Roadtrip Seadanya: Purwokerto

Belakangan ini kami sering pergi-pergi. Tapi, perginya bukan buat liburan seperti biasa. Sejak sibuk mengurusi bisnis baru di Medan dan Bandung, plus banyak acara keluarga besar, “liburan” selalu diselip-selipin diantara kerjaan atau urusan lain. Nah, bulan Juli lalu, kami bertekad untuk beneran libur. Bersantai aja gitu. Kami pengen ke tempat yang nggak terlalu jauh (budget terbatas bok!), tapi tetap menyenangkan. Dengan segala pertimbangan, kami memilih roadtrip ke Purwokerto! Yay!

Day 1&2

Kami sudah pernah ke Purwokerto sebelumnya. Dan itu sangat berkesan. Kebetulan, kami juga ingin kembali bersilaturahim dengan sahabat lama, teman kerja si Abang dulu, Pak Zaky dan keluarganya.

Begitu nyampe Purwokerto menjelang magrib, kami langsung disamperin di hotel. Mereka mengajak kami makan malam di warung kopi bernama “Kopi Lanang”. Tempatnya seru banget. Kopi dan makanannya juga enak-enak. Aku makan sayur pakis yang sedap atas rekomendasi Mbak Arum, istrinya Pak Zaky. Tapi di antara gossip emak-emak dengan Mbak Arum, liatin anak-anak kicik yang lari-larian (Malik sempet jatuh dan nangis kejer ajah!), aku nggak sempet fotoin tempat ini malam itu.

Dari hasil ngobrol, aku tau bahwa Pak Zaky dan Mbak Arum barusan membuka usaha hidroponikan. Tadinya kirain hidroponik mereka hanya buat konsumsi pribadi, eh taunya banyak yang mau beli. Jadilah kami dengan semangat mengatur rencana supaya besokannya bisa mengunjungi kebun, hihihi!

Tapi ternyata besokan paginya hari hujan! Kami menunggu-nunggu, tapi hujan tak kunjung reda, hiks. Akhirnya kami memutuskan untuk main aja ke rumah mereka, membiarkan anak-anak main bersama. Agak sore, langit sedikit cerah, jadi kami memutuskan untuk langsung berangkat ke kebun yang nggak jauh dari rumah mereka.

Dan kebunnya menyenangkan sekali! Mata langsung seger ger ger, liat barisan selada, pokcoy, dan kale. Ada juga timun yang rasanya manis banget! Anak-anak langsung heboh main tanah, sementara kami ngobrol santai sambil ngopi. Duhh… beneran deh, ngiler banget liat kebunnya! Pak Zaky bilang malah banyak ibu-ibu dateng kemari, bukan hanya buat beli sayur petik sendiri, tapi juga foto-foto, hihihih!

201707 pwt01

Menuju kebun, wiii udah kelihatan tuh!

201707 pwt09

Nggak sanggup liat begini langsung poto-poto, ahahahha!

201707 pwt02

Anak-anak pada hepi main tanah :’)

201707 pwt08

Coba, gimana nggak kalap liat beginian?

201707 pwt11

Sepatu dan celana Malik udah nggak jelas warnanya 😀

201707 pwt03

Ngopi-ngopi di kebun, adududududuh… sedap!

201707 pwt07

Foto keluarga wajib 😀

201707 pwt10

Sampai ketemu lagi, kebun hidroponikan!

***

Day 3

Hari kedua di Purwokerto, kami memutuskan untuk stay di hotel aja. Sebab, kemarin sudah seharian di luar. Kami menginap di Java Heritage Hotel, yang terletak di kota. Hotel ini menyenangkan sekali. Di lobby-nya ada seperangkat gamelan yang sebenernya hanya untuk display. Tapi, begitu melihat ini, Malik langsung beraksi, hahaha! Hampir setiap ada kesempatan dia akan meminta untuk turun ke lobby dan bermain gamelan.

Kolam renangnya juga luas dan menyenangkan. Ada air mancur yang buat Malik kesenengan, sebab dia sedang tergila-gila sama air mancur. Kami menghabiskan sepagian bermain di kolam. Mmm… maksudnya si Abang main sama Malik, sementara aku ada sedikit kerjaan yang harus diselesaikan, hihihi. Taman kolam ini juga lucu! Ada maze kecil yang buat penasaran, ada kolam ikan dengan dinding transparan seperti aquarium, plus banyak tempat duduk yang nyaman.

Kami memilih kamar deluxe yang ternyata cukup lega. Awalnya hanya booking dua malam karena berpikir untuk pindah dan merasakan hotel lain (kebiasaan!). Tapi Malik sepertinya terlalu capek dan nggak mau pindah, akhirnya malah extend dua malam lagi.

Kami makan siang di restoran Umaeh Inyong yang dulu pernah kami datangi juga. Lokasinya pun tak jauh dari hotel. Tapi, ternyata Malik ngantuk banget. Jadilah kami makan buru-buru dan balik ke hotel.

Sorenya, setelah segar, kami keluar untuk makan malam. Diajakin Pak Zaky dan Mbak Arum untuk makan Soto Jalan Bank. Ya ampun, ini enak banget deh! Kalau ke Purwokerto harus coba pokoknya!

Setelah makan, kami jalan-jalan ke tempat paling hits: alun-alun Purwokerto, hihihi. Anak-anak langsung lari-larian dan minta beli bubble. Tapiii, sayangnya hujan mulai rintik-rintik. Anak-anak juga mulai gelisah. Akhirnya Pak Zaky dan keluarga pamit dan kami bertahan sebentar di Alun-alun karena Malik pengen liat air mancur dulu!

201707 jahe02

Sebelum main gamelan harus permisi sendiri, tanya ke pak satpam boleh apa nggak dimainin 😀

201707 jahe01

Adukan es dan sikat gigi pun bisa jadi stick drum kalau sama Malik -.-

201707 jahe04

Hanya satu menit lah kamar bisa rapi begini. Selebihnya ya anak kicik udah heboh mainin ini itu. Senangnya, kamar di Java Heritage Hotel ini cukup lega, jadi nggak khawatir anaknya lari-larian gak jelas 😀

201707 jahe07

Kiri: Kolam renang hotel Java Haritage ini menyenangkan! Kanan: Yah, sendal pun dijadikan ‘stik drum’. Bebas lah Malik!

201707 jahe06

Bapak push-up dulu katanya biar perut agak rata pas di foto :D, ibu mah santai di pinggir kolam aja lah ya… 

201707 jahe05

Tenang Pak… perutnya nggak keliatan kok 😀

201707 jahe03

Se. La. Lu. 

201707 btr08

Soto Jalan Bank. Endeeuusssshhh…

201707 jahe12

Alun-Alun Purwokerto. Nama mall-nya mesra ya 😀 

201707 jahe09

Bapak Ibu gak mau kalah pengen main, ahahahah!

201707 jahe10 201707 jahe11

Kayaknya beginian ada di mana-mana ya sekarang 😀

***

Day 4

Belakangan ini, adekku juga sering bolak-balik Purwokerto. Bukan cuma karena mendoannya yang ngangenin, dia suka nyari air terjun alias curug buat lompat. Yes, you heard me right: BUAT LOMPAT! Jadi, ada komunitas yang namanya cliff jumping Purwokerto, yang sering jadi teman main adekku.

Nah, kami juga pengen ke curug bawa Malik. Purwokerto memang banyak curugnya. Letak curug-curug ini pun berdekatan, di daerah Baturraden ke atas. Nggak usah sampe lompat-lompat juga sih, tapi buat main air aja. Ceritanya bisa tour de curug gitu. Si Adek merekomendasi temannya untuk aku hubungi biar nemenin kami. Sayangnya anak-anak Pak Zaki tiba-tiba sakit jadi nggak ikutan. Akhirnya, kami pergi ditemanin dengan dua teman si Adek, namanya Oii dan Ripto.

Saat berangkat dari hotel, cuaca udah mendung-mendung manja gitu. Memang sejak kami dateng, Purwokerto agak kelabu. Padahal sebelumnya cerah ceria ngga ada hujan udah lama. Begitu mulai naik ke atas, hujan mulai menetes. Semakin ke atas, semakin lebat. Kami sempat berhenti di parkiran salah satu curug menunggu hujan reda. Tapi karena nggak reda-reda juga, sedangkan hari udah mulai menunjukkan waktunya makan siang, kami sepakat untuk makan dulu. Kamipun menuju Kopi Lanang tempat kami makan di malam pertama kemaren.

Tapiiiii…. Di tengah jalan, Malik nangis meraung-raung! Dia keukeuh mau main di sungai. Memang dari awalnya berangkat ke Purwokerto, kami sudah bilang akan main di sungai. Tapi ya gimana? Akhirnya mobil dihentikan di pinggir jalan, dan aku mengajak Malik keluar mobil. Menceramahinya panjang lebar soal hujan yang deras dan Malik bisa lihat sendiri kabut semakin tebal. Main di sungai saat hujan deras itu berbahaya. Tapi dasar Malik, dia tetap teguh pendirian mau main di sungai. Hhhhh… gimana dong.

Setelah berfikir, aku ingat bahwa di Lokawisata Baturraden juga ada sungai. Dulu saat kesana, sungainya hampir kering, jadi mungkin bisa buat main. Akhirnya, ditengah hujan, kami memutuskan untuk ke Lokawisata Baturraden aja.

Sampai disana, walah! Ternyata sungai yang dulu kering kini airnya sudah tinggi dan arusnya deras sekali. Dulu bisa santai menyebrang sungai, kini bermain pun dilarang karena arus sedang deras. Ya udah, akhirnya kami makan pecel aja deh, sambil minum susu jahe menunggu hujan agak reda.

Setelah hujan reda, aku ingat ada aliran sungai kecil di situ. Lebih kayak parit sih, hihihih. Jadilah kami mengitari area lokawisata itu demi sungai/parit itu. Malik girang sekali saat ketemu sungai kecil itu. Tapiiiii… saat Bapaknya  mencelupkan kaki Malik ke air, dia langsung minta udahan, hahahahah! Dingiiiinnnn, katanya! Owalah naaakkk, minta sungai sampe tantrum, eh udah ketemu sungai mainnya nggak sampe lima menit. HIH!

Dari situ, kami langsung kembali lagi ke Kopi Lanang buat leyeh-leyeh. Minum hangat-hangat dan makan pisang goreng. Yang kasihan sih Oii dan Ripto yang udah nemenin kami sampe hujan-hujanan. Huhuhu… maaf yaaa! (bersambung)

201707 btr02

Sungai Baturradennya juga udah banjir begini…

201707 btr01

Hujan-hujan pun keukeuh ya nak…

201707 btr03

Daaannnn… dia hanya bertahan dua menit sodarasodara…

201707 btr04

Akhirnya pindah tongkrongan ke warung kopi.

 

 

 

Processed with VSCO with f2 preset

Warung Kopinya lucuuu…

201707 btr05

Santai baeeeeeee…..

***

Kebun Hidroponikan Purwokerto – Delivery/Kunjungan kebun : 08112209230

Java Heritage Hotel – Jl. Dokter Angka No. 71, Sokanegara, Purwokerto Timur
Purworkerto, Jawa Tengah, Indonesia

Soto Jalan Bank – Jl. RA. Wiryaatmaja No. 15

Kopi Lanang – Jl. Raya Baturaden Bar. Karangtengah, Rempoah, Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53151

BLW: Tiga Tahun Kemudian

Kayaknya sekarang metode memberi makan anak dengan cara Baby Led Weaning lagi naik daun ya, hihihihi! *lirik instagram-nya mbak artis*

Mungkin, para ibu-ibu baru yang pengen coba cara ini, bertanya-tanya ya. Bener nggak sih yang mbak-nya bilang? Nah, sebagai ibu yang (agak) newbie, dan pernah memakai metode ini, aku pengen share sedikit ya. Mudah-mudahan berguna!

Sebelumnya, mau ngasih background sedikit. Tiga tahun lalu, aku mencoba metode BLW saat MPASI pertama Malik. Persiapannya, jatuh-bangunnya, deg-degannya, bisa dibaca di beberapa postinganku di sini.

Nah, setelah tiga tahun kemudian, gimana sih Malik sekarang? Apa makan sendiri? Apa nggak picky eater? Apa nggak pernah GTM? Jawabannya… hhhmmmm… ya gitu deh, hahahaahahha! Walaupun ini aku yakin banyak biasnya, aku akan berusaha se-objektif mungkin ya.

Saat ini Malik makannya mix antara makan sendiri dan disuapin. Untuk makanan yang dia suka, dia akan sukarela makan sendiri. Tapi untuk makanan yang ‘biasa aja’, dia minta disuapin. Ini terjadi karena proses yang lumayan panjang.

Di awal-awal BLW, Malik memang full makan sendiri. Tapi, tiba-tiba saat dia berumur setahunan lebih, Malik sakit diare parah dan harus diet BRATY. Saat itu, karena dia makannya sedikit sekali, aku sungguhlah takut dia dehidrasi. Mau nggak mau, aku strap dia di stroller, dan suapin bubur.

Nah, dari situ, sesungguhnya godaan menyuapi itu tinggi ya buibu, ahhaha! Mana saat semakin besar, anaknya udah bisa main (nggak mau lagi di high chair!), dan mulai ngerti juga betapa enaknya disuapin. Dia bisa lari-lari sesukanya, hahahah! Bok, Bapaknya yang segede gitu aja kadang-kadang masih suka disuapin, gimana anaknya hahah! Nah, sejak itu, aku jadi lebih santai menggunakan metode ini. Toh awalnya dia udah bisa pegang makanan sendiri. Metode apapun, yang penting anaknya makan, ye kan?

Metode campur-campur ini juga karena aku melihat perkembangan berat badan Malik yang irit sekali. Nggak seperti saat bayi dulu dimana berat Malik selalu di persentil atas, alias ginduuttttt… nah, sekarang si anak kicik itu BB-nya bikin hati ibu kebat-kebit.

Lalu, apakah Malik picky eater? Nah, ini agak tricky. Sebenernya Malik nggak picky eater kalau makanannya enak, hahahaha! Makan sate, udah bisa seporsi orang dewasa saking sukanya. Steak, mie aceh, rendang, sup brokoli wortel, spaghetti, selalu habis. Buah, dia juga suka banget. Es krim, jangan ditanya.

Nah, tapiii…. Ada banyak juga yang dia nggak mau makan. Kalau aku lihat, selera makannya nggak jauh-jauh dari aku. Jadi, kayaknya soal picky eater ini harus dilihat lagi. Kalau aku berintrospeksi, lidahku ini juga nggak terbiasa makan macam-macam. Aku juga bukan tipe orang yang suka makan. Bisa jadi, kebiasaan makan orang tua juga berpengaruh sama selera dan kebiasaan anak. Mungkin, aku jarang memperkenalkan dia dengan berbagai makanan baru. Yang dimasak itu-itu mulu (skill-nya segitu doang kakaaakkk!), dan ini berpengaruh besar. Jadi, ibu-ibu yang mau ber-BLW-ria, kalau mau anaknya jadi pemakan segala, ya emang orang tuanya juga harus pemakan segala.

Kemudian, apa Malik pernah GTM? Nah, seumur dia yang sudah 3,5 tahun, baru satu kali aku mengalami yang namanya Malik ogah makan saat dia berusia dua tahunan. Mungkin ini ada kaitannya dengan psikologis anak usia segitu yang sangatlah rebellious. Tapi itu nggak lama.

Mungkin juga ini ada kaitannya dengan aku yang cukup santai menanggapi kalau Malik nggak mau makan. Biasanya, kalau dia nggak mau makan, atau makan sedikit, aku hanya bilang, “Ya udah. Nanti kalau lapar lagi, bilang sama ibu ya.” Dan memang, saat dia lapar dia akan bilang dan makan banyak (atau kasih nasi telur dadar pake saos tomat, pasti langsung banyak makan. Ibunya banget deh hahahha!). Dan makan bagi Malik juga nggak mesti nasi. Yang penting karbo cukup, protein cukup, dan serat cukup yang aku seimbangkan dalam rentang waktu seminggu.

Yang pasti, aku memang harus berterimakasih kepada metode BLW. Dengan memulai MPASI dengan metode ini, Malik sama sekali nggak pernah ngemut makanan. Malik mengunyah dengan sangat baik. Se-setres-setresnya liat Malik makan sedikit, aku tetap bersyukur kalo Malik makannya nggak pernah lama-lama. Kalau kenyang ya udah, berhenti. Nggak PHP dengan ngemut makanan, hihihi!

Selain itu, Malik juga motorik halusnya cukup baik. Diumur segini, dia sudah bisa memegang pulpen dengan baik, dan pura-pura menulis dengan membuat bentuk-bentuk yang kecil-kecil. Sesungguhnya dia bisa makan dan menggunakan sendok dengan baik. Cuma ya males ajaaaaaa gituuu… *kzl!

Jadi, kalau secara keseluruhan, aku sangat bersyukur mengenal metode BLW di awal MPASI. Segala kerepotannya, berantakannya, cukup terbayarkan dengan kebiasaan makannya yang cukup baik (tentunya menurut standarku ya).

Tapi begitupun, yang paling utama menurutku adalah anak yang sehat, apapun metodenya. Ya nggak?

BLW1

Minum sirop oke, minum antangin juga mau 😀

BLW2

Kiri: Ngoprek kulkas. Kanan: Donat sih udah pasti makan sendiri lah!

BLW3

Kopi oke, Tapi dikiiitttt! Kalo eskrim jangan ditanya 😀

BLW4Bapak aja masih disuapin, Malik juga boleh lah ya!

2016: A Rough Patch

Iya. Ho oh. Blog ini memang nggak di-update enam bulan. Setengah tahun. SE-TE-NGAH-TA-HUN. Kepada para pembaca setia (kayak ada aja!), mohon maaf ya. Bukannya update, yang punya blog ini malah kadang curhat panjang lebar di Instagram. Jadi, sekedar tips aja nih. Kalau disini lagi sepi tulisan, boleh lah tengok Instagram aja. Mau di-follow juga boleh banget *modus* hahahaha…

Begitulah. Sebenernya banyak yang terjadi. Banyak banget sampai kadang nggak tau lagi harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya: ah, sudahlah! Nanti aja tulis-tulisnya. Ini juga sebenernya bingung mau nulis apa. Otak sama jari suka nggak singkron. Apalagi sama hati, eeaaaakkk…. Jadi, mumpung ini sudah penghujung tahun, kayaknya enak kalau merekap apa yang terjadi selama tahun 20016 ini. Here it goes.

Project #RumahPapa

Postingan terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana awalnya, rumah ini sudah selesai pada bulan November.

Saat ini, aku sedang berada di Medan, melihat bangunannya sudah berdiri… tapi belum ada atapnya, hahahahah! Waktu membangun struktur sih terlihat cepat. Begitu finishing, rasanya lamaaaaaa kaliiiiii! Sebenernya sih, sudah tinggal dikit lagi. Lantai 1 dan 2 paling tinggal merapikan, serta pasang pintu dan jendela. Tapi karena atap belum kelar, tentunya ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, terutama untuk lantai paling atas, juga untuk tangga-tangga. Jadi yah, kebanyakan pekerjaan harus ditunda sampai atap selesai.

Memang membangun rumah itu perlu mental baja ya. Baja kokoh nan padat, bukan baja ringan – itu sih buat atap aja! Pasti ada aja yang terjadi di lapangan, diluar perhitungan awal. Ya soal desain, soal waktu, soal budget apalagi. Mohon doa ya supaya project ini bisa kelar sebelum kalender berganti, agar diriku tetap waras adanya, hahaha!

201612-atap

201612-rumah

#BabyM (yang sudah bukan baby lagi, hiks!)

Di usianya yang memasuki dua tahun, BabyM tentunya makin bisa macem-macem. Skill-nya menggebuk drum makin mencengangkan karena sudah mulai bisa mengikuti musik. Skill ‘memasak’ apalagi. Hampir tiap hari dia main dengan playdoh, tepung, wajan, sudip dan kawan-kawannya. Belakangan malah sudah bisa ditemani memasak telur dadar beneran, dan dia bahagia banget kalau diajak mencuci piring setelahnya. Mudah-mudahan rajin sampe gede, AMIN!

Terakhir cerita soal BabyM disini adalah soal kesuksesan menyapih. Ya ampun, menuliskannya bagaikan kejadian itu sudah dilewati bertahun-tahun lalu! Aku kira, setelah kelar menyapih, drama akan segera berlalu. Little did I know, drama itu malah semakin melebar kemana-mana, seiring dengan kemampuan verbalnya yang meningkat pesat bak roket menuju Mars!

Di satu sisi, BabyM sangat menggemaskan sekali. Dia udah bisa diajak ngobrol. Tapi disisi lain, bok… anak kicik ini kerjaannya membantah muluk! Padahal dulu kayaknya asik-asik aja deh nyuruh dia beresin mainan, atau makan, atau mandi atau tidur. Sekarang… OMAIGAT! Perjuangan banget!

“Malik, yuk mainannya dibereskan.”

“Nggak usah lah. Nanti aja.”

“Loh, kan sudah mau mandi. Mainannya dibereskan dulu.”

“Ibu aja yang bereskan.”

“Ih, kan kamu yang main. Ayo lah, ibu ikut bantuin deh.”

“Ibu aja lah yang bereskan. Tangan Malik lagi kotor.”

“Tangan kotor kan bisa di lap dulu.”

“Nggak mau. Nanti aja bereskannya SEKALIAN ABIS MANDI.”

….

Pengen ditujes nggak sih anak kicik ini? Iya, ngomongnya kata-per-kata kayak gitu. Pake ‘Lah’ segala. Ngelesnya pun super duper jago. Kadang-kadang sampe kepikiran, anak dua tahun kok ya udah advance banget kayak gini. Berasa ngomong sama bapaknya deh #eh.

201612-drum

201612-masak

Tentang Diri Sendiri

Nah, ini mungkin yang cukup sulit menceritakannya. Yang kayaknya menjadi akar permasalahan kenapa nggak nulis-nulis. Tahun ini terasa cukup ‘menantang’ buatku, baik fisik maupun mental. Aku tidak tau apa persisnya, tapi – tanpa harus mengkambing hitamkan masalah apapun – aku sepertinya kewalahan mengerjakan banyak hal sendirian. I think 2016 is quite rough.

Mengurus pembangunan rumah di Medan, mengurus rumah tangga sendiri, menjaga anak yang memasuki fase penuh drama membuatku sangat lelah jiwa dan raga. Dengan model kerja si Abang yang 8 minggu kerja – 5 minggu cuti, aku kebanyakan sendirian. Saat si Abang cuti pun, kami harus mengurus banyak hal. Kami juga sepakat memangkas budget liburan karena sedang membangun rumah (yang kayaknya adalah langkah yang salah, huhuhu).

Aku seperti tak punya jeda. Dan bulan puasa lalu adalah puncaknya. Aku sering menangis. Hal-hal kecil membuatku sedih dan sangat marah. Mood swing yang sangat aneh. Aku sulit tidur walaupun terasa sangat capek. Tidak punya energi untuk melakukan apapun, sulit konsentrasi dan merasa sangat tidak berdaya. Pelan-pelan aku merasa tidak mampu berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Aku keluar dari grup whatsapp, atau tidak membaca whatsapp sama sekali. Log-out dari Path dan tidak menyentuh facebook. Aku bahkan berhenti menulis. Padahal menulis adalah hal yang paling aku suka – dan aku merasa tak punya tenaga melakukannya.

Sesekali aku posting di Instagram, lebih karena aku tak mampu berkata-kata, dan menyerahkan diri pada bahasa gambar: berharap ada yang membaca ‘tanda’ ini dan berusaha menarikku keluar. Aku merasa berada dalam terowongan gelap pekat, tak tau harus berbuat apa, tanpa bisa memetakan perasaan sendiri, apalagi meminta tolong. Mau minta tolong apa coba?

Suatu hari keadan menjadi semakin buruk. Aku yang selama ini tidak pernah bersuara keras kepada Malik, tiba-tiba tanpa kontrol membentaknya hingga Malik ketakutan. Aku bahkan lupa kenapa. Aku terduduk dan menangis di dapur setelah itu. Malik duduk tak jauh dariku, terdiam dan bingung memperhatikan. Setelah tangisku mereda, aku meminta maaf dan memeluknya. Sejak itu, setiap ada perubahan pada wajahku atau nada suaraku, Malik akan bertanya: “Ibu marah?” dan itu sungguh mengiris hati.

Dengan putus asa, aku mengetikkan sebuah pertanyaan di google: why am I angry all the time? Google memberikan link, merujuk pada laman yang menunjukkan gejala depresi. Astaga, memikirkan bahwa aku ‘mungkin’ depresi malah semakin membuat depresi!

Processed with VSCO with f2 preset

Sepertinya, aku memang harus meminta bantuan. Tapi tak tau harus mulai dari mana. Untungnya, menjelang lebaran, Mama Papaku datang dari Medan. Aku jadi tidak sendiri di rumah. Aku tidak bisa menjelaskan banyak kepada mereka, tapi aku berkali-kali menangis padahal membicarakan hal-hal biasa. Namanya orang tua, mereka mungkin bisa merasa, kali ya. Sepanjang lebaran rumahku juga ramai oleh keluarga sehingga aku bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari hasil diskusi dengan si Abang, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk saat ini, aku sedapat mungkin untuk tidak sendiri. Jadi jika si Abang sedang kerja, aku bisa terbang ke Medan. Selain aku ada temannya, Malik juga punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang, mengingat ia berada fase yang memang perlu bersosialisasi. Jadi sejak pertengahan tahun, aku kerap bolak-balik Medan jika si Abang sedang bekerja.

Saat ini, aku jauh lebih baik walau mood kadang-kadang masih suka drop. Aku sadar aku mungkin butuh bantuan professional untuk ini. Tapi, setidaknya, mengakui bahwa aku ‘bermasalah’, dan mampu meminta bantuan kepada orang lain, adalah sebuah langkah yang baik. Aku juga sudah mulai menulis lagi, which also a good sign, kan?

Jadi begitulah sodara-sodara. Tahun ini bukan tahun yang mudah. I can’t say I’m ready and confident enough for 2017, tapi begitulah hidup bukan? Siap nggak siap ya mesti dihadapi.

So, here I come, 2017. I’m going to take it one day at a time. Wish me luck, everybody.

201612-din

Rumah Papa: Desain dan RAB

Setelah kami menyetujui draft awal denah, plus perbaikan dan masukan disana-sini, Bang Doni mulai menggarap desain rumah. Beliau bilang, ia berusaha membuat beberapa desain alternatif dengan konstruksi ringan, sehingga butuh waktu cukup lama. Kami sih tidak masalah dengan waktu. Toh rencana pembangunan tidak akan dimulai hingga awal tahun 2016. Bahkan kami sesungguhnya tidak keberatan sama sekali jika harus molor sedikit, sebab mesti menabung lebih banyak, hahhaha!

 

Sekitar tiga bulan setelahnya, Bang Doni mengirimkan desainnya. Bersama gambar, ia kirimkan keterangan. Katanya, untuk mengurangi biaya bangunan lantai tiga, rumah ini tidak akan menggunakan sturktur beton, melainkan memakai baja ringan yang biasa dipakai di atap. Dindingnya akan memaka seng zyncalum pada bagian luar dan kalsiboard di bagian dalam. Ditengahnya diberi glasswool untuk mengurangi panas. Untuk mengurangi tampias dan panas yang menerpa dinding itu, akan dibuat dinding dari wiremesh yang diberi potongan seng zyncalum. Tanaman rambat juga akan dipakai supaya lebih adem.

 

Untuk lantai duanya, material yang dipakai lebih solid, yaitu batu bata ekspos. Di bagian pagarnya akan ada sedikit permainan – meski tidak semua, sehingga ada rongga untuk udara. Sedangkan untuk lantai satu, materialnya lebih solid lagi, yaitu dinding diplester dengan mortar. Perbedaan material pada tiap lantai ini akan membuat rumah ini terlihat bergradasi.

 

Oke, yang nggak ngerti dengan bahasa yang agak teknis, mungkin akan lebih kebayang kalau lihat gambarnya berikut ini.

 

rumahpapa 006

rumahpapa 007

 

rumahpapa 008

 

Bagus yaaaaaaa!

 

Kami sekeluarga nggak terkagum-kagum liat gambar yang keren ini. Ada sih kekhawatiran soal tampias air di lantai tiga, atau banyaknya debu yang akan masuk karena permainan batubata di bagian fasade lantai dua. Tapi, kami semua sepakat, bahwa itu sepertinya hanya masalah teknis yang bisa diakali nanti. Secara prinsip, kami sangat menyukai desain Bang Doni. “Memang lain ya, kalau arsiteknya serius,” kata Papa, membuat aku senyum-senyum. It’s a compliment!

 

Setelah ada revisi kecil disana-sini, akhirnya kami menyetujui desain itu dan membiarkan Bang Doni melanjutkan tugasnya membuat gambar kerja untuk keperluan mendapatkan IMB.

 

Saat tahun berganti menjadi 2016, urusan renovasi rumah papa semakin terpampang nyata. Papa sudah mulai menyewa rumah untuk tempat tinggal sementara. Untungnya, ada rumah kontrakan yang kosong, yang letaknya pas di depan rumah. Jadi urusan pindahan bisa dicicil pelan-pelan.

 

Saat gambar kerja sudah selesai dibuat, Bang Doni membantu menguruskan IMB. Aku tidak tau banyak seluk-beluk pengurusan ini karena aku di Jakarta. Tapi yang pasti, selain fotokopi KTP, PBB, dan sertifikat tanah, ada surat yang harus dibuat, yaitu persetujuan tetangga kiri-kanan. Papa juga sempat beberapa kali berurusan dengan kelurahan. Begitupun, tidak ada masalah berarti selain harus bolak-balik.

 

Yang memakan waktu lebih lama adalah membuat RAB. Bang Doni mendapatkan beberapa rekomendasi dari timnya mengenai struktur bangunan. Ini membuat ia harus menyesuaikan macam-macam hal sebelum mempresentasikannya kepada kami.

 

Pertengahan Februari 2016, aku sekeluarga pulang kampung ke Medan. Begitu pesawat landing di Bandara Kuala Namu, tiba-tiba Bang Doni mengirim pesan, bahwa RAB-nya sudah jadi. Wah, pas sekali! Langsung kami membuat janji untuk berjumpa di rumah.

 

Bang Doni datang bersama dengan Bang Rahman. Beliau ini adalah kontraktor yang akan mengerjakan rumah kami. Mereka membawa gambar kerja yang telah dijilid rapi, bersama dengan RAB yang sudah ditunggu-tunggu. Sekalipun Bang Doni sudah memperingatkan, tetap saja begitu melihat angka yang tertera aku harus menarik napas paaaaaannnjjjaaaaaangggg… hahaha!

 

rumahpapa 009Bang Doni datang bersama Bang Rahman. Saking selow-nya, diskusi pun gak perlu meja kursi. Semua nggelesor aja di lantai!

 

rumahpapa 010

 

Kami berdiskusi soal spek-spek rumah. Tapi, RAB ini tampaknya harus kembali disesuaikan. Ada hal-hal baru yang dimasukkan, juga ada yang dikurangi. Yang pasti, RAB ini harus aku endapkan dulu di kepala, sampai benar-benar meresap. Karena kami hanya beberapa hari di Medan, aku Bang Doni dan Bang Rahman sepakat untuk kembali membahas RAB ini via telepon.

 

Dan saat kami meninggalkan Medan, itu adalah kali terakhir aku melihat rumah tempat aku tumbuh besar masih berdiri utuh…

Rumah Papa: Oh, Budget…

*Seluruh cerita soal Rumah Papa ini bisa dilihat di kategori Rumah Papa

Seperti yang aku ceritakan pada posting sebelumnya, kami meminta Bang Doni untuk membuat desain rumah yang sehat dan fungsional. Rencananya lantai bawah untuk keluarga, dan lantai dua dijadikan area untuk kos-kosan.

Tadinya, Bang Doni mau membuat beberapa alternatif desain. Tapi karena dirasa kurang efisien, akhirnya Bang Doni hanya membuat satu draft dan mencurahkan semua pemikirannya kesitu. Aku pikir juga ini lebih baik.

Seminggu berlalu, Bang Doni datang ke rumah kami dengan membawa draft denah awal. Ia membentangkan kertas gambar dan mempersilahkan kami melihat. Jrengggg….

Lantai pertama terlihat menjanjikan! Teras dan carport bersebelahan. Ruang tamu hanya dipisahkan oleh partisi ke ruang keluarga yang bersatu dengan ruang makan. Jadi kalau ada acara keluarga (yang sangat rame itu!), rumah ini bisa terasa lega. Kamar tidur ada dua dan kamar mandi ada tiga, termasuk satu yang dekat dengan ruang tamu. Area dapur cukup luas dilengkapi dengan area kerja dan penyimpanan untuk barang-barang catering mama. Di belakang, ada area servis terbuka untuk mencuci dan menjemur baju.

Lantai dua, ada barisan lima buah kamar yang tersusun sejajar. Dua kamar, yang diperlukan untuk kebutuhan keluarga punya akses dari dalam rumah. Sedangkan untuk tiga kamar yang (mungkin) dijadikan kosan, ada akses tersendiri.

Lah tapi, kok ada tiga lantai?

“Jadi begini….” Bang Doni membuka diskusi yang membuat aku jadi deg-degan, Setelah dipikirkan dengan matang, untuk membuat rumah yang kami mau dengan budget terbatas, pembagian ruangan – terutama untuk di lantai atas – sebaiknya disesuaikan dengan titik-titik pondasi. Dengan begitu, di bawah bisa dua kamar tidur, dan di atas bisa 5 kamar. Karena kami butuh Setidaknya 4 kamar sendiri untuk keluarga, yang bisa dijadikan kamar kos ya hanya 3 kamar. Menurut Bang Doni, kalau memang mau serius dibuat bisnis ke depannya, lebih baik dinaikkan jadi 3 lantai, yang mana akan ada tambahan 5 kamar lagi. Tapi kalau memang dirasa tidak perlu, ya denah lantai tiganya bisa diabaikan saja.

Heemmm… terdengar menarik! Dari yang aku lihat di draft gambar, memang Bang Doni memasukkan semua yang kami inginkan. Dinding yang berjarak dengan rumah tetangga, ventilasi yang baik dan pembagian ruangan yang menampung semua kebutuhan.

Okelah Bang. Kalau seandainya ditambah satu tingkat lagi, budgetnya jadi berapa? Yah… ditambah sekitar 50 persen dari budget awal.

Lalu aku pingsan. Hahahahah!

Apa yang dibilang Bang Doni memang ada benarnya. Tapi secara biaya? Nanti dulu. Budget yang kami alokasikan untuk project ini hanya cukup untuk rencana awal (2 lantai), plus sekian untuk dana ekstra jika ada pengeluaran tak terduga (yang mana ini sering kali terjadi!). Kalau dibuat tiga lantai mungkin bisa, tapi artinya akan ada penyesuaian dengan pos-pos lain. Nggak akan bisa pulang kampung lebaran, apalagi liburan spontan selama setahun kedepan. Bahkan pengeluaran bulanan rutin sepertinya juga terimbas. Kondisi ini kurang-lebih sama seperti saat kami membangun rumah dulu. Sebagai manajer keuangan rumah tangga, aku pusiiiiinggg… hahahahah!

Jadi pertanyaannya mau dua lantai atau tiga sepenuhnya terserah kami. Pilihannya, kami bisa “bermain aman” hanya dengan membangun rumah dua lantai, tapi kedepannya tidak maksimal. Atau mau ambil resiko dan deg-degan tapi ya lebih menjanjikan dalam jangka panjang. Setelah diskusi dan mencari wangsit, akhirnya kami memilih: kami mau mengambil resiko! Mumpung masih muda, dan supaya hidup rada berwarna, nyerempet ‘bahaya’. * Salaman lagi sama Bang Doni*  Hidup lantai tiga!

Selanjutnya, kami memberikan bola panas ke tangan Bang Doni: bagaimana ‘meracik’ konstruksi tiga lantai dengan budget yang sebenarnya juga tidak banyak-banyak amat. “Jangan buru-buru ya, Din!” katanya. Ya selow aja lah, Bang. Mau murah dan bagus, ya biasanya lama. Lagian, lama-lama juga nggak apa-apa kok. Biar kami bisa nabung dulu, hihihihi!

rumahpapa 005Gambar denah awal yang nantinya akan diuprek-uprek lagi 😀