk tidak sendiri. Jadi jika si Abang sedang kerja, aku bisa terbang ke Medan. Selain aku ada temannya, Malik juga punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang, mengingat ia berada fase yang memang perlu bersosialisasi. Jadi sejak pertengahan tahun, aku kerap bolak-balik Medan jika si Abang sedang bekerja.

Saat ini, aku jauh lebih baik walau mood kadang-kadang masih suka drop. Aku sadar aku mungkin butuh bantuan professional untuk ini. Tapi, setidaknya, mengakui bahwa aku ‘bermasalah’, dan mampu meminta bantuan kepada orang lain, adalah sebuah langkah yang baik. Aku juga sudah mulai menulis lagi, which also a good sign, kan?

Jadi begitulah sodara-sodara. Tahun ini bukan tahun yang mudah. I can’t say I’m ready and confident enough for 2017, tapi begitulah hidup bukan? Siap nggak siap ya mesti dihadapi.

So, here I come, 2017. I’m going to take it one day at a time. Wish me luck, everybody.

201612-din

Rumah Papa: Desain dan RAB

Setelah kami menyetujui draft awal denah, plus perbaikan dan masukan disana-sini, Bang Doni mulai menggarap desain rumah. Beliau bilang, ia berusaha membuat beberapa desain alternatif dengan konstruksi ringan, sehingga butuh waktu cukup lama. Kami sih tidak masalah dengan waktu. Toh rencana pembangunan tidak akan dimulai hingga awal tahun 2016. Bahkan kami sesungguhnya tidak keberatan sama sekali jika harus molor sedikit, sebab mesti menabung lebih banyak, hahhaha!

 

Sekitar tiga bulan setelahnya, Bang Doni mengirimkan desainnya. Bersama gambar, ia kirimkan keterangan. Katanya, untuk mengurangi biaya bangunan lantai tiga, rumah ini tidak akan menggunakan sturktur beton, melainkan memakai baja ringan yang biasa dipakai di atap. Dindingnya akan memaka seng zyncalum pada bagian luar dan kalsiboard di bagian dalam. Ditengahnya diberi glasswool untuk mengurangi panas. Untuk mengurangi tampias dan panas yang menerpa dinding itu, akan dibuat dinding dari wiremesh yang diberi potongan seng zyncalum. Tanaman rambat juga akan dipakai supaya lebih adem.

 

Untuk lantai duanya, material yang dipakai lebih solid, yaitu batu bata ekspos. Di bagian pagarnya akan ada sedikit permainan – meski tidak semua, sehingga ada rongga untuk udara. Sedangkan untuk lantai satu, materialnya lebih solid lagi, yaitu dinding diplester dengan mortar. Perbedaan material pada tiap lantai ini akan membuat rumah ini terlihat bergradasi.

 

Oke, yang nggak ngerti dengan bahasa yang agak teknis, mungkin akan lebih kebayang kalau lihat gambarnya berikut ini.

 

rumahpapa 006

rumahpapa 007

 

rumahpapa 008

 

Bagus yaaaaaaa!

 

Kami sekeluarga nggak terkagum-kagum liat gambar yang keren ini. Ada sih kekhawatiran soal tampias air di lantai tiga, atau banyaknya debu yang akan masuk karena permainan batubata di bagian fasade lantai dua. Tapi, kami semua sepakat, bahwa itu sepertinya hanya masalah teknis yang bisa diakali nanti. Secara prinsip, kami sangat menyukai desain Bang Doni. “Memang lain ya, kalau arsiteknya serius,” kata Papa, membuat aku senyum-senyum. It’s a compliment!

 

Setelah ada revisi kecil disana-sini, akhirnya kami menyetujui desain itu dan membiarkan Bang Doni melanjutkan tugasnya membuat gambar kerja untuk keperluan mendapatkan IMB.

 

Saat tahun berganti menjadi 2016, urusan renovasi rumah papa semakin terpampang nyata. Papa sudah mulai menyewa rumah untuk tempat tinggal sementara. Untungnya, ada rumah kontrakan yang kosong, yang letaknya pas di depan rumah. Jadi urusan pindahan bisa dicicil pelan-pelan.

 

Saat gambar kerja sudah selesai dibuat, Bang Doni membantu menguruskan IMB. Aku tidak tau banyak seluk-beluk pengurusan ini karena aku di Jakarta. Tapi yang pasti, selain fotokopi KTP, PBB, dan sertifikat tanah, ada surat yang harus dibuat, yaitu persetujuan tetangga kiri-kanan. Papa juga sempat beberapa kali berurusan dengan kelurahan. Begitupun, tidak ada masalah berarti selain harus bolak-balik.

 

Yang memakan waktu lebih lama adalah membuat RAB. Bang Doni mendapatkan beberapa rekomendasi dari timnya mengenai struktur bangunan. Ini membuat ia harus menyesuaikan macam-macam hal sebelum mempresentasikannya kepada kami.

 

Pertengahan Februari 2016, aku sekeluarga pulang kampung ke Medan. Begitu pesawat landing di Bandara Kuala Namu, tiba-tiba Bang Doni mengirim pesan, bahwa RAB-nya sudah jadi. Wah, pas sekali! Langsung kami membuat janji untuk berjumpa di rumah.

 

Bang Doni datang bersama dengan Bang Rahman. Beliau ini adalah kontraktor yang akan mengerjakan rumah kami. Mereka membawa gambar kerja yang telah dijilid rapi, bersama dengan RAB yang sudah ditunggu-tunggu. Sekalipun Bang Doni sudah memperingatkan, tetap saja begitu melihat angka yang tertera aku harus menarik napas paaaaaannnjjjaaaaaangggg… hahaha!

 

rumahpapa 009Bang Doni datang bersama Bang Rahman. Saking selow-nya, diskusi pun gak perlu meja kursi. Semua nggelesor aja di lantai!

 

rumahpapa 010

 

Kami berdiskusi soal spek-spek rumah. Tapi, RAB ini tampaknya harus kembali disesuaikan. Ada hal-hal baru yang dimasukkan, juga ada yang dikurangi. Yang pasti, RAB ini harus aku endapkan dulu di kepala, sampai benar-benar meresap. Karena kami hanya beberapa hari di Medan, aku Bang Doni dan Bang Rahman sepakat untuk kembali membahas RAB ini via telepon.

 

Dan saat kami meninggalkan Medan, itu adalah kali terakhir aku melihat rumah tempat aku tumbuh besar masih berdiri utuh…

Rumah Papa: Oh, Budget…

*Seluruh cerita soal Rumah Papa ini bisa dilihat di kategori Rumah Papa

Seperti yang aku ceritakan pada posting sebelumnya, kami meminta Bang Doni untuk membuat desain rumah yang sehat dan fungsional. Rencananya lantai bawah untuk keluarga, dan lantai dua dijadikan area untuk kos-kosan.

Tadinya, Bang Doni mau membuat beberapa alternatif desain. Tapi karena dirasa kurang efisien, akhirnya Bang Doni hanya membuat satu draft dan mencurahkan semua pemikirannya kesitu. Aku pikir juga ini lebih baik.

Seminggu berlalu, Bang Doni datang ke rumah kami dengan membawa draft denah awal. Ia membentangkan kertas gambar dan mempersilahkan kami melihat. Jrengggg….

Lantai pertama terlihat menjanjikan! Teras dan carport bersebelahan. Ruang tamu hanya dipisahkan oleh partisi ke ruang keluarga yang bersatu dengan ruang makan. Jadi kalau ada acara keluarga (yang sangat rame itu!), rumah ini bisa terasa lega. Kamar tidur ada dua dan kamar mandi ada tiga, termasuk satu yang dekat dengan ruang tamu. Area dapur cukup luas dilengkapi dengan area kerja dan penyimpanan untuk barang-barang catering mama. Di belakang, ada area servis terbuka untuk mencuci dan menjemur baju.

Lantai dua, ada barisan lima buah kamar yang tersusun sejajar. Dua kamar, yang diperlukan untuk kebutuhan keluarga punya akses dari dalam rumah. Sedangkan untuk tiga kamar yang (mungkin) dijadikan kosan, ada akses tersendiri.

Lah tapi, kok ada tiga lantai?

“Jadi begini….” Bang Doni membuka diskusi yang membuat aku jadi deg-degan, Setelah dipikirkan dengan matang, untuk membuat rumah yang kami mau dengan budget terbatas, pembagian ruangan – terutama untuk di lantai atas – sebaiknya disesuaikan dengan titik-titik pondasi. Dengan begitu, di bawah bisa dua kamar tidur, dan di atas bisa 5 kamar. Karena kami butuh Setidaknya 4 kamar sendiri untuk keluarga, yang bisa dijadikan kamar kos ya hanya 3 kamar. Menurut Bang Doni, kalau memang mau serius dibuat bisnis ke depannya, lebih baik dinaikkan jadi 3 lantai, yang mana akan ada tambahan 5 kamar lagi. Tapi kalau memang dirasa tidak perlu, ya denah lantai tiganya bisa diabaikan saja.

Heemmm… terdengar menarik! Dari yang aku lihat di draft gambar, memang Bang Doni memasukkan semua yang kami inginkan. Dinding yang berjarak dengan rumah tetangga, ventilasi yang baik dan pembagian ruangan yang menampung semua kebutuhan.

Okelah Bang. Kalau seandainya ditambah satu tingkat lagi, budgetnya jadi berapa? Yah… ditambah sekitar 50 persen dari budget awal.

Lalu aku pingsan. Hahahahah!

Apa yang dibilang Bang Doni memang ada benarnya. Tapi secara biaya? Nanti dulu. Budget yang kami alokasikan untuk project ini hanya cukup untuk rencana awal (2 lantai), plus sekian untuk dana ekstra jika ada pengeluaran tak terduga (yang mana ini sering kali terjadi!). Kalau dibuat tiga lantai mungkin bisa, tapi artinya akan ada penyesuaian dengan pos-pos lain. Nggak akan bisa pulang kampung lebaran, apalagi liburan spontan selama setahun kedepan. Bahkan pengeluaran bulanan rutin sepertinya juga terimbas. Kondisi ini kurang-lebih sama seperti saat kami membangun rumah dulu. Sebagai manajer keuangan rumah tangga, aku pusiiiiinggg… hahahahah!

Jadi pertanyaannya mau dua lantai atau tiga sepenuhnya terserah kami. Pilihannya, kami bisa “bermain aman” hanya dengan membangun rumah dua lantai, tapi kedepannya tidak maksimal. Atau mau ambil resiko dan deg-degan tapi ya lebih menjanjikan dalam jangka panjang. Setelah diskusi dan mencari wangsit, akhirnya kami memilih: kami mau mengambil resiko! Mumpung masih muda, dan supaya hidup rada berwarna, nyerempet ‘bahaya’. * Salaman lagi sama Bang Doni*  Hidup lantai tiga!

Selanjutnya, kami memberikan bola panas ke tangan Bang Doni: bagaimana ‘meracik’ konstruksi tiga lantai dengan budget yang sebenarnya juga tidak banyak-banyak amat. “Jangan buru-buru ya, Din!” katanya. Ya selow aja lah, Bang. Mau murah dan bagus, ya biasanya lama. Lagian, lama-lama juga nggak apa-apa kok. Biar kami bisa nabung dulu, hihihihi!

rumahpapa 005Gambar denah awal yang nantinya akan diuprek-uprek lagi 😀

Menyapih!

BabyM sudah berhasil disapih! SUPERYAY!

Sudah tiga mingguan ini BabyM tidak lagi menyusu. Sekali dua kali masih minta sambil nyengir, tapi dikasih susu UHT juga sudah selesai perkara. Dan senangnya, aku tidak merasa sakit secara fisik, dan merasa benar-benar bahagia. Tidak ada semacam perasaan sedih atau mixed feeling yang sering dilanda para ibu. Padahal, kalau dirunut ke belakang, soal memberikan ASI ekslusif dulu juga drama banget. Jadi penyapihan ini terasa seperti milestone tidak hanya untuk BabyM, tapi juga untukku.

Tapi tentunya ada cerita penyapihan (yang lumayan) panjang sebelum sampai pada titik ini. Dan yang aku pelajari sesungguhnya adalah bahwa semuanya butuh waktu untuk berproses. Kebiasaan tidak bisa diubah dengan perintah. Ia butuh dilaksanakan pada waktu yang tepat, takaran yang pas, konsistensi, dan ketabahan hati. Yang semuanya bisa dikira dengan mendengarkan insting. Ribet? Embeeerrr! Tapi buatku, disitulah seninya menjadi orang tua!

Jadi begini. Sejak awal, aku tidak ingin melakukan penyapihan dengan tiba-tiba (nenennya dikasih sesuatu yang pahit lah, dikasih lipstick lah, atau apapun yang bentuknya seperti itu). Bagiku, itu sangat tidak adil buat BabyM. Sejauh ini, aku selalu berusaha memperlakukan BabyM sebagai seorang individu dan menghormati keinginannya. Begitupun, aku juga menanamkan padanya bahwa orang lain (dalam hal ini, ibunya) juga punya keingininan DAN keterbatasan. Menyusui adalah soal hubungan dua orang, dan kami berdua harusnya punya bagian masing-masing. Aku ingin BabyM menyapih dirinya sendiri. Namun, mengingat keterbatasanku, aku juga memberikan batas waktu: cukup dua tahun.

Dalam pikiranku, penyapihan ini dilakukan dengan pelan-pelan. Sekitar 6 bulan menjelang ulang tahunnya, aku mulai memperkenalkan susu UHT. BabyM sempat terdeteksi lactose intolerant sebelumnya, tapi untungnya setelah beberapa bulan dicoba lagi, ia sudah cukup kuat minum susu UHT.

Tidak hanya itu, aku juga sudah sesekali menyatakan ide soal menyapih padanya. Pemilihan kalimat untuk memasukkan ide ini pun benar-benar dipilih: menggunakan kalimat positif dan tidak bersayap. “Kalau nanti sudah dua tahun, setelah tiup lilin, tidak nenen lagi ya. Begitupun, anaknya masih tetap nenen tak berhenti dan setiap malam masih terbangun berkali-kali untuk nenen. Aku bisa merasakan, ia sesungguhnya tak memerlukan air susunya, tapi perlu perasaan dekat dengan ibu. Sehingga, kalimat menyapih pun ditambah dengan, “Kalau mau tidur, bisa ibu pijat-pijat aja…

Setelah beberapa bulan berlalu, kalimat ini sudah melekat. Setiap nenen, kalimat ini di ulang. Bahkan, BabyM sudah bisa bilang sendiri: “Kalau sudah tiup lilin, nggak nenen lagi. Pijat-pijat aja….” Hati ibu mana yang tidak berbunga-bunga, ya kan?

Begitupun, kenyataan tak seindah ucapan, sodara-sodara. Anak sekecil BabyM sudah bisa memberikan janji manis belaka, hih! Rasanya justru dia semakin semangat nenen sampai aku tidak bisa tidur malam dengan tenang. Keinginan untuk segera menyapih tanpa menunggu dua tahun sangatlah kuat! Kalau nggak ada si Bapak yang menyabarkan, mungkin aku akan menyerah pakai cara paksa.

Tiba-tiba, temanku Meyla (yang sebenarnya adalah seorang bidadari cantik yang menyamar jadi ibu beranak satu!) memberikan sebuah link artikel tulisan Dr Jay Gordon soal “Night Weaning” atau menyapih malam. Intinya, beliau ini memberikan sebuah opsi kepada ibu-ibu (kurang tidur) yang anaknya udah mulai besar dan galau antara pengen menyapih anak atau tidak. Solusinya adalah: anak “disapih” hanya pas malem aja, supaya bapak-ibunya bisa tidur selama 7 jam straight! Siangnya sih nenen kayak biasa aja nggak masalah, yang penting malam nggak nenen agar semua orang bisa istirahat cukup dan bangun dengan happy! WOWMEJIK banget kaaaannn????

Aku langsung mendapatkan A-HA! moment saat membaca artikel ini. Proses menyapih malam ini dilakukan dengan beberapa langkah yang semuanya dilakukan dalam 10 malam. Begini caranya:

Persiapan: Tentukan jam tidur yang paling berharga buat ibu-ibu sekalian sepanjang 7 jam. Mau dari jam 11 malam sampai 6 pagi, jam 12 malam sampai jam 7, bebas. Sebagai contoh, aku pilih dari jam 10 malam sampai 5 pagi. Karena jam 10 aku sudah teler banget dan jam 5 sudah segar karena selesai sholat subuh.  Proses 10 hari ini terbagi menjadi tiga bagian: 3-3-4.

Bagian pertama 1: Tiga malam pertama. Sebelum jam menunjukkan jam 10 malam (walaupun itu jam 9.58), anak dinenenin sampai tidur seperti biasa. Kalau kebangun juga ya nenenin sampai tidur lagi. Tapi, saat anak kebangun diantara jam 10 malam – 5 pagi, kasih nenen SEBENTAR, tapi jangan sampe tidur. Nah, saat anaknya masih teler-teler ngantuk gitu, lakukan apapun yang membuat dia tidur sendiri.  Usap-usap, atau tepok-tepok, atau pijat-pijat, atau apapunlah. Nanti, setelah jam 5 pagi, silahkan di nenen lagi sampai sepuasnya. Si dr. Gordon memperingatkan, tiga malam pertama ini bakal heboh. Persiapkanlah mental! Tapi kalau dirasa nggak sanggup, ya mungkin boleh dicoba beberapa bulan lagi.

Bagian ke dua: Tiga malam berikutnya. Kalau anaknya kebangun antara jam 10 malam – 5 pagi, JANGAN dikasih nenen. Boleh di peluk, di gendong, di usap-usap, diomingin baik-baik biar tidur lagi.

Bagian ke tiga: Empat malam berikutnya. Kalau kebangun, nggak boleh digendong atau di angkat, hanya boleh dibilangin dengan singkat untuk tidur lagi.

Nah, di awal tahun 2016, akhirnya aku menerapkan teknik ini ke BabyM. Agak khawatir sebab aku hanya sendirian sementara si Bapak masih kerja. Tapiiii… ternyata CARA INI SUKSES! Saat terbangun tengah malam, sebelum dia nenen, aku berbisik: “Nenennya satu menit aja ya,” sambil menghitung detik jam dan melepaskannya saat sudah satu menit. Sempat drama juga di hari ke tiga, nangis-nangis sampe minta keluar kamar, tapi tetap bisa aku handle dengan tenang. Tapi setelah 10 malam, BabyM bisa mulai bisa tidur nyenyak semalaman. Begitu juga ibunya! Kadang-kadang masih bangun juga sih, tapi ya namanya proses. Pelan-pelan dia sudah bisa tidur lebih pulas.

Keberhasilan night weaning ini membuatku “ngebut” pengen menyapih total. Setelah si Bapak pulang ke rumah, kami sepakat untuk mencoba dengan cara membiarkanku ber-me-time ria seharian, sementara BabyM di rumah dengan si Bapak. Setelah tiga hari berturut-turut pergi pagi pulang petang, BabyM baik-baik saja ditinggal! Tapiiiii… saat aku dirumah, dia nggak terima kalau aku nggak mau nenenin. Jadinya drama luar biasa!

Walaupun sedih, tapi masih ada harapan saat ulang tahunnya. Seperti yang sudah dia bilang sendiri, “Setelah tiup lilin, nggak nenen lagi.” Ternyata oh ternyata, selepas tiup lilin, masih nenen dengan semangat 45, sodara-sodara. Hih!

Disinilah akhirnya aku berdamai dengan diri sendiri dan benar-benar belajar soal proses. Orang dewasa aja kalau disapih dari apapun (mantan, misalnya? #eh) pasti galau. Apalagi anak kecil yang belum bisa mengontrol emosi kan?

Jadi yang aku lakukan adalah mempercayai prosesnya dan memberi waktu pada kami berdua. Aku tetap memberikannya setiap kali dia minta. Hanya saja, karena BabyM sudah paham arti satu menit, akupun konsisten hanya memberikan satu menit setiap kali nenen. Lama kelamaan, dari satu menit aku kurangi menjadi setengah menit. Selain itu, setiap dia minta nenen, aku coba tawarin air putih/susu UHT/jus jeruk atau cemilan. Kalau berhasil terdistraksi, ya Alhamdulillah. Kalau nggak berhasil, ya kasih nenen sebentar. Semakin kesini, frekwensinya semakin berkurang dan di usia 2 tahun 3 bulan, BabyM sudah tidak nenen sama sekali. Ahamdulillah….

Yang ada sekarang adalah hanya rasa bahagia. Setelah dua tahun tiga bulan yang penuh suka duka, aku dan BabyM berhasil melewati milestone ini bersama-sama. Tentunya kami juga tidak akan bisa berhasil tanpa si Bapak yang selalu bisa diandalkan. *Berpelukaaannnn*

Demikianlah kisah penyapihan BabyM 😀 Buat para Ibu dan Bapak yang juga sedang menyapih, semangat yaaaa. Sekarang kami menikmati tidur malam yang tenang dulu yaaaaaaaaa… hihii…

sapih1Fotonya pas ulang tahun aja deh ya 😀

Rumah Papa: Arsitek yang Sehati

Setelah berpening-pening ria mencari arsitek dan tidak ada yang cocok, akhirnya aku menyadari bahwa perasaan itu susah ditawar. Halah. Setelah sebelumnya punya proyek rumah yang ‘agak’ idealis, tidak bisa dipungkiri kalau aku punya standar tertentu untuk bekerja sama dengan arsitek. Walau masih ada ruang-ruang untuk kritikan, tapi Mas Yu Sing has set the bar for us. Kata hati tak berdusta, kakak….

 

Akhirnya aku “menyerah”. Strategi untuk dapet ‘arsitek seadanya’ kami coret dari rencana. Kami sepakat untuk mencari arsitek yang sehati, dengan harapan tarifnya nggak mahal-mahal amat (namanya juga berharap!). Lalu bagaimana lagi mencarinya? Aku memulai dari yang aku tau: minta rekomendasi sama Mas Yu Sing, ahahahaha!

 

Setelah diedit berulang-ulang, akhirnya aku mengirimkan email yang intinya bertanya apakah beliau punya teman di Medan yang bisa diajak kerjasama membangun proyek rumah yang sehat dan fungsional, serta budget-concious, tentunya. Mas Sing lalu memberikan sebuah nama untuk di search di profil facebook.

 

Harap-harap cemas, aku mengetikkan namanya: Doni Dwipayana. Lah, kenapa ini ada 12 mutual friends? Dan semuanya aku kenal dengan cukup baik pula. Langsung aku mengontak salah satu mutual friends, Patra, yang juga tauke-nya tau ko medan, toko merchandise kota Medan yang paling hits itu. Bertanya siapakah Doni plus minta nomer teleponnya. Jawabannya: “Hah? Masak kau nggak kenal sama Doni?”

 

Dan saat aku mengontak Bang Doni, sesungguhnya kami heran juga kenapa kami tidak saling kenal, ahahaha. Tapi kayaknya dulu pasti pernah ketemu lah. Lingkaran pertemanan Medan – setidaknya jaman aku muda dulu *uhukhuk* nggak terlalu besar. Orangnya ya itu-itu melulu, hihihi.

 

Berbekal pertemanan itu, saat bertemu muka, aku dan Bang Doni langsung klik. Karena umurnya juga tidak terpaut jauh – komunikasi pun jauh lebih menyenangkan! Begitupun, aku sempat jiper juga karena foto-foto proyeknya di company profile terlihat sangat mentereng. Tapi dengan santai, cut-the-bullshit-Medan-style, dia bilang “Ah, itu kan pencitraan aja!” Hahahahahhaha! Oke deh bang! *salaman*

 

Aku langsung curhat panjang lebar soal keinginan-keinginan kami terhadap rumah papa. Pengen rumah yang sehat dengan ventilasi dan cahaya yang cukup. Pengen pembagian ruang yang fungsional. Pengen dapur yang luas untuk usaha catering si Mama. Pengen banyak tambahan kamar jika nanti pengen buat kos-kosan. Dan yang terpenting, “ngomong pahit-pahit” di depan bahwa kami hanya punya budget sekian untuk itu semua.

 

Enaknya kalau ketemu sama arsitek yang cukup idealis adalah, kadang-kadang kepuasan mendesain itu mengalahkan kepuasan dapet duit banyak, ahahahahaha! Jadi, meskipun kami punya budget terbatas, kami sekeluarga membebaskan Bang Doni untuk berkreasi. Untuk ini, tentunya tidak mudah. Soalnya aku juga sebelumnya harus negosiasi dengan papa dan mama yang tentunya punya pemikiran sendiri soal rumah. Untungnya, setelah beradu argumen panjang lebar, aku berhasil meyakinkan keluarga besar untuk percaya dengan kreativitas arsitek.

 

Singkat kata, akhirnya kami pun sepakat untuk bekerja sama. Bang Doni memberikan harga yang cukup reasonable, dan kami memberikan waktu yang cukup panjang agar Bang Doni bisa leluasa berkarya. Itu masih bulan Agustus 2015 dan kami berencana mulai membangun di tahun 2016.

 

Tak hanya itu, Bang Doni juga bisa membantu mengurus IMB! Oh, ini penting, soalnya kami nggak tega untuk membiarkan Papa bolak-balik kantor pemerintah untuk urusan ini. Dan yang terpenting adalah urusan kontraktor! Mengingat pengalaman kontraktor terdahulu yang kurang singkron dengan arsitek, Bang Doni punya kontraktor sendiri yang bekerja bersama! Ohhhh… ini tentunya sangat memudahkan sekali! Kenapa? Soalnya desain Bang Doni nantinya sudah langsung sejalan dengan harga dari kontraktor. Semua sudah dihitung! OHYES banget kan!

 

Dan ternyata, sekitar semingguan setelah bertemu dan survey kondisi rumah, Bang Doni sudah datang lagi dengan desain denah awal! Wuih! Cepat kali, Bang! Bagaimana bentuk desain Bang Doni? Bagaimana reaksi Papa? Di postingan berikutnya aja yaaaaa….

 

rumahpapa 004Si Papa sedang mengamati draft awal desain. Hemmmm…. jangan bikin Bang Doni deg-degan gitu lah, Pa! 😀

 

PS: Seluruh cerita soal Rumah Papa ini bisa dilihat di kategori Rumah Papa